Depan >> Opini >> Opini >>

Abdul Somad

Meneliti Hadis Palsu

19 Juli 2013 - 09.21 WIB > Dibaca 27086 kali | Komentar
 

Suatu ketika dua orang ahli riwayat hadis, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Yahya bin Ma’in melaksanakan salat di Masjid ar-Rashafah.

Lalu salah seorang ahli hikayat berdiri di hadapan mereka seraya berkata, “Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Yahya bin Ma’in meriwayatkan kepada kami dari ‘Abdurrazzaq, ia meriwayatkan kepada kami dari Ma’mar, ia meriwayatkan kepada kami dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘’Siapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’, maka Allah ciptakan satu kata dari kalimat itu menjadi seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas, bulunya terbuat dari permata. Setiap hurufnya dibalas dengan 70.000 lidah, satu lidahnya akan bertasbih dengan 70.000 tasbih, satu tasbihnya akan dibalas 70.000 surga, satu surganya ada berisi 70.000 kamar, satu kamarnya berisi 70.000 tempat tidur, satu tempat tidurnya berisi 70.000 bidadari dan seterusnya”.

Ahli hikayat itu terus bercerita, jika dihitung mungkin sampai dua puluh halaman. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Yahya bin Ma’in yang ada di majelis itu saling menatap satu sama lain.

Imam Ahmad bin Hanbal bertanya, “Hai Yahya bin Ma’in, apakah engkau yang meriwayatkan itu kepadanya?”. Imam Yahya bin Ma’in menjawab, “Demi Allah, saya baru pertama kali mendengar riwayat ini”.

Keduanya diam, hingga ahli hikayat itu menyelesaikan kisahnya. Lalu Imam Yahya bin Ma’in memanggilnya, ahli hikayat itu pun datang. Imam Yahya bin Ma’in bertanya, “Siapakah yang meriwayatkan kisah ini kepadamu?”.

Ia menjawab, “Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Yahya bin Ma’in”. Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Saya Imam Yahya bin Ma’in dan ini Imam Ahmad bin Hanbal, kami tidak pernah mendengar hadis seperti ini dari Rasulullah, ini pasti dusta”.

Ahli hikayat itu menjawab, “Saya sudah lama mendengar bahwa Yahya bin Ma’in itu dungu, tapi baru saat ini saya melihat buktinya”.

Imam Yahya bin Ma’in bertanya, “Bagaimana kamu katakan saya dungu?”. Ia menjawab, “Seolah-olah di dunia ini tidak ada orang lain bernama Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in selain kalian berdua. Saya telah meriwayatkan dari tujuh belas imam yang bernama Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in selain kalian berdua”.

Imam Ahmad bin Hanbal menutupkan kerah jubahnya ke wajahnya seraya berkata kepada Imam Yahya bin Ma’in, “Biarkanlah ia pergi”.

Lalu ahli kisah itu pun pergi seperti seorang yang mengejek. Demikian salah satu kutipan dalam kitab Tahdzib al-Kamal.

Kisah yang diceritakan al-Hafizh al-Mizzi dalam Tahdzib al-Kamal di atas menggambarkan betapa dahsyatnya para penyebar hadis palsu.

Untuk mengantisipasi penyebarannya maka para ulama ahli hadis membuat standarisasi validitas suatu hadis untuk dapat diterima atau tidak dengan standar yang sangat ketat.

Sebagian ulama hadis bahkan sengaja membuat ensiklopaedia hadis-hadis palsu agar masyarakat awam dapat mengetahuinya.

Di antara kitab-kitab yang khusus memuat hadis palsu adalah kitab Al-Maudhu’at karya Ibnu al-Jauzi, al-Maudhu’at karya ash-Shaghani, Tadzkirat al-Maudhu’at karya al-Fatni, al-Lali’ al-Maudhu’ah fi al-Hadis al-Maudhu’ah karya as-Suyuthi, Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Ahadis asy-Syani’ah al-Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraq dan kitab kumpulan hadis Maudhu’ (palsu) lainnya.

Hadis Palsu Menyambut Ramadan
Namun uniknya di Indonesia beredar hadis-hadis yang justru di dalam kitab-hadis hadis palsu sekalipun tidak ditemukan. Khusus terkait dengan datangnya bulan Ramadan, di antara hadis populer yang selalu kita dengar adalah hadis, “Man fariha bi dukhuli Ramadan harramallahu jasadahu ‘ala an-niran (Siapa yang gembira menyambut bulan suci Ramadan, maka diharamkan Allah jasadnya masuk neraka)”.

Ini hadis palsu yang tidak ada dasarnya sama sekali, baik dalam kitab-kitab shahih maupun maudhu’ (kumpulan hadis palsu).

Namun kepalsuan hadis ini tidak membuat hati kita berubah menyambut bulan suci Ramadan. Karena dalam hadis shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Telah datang kepada kamu bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan puasa bagi kamu di bulan itu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkan kebaikan”. (HR. an-Nasa’i).

Teks Mirip Hadis Shahih
Hadis lain yang populer menjelang Ramadan adalah, “Rasulullah naik ke atas mimbar. Ketika berada di tangga pertama, beliau ucapkan, ‘Amin’.

Ketika naik ke anak tangga kedua, beliau ucapan, ‘Amin’. Ketika naik ke anak tangga ke tiga, beliau ucapkan, ‘Amin’. Lalu para shahabat bertanya, ‘Mengapa engkau mengucapkan Amin wahai Rasulullah?’.

Rasulullah menjawab, ‘Tadi Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Ya Allah, janganlah engkau terima puasa seorang anak yang belum meminta ampun kepada kedua orang tuanya’.

Maka aku katakan, ‘Amin’. Lalu Malaikat Jibril berkata, ‘Ya Allah, janganlah Engkau terima puasa seorang istri yang belum meminta maaf kepada suaminya’. Maka aku katakan, ‘Amin’.

Kemudian malaikat Jibril berkata, ‘Ya Allah, janganlah engkau terima puasa seorang saudara yang belum meminta maaf kepada saudaranya’. Maka aku katakan, ‘Amin’.

Hadis ini palsu, tidak terdapat kitab-kitab hadis shahih maupun kumpulan hadis maudhu’ (palsu). Ada hadis yang teksnya mirip dengan hadis ini, disebutkan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dari Ka’ab bin ‘Ajrah, ia berkata, “Rasulullah SAW berkata, ‘Datanglah kalian ke mimbar’.

