Pekanbaru Bandar Kartun

Upaya Menghalau Gerun

13 Juli 2014 - 11.28 WIB > Dibaca 1632 kali | Komentar
 
Upaya Menghalau Gerun
Pameran kartun, karikatur dan komik di di Mal SKA yang ditaja oleh Sindikat Kartunis Riau (SiKari). Foto: SiKari untuk Riau Pos
Untuk kali ketiga Sindikat Kartunis Riau (SiKari) menggelar Pekanbaru Bandar Kartun Festival (PBKF), sebuah kegiatan multi event yang diadakan setiap  Juni. PBKF III yang ditaja Mei-Juni lalu itu menggelar pelatihan kartun, komik dan karikatur serta ditutup dengan pameran kartun yang menjulang tema "Sepakbola dan Kita"

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Itu Ronaldinho kan, Bang? Lihat giginya..ha..ha.., celetukan spontan itu keluar dari mulut seorang wanita kepada teman prianya ketika melintas areal pameran. Celetukan itu tak sengaja didengar Riau Pos yang kebetulan siang itu meliput sekalian menikmati pameran kartun bertajuk Sepakbola dan Kita, di atrium Kampar, Mal SKA, Pekanbaru. Rina (22), mengaku baru tahu ada pameran kartun ketika melintas di areal pameran dan melihat karikatur pesepakbola Brasil, Ronaldinho. Iya, baru tahu kalau ada pameran di sini. Pas keluar dari Matahari, mata saya langsung nampak ada pameran di sini, jawabnya ketika ditanya darimana ia tahu ada pameran kartun.

Puluhan kartun, komik dan karikatur pameran yang dikemas dalam helat PBKF) III itu juga memajang komik dan karikatur. Semuanya bertema sepakbola. Pameran yang digelar sejak 20 Juni lalu ini merupakan rangkaian kegiatan Pekanbaru Bandar Kartun Festival yang kami adakan setiap Juni. Tahun ini PBKF yang ketiga. Kali ini tema yang kami angkat adalah Sepakbola dan Kita, menyesuaikan dengan helat Piala Dunia yang sedang berlangsung, kata Furqon Elwe, Ketua SiKari.

Dari kartun yang dipamerkan, beberapa di antaranya kartun humor (gag cartoon) seperti karya kartunis Furqon Elwe bertajuk (R)evolusi Empat Tahunan yang menggambarkan perputaran bumi dari bola dunia menjadi bola kaki. Kemudian Pengangguran kartun yang menggambarkan seorang pencuri duduk termenung di malam hari, karena tak ada rumah yang bisa dicuri. Semua orang menonton bola. Kartun humor lainnya seperti Ancient Brazilian dan Co Keeper karya Setyanta Kartuningrat juga cukup menggerakkan otot senyum pengunjung. Selain kartun humor, juga ada kartun opini seperti Piala Dunia dan Nomor Urut dan Beda Pilihan Sama Jagoan yang menyentil Pilpres 2014 karya Eko Faizin. Atau kartun karya Bari Eko yang menggambarkan Jokowi dan Prabowo berbaju timnas sepakbola favorit masing-masing, duduk sebangku makan bakso.

Komik-komik pendek yang dipamerkan di antaranya Yong Dolah Maen Bola karya bersama Furqon Elwe dan Bagong Wkwk, komik strip Awang Zoom dan Nobar karya Nurul Fadhilla. Namun yang terlihat cukup mendominasi pada pameran ini adalah karikatur. Paling tidak ada sekitar 14 karikatur, di antaranya yang cukup menonjol adalah Ronaldinho karya Romeo Jericho serta Messi dan Pele karya Nurwenda Juniarta (Jiwenk). SiKari memang membebaskan pilihan karya yang dibuat oleh peserta. Boleh membuat kartun, humor maupun kartun opini, komik maupun karikatur, sesuai dengan kekhasan komunitas Sikari. Nampaknya teman-teman banyak memilih membuat karikatur, kata Furqon menjelaskan.  

Tidak hanya pameran, di areal pameran beberapa kartunis SiKari juga menggelar menggambar karikatur langsung bagi pengunjung mal yang berminat. Pada hari-hari tertentu memang ada anggota kita yang live carricatur on the spot. Selain mengasah mental bagi karikaturisnya, juga bertujuan lebih mengenalkan seni karikatur kepada masyarakat. Pameran ini akan berlangsung hingga selesai Piala Dunia, pertengahan Juli ini," tambah Furqon.

Jam Strip Komik
Selain berpameran di mal, SiKari juga memamerkan belasan karya di selasar Taman Budaya Riau selama satu hari, pada Ahad (22/6). Puluhan kartun, karikatur dan komik yang dipajang malam itu berhasil menahan pengunjung yang datang sebelum masuk ke gedung pertunjukan. Bahkan Kepala Taman Budaya Riau , Pulsiamitra, terkesan dengan karya-karya yang dipajang. Ini sangat kreatif. Kami dari Taman Budaya bahkan punya rencana untuk mengadakan helat pameran seni rupa yang mendukung industri kreatif. Seperti karikatur atau komik ini. Nanti bisa sekalian kita gelar workshop-nya, jelas Pulsiamitra.

