Redaksi

iPAD untuk Wakil Rakyat

13 Juli 2011 - 05.24 WIB > Dibaca 641 kali | Komentar
 

TEKNOLOGI iPad dewasa ini menjadi buah bibir. Terutama setelah penangkapan Randy, seorang sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menawarkan penjualan perangkat komunikasi virtual itu melalui forum jual beli di www.kaskus.us oleh aparat kepolisian.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) di PN Jakarta Pusat, mendakwa melanggar Pasal 62 Ayat (1) juncto Pasal 8 Ayat (1) Huruf j UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memiliki manual book berbahasa Indonesia. juga Pasal 52 juncto Pasal 32 Ayat (1) UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi, karena iPad tidak termasuk kategori alat elektronik komunikasi resmi dengan ancamannya pidana penjara paling lama 5 tahun penjara.
 
Kasus penangkapan ini memenuhi ruang publik tentang rawannya berbisnis untuk teknologi terbaru yang belum terdaftar. Namun, kondisi ini sedikit ironis, karena, unik, dengan menawarkan dua unit iPad, seseorang bisa menyalahi hukum, walaupun transaksi jual-beli dilakukan secara terbuka melalui akun publik.

Lebih parah lagi, dua unit iPad yang diperjualbelikan Randy juga hanya contoh kecil yang sebenarnya layak dipertanyakan dari sekian banyak produk ilegal yang beredar luas di tengah khalayak, sementara sah atau tidaknya peredaran barang, hanya pemerintah dan produsen  dan awam bagi publik.

Sebut saja, berapa banyak produk bajakan diperjualbelikan dengan manual asing, tapi tak ada penindakan oleh aparat. Berapa banyak produk yang diselundupkan dalam partai besar dari luar negeri tapi seolah tak pernah terpantau oleh aparat penegak hukum.

Penangkapan terhadap Randy jelas melukai hati rakyat. Layaknya membandingkan antara maling ayam dan koruptor, sungguh ini sebuah ironi.

Hari ini, DPRD Riau juga sedang riuh dengan rencana “bagi-bagi” iPad untuk menunjang fungsi perwakilan mereka. Dengan teknologi itu, diharapkan bisa memudahkan berinteraksi antar sesama, juga kepada audiensnya.

Namun, jangan salah, karena keawaman publik termasuk mayoritas anggota DPRD terhadap teknologi iPad tersebut, bisa menyebabkan derita yang sama pula bagi para anggota dewan.

Semogalah, keberadaan teknologi ini tidak sekadar menjadi nomenklatur kegiatan yang disediakan untuk tiap-tiap anggota dewan semata, namun, bisa berguna layaknya yang diharapkan.

Bila tidak, pastinya pembelian teknologi iPad ini juga bisa lebih melukai hati rakyat. Karena, dibeli menggunakan uang rakyat.***
KOMENTAR
Terbaru
Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 WIB

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh
BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 WIB

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 WIB

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi
Follow Us