Kalah Menang Pulang Kampung

20 Juli 2014 - 06.15 WIB > Dibaca 1310 kali | Komentar
 
Kalah Menang Pulang Kampung
‘’ANGKAT koper’’, ‘’Pulang Kampung’’ sering menjadi frasa yang ditujukan bagi salah satu pihak yang kalah dalam sebuah pertandingan atau kompetisi. Apakah frasa ini akan berlaku bagi peristiwa ‘’kompetisi’’ besar yang bakal terjadi dalam sepekan ke depan?

Besok lusa, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menurut jadwalnya akan menuntaskan rekapitulasi penghitungan suara hasil  Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Siapa yang berhasil meraih suara terbanyak dalam kompetisi merebut hati rakyat ini, maka pasangan inilah yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Kalau pun pertarungan akan berlanjut ke Mahkamah Konstitusi (MK), diperkirakan keputusannya akan keluar dalam sebulan ke depan. Bisa juga lebih, bila MK memutuskan hal yang luar biasa nantinya. Yang pasti, pada 20 Oktober presiden terpilih sebagai suksesor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini harus dilantik untuk menghindari kekosongan kekuasaan.

Apakah salah satu pihak yang kalah di pertarungan Pilpres ini akan pulang kampung atau angkat koper? Terkadang ini yang tak tersadar bagi tim sukses dan pendukung kedua calon. Kerasnya ‘’pertarungan’’ jelang hari pencoblosan 9 Juli lalu, menunjukkan sepertinya mereka tidak akan bertemu lagi di ‘’dunia nyata’’. Saling hujat, saling fitnah, saling bongkar kekurangan, saling cari pembenaran atas pendapat sendiri dan kesalahan orang lain. Bahkan, kondisi ini masih berlanjut hingga hari ini.

Hasil quick count beberapa lembaga survei yang berbeda juga menjadi pemicunya. Persaingan itu masih diiringi dengan provokasi dan agitasi bahwa salah satu kelompok merasa paling benar dan mempunyai kebenaran yang absolut dan tak pernah salah maupun disalahkan. Seakan mereka tak sadar, bahwa selagi yang namanya manusia, kodratnya tak akan luput dari salah dan khilaf.

Mungkin kita perlu belajar bagaimana dukungan para suporter kepada tim sepakbola, seperti Piala Dunia yang baru saja usai di Brazil. Saat tim Argentina kalah 0-1 dari Jerman di babak final dan pulang ke negaranya tetap disambut dan dielu-elukan. Tak ada umpatan sumpah serapah kepada tim lawan atau tuan rumah yang juga menjadi ‘’lawan’’ abadi. Para pendukung tim Argentina ini lebih memilih memendam ‘’benci dan sakit hati’’ itu, minimal untuk ditumpahkan pada empat tahun mendatang.

Sementara usai pilpres lalu, kerasnya distorsi dan polarisasi pendukung plus agitasi dari tim sukses masing-masing calon, apakah bisa menahan diri saat hasil resmi keluar dari KPU? Atau menyimpan ‘’sakit hati’’ kekalahan itu untuk kembali ditumpahkan lima tahun mendatang dalam pertarungan baru? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Karena polarisasi masyarakat yang ekstrem seperti saat ini baru pertamakali terjadi dalam sejarah Pemilu di Indone­sia.

Yang jelas, siapapun yang kalah tidak bakal pulang kampung. Mereka masih warga Indonesia. Warga yang masih punya hak dalam berbagai hal di republik ini, siapapun yang menjadi pemimpin mendatang. Saya yakin, para elite ini pasti sadar akan hal ini. Tapi kesadaran ini terkadang diabaikan, (minimal) hingga tujuan kekuasaan mereka tercapai. Ini seakan mirip dengan ungkapan Achilles (yang diperankan Brad Pitt) kepada adik sepupunya, saat ikut memimpin pasukan Yunani untuk menyerang negeri Troya di film Troy. ‘’Prajurit berperang untuk raja hingga mati, namun dia tidak pernah diberitahu kenapa dia harus mati di pertempuran oleh sang raja’’.