Selain pajang karya, malam harinya SiKari menggelar jam strip komik. Enam orang kartunis tampak asyik menggambar di kertas ukuran A3, di atas meja panjang di aula gedung pertunjukan Taman Budaya. Jam strip komik itu menggambar komik secara sambung menyambung oleh beberapa orang. Jadi nantinya dihasilkan komik dengan gaya gambar yang berbeda di panel-panelnya. Sedangkan ending komiknya tidak diketahui, tergantung alur cerita yang terbangun selama jam strip berlangsung, jelas Furqon.

Suasana menjelang pertunjukan makin heboh karena SiKari juga menggelar menggambar karikatur langsung. Dua orang pejabat Taman Budaya Riau, Pulsiamitra dan Bero S Soekarno menjadi konsumen pertama yang wajahnya dikarikaturkan. Kemudian berturut-turut tiga orang anggota Nasyid yang tampil malam itu juga minta dikarikaturkan. Wih, asyik kali ya. Baru kali ini kami dikarikatur seperti ini, kata Ade, seorang anggota nasyid.

Selain pameran, sebelumnya SiKari telah menggelar pelatihan Kartun, Komik dan Karikatur pada Ahad (11/5) lalu di sekretariat SiKari di kompleks Dewan Kesenian Riau (DKR), Bandar Serai, Pekanbaru. Pelatihan yang diadakan selama satu hari penuh tersebut diikuti puluhan anak muda, rata-rata siswa SLTA dan mahasiswa di Pekanbaru dan ada yang dari luar kota seperti dari Pangkalan Kerinci, Pelalawan.

Pemateri yang didatangkan SiKari merupakan para praktisi di bidangnya. Seperti Furqon Elwe kartunis editorial, Jon Kobet komikus dan budayawan, Maezar  seorang digital artworker dan Donny Adam, karikaturis.  

Pelatihan ini juga merupakan rangkaian PBKF III. Hanya lomba yang tahun ini tak kami gelar, tambah Furqon.

Menghalau Gerun
Ketika ditanya motivasi apa yang membuat SiKari bisa tetap eksis melaksanakan serangkaian kegiatan dalam tiga tahun belakangan ini, Furqon menjelaskan bahwa sebenarnya ini sebuah upaya melawan gerun (cemas/risau, red.) terhadap kondisi perkembangan seni rupa (seni kartun khususnya) di Riau.  

Ada dua hal yang membuat saya gerun. Pertama, sedikitnya laman bermain bagi para kartunis di Riau. Sangat berbanding kontras dengan jumlah media cetak yang ada. Kita tahu, media (cetak), hingga saat ini, merupakan salah satu instrumen pendukung berkembangnya seni kartun, komik atau pun karikatur. Setau saya cuma koran ini (Riau Pos, red) yang menyediakan rubrik kartun atau komik. Kedua, belum tingginya apresiasi masyarakat terhadap seni ini. Bisa jadi kondisi ini merupakan sebab-akibat dari kondisi pertama. Makanya kami SiKari berusaha dengan sekuat tenaga menaja PBKF itu setiap tahun. Di sana ada pelatihan, ada lomba hingga pameran. Bahkan kami juga menerbitkan majalah komik-kartun bulanan yang sudah memasuki edisi ke-23, terang Furqon panjang lebar.  

Mengenai pemanfaatan media online sebagai laman bermain, Furqon menjelaskan memang belum menggarap secara serius, semisal membuat komik online. Memang banyak yang menyarankan, tapi kami mau membangun masyarakatnya dulu. Masyarakat dalam pengertian ya masyarakat sebagai apresiator dan masyarakat pelaku seni kartun-komik-karikatur itu sendiri.   
 
Makanya saat ini kami baru setakat memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook atau twiter sebagai alat untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan SiKari. Dua jejaring sosial ini sangat efektif untuk menyasar generasi muda yang berminat pada seni kontemporer ini. Tapi secara orang per-orang sudah ada kawan-kawan di SiKari yang memanfaatkan media online untuk memasarkan jasa dan keahlian mereka, seperti membuat karikatur, ilustrasi maupun kerja-kerja seni digital. Bahkan di antara mereka sudah mapan dan mandiri bisa hidup dengan kerja seni mereka itu, tambah Furqon lagi.

Laman Bermain
Menyinggung langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan SiKari ke depan, Furqon menjelaskan bahwa sebagai sebuah komunitas seni (rupa), peran SiKari sebenarnya hanyalah sebagai fasilitator saja, sebagai tempat kumpul-kumpul, tempat berbagi ilmu dan pengalaman, tempat silaturahmi bagi anggota dan peminat seni kartun, karikatur dan komik. SiKari itu adalah laman bermain.

Karya-karya seni rupa itu, termasuk kartun, sebenarnya karya yang lebih bersifat personal, bukan komunal. Ada tidak ada SiKari pun senimannya tetap bisa berkarya. Termasuk juga komik, walaupun pada perkembangan industri kreatif sekarang sebuah komik sering merupakan sebuah karya tim. Nah, seperti yang saya singgung di awal, tentang sempitnya laman bermain, maka SiKari saat ini mengambil peran  sebagai laman bermain itu.

Apa yang akan kami lalukan ke depan tetap berangkat dari visi SiKari: Pekanbaru Bandar Kartun. Yaitu menjadikan seni kartun, komik dan karikatur berkembang di Riau, khususnya Pekanbaru. Selain itu menjadikan seni kartun, komik dan karikatur sebagai salah satu industri kreatif yang berkembang di sini, tutup Furqon.***
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 wib

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Follow Us