Syawal

3 Agustus 2014 - 07.44 WIB > Dibaca 1228 kali | Komentar
 
Syawal
Alkisah, di tengah danau yang indah seorang ilmuan dengan bangga bercerita tentang ilmunya kepada seorang pengayuh sampan yang buta huruf. Semua buku telah ia baca. Semua ilmu sudah dijelajahi. Sejumlah tempat telah dikunjungi. Ilmuan ini menantang pengayuh sampan ini untuk bertanya tentang apa saja dia menjamin pasti bisa dijawabnya. Dengan polos pengayuh sampan ini bertanya soal ilmu berenang. Dan dengan enteng dijawab cara berenang yang baik itu adalah harus begini dan begitu. Namun tiba-tiba angin berhembus kencang dan membalikkan perahu. Keduanya tercebur ke air. Tolong-tolong, teriak  ilmuan tadi  ketakutan. Ternyata ia tidak bisa berenang dan hanya menguasai teori berenang. Demikian sebuah perumpamaan yang dimuat di buku berjudul kebahagiaan yang membebaskan.

Ternyata kita tidak akan sampai ke mana-mana hanya dengan modal serba tahu. Dengan kata lain ilmu saja tidak cukup tetapi perlu amal. Bulan Ramadan telah melipatgandakan amal siapa saja yang beramal di dalamnya. Begitu juga melipatgandakan dosa siapa yang tetap berbuat dosa di bulan itu. Ketika bulan suci itu berlalu maka datanglah bulan Syawal pertanda Idul Fitri pun tiba. Dalam salat Id para khatib seringkali memberi kabar gembira kepada masyarakat yang telah menyelesaikan ibadah selama Ramadan, bahwa pada saat Idul Fitri mereka telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara dia dengan Allah. Kemudian diikuti dengan meminta maaf kepada sesama, tetangga kanan-kiri. Sehingga usai hari raya, mereka layaknya bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa. Tak lupa sang khatib akan mengkaitkan kejadian ini dengan nama hari raya ini, Idul Fitri. Dia artikan Kembali Suci. Turunan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut tanggal 1 Syawal dengan ungkapan hari yang fitri atau hari yang suci.

Sepintas itu hal yang lumrah. Akan tetapi menurut para ahli bahasa Arab setidaknya ada 2 kesalahan fatal terkait  pendapat di atas. Pertama, memaknai Idul Fitri dengan kembali suci adalah kesalahan bahasa. Kedua, keyakinan bahwa ketika Idul Fitri, semua muslim dosanya diampuni. Mengapa salah? Idul Fitri berasal dari dua kata; id dan al-fitri. Id secara bahasa berasal dari kata aada yauudu yang artinya kembali. Hari raya disebut id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Sedangkan kata fitri tidak sama dengan arti kata fitrah. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak yang menyangka bahwa itu dua kata yang sama.

Kata fitri berasal dari kata afthara yufthiru yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut Idul Fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa Ramadan. Jadi Idul Fitri artinya kembali berbuka. Selanjutnya konsekuensi dari kesalahan mengartikan Idul Fitri sebagai kembali suci, banyak orang berkeyakinan bahwa ketika Idul Fitri, semua dosanya telah diampuni seperti bayi yang baru lahir. Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan yang cukup fatal. Setidaknya ada 2 alasan untuk menunjukkan kekeliruan ini.

Pertama, merasa bebas dari dosa dan kembali malas beribadah setelah Ramadan. Hal ini sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasanya telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang telah dilakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada sa tupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak. Kedua, sesungguhnya Ramadan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Antara shalat 5 waktu, Jumatan ke Jumatan berikutnya, Ramadan hingga Ramadan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR Ahmad 9197 dan Muslim 233). Artinya tidak semua dosa bisa diampuni di bulan suci Ramadan. Khusus dosa besar hanya bisa diampuni dengan melakukan tobat sebenar-benarnya dan bersungguh-sungguh meninggalkan dosa besar tersebut.

Menjadi tahu (berilmu) itu penting agar tidak salah melangkah. Namun tahu tanpa amal adalah seperti orang yang membaca iklan rokok. Rokok dapat menyebabkan penyakit kanker, impotensi, stroke dan jantung. Tetapi banyak juga yang tetap merokok. Tahu yang tidak membawa pada amal kebaikan adalah tahu yang tak bermanfaat. Mudah-mudahan bulan Syawal membuat kita meningkat dari tahu menjadi tahu yang bermanfaat. Ilmu baru bermanfaat dengan amal. Amal baru bermanfaat bila ikhlas.  Semoga kita bisa menjadi orang yang ikhlas.***


Helfizon Asyafei
wakil pemimpin redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us