Festival Hari Puisi 2014

Teguhkan Nurani, Jaga Kesusasteraan

20 Juli 2014 - 06.26 WIB > Dibaca 824 kali | Komentar
 
Di tengah-tengah gaduh dan haruk pikuk serta semrawutnya isu politik saat ini, Yayasan Panggung Melayu bekerja sama dengan Koran Indopos, Yayasan Sagang, Dewan Kesenian Jakarta dan Komunitas Musikalilasi Puisi Indonesia (Kompi) tetap tegar berjuang mengibarkan Hari Puisi Indonesia (HPI) untuk menenguhkan nurani dan menjaga Kesusasteraan Indonesia.

Laporan Fedli Azis, Jakarta


Seyogyanya Hari Puisi Indonesia jatuh pada tanggal 26 Juli yang diambil dari hari kelahiran pujangga besar Chairil Anwar. Namun perayaan tahun ini sengaja dipercepat oleh panita pelaksana mengingat hari raya Idul Fitri semakin dekat. Oleh sebab itulah, pada 12 Juli sampai 17 Juli lalu dilaksanakan sebuah helat yang diberi tajuk Festival Hari Puisi 2014 dalam rangka merayakan Hari Puisi Indonesia yang ke II. Acara tersebut dilaksanakan di Pelataran Parkiran Taman Ismai Marzuki (TIM) Jakarta dan Gedung Teater Kecil TIM.

Pelaksanaan Hari Puisi yang ke II ini tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya. Tepat pada 23 November 2012 lalu, telah diselenggarakan musyawarah penyair seluruh Indonesia di Pekanbaru. Lalu seiring itu, bertempat di Anjung Seni Idrus Tintin dibacakanlah Deklarasi Hari Puisi Indonesia.

Dari sanalah sejarah itu tercatat, pembacaan deklarasi Hari Puisi Indonesia yang dalam hal itu dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri disaksikan oleh seluruh perwakilan penyair yang ada di seluruh Indonesia. Maka, bergemalah Deklarasi Hari Puisi Indonesia pada waktu itu yang diantaranya menyatakan bahwa Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adaah Sumpah Pemuda yang kemudian memberi dampak panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pulalah, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Dalam teks deklarasi yang bersejarah itu juga menyatakan bahwa Indonesia telah memiliki Hari Puisi Nasional yang tujuannya tak lain sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat dan terbuka.

Setelah pendeklarasian itu selesai, tinggal lagi bagaimana upaya untuk tetap bisa merayakannya, oleh karena itulah Asrizal Nur dan kawan-kawan tetap bersepakat untuk merayakan tiap tahunnya. Hari Puisi Indonesia pertama, dilaksanakan di Jakarta dengan nama Pekan Hari Puisi Indonesia yang diselenggarakan pada 25-30 Juli 2013. Berbagai agenda pun dilaksanakan. Seirama dengan itu, di daerah-daerah juga menyelenggarakan Hari Puisi Indonesia dengan cara masing-masing seperti di Sumbar, Sumut, Jambi, Riau, Banten, Yogyakarta, Bali, Kalimantan dan lain-lain, Kenang Asrizal.

Demikian juga dengan perayaan Hari Puisi Indonesia yang ke II, berbagai agenda pun dilaksanakan. Diantaranya sayembara buku kumpulan puisi naugerah hari puisi Indonesia memperebutkan hadiah dari Indopos, lomba baca puisi se-Indonesia memperebutkan hadiah dari Yayasan Sagang, lomba musikalisasi puisi se-Indonesia memperebutkan hadiah dari Kompi, tadarus puisi dan sahur bersama penyair dari seluruh Indonesia, diskusi buku 1001 Gurindam, parade puisi antara penyair, pejabat dan artis, serta ditutup dengan acara malam anugerah hari puisi Indonesia.

Memasyarakat dan Menggelorakan Puisi

Antusias para peserta lomba maupun para penyair yang turut hadir merayakan Hari Puisi Indonesia yang ke II itu dilihat dari jumlah peserta lomba baca puisi yang diikuti sebanyak 250 orang, 31 komunitas mengikuti lomba musikalisasi puisi, 120 judul buku meramaikan sayembara buku kumpulan puisi, 40 penyair dan deklamator berperan serta dalam tadarus puisi dan sahur ala penyair serta 20 pembaca puisi dalam parade baca puisi, penyair, pejabat dan artis.

