Utopia, Rasionalisme dan Globalisasi

6 Juli 2014 - 09.25 WIB > Dibaca 1514 kali | Komentar
 
Utopia, Rasionalisme dan Globalisasi
KASAT mata, pembangunan di Provinsi Riau terus menggeliat. Ibu kota kabupaten maupun provinsi berpacu dengan waktu menyiapkan berbagai proyek infrastruktur. Seakan disulap, kota-kota di Provinsi Riau mengubah wajah. Proyek fisik tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Pohon-pohon beton menjulang memberi tanda terjadi revolusi ekonomi yang luar biasa.

Di balik semua itu, ada permasalahan besar menghadang. Di tengah gencarnya pembangunan fisik, ternyata Riau bermasalah dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Tujuh tahun sudah RTRW Riau terkatung-katung. Sampai saat ini RTRW Riau belum disahkan. Sementara membangun sebuah keniscayaan. Pemanfaatan ruang ternyata belum ada payung hukum. Bisa jadi banyak bangunan-bangunan tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang yang ada.

Tak ayal, terkatung-katungnya RTRW berdampak negatif dalam pelaksanaan rencana pembangunan mulai dari realisasi program nasional MP3EI, proyek jalan tol Pekanbaru-Dumai, pencapaian target penurunan gas rumah kaca dan REDD+ dan sejumlah program strategis nasional lainnya.

Sebenarnya, perencanaan wilayah dan kota dalam tinjauan sosiologis sangat berhubungan erat dengan harapan dalam utopia dan dengan rasionalisme serta dengan globalisasi. Utopia suatu istilah yang dilancarkan oleh Sir Thomas More (pada 1516) yang berarti ‘’negeri yang tidak ada’’, adalah suatu tinjauan yang membayangkan pola hidup masa depan yang diingini.

Kebanyakan penganut utopia sosial percaya bahwa manusia akan lebih bahagia, lebih produktif, lebih religius, atau lebih baik menurut kriteria moral, jika pranata dari masyarakat diubah. Kebanyakan penganut utopia fisik berpendapat bahwa manusia akan lebih sehat, lebih teratur, lebih puas, lebih tergugah oleh keindahan, atau lebih baik dari biasanya, jika lingkungan fisik diatur dan disesuaikan atau adanya perencanaan yang matang.

Dalam Utopianisme, perencanaan dianggap sebagai pengendalian menyeluruh, yang berarti mengendalikan pola pada masa akan datang, baik dalam pranata sosial penduduk, maupun dalam lingkungan fisiknya.

Perencanaan itu bersifat rasional, yaitu penggunaan pemikiran manusia untuk kepentingan manusia. Bapak rasionalisme adalah Rene Descarter (1596-1650), yang terkenal dengan ucapan: Cagito erge sum (I think, therefore I am) atau: Aku berpikir, karena itu aku ada.

Dalam lingkup rasionalisme itu arah dari perencanaan wilayah dan kota itu bergeser dari tradisi rekayasa (sebelum 1970) ke tradisi ilmiah. Pada dewasa ini seorang perencana sewaktu masih menjadi mahasiswa perencanaan, dilatih untuk memikir dan untuk itu mereka harus mempelajari berbagai bidang ilmu lain.

Dalam globalisasi yang melahirkan kota global, perencanaan wilayah dan kota harus disesuaikan. Dalam perencanaan kota itu harus diperhitungkan restrukturisasi ekonomi dan globalisasi, terutama kota-kota besar di Indonesia.

Dalam lingkup yang lebih luas, perencanaan wilayah dan kota di Riau itu harus disesuaikan dengan kebudayaan penduduk dan harus dapat memajukan kebudayaan itu, seperti halnya dilancarkan oleh Bahaudin di Malaysia yaitu dalam ‘’Kelahiran Kembali Asia’’ (Asian Renaissance) dengan menghidupkan kembali seni dan ilmu berdasarkan akhlak dan agama yang kuat.

Jadi dengan harapan untuk ‘’Pencerahan Asia’’ (Asian Enlightment) perencanaan wilayah dan kota, dalam rencana-rencana harus diusahakan, agar penduduk menjadi lebih kreatif dan lebih produktif, lebih sehat, lebih puas, lebih tergugah oleh keindahan, lebih religius, dan lebih bahagia.***


HM NAZIR FAHMI,
Pemimpin Redaksi

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 13:03 wib

Honorer K2 Desak Penangkatan menjadi PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:00 wib

Mahasiswa Tuntut Perjuangkan Hak Petani

Selasa, 25 September 2018 - 12:54 wib

Genjot Ekspor, LPEI Fokus Winning Commodities

Selasa, 25 September 2018 - 12:40 wib

Pemerintah Pangkas Pajak Bunga Obligasi

Selasa, 25 September 2018 - 12:34 wib

Desak Kadis PUPR Diganti

Selasa, 25 September 2018 - 12:31 wib

Rasionalisasi Rp54,95 M

Selasa, 25 September 2018 - 12:30 wib

Damailah Suporter Indonesia!

Selasa, 25 September 2018 - 12:24 wib

Kuras Sumur Berbangkai, Warga Andaleh Tewas

Follow Us