Apresiasi buat Blacan Aromatic

6 Juli 2014 - 09.38 WIB > Dibaca 1457 kali | Komentar
 
Apresiasi buat Blacan Aromatic
Matrock dan kawan-kawan dalam launching album Blacan Aromatic di Anjung Seni Idrus Rintin. Foto: *6/fedli azis/riau pos
Delapan karya musik yang dibentangkan dalam konser sekaligus launching album Blacan Aromatic di Anjung Seni Idrus Tintin merupakan komposisi musik yang terkemas dalam kehendak pada laut dengan bentangan masa kini dari masa lampau.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Rangkaian makna pesisir dari untaian komposisi musik yang memaknai maksud dari perihal rindu dari Blacan Aromatic. Setidaknya hal itulah yang tergambar dalam konser dan launching yang dilakukan dua malam berturut-turut itu. Dengan kekuatan personil sebanyak 14 anak muda, anak jati Riau itu, mengekpresikan karya musik mereka dengan tampilan yang memikat hati penonton.

Zalfandri Zainal alias Matrock selaku nakhoda dari kelompok tersebut mengemukakan konser dan launching album yang dilaksanakan adalah sebuah upaya dari Balacan Aromatic untuk merangkai kenangan menjadi energi. Mengenang kenangan lanjutnya, adalah salah satu cara untuk menambah kekuatan bagi manusia dalam menjalani hidup, bertahan sekaligus bergerak menelusuri waktu. Blacan Aromatic mencoba merangkai kenangan itu melalui bunyi yang dikemas menjadi suguhan seni musik, ucap Matrock.

Tak ayal lagi, segala prihal kerinduan ala Blacan Aromatic ditumpahkan di panggung Anjung Seni Idrus Tintin tersebut. Suguhan tampilan dimulai dengan prosesi launching. Ketika lighting dipadamkan, bergema suara narator yang membacakan narasi. Sebentang kata menyusun helat rindu yang terbungkus dalam sedulang kehendak. Tanpa sirih pinang terwakilkan tepak masa kini menjadi huruf dan bait terukir dari hati. Menyusunlah nak menjunjung tak terhingga, kami sekepal tangan dari 14 hati bak setempayan jiwa.

Kemudian, lighting di panggung perlahan-lahan menyala seturut dengan back sound musik. Empat orang penari yang sudah ada di atas panggung, berekspresi dengan gerak tari yang mengisyaratkan kerinduan serta kehendak makna pesisir yang membungkus dari konser dan launching tersebut. Begitulah kemudian, keempat penari mempersilakan para personil Blacan Aromatic untuk menuju ke panggung. Diiringi dengan sepasang bujang dan dara kota Pekanbaru yang membawa poster Album, semua personil muncul dari hadapan penonton. Tepuk tangan penonton pun tak ketinggalan dalam menyaksikan prosesi launching album tersebut.

Kemudian, MC yang dalam hal itu, dipandu oleh Ekky Gurin mempersilahkan perwakilan para tamu undangan untuk menandatangani poster sekaligus menerima cendra mata dari Blacan Aromatic. Pada malam pertama, tampil ke depan, Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR), Kazzaini Ks yang didampingi oleh Seniman Pemangku Negeri (SPN) Iwan Irawan Permadi. Sedangakan pada malam ke dua, tampil budayawan Riau, Rida K Liamsi, Kabiro Humas, Yoserizal Zen dan SPN Eri Bob.

Konser dan launching yang diberi tajuk Kala Sunyi Kuala Bunyi itu dimulai dengan persembahan musik yang berjudul Negeri Tematu. Komposisi musik yang terinspirasi dari tumbuhan yang hidup di pinggir pantai ini, dikatakan Matrcok berawal dari ingatan semasa kecil dahulu yang senang mencari buah tematu atau enau. Disadari kemudian, ada yang unik dari tumbuhan tematu tersebut di mana tiap unsur bagian dari tumbuhan itu memiliki nama yang berbeda. Daunnya disebut nipah, buahnya disebut enau dan lain-lain. Akhirnya saya terinspirasi membuat karua musik yang berjudul Negeri Tematu. Tentu saja dalam hal ini dimaknai sebagai sebuah negeri yang di dalamnya terdapat ragam tabiat dan segala unsur-unsur yang mengusung keberadaan sebuah negeri, jelas Matrock disela-sela pertunjukannya.