Salah seorang Inisiator Hari Puisi Indonesia Rida K Liamsi menyebutkan, acara merayakan Hari Puisi Indonesia 2014 yang ke II adalah merupakan suatu upaya yang baik untuk menyemarakkan puisi, baik pembacaan maupun dalam bentuk lainnya seperti musikalisasi puisi. Selain itu, saya kira, tentu saja helat ini dalam rangka menumbuhkembangkan dan meningkatkan minat, bakat dan kecintaan dalam bidang pembacaan puisi serta upaya memasyarakatkan puisi ke kalangan yang lebih luas, jelas Rida.

Budayawan Riau itu juga menjelaskan sudah sangat pantas bagi semua untuk memuliakan puisi, diantaranya dengan cara merayakannya sebab puisi sesungguhnya adalah maha kata-kata. Sedangkan kata-kata lanjut Rida mempunyai kekuatan yang teramat penting sejak zaman dahulu dalam kehidupan baik di bidang sosial, ekonomi, dan politik. kenyataan itu, juga menunjukkan bahwa posisi dan kekuatan yang sama juga dimiliki oleh puisi. Tak heran misalnya, Pujanga Bear Riau, Raja Ali Haji mengatakan kata pena akulah raja dunia, banyak pekerjaan pedang dilakukan oleh kata-kata tapi tidak semua pekerjaan kata-kata dapat dilakukan oleh pedang, beratus-ratus pedang yang telah terhunus, hanya dengan sepatah katadapat tersarung kembali, kata Rida tegas.

Rida juga menegaskan Hari Puisi Indonesia harus terus diperjuangkan keberadaannya dari tahun ke tahun sehingga akhirnya menjadi perayaan masyarakat Indonesia, dengan berbagai cara mereka melakukannya. Selain itu, pelaksanaan dalam merayakan Hari Puisi Indonesia dinilai Rida untuk menghargai puisi dan juga penyairnya yang telah berjuang untuk memanusiakan manusia melalui kata-kata. Bahkan mengutip kata Presiden penyair Indonesia, bahwa negara ini berhutang kepada puisi. Di mana, negara Indonesia ini, semangatnya berangkat dari puisi yaitu sumpah pemuda. Ke depannya, kita akan tetap berusaha mendukung dan mensuport  perayaan Hari Puisi Indonesia agar kiranya puisi tetap berkembang dan terus berjaya, ucap Rida.

Bangsa Indonesia ini yang terdiri dari beragam suku dan budaya, kekayaan seni dan tradisi di mana di dalamnya terdapat kekayaan estetika yang melimpah ruah. Menurut salah seorang penyair asal Aceh yang berdomisili di Jakarta, Fikar W Eda, mengatakan bahwa demikian juga puisi.  Negara Indonesia ini penuh dengan puisi, kata salah seorang dewan juri lomba baca puisi se-Indonesia itu di sela-sela acara Festival Hari Puisi Indonesia 2014.

Katanya, manusia Indonesia itu sejak dari lahir sampilah besar dipenuhi dengan prosesi-prosesi adat dan budaya seperti prosesi kelahiran, menimang anak, menidurkan anak yang kesemua itu menurut Fikar adalah merupakan puisi bagian dari sastra kultur.  Itukan bagian dari puisi semua, bagian dari imajinasi dan sugesti. Bahkan Sutardji, Presiden Penyair Indonesia, menyebutkan negara kita ini lahir dari puisi, dari sebuah imajinasi yang dihimpun dalam Sumpah Pemuda. Ya, kita juga mesti mengakuinya, jelas Fikar.

Ditambahkan acara seperti ini patut pula diberi dukungan karena acara serupa ini sangat penting untuk menggelorakan puisi itu sendiri. Makanya kami dari komite sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) turut andil dan ikut ambil bagian dalam acara ini. Saya kira forum-forum seperti inilah antara lain sebagai upaya untuk menggelorakan semangat berpuisi karena ini memang penting, kalau perlu setiap hari, Indonesia ini adalah hari puisi karena negara kita ini penuh dengan puisi, katanya.

Sedangkan menurut salah seorang Juri Lomba Musikalisasi Puisi Se-Indonesia, Embe C Noor, mengatakan merayakan Hari puisi Indonesia di mana puisi menjadi titik tolak dari acara ini, sangat besar pengaruhnya apalagi kalau sekiranya karya-karya atau peristiwa serupa ini ditampilkan dalam suatu persiapan yang sangat besar. Katanya, dalam hal musikaliasi puisi misalnya, bisa menjadi penyeimbang dari musik-musik yang hanya beroreintasi industri. Nah, ini yang saya maksudkan. sementara musikalisasi puisi adalah karya yang lahir dari atau bertolak dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran, komunitas dan komunitas dan dari kebudayan satu ke kebudayaan lain. Ini yang sangat diperlukan oleh negara kita saat ini yang sudah terlanjur terlalu didominasi oleh seni pertunjukan musik yang sangat beragam. Dalam isitilah saya, bergizi tapi tidak berjiwa, ucap Embe.