Sayang, banyak pihak yang seharusnya memberi kesadaran untuk ini malah ikut mempertajam polarisasi ini. Baik itu ilmuan, pengamat, media dan pihak-pihak lain yang seharusnya berpikir lebih untuk kebaikan dan kepentingan bangsa dan negara.

Yang harus disadari, yang kalah tidak akan pulang kampung. Mereka akan tetap menjalani hidup sebagai anak bangsa di Bumi Pertiwi ini. Punya hak untuk hidup rukun, damai dan tidak saling curigai karena tidak punya satu pilihan.

Kalau pun mereka harus pulang kampung, bagi sebagian besar anak bangsa ini lebih untuk menjaga tradisi jelang Idul Fitri di negeri ini. Pulang kampung atau mudik ini, yang pasti tak akan bisa diganti dengan oleh ucapan, surat maupun video yang saat ini bisa dikirimkan dari genggaman karena majunya teknologi informasi dan kencangnya media sosial masuk ke kehidupan kita. Juga tidak bisa digantikan dengan pengirimkan sesuatu barang yang kini bisa dilakukan ke belahan dunia mana pun.

Kencangnya pertarungan teknologi informasi dan media sosial ini juga menjadi sejarah dalam persaingan Pilpres lalu. Trafik penggunaan internet dan media sosial sangat luar biasa. Orang bisa memberikan komen, sanggahan, share link terkait dukung-mendukung hanya di genggaman. Tak heran orang yg dahulunya jauh terasa lebih dekat karena satu pilihan. Sebaliknya, yang biasanya dekat, menjadi berjarak karena saling berbantahan dan adu argumen di media sosial karena berbeda pandangan. Ironinya, itu terbawa ke dunia nyata.

Tapi, pulang kampung kali ini masalah rasa. Rasa ingin berkumpul bersama, berbagi bersama, bercengkrama bersama orang-orang terdekat yang dicintai, teman masa kecil dan tetangga di hari yang fitri. Rasa ini yang tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Oleh karena itu, untuk tradisi mudik ini telah dipersiapkan jauh-jauh hari bahkan dengan segenap perjuangan.
Mudah-mudahan di saat pulang kempung ke mana pun tujuannya itu, di hari yang fitri, perbedaan pendapat dan beda pilihan jagoan yang diusung saat pilpres dan Piala Dunia lalu akan jadi cerita ‘’hangat’’ saat silaturahmi maupun reuni? Rasa dekat namun terasa jauh mudah-mudahan berubah menjadi benar-benar dekat.

Semua yang mulai tercabik dan terkoyak dari anak bangsa ini, bisa tersulam indah dalam silaturahmi Idul Fitri. Sehingga, saya, anda dan semua pemimpin negeri ini menjadi pemenang seperti yag dijanjikan Allah SWT kepada orang yang lulus dalam ‘’pertarungan’’ selama Ramadan. Karena ini kemenangan hakiki. Bukan kemenangan untuk lima atau sepuluh tahun. Kemenangan untuk bekal kita ‘’Balik Kampung’’ sebenarnya  kala tiba waktunya nanti. Allahu a’lam bissawab!***


FIRMAN AGUS
Redaktur pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 12 Desember 2018 - 16:00 wib

BC Musnahkan Barang Ilegal Miliaran Rupiah

Rabu, 12 Desember 2018 - 15:00 wib

Jalan Koridor Langgam Ditutup Sementara

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:30 wib

Bupati Harap Prestasi Terbaik di MTQ Provinsi

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:00 wib

Jarang Cetak Gol, Malah Jadi Pemain Terbaik

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:51 wib

BBKSDA Riau Melepasliarkan Seekor Kukang ke Habitatnya

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:45 wib

Empat Tersangka Narkoba Diamankan

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:44 wib

Siswa SMK Muhammadiyah 3 Gelar Studi Banding Ke Industri

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:30 wib

Jalan Menuju Masjid Jami’ Air Tiris, Hari Ini Dihantam Banjir

Follow Us