Konser dilanjutkan dengan karya kedua yang diberi judul Tali Air II. Tema yang masih terispirasi dari semangat laut ini adalah sebuah garapan yang juga memadankan dengan pepatah lama yakni Tali Air Cencang Tak Putus. Filosofi inilah yang hendak ditawarkan oleh komposer Matrock. Dengan menghadirkan ragam bunyi serta nada yang hampir tidak putus-putus terdengar jelas berkali-kali, seolah musik akan selesai tetapi ternyata masih terus berlanjut  di luar dugaan dengan irama dan pola yang berbeda pula. Ibaratkan tali air, dicincang bagaimanapun dan dengan apapun, sudah tentu tak akan putus-putus. Begitulah semangat persaudaraan dan kebersamaan yang seharusnya kita pahami untuk menjadikan hidup ini lebih baik, ucap Matrock menjelaskan karya keduanya itu.

Karya berjudul Membaca Riak merupakan karya berikutnya. Teristimewa dalam persemabahan karya ini, dengan menghadirkan SPN Eri Bob Bujanggi sebagai featuring.  Dikatakan Matrock, Eri Bob adalah guru baginya. Banyak pengalaman dan pengetahuan bermusik yang didapat dari musisi yang menurut Matrok memiliki kelebihan dan kepiwaian dalam bermusik itu.

Eri Bob dalam kesempatan itu, memainkan alat musik gitar. Permainan jemarinya menyatu dengan personil Blacan Aromatic lewat komposisi musik yang musik dari suasana kedamaian dan tenang layaknya riak air di hamparan laut. Ide dari komposisi musik ini menurut Matrock juga berawal dari sebuah ingatan masa kecil dahulu  ketika masih begitu akrab dengan laut. Menatap cahaya mentari pagi yang mengintai di celah-celah awan sementara sisa embun masih singgah di dedaunan,  semilir angin menghembus wajah-wajah rindu. Inilah riak-riak kenang yang masih melekat di ingatan. Membacanya adalah sebuah upaya mengobati kerinduan untuk masa-masa yang sulit terulang kembali, tuturnya.

Sedangkan usai mempertunjukan kebolehannya, Eri Bob mengatakan Blacan Aromatic luar biasa. Dalam hal itu, diterangkan Eri, kreativitas dan daya semangat yang dimiliki Blacan yang patut diacungkan jempol. Blacan luar biasa. Sukses dan terus berkarya, ucap musisi senior Riau itu.

Dilanjutkan dengan karya berikutnya yang diberi tajuk Perak Langit. Langit adalah bentangan kenangan dan kerinduan bagi Matrock. Melihat langit senja yang dipenuhi dengan warna keperakan, membawa ingatannya pada kampung, kerinduan bacin dan anyir kampung, kerinduan orang tua, sanak saudara dan segala prihal tentang kampung. Karya ini terinspirasi dari hal itu. Menyaksikan bagian dari keindahan semesta, sedikit banyaknya mengobati kerinduan pada sesuatu yang dulunya sangat dekat dengan kita, ucap Matrock kemudian.

Perak Langit merupakan salah satu komposisi musik yang tidak terdapat di dalam album Kuala Sunyi Kuala Bunyi. Karena Perak Langit adalah karya baru yang dipersiapkan untuk album Blacan berikutnya. Demikian juga dengan Negeri Tematu yang  juga merupakan karya terbaru yang tidak termuat dalam album yang dilauncingkan tahun ini. Sedangkan delapan komposisi musik yang terdapat di dalam album diantaranya, Hungkal In E Minor, Membaca Riak, Tali Air I dan Tali Air II, Jelatik, Cabuh, Blacan Yoo dan Serap.

