Gurindam 12, Pasal 5, Ayat 1

6 Juli 2014 - 09.48 WIB > Dibaca 2876 kali | Komentar
 
Gurindam 12, Pasal 5, Ayat 1
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa


Bagi bangsa Indonesia, utamanya Melayu, dua larik gurindam itu tentu sudah tidak asing lagi. Konon, karya pujangga besar (Raja Ali Haji) itu ditulis pada 1847, jauh sebelum Edward Sapir (1884—1939) dan Benjamin Lee Whorf (1897—1941) dikenal dengan hipotesisnya: Sapir-Whorf.

Entah mengapa, keduanya seolah-olah saling menguatkan: hipotesis Sapir-Whorf memeroleh penguatan dari Gurindam 12, Pasal 5, Ayat 1, dan sebaliknya, Gurindam 12, Pasal 5, Ayat 1, diperkuat oleh hipotesis Sapir-Whorf. Keduanya menyuarakan hal yang relatif sama, bahwa perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia bersumber pada perbedaan bahasa. Bahasa tidak hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan pikiran manusia. Bangsa yang berbeda bahasanya, dengan demikian, akan mempunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Karena bahasa memengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, ciri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap, perilaku, dan budaya penuturnya.

Menurut Sapir-Whorf, manusia cenderung membuat penggolongan, klasifikasi, atau kategori kenyataan (realitas) berdasarkan bahasa, bukan berdasarkan realitas itu sendiri. Struktur kognisi manusia, dengan demikian, juga ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa. Orang Inggris dan orang Hunaco (Filipina), misalnya, berbeda dalam melihat warna karena bahasa mereka berbeda. Orang Inggris mengenal banyak warna: white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, dan grey, sedangkan orang Hunaco hanya mengenal empat warna: mabiru (hitam dan warna gelap lain), melangit (putih dan warna cerah lain), meramar (kelompok warna merah), dan malatuy (kuning, hijau muda, dan coklat muda). Padahal, sebagai kenyataan (realitas), jenis warna di dunia ini sama.

Begitu pun tentang salju. Pada umumnya, masyarakat dunia memiliki kata yang sama untuk menggambarkan salju: yang baru saja turun dari langit, yang sudah mengeras, atau yang sudah meleleh, semua tetap dinamakan salju. Berbeda halnya dengan orang Eskimo. Mereka memberi label yang berbeda pada setiap objek salju tersebut. Contoh yang lain, orang Hunaco (Filipina) memiliki banyak nama untuk berbagai jenis padi (rice); orang Arab memiliki beberapa nama untuk unta (camels). Terminologi/istilah yang beragam tersebut menyebabkan penutur bahasa Eskimo, Hunaco, dan Arab mempersepsikannya secara berbeda dengan penutur bahasa yang hanya memiliki satu kata untuk salju, padi, dan unta.

Perbedaan bahasa sering mengakibatkan perbedaan pandangan tentang dunia. Dalam banyak kasus, perbedaan itu juga sering memunculkan “olok-olok” bahasa. Masalah kata sapaan, kala (tenses), dan salam (greeting) dalam bahasa Indonesia, misalnya, dituduh sebagai salah satu penyebab melemahnya mentalitas bangsa.

Oleh banyak orang, kata hubungan kekerabatan yang digunakan untuk menyapa (seperti Bapak, Ibu, dan Saudara) dicurigai telah menyuburkan sifat familiar dan nepotis(me) bangsa Indonesia. Pun bahasa Indonesia yang memang tidak mengenal penanda kala (tenses), seperti bahasa Inggris, dianggap telah mengakibatkan penuturnya tidak disiplin dalam masalah waktu. Sementara itu, salam: Apa kabar? juga dianggap tidak mencerminkan semangat kerja pemakainya. Hal itu, katanya, berbeda dengan perilaku bangsa yang menggunakan salam: How do you do! Menurut mereka, kata do memiliki sugesti untuk berbuat sesuatu, sedangkan apa kabar memiliki sugesti untuk “memburu” berita. Sebagai akibatnya, bangsa yang menggunakan How do you do! terbiasa bekerja dan bekerja, sedangkan bangsa yang menggunakan Apa kabar? terbiasa ngobrol. Betulkah demikian? Wallahualam bissawab.

Yang pasti, Koentjaraningrat (1974) telah melakukan klasifikasi atas sikap budaya (yang dapat dikaitakan dengan sikap bahasa) bangsa Indonesia. Menurutnya, ada tiga sikap budaya yang positif (harus ditumbuhkan) dan enam sikap budaya yang negatif (harus ditinggalkan). Tiga sikap budaya positif itu adalah (1) bangga pada produk Indonsia, (2) setia pada prinsip hidup bangsa Indonesia, dan (3) sadar akan norma moral, hukum, dan (ke)disiplin(an). Ketiga sikap budaya positif itu harus ditumbuhkan karena akan membawa serta pada kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa etnis Nusantara; pada kesetiaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional; serta pada kesadaran akan norma bahasa yang adab.

Sementara itu, enam sikap budaya negatif yang harus ditinggalkan adalah (1) sikap budaya tuna-harga-diri terhadap bangsa asing, yang akan menulari sikap terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang belum bermartabat; (2) sikap budaya meremehkan mutu, yang akan menumbuhkan sikap kepuasan terhadap bahasa yang asal jadi; (3) sikap budaya suka berlaku latah, yang akan menumbuhkan sikap bahasa untuk membenarkan salah kaprah dalam pemakaian bahasa; (4) sikap budaya suka menerabas (jalan pintas), yang akan menumbuhkan anggapan bahwa kemahiran berbahasa dapat dicapai tanpa bertekun; (5) sikap budaya menjauhi disiplin, yang akan menumbuhkan pendirian bahwa kaidah bahasa tidak perlu dipatuhi karena bahasa itu untuk manusia, bukan sebaliknya manusia untuk bahasa; serta (6) sikap budaya enggan bertanggung jawab, yang akan menumbuhkan pikiran bahwa urusan bahasa bukan tanggung jawab masyarakat, melainkan tanggung jawab ahli bahasa.

Nah, senyatanyalah bahwa bahasa memiliki peran besar sebagai penentu kebudayaan. Setiap bahasa telah “mendirikan” satu dunia tersendiri bagi masyarakat penuturnya. Bahasa tidak hanya berperan sebagai alat dalam mekanisme  berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai pedoman dalam pemahaman kenyataan sosial. Itulah sebabnya, seseorang akan berbicara (mengungkapkan pendapatnya) dengan cara/bahasa yang berbeda karena berpikir dengan cara yang berbeda pula.

Tiga hari lagi, tepatnya 9 Juli 2014, bangsa ini akan menentukan pasangan yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia: Prabowo-Hatta atau Jokowi-Kalla. Kampanye dan debat (oleh dan antar kandidat) pun telah tergelar. Mudah-mudahan bangsa Indonesia akan menjadikan Gurindam 12, Pasal 5, Ayat 1—jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa—sebagai salah satu penentu pilihan di TPS nanti.

“Bahasa menunjukkan bangsa,” begitu pula bunyi pepatah. Salam. ***


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Sinergi Pemerintah-Swasta Tingkatkan Pendidikan Karakter Guru

Kamis, 15 November 2018 - 15:01 wib

Bulog Tawarkan Beras Berkualitas dan Murah

Follow Us