Salah seorang peserta baca puisi, Nana Risky menyebutkan sangat apresiasi dengan perayaan Hari Puisi Indonesia ini. Sebagai upaya memasyarakatkan puisi, acara serupa ini dinilainya sangat penting. Namun sebagai peserta lomba, Nana mengharapkan ke depannya, ada semacam evaluasi yang dilakukan panitia. Misalnya dalam tata cara perlombaan baca puisi.

Puisi juga harus menjadi ilmu pengetahuan, barulah kemudian puisi itu bisa lebih memasyarakat. Dalam hal itu, dijelaskan Nana, misalnya, peserta yang masuk final dalam lomba baca puisi, harus diminta pertanggung jawabannya, para dewan juri hendaknya memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan puisi yang dibacakan peserta sehingga peserta mau tidak mau, harus mempelajari puisi yang dibacakannya itu secara mendalam baik dari tataran makna, sejarah lahirnya puisi tersebut bahkan proses kreatif penyairnya. Cobalah bayangkan, jika setiap tahun ada 200 peserta yang ikut bagian dalam lomba ini, berarti ada 200 orang yang pada akhirnya belajar tentang puisi. Saya yakin, secara tidak langsung mereka akan mempelajari puisi dan akhirnya puisi dibahas, didiskusi. Tidak hanya sekedar dibaca sekali lewat begitu saja, ucap deklamator yang berprofesi sebagai dosen sastra di Semarang itu.

Dengan adanya Hari Puisi Indonesia itu juga, menjadi suatu momen bagi pecinta sastra di tanah air ini untuk merayakan puisi. Meskipun setahun sekali, paling tidak, inilah momen, inilah wadah bagi para pecinta sastra terutama puisi. Dengan adanya Hari Puisi Ini tentu menjadi tonggak awal dan menjadi landasan untuk bisa dikembangkan lagi kemana-mana, jelas penyair Indonesia dan pimpinan komunitas teater Tanah Air, Jose Rizal Manua.

Sementara itu, Ketua Yayasan Sagang yang turut hadir dalam perayaan Hari Puisi Indonesia itu, Kazzaini Ks menyampaikan di helat seperti inilah tampak adanya upaya bersama untuk menggaungkan Hari Puisi Indonesia yang memang dalam hal itu, Pekanbaru-Provinsi Riau menjadi tuan rumah dalam acara  pendeklarasiannya. Saya kira ini perlu kita pertahankan dan bila perlu semakin dikembangkan lagi konsepnya, jelas Ketua Umum Dewan Kesenian Riau itu singkat.

Festival dan perayaan Hari Puisi Indonesia ke II juga menjadi seolah-olah taman kata, taman tempat  karya penyair dan sastrawan di seluruh Indonesia menunjukkan keindahannya. Hal itu dirasakan penyair perempuan Riau, Kunni Masrohanti yang berkesempatan hadir membacakan puisi di acara Tadarus Puisi dan Sahur Bersama Penyair. Ikatan silaturahmi yang dirasakan begitu kuat. Ada semangat yang terus memuncak dari segala keterbatasan dan upaya yang dimiliki pelaksana dan panitia. Tak peduli duduk di pelataran parkir, hujan bahkan banjir, semua penyair yang hadir  tetap bertahan sampai subuh. Duduk, sahur dan membaca puisi bersama tanpa ada jarak tua dan muda, senior atau junior. Saya kira, dengan melihat perayaan HPI ke II ini dan juga semangat kawan-kawan penyair,  ke depan HPI bisa menjadi festival sastra paling bergengsi di nusantara bahkan Asia, ucap Kunni.

Selaku sekretaris dari Yayasan Panggung Melayu sekaligus penyair Indonesia, Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan acara memperingati Hari Puisi Indonesia yang ke II juga dimaksudkan untuk tetap menjaga kebersamaan dan solidarsaitas antar sesama penyair Indonesia. Untuk itulah mari sama-sama kita berdoa  agar acara Hari Puisi Indonesia ini tetap dapat dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, seni di Indonesia ini semakin bermanfaat terutama bagi kepentingan masyarakat Indonesia dan juga kita harapkan dengan kebersamaan ini, dengan adanya ketunakan kita dalam memperjuangkan seni dan budaya kita ini akan memberikan sumbangan yang positif bagi perkembangan kesenian dan kebudayaan Indonesia agar menjadi lebih bermartabat, ucapnya.

