Konteks

20 Juli 2014 - 06.32 WIB > Dibaca 1809 kali | Komentar
 
Konteks
Yeni Maulina
Dalam berbahasa sehari-hari, konteks sering menjadi penentu pemahaman makna sebuah kata. Konteks, jika tidak diketahui dengan baik, sering menimbulkan salah pengertian dan tidak jarang pula mengakibatkan komunikan marah, jengkel, atau tertawa. Hal seperti itu, misalnya, tampak pada dialog berikut ini.

Ibu    : Ikuti kata ibu ya, Nak. Nyalakan kompor, masukkan minyak, lalu tumis bahan-bahan.
Anak    : Iya, Bu.
Ibu    : Tunggu sampe harum.
Anak    : Sudah harum, Bu.
Ibu    : Nah, Kalau gitu cepat kasih salam.
Anak    : Assalamualaikum, ...
Ibu    : ?

Dialog antara ibu dan anak di atas memperlihatkan sebuah kelucuan berbahasa sebagai akibat ketidakselarasan kosakata dengan pemahaman konteksnya. Kata salam yang diucapkan ibu tidak dipahami dengan baik oleh anaknya sehingga menimbulkan kelucuan. Mungkin, karena bersanding dengan kata kasih (menjadi kasih salam), salam tidak dipahami sebagai ‘(daun) penyedap masakan’, tetapi dipahami sebagai ‘ucapan selamat’. Itulah sebabnya si anak justru berujar, “Asalamualaikum.”
 
Hal seperti itu bisa saja terjadi sebab pemahaman si anak terhadap kata salam masih terbatas pada pengertian kata salam dalam berucap salam, yang bisa jadi masih sering diajarkan oleh orang tuanya, yaitu asalamualaikum. Artinya, bisa jadi, si anak memang belum tahu kalau ada salam dalam arti yang lain.

Contoh lain penulis dapatkan pada sebuah ruangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) salah satu perguruan tinggi di Pekanbaru. Pada salah satu sekat dinding kaca ruangan BEM tersebut terpampang sebuah pengumuman: Di larang bersandar pada kaca! Bersandarlah pada Tuhan yang maha kuasa!

Terlepas dari adanya kesalahan ejaan (penulisan yang benar adalah dilarang [bukan di larang] dan Tuhan yang Mahakuasa [bukan Tuhan yang maha kuasa]), pengumuman itu jelas dimaksudkan sebagai bentuk larangan agar siapapun tidak bersandar pada kaca. Namun, karena (pe)larangan itu dilanjutkan dengan (peng)anjuran yang sama-sama menggunakan kata bersandar, pengumuman itu terasa lucu dan mungkin menggelikan. Mengapa? Karena bersandar pada kaca berkonteks konkret dan fisik, sedangkan bersandar pada Tuhan yang Mahakuasa berkonteks abstrak dan imajiner.

Lalu, bagaimana dengan bunyi iklan di sebuah koran lokal (Parepare) berikut ini?

Hotel Lotus
Jl. ZALIZIA No. xx Parepare,
Tlp.(041) 287xx-268xx
Fasilitas Hotel:
· Hot/ Cook Water
· Full AC
· TV LCD
· Free Wife

Apa yang Anda bayangkan jika ada sebuah hotel (di daerah Parepare sana) memberikan fasilitas free wife ‘istri gratis’ kepada tamu-tamunya? Penulis meyakini bahwa pasti akan banyak orang (terutama kaum lelaki) yang akan senang menginap di Hotel Lotus, Parepare. Padahal, mungkin yang dimaksudkan adalah wifi ‘layanan internet publik tanpa kabel’, bukan wife ‘istri’. Atau, siapa tahu hal itu memang disengaja. Bukankah memang banyak hotel berlabel “esek-esek” belakangan ini? Celaka!

Lain lagi ulah para wirausahawan muda kita. Dalam memasarkan/menjajakan nama/merek dan produknya, pada umumnya mereka menggunakan kata-kata secara kreatif sehingga menimbulkan daya tarik (mungkin juga rasa jijik) tersendiri. Wirausahawan makanan ringan yang berbahan baku pisang, misalnya, menulis di papan namanya: Molen Arab ’! Panjang-Besar-Lembut-Puas.

Merek dan slogan seperti itu tentu saja sangat menarik dan unik, meski akan menimbulkan multiinterpretasi (bahkan salah tafsir/interpretasi) bagi pengunjung atau konsumennya. Sekurang-kurangnya, cara seperti itu akan dapat menggiring pembeli atau konsumen untuk mencoba dagangannya, yang insyaallah juga sebagai hasil terobosan baru dalam hal penganan ringan yang unik.

Lantas, apa konteks itu? Konteks diartikan ‘bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan [online]). Artinya, konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang selalu bersama ada di dalam teks. Dalam pemahaman yang lebih luas, konteks mencakupi juga sebuah gagasan serta kondisi yang diharapkan hadir pada suatu kejadian yang akan atau sedang terjadi. Itulah sebabnya kita perlu waspada dan penuh kesadaran, misalnya, saat beralih ragam: dari lisan ke tulis atau sebaliknya, dari tulis ke lisan.

Ketidaksadaran beralih ragam sering diperlihatkan pada penggunaan kata tunjuk di atas (alaih-alih tadi) oleh kebanyakan mubaliq. “Hadirin yang berbahagia. Seperti yang sudah saya uraikan di atas,” demikian kata mereka. Beruntunglah, jamaah tidak memprotesnya setelah tidak melihat/menemukan apa pun di atasnya, kecuali plafon.

Sebagai penutup, penulis tampilkan contoh lain yang harus kita waspadai: “Lomba Pidato Se-Sumbar”. Jika hanya melihat tulisannya, kita tidak perlu mengkhawatirkan lomba itu. Namun, jika hanya dilisankan/diucapkan, kita perlu waspada (bahkan siaga) karena akan menyaksikan orang-orang berpidato dengan sesumbar.
Salam.


Yeni Maulina,
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib

50 Tim Ikuti Serindit Boat Race

Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus

Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Jumat, 16 November 2018 - 14:30 wib

Hasil SKD Cerminan Mutu Pendidikan Indonesia

Follow Us