Dalam konser kedua kalinya dari Blacan Aromatic itu kemudian dilanjutkan dengan membawakan musik yang berjudul Hungkal In E Minor, Caboh dan ditutup dengan Blacan Yoo. Disela-sela konser itu juga, blacan menyempatkan waktu untuk membagikan CD gratis dalam bentuk games. CD diberikan kepada para penonton yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh personil Blacan Aromatic.

Dengan dilakukannya konser dan launching album Kuala Sunyi Kuala Bunyi ini, Matrock berharap Blacan tetap eksis dan terus bersemangat dalam pengkaryaan. Blacan Aromatic sendiri adalah sekumpulan budak-budak Melayu yang berupaya mengeksplorasi wajah-wajah musik Melayu dengan tetap berpijak kepada pola rythme Melayu kemudian dikembangkan menjadi nuansa baru dengan mengkolaborasikan beberapa alat musik modern. Diharapkan dengan demikian, kata Matrock tidak ada lagi anggapan bahwa musik Melayu itu kuno. Justru musik Melayu memberikan kekuatan dalam menegaskan identitas sebagai budak-budak Melayu yang kreatif. Kami menyadari, setiap kenangan adalah energi dan energi itu tidak akan bermanfaat dan berfaedah kalau hanya dipendam saja. Untuk itulah, melalui album Kala Sunyi Kuala Bunyi, Blacan Aromatic ingin berbagi rasa, kata Matrock lagi.

Karya yang Lahir dari Proses
Berbagai apresiasipun diberikan kepada persembahan konser dan launching album Kala Sunyi Kuala Bunyi. Iwan Irawan permadi mengaku iri atas karya-karya Blacan yang kaya dengan nuansa sastra. Beginilah karya-karya yang dihasilkan melewati proses itu, ungkap koreografer senior tersebut. Tak ada hasil karya seni yang baik dan maksimal tanpa tanpa melewati proses. Tapi Iwan begitu apresiasi dan megnhargai karya Blacan Aromatic.

Lebih jauh dikatakan Iwan, yang menarik lagi dari Blacan mampu membuat karya-karya yang sangat sastrais sekali. dalam garapa tari saya juga selalu menjajaki hal-hal yang berbau sastra seperti yang dilakukan kawan-kawan di Blacan. Tapi memang saya kenal  Matrock yang sehariannya bergaul dengan sastrawan, itulah salah satu proses, mau bergaul, tidak mengkotak-kotakkan. Matrock melkaukan hal itu dan inilah keunggulan yang luar biasa, saya sangat suka, jelas Iwan.  

Salah seorang mahasiswa UIR, Berlian Denada mengatakan Blacan Aromatic adalah sebuah grup musik yang memiliki karya musik unik dan bersifat edukasi. Katanya, salah satu karya yang sangat disenanginya adalah karya musik yang berjudul Cabouh. Di dalam karya tersebut, dijelaskan Berlian terdapat keunikan tersendiri. Seperti misalnya, memiliki banyak perubahan tempo, ketukan, birama bahkan modulasi. Hal itulah yang membuat karya tersebut mengandung nilai pembelajaran di dalamnya. saya sempat berfikir ketika mendengarkannya. Bagaimana caranya hal tersebut bisa terangkai dengan baik sehingga terciptalah suatu karya yang unik dan luar biasa. Apalagi di dalamnya juga ada solo flute dan accordion. Keduanya beda birama tetapi bertemu kembali pada hitungan satu. Bingung tapi mengasyikkan dan harmoninya tetap terjaga dengan baik, jelas Berlian.

Sedangkan salah seorang personil Riau Rythm Chamber, Aristofani alias Itok mengatakan karya Blacan Aromatic adalah hasil dari fenomena world music. Kata lelaki yang rajin menulis itu, seperti yang diakui Matrock karyanya banyak dipengaruhi dari musisi Riau, Eri Bob memang benar karena kental sekali terdengar dari setiap komposisi yang dipersembahkan di dalam konser. Tetapi yang menjadi kekuatan utama, justru adalah ketika komposer tidak serta merta meniru tetapi mencari bunyi-bunyi baru dan nuansa baru, kata Itok.

Fenomena world music menurut Itok lagi, terjadi sekitar tahun 50an dan  60an ketika orang-orang sudah jenuh dengan konvensi musik barat, ketika itulah para musisi mencari hal lain. maka terbentuklah saat itu jenis musik hasil dari kolaborasi musik barat dan tradisi. Nah, fenomena inilah yang dapat ditangkap dari karya-karya Blacan. Yang membedakan adalah, sumber yang menjadi ide dan gagasan dari karya. Capaian dari jenis musik ini tentunya nuansa baru Eksplorasi yang dijajaki bertujuan  memunculkan hal baru. dengan apa yang dilakukan Blacan, menawarkan kepada kita bahwa musik Melayu itu tidak sekedar yang kita dengar dari melodi yang berjalan dari Mediterania sampai Timur Tengah. Tapi dari kompoisisi musik Blacan terdengar juga jenis-jenis musik Irlandia, Samba Brazil dan  Afrika juga ada, jelasnya.

Blacan Harus Hungkal
Komposisi musik yang dihadirkan Blacan Aromatic Ethnic Project bernagkat dari ide, gagasan dan fenomena serta khazanah Melayu Pesisir. Hal itu juga diparesiasi oleh budayawan Riau, Rida K Liamsi. Katanya, kesadaran akan kekayaan kesenian Melayu yang diangkat Blacan melalui karyanya sangat kental. Fenomena kehidupan sehari-hari Melayu pesisir seperti judul komposisi musik Blacan Yo, Tali Air, Negeri Tematu, Hungkal In E Minor, Membaca Riak dan lainnya merupakan idiom-idiom keseharian yang dikemas dalam bentuk komposisi musik yang menarik. Tak banyak yang kenal dengan istilah-istilah itu. Artinya, teruslah memberi kehidupan kesenian di Riau. Seperti judul komposisi musik Blacan yang berjudul Hungkal, berkesenian juga harus demikian. Tak ada karya seni yang lahir dari kemudahan. Karya-karya seni besar itu lahir dari proses kemenangan setelah melewati segala rintangan. Salut dan tahniah kepada Blacan Aromatic, ucap Rida.

Rida K Liamsi juga menyatakan salut dengan geliat kreativitas yang terus dilakukan oleh seniman Riau. Katanya meskipun ditengah-tengah kesibukan keadaan politik, persiapan menyambut bulan suci Ramadan, sejumlah seniman Riau terus bergeliat menelurkan karya-karya mereka. Anjung Seni Idrus Tintin menjadi pusat dan saksinya, semua kehidupan dan kegiatan kesenian itu tampak hidup di sini. Saya salut dengan anak-anak muda seperti ini. Tidak hanya, musik, seni lainnya seperti tari, teater pun demikian. Tanpa berhenti dan terus berkreativitas, tak kenal pamrih. Mencari dan berbuat sendiri tanpa menunggu dukungan, dana dan segala macamnya, ucap Rida.

Pimpinan Riau Rythm Chamber, Rino Dezapati yang turut hadir menyaksikan persembahan Blacan Aromatic di malam kedua juga menyatakan syabas. Ketika Blacan sudah melaunchingkan album, mau tidak mau Blacan harus diketahui dan dimiliki oleh publik. Bagaimanapun caranya. Karya anak Riau seperti ini harus bisa diapresiasi oleh orang banyak. Tentu saja ini terkait dengan bagaimana memenejnya dengan baik, ucap Rino.

Senada dengan itu, seniman teater, Hang Kafrawi juga menyatakan hal serupa. Katanya, album sudah dilaunching, layaknya sebuah karya, jangan sampai tertumpuk begitu saja tanpa ada manajemen yang bagus untuk memperkenalkan karya tersebut kepada masyarakat luas. Tetapi yang lebih penting dari itu, Blacan harus tetap mempertahankan semangat dan juga produktivitas dalam berkarya, tutup Hang Kafrawi.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us