HPI Mengetuk Kekuatan Sastra
Perayaan Hari Puisi Indonesia 2014 ditutup dengan malam puncak anugerah Hari Puisi Indonesia yang dilaksanakan di Gedung Teater Kecil taman Ismail Marzuki. Selain menyerahkan hadiah bagi para pemenang lomba yang ditaja dalam sepekan itu, Budayawan Indonesia, Prof Dr Abdul Hadi WM menyampaikan pidato kebudayaan.

Abdul Hadi menilai perayaan Hari Puisi Indonesia adalah sebuah upaya mengingatkan kembali untu mengetuk kekuatan sastra dan puisi agar kehidupan bangsa ini lebih baik ke depannya.

Kesusateraan memainkan peranan penting dalam membangkitkan kebudayaan. Kebudayaan yang dibuat adalah untuk kepentingan bangsa itu sendiri. Kata Abdul Hadi, bangkitnya kebudayaan besar dunia tidak mungkin tidak, dari bangkitnya dunia kesusasteraan seperti munculnya penyair-penyair  besar layaknya di Yunani yang seiring dengan bangkitnya kebudayaan mereka. Bangsa Indonesia besar karena memiliki tradisi-tradisi besar yang kaya dan tak terpermaknai banyaknya. Kita sebenarnya mewarisi khazanah kebudayaan yang cukup kaya yang juga menyimpan gagasan, pemikiran dan kearifan lokal untuk dijadikan tuntunan hidup. Begitu juga dengan sastra, banyaknya sastra tradisi yang tercatat seperti sastra Bali, Melayu, Dayak, Mentawai, Minangkabau, Jawa, Batak dan banyak lagi. Nah, ini semua tidak akan ada artinya kalau tidak diwariskan dan tidak dikembangkan oleh generasi yang hidup pada zamannya masing-masing, ucap budayawan Indonesia itu.

Kesusateraan Indonesia juga menjadi salah satu faktor penyatuan dari beragam suku bangsa yang ada di Indonesia. Sebuah bangsa itu terwujud tidak hanya sebatas memiliki tanah air tetapi wujud suatu bangsa itu juga harus  memiliki bahasa yang satu, bahasa juga tidak akan terwujud tanpa adanya kesusasteraan. Kalau mau melihat identitas bangsa Indonesia, maka belajarlah kesusasteraan Indonesia dan juga belajar dari nilai-nilai tradisi Indonesia. Tapi sayangnya, memang di sekolah tidak dipelajari tentang hal itu semua dan inilah yang perlu kita cermati ke depan, ucapnya sembari menegaskan perayaan Hari Puisi Indonesia adalah sebuah upaya mengingatkan agar kembali mengetuk kekuatan sastra dan puisi agar kehidupan bangsa ini lebih baik ke depannya, tutup Abdul Hadi.

Sementara itu, yang tampil sebagai juara I dalam lomba baca puisi se-Indonesia adalah Octavianus Marsehika, pembaca terbaik ke II, Irvan Hakim dan pembaca terbaik ke  III, Harna Silwaty. Untuk lomba musikalisasi puisi se-Indonesia, menduduki tingkat I adalah Bale Art Project dari Kalimantan Selatan dan tingkat II, Sanggar Tudung Pelite dari Jogjakarta. Sedangkan posisi ke III adalah vanderwijck 7 dari Jakarta.

Selanjutnya, diadakan sayembara penulisan buku puisi di mana yang berhak mendapat buku pilihan Hari Puisi Indonesia adalah buku puisi berjudul Belum Dalam Lukamu karya M Anton Sulistiyo. Selanjutnya 5 buah buku pilihan HPI, diantaranya Air Terisak Membelah Batu karya Zamawi Imron, PiknikYang Menyenangkan Karya Hasta Indriyani, Matakara karya Iverdixon Tinungki, Menuju Kota Lama karya. Isbedy Stiawan ZS dan Bali Borneo karya Ni Made Purnima Sari.

Selaku ketua pelaksana, Asrizal Nur mengatakan tetap berusaha tegar berjuang menegarkan puisi indonesia. Katanya, ketika orang-orang menjauh dari puisi,tapi Yayasan Panggung Melayu berusaha di garda paling depan untuk mengibarkan puisi. Kami akan terus beritikad untuk melaksanakan pada tahun depannya tentu berharap dukungan sepenuhnya dari berbagai pihak. Selamat hari puisi, selamat Ramadhan dan selamat Idul fitri, hidup puisi! Hidup puisi! teriaknya. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us