Ramadan

13 Juli 2014 - 11.35 WIB > Dibaca 1680 kali | Komentar
 
Ramadan
Bulan suci segera tiba—kini sudah (bila tulisan ini dimuat). Warga muslim di dunia akan melaksanakan rukun Islam yang keempat, yakni berpuasa selama sebulan penuh. Meskipun ada perbedaan penentuan awal Ramadan tahun ini dari beberapa ormas Islam, hal ini tidak harus dianggap tabu. Sudah selayaknya kita menerima perbedaan ini—karenasudah sering terjadi dari zaman dahulu. Nah, bagaimana bila perbedaan ini terjadi pada tataran bahasa?

Saya sangat yakin, Anda pasti pernah mendengar atau membaca perbedaan pelafalan atau penulisan kata ramadan, ramadhan, ramadlan, romadon, atau romadhon di sejumlah media (surat kabar atau televisi) atau dari orang terdekat Anda. Tentu saja bagi seseorang yang takpeka terhadap persoalan ini akan menganggapnya biasa. Bahkan, takacuh—bisa disebabkan tak mau peduli atau pura-pura tak peduli atau tak mau tahu sama sekali. Itu juga tak perlu kita perdebatkan.

Sebelumnya, saya juga pernah menulis di rubrik bahasa inibeberapa bulan lalu berjudul “Fonem Hantu”. Penulisan ramadan, ramadhan, dan seterusnya, barangkali masih bisa dikelompokkan ke dalam “fonem hantu” ini. Kehadiran fonem /h/ pada kata ramadhan amat keliru. Hal ini disebabkanoleh proses penyerapan kata dilakukan dengan cara adaptasi, yakni menyesuaikan dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD): ramadhan—ramadan. Seperti halnya kata salatyang seringkali ditulisshalat, sholat, atau solat—tanpa /h/.

Penggunaan ejaan yang diadaptasi dari bahasa Arab memang teramat banyak kekeliruannya. Misalnya, dari kelima waktu salat itu: dzuhur, ashar, maghrib, isya, shubuh. Selain isya, semuanya keliru.Coba Anda lihat betapa banyak fonem hantu /h/ pada kata tersebut. Konsonan rangkap /dz/, /gh/, dan /sh/ tidak berterima dalam bahasa Indonesia. Terkecuali /ng/, /ny/, /sy/, dan /kh/. Selain itu, kekeliruan juga kerap terjadi pada fonem /o/ dan /l/ sebagaimana orang-orang menulis musala menjadi musola atau malah merangkap dengan fonem /h/ mushola. Apa kira-kira yang ada dalam benak pembaca, apakah mereka tidak memerhatikan hal demikian? Entahlah.

Hal yang paling menjengkelkan adalah ketika orang-orang (terutama orang tua zaman dahulu) tetap berteguh hati menambahkan fonem /l/ pada beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab, misalnyaramadlan dan wudlu. Secara logika, konsonan rangkap /dz/, /gh/, dan /sh/ sajatidak berterima, apalagi /dl/. Tentu saja orang Indonesia akan sulit melafalkan konsonan tersebut. Bahasa Indonesia bukan untuk menyulitkan pengguna bahasa, melainkan untuk mempermudah. Jadi, jangan ikuti hal yang menurut kita rumit. Orang tua kita zaman dulu memang akan tetap berkukuh hati pada apa-apa yang menurut mereka benar. Mereka takakan peduli dengan kamus. Bahasa mereka adalah bahasa yang turun-temurun dari nenek moyang.

Saya kira persoalan ini tidak akan pernah selesai sampai anak cucu. Satu-satunya cara untuk meyelamatkan anak-cucu kita dari kesalahan berbahasa adalah dengan menyampaikannya sejak dini sehingga mereka tak tabu kala terjadi perdebatan seperti ini—terutama pada kegiatan pembelajaran di sekolah, guru adalah kunci persoalan ini walaupun memang bahasa Indonesia seharunya diajarkan oleh siapa saja selagi orang itu mafhum ihwal kebahasaan. Namun, kemafhuman itu juga tak semudah yang kita bayangkan untuk ditransfer kepada mitra tutur/murid Anda. Anda harus bisa mencari cara supaya orang-orang yang kita ajak bicara mengangguk dari apa yang kita sampaikan.

Sedikit pengalaman, saya pernah berdebat dengan siswa kelas VIII di sekolah. Siswa ini takmau kalah—karena ia berasal dari pondok—segala yang berkaitan atau serapan dari bahasa Arab, ia meyakini bahasa Indonesia yang berasal daribahasaArab harus ditulis sesuai dengan ejaan asalnya. Siswa itu bilang “Kalau Bapak mengubah ejaan, berarti Bapak mengubah maknanya dong.” Cerdas sekali anak ini. Akhirnya, dengan segala jurus, saya meyakinkan kepadanya bahwa hal itu tidak mengubah makna asalnya karena diserap melalui proses adaptasi.”Begini saja, apakah kamu menyebut kursi dengan kursiyyun yang berasal dari bahasa Arab? Tentu tidak, bukan?” tanya saya. “Apakah kamu menyebut dengan kitabun untuk menyebut kitab?” tanya saya lagi mempertegas. Akhirnya siswa saya mengalah—karena tentu saja guru selalu menang, baik benar maupun salah. Namun, dalam hal ini, saya berkata benar.Saya jelaskan bahwa proses penyerapan bahasa asing, selain adaptasi, juga bisa dengan cara adopsi (sama), semisal bank, film, dan modern atau juga bisa dengan translasi (terjemahan), semisal laundry—penatu, download—unduh.

Kembali ke persoalan ramadhan, ramadlan, romadon, atau romadhon. Mari kita sama-sama memberantas keberadaan “fonem hantu”—fonem /h/, /o/, dan /l/— ini dengan berpedoman pada EYD atau KBBI biar kelak tidak banyak “hantu”  lagi yang berkeliaran di kehidupan berbahasa kita, terutama sepanjang Ramadan ini. Semoga hantu-hantu bahasa dapat  kita belenggu sehingga puasa kita menjadi khusyuk dan khidmat.***


Encep Abdullah
aktivis Kubah Budaya, alumnus Untirta, Banten
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Follow Us