Operator Vs Mesin Rongsok

13 Juli 2014 - 11.09 WIB > Dibaca 1122 kali | Komentar
 
Operator Vs Mesin Rongsok
OPERATOR dan mesin memang dua hal yang berbeda. Operator sebagai manusia dikatakan makhluk hidup sedangkan mesin dikatakan benda mati. Dari situ terkesan operator akan lebih menentukan daripada mesin yang dipergunakannya. Sebab operator sebagai manusia yang berpikir, tentu bersifat kreatif dan punya banyak gagasan.

Tetapi ketika ia bekerja mempergunakan teknologi seperti mesin, maka pikiran, gagasan dan kreatifitasnya itu ternyata tidak semuanya dapat menentukan jalannya kegiatan mesin itu. Jadi, sifat operator dan hasil pikirannya ternyata juga ditentukan oleh kemampuan mesin itu sendiri.

Karena itu, meskipun operatornya ini orangnya baik-baik, pintar bahkan cerdas misalnya, tapi jika mesin yang dipakainya tidak merupakan mesin yang mempunyai sistem yang bagus, maka pekerjaan operator mempergunakan mesin tidak dapat memberikan hasil yang baik.

Kita bisa membayangkan operator memang dapat memilih bahan atau material yang baik yang akan diolah oleh mesin. Tetapi jika mesin itu tidak mempunyai kapasitas dan sistem yang baik untuk mengolah bahan tersebut, maka hasilnya belum tentu akan sesuai dengan yang diharapkan sang operator.

Inilah gambaran sederhana kira-kira bagaimana seorang pemimpin melaksanakan tugasnya melalui sistem pemerintahan yang dipakai. Kita sering beranggapan bahwa pemimpin yang baik niscaya akan menghasilkan yang baik pula dalam kepemimpinannya. Jadi pandangan itu memandang tidak ada artinya sistem yang dipakai pemimpin itu dalam pemerintahannya. Padahal, kenyataan sudah memberi bukti, setiap sistem pemerintahan seperti demokrasi liberal, demokrasi komunis, maupun demokrasi sosialis, semuanya menghasilkan masyarakat yang berbeda dari hasil kepemimpinannya.

Karena itu, jika kita memperhatikan kepemimpinan Indonesia hasil Pemilu 2014 ini, kita mau tidak mau juga harus memperhatikan tidak hanya kualitas pemimpinnya tetapi juga sistem pemerintahan yang dipakai. Kalau kita jujur memperhatikan sejarah sejak terbentuknya republik ini pada 1945 sampai sekarang, maka Indonesia telah memakai sistem demokrasi dalam pemerintahannya. Sebenarnya, dalam ide pemimpin bangsa ini, demokrasi yang dipakai itu tidak seperti demokrasi yang berlaku di Barat. Jadi bukan demokrasi liberal dan bukan pula demokrasi sosial ataupun komunis.

Ini dibuktikan oleh teks Pancasila. Tapi sayangnya, bagaimana sebenarnya sistem demokrasi Pancasila —bagaikan sebuah mesin yang berbeda dengan mesin demokrasi kapitalis atau komunis— ternyata tidak pernah ujud sampai hari ini. Para pemimpin bangsa hanya mengatakan demokrasi Pancasila pada ucapannya tapi ternyata tidak berhasil merancang bagaimana sistem demokrasi Pancasila dalam pemerintahan.

Ini dengan mudah bisa kita lihat bagaimana demokrasi Pancasila itu sampai mendapat perubahan nama menjadi demokrasi terpimpin bahkan menjadi demokrasi Nasakom (nasional, agama, komunis). Kalau demikian halnya, ini kan suatu ironi. Dikatakan demikian karena kemerdekaan yang sudah direbut dengan darah para syuhada tetapi ternyata negara Indonesia tidak mempunyai perhitungan yang jelas mau dibawa ke mana arah tujuan bangsa ini menuju masa depannya.

Pancasila sudah dibuat sebagai dasar negara. Tetapi mengapa dasar ini ternyata tidak membekas dalam sistem pemerintahan? Mengapa kelima dasar Pancasila itu tidak kita jumpai dalam sistem mesin pemerintahan kita? Ini terjadi apakah karena Pancasila tidak bisa melahirkan suatu mesin atau mesin itu sendiri yang tidak perlu Pancasila?

Ujung dari pertanyaan ini, walaupun tidak merupakan suatu kesimpulan, tapi bisa dilihat dalam kenyataan kehidupan bernegara bangsa Indonesia. Karena Pancasila tidak bisa masuk ke dalam sistem pemerintahan tadi, maka sistem pemerintahan kita pernah makin lama makin dekat pada sistem komunis. Setelah itu terjadi sebaliknya. Bergerak kepada sistem kapitalis.

Sungguhpun demikian, para pemimpin Indonesia tidak pernah mempertanyakan apakah negara kita ini memang memakai demokrasi Pancasila. Sudah akan merdeka 70 tahun tapi kenyataannya rakyat miskin —menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2014— paling kurang 28,28 juta  orang atau 11,25 persen dari total populasi. Sementara itu, sumber-sumber minyak sudah banyak yang kering, rimba belantara sudah hampir gundul semua dan banyak lagi kekayaan alam Indonesia yang ternyata dikendalikan oleh pihak asing.

Banyak di antara kita berpikiran, punya pemimpin ‘’hebat’’ saja sudah cukup untuk mengatasi semua permasalahan bangsa ini. Padahal operator hebat tapi mengendalikan mesin rongsok takkan pernah membawa perubahan yang kentara. Malah kenyataan memberi bukti, mesin rongsok ini telah mengakibatkan kerusakan di mana-mana. Dalam catatan Badan Narkotika Nasional (BNN), kerugian akibat transaksi narkoba di Indonesia sepanjang tahun 2011 (saja) mencapai Rp41,2 triliun. Angka ini cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Markas Besar Kepolisian RI, selama 2011 terdapat 26.430 kasus dengan 32.763 tersangka alias meningkat 29,85 persen dari 2010.

Sementara itu, menurut beberapa lembaga seperti United Nations Development Programme (UNDP), Dinas Sosial dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), jumlah pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia sekitar 193.000-272.000 orang. Berdasarkan perhitungan biro riset Infobank, nilai transaksi prostitusi per bulan sekitar Rp5,5 triliun.

Indonesia juga juara dalam hal perusakan alam. Dalam 1 menit, perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepakbola. Hutan Indonesia menghasilkan sekitar Rp80 triliun setiap tahun. Tetapi dari angka itu, hanya 17 persen yang masuk ke kas negara dan sisanya ke kantong pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). Menurut Kementerian ESDM, lebih dari 90 persen dari total produksi minyak Indonesia dikuasai asing. Itu belum termasuk jenis bahan tambang lainnya. Merujuk data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu, sampai Februari 2013, jumlah hutang Indonesia mencapai Rp1.988.870.000.000.000.

Keadaan ini tidak pernah diperhitungkan dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia. Kegagalan pemimpin Indonesia memimpin negaranya hanya dibawa kepada suatu mitos: NKRI harga mati. Hari Kesaktian Pancasila pun akhirnya sama dengan mitos. Yakni berarti Pancasila itu disaktikan, bukan dioperasionalkan.

Karena itu, jangan buru-buru percaya pada pujian negara lain terhadap Indonesia. Sebab Nabi Muhammad pernah berkata bahwa pujian itu sama artinya dengan menyembelih.***


PURNIMASARI
Pemred majalah.riaupos.co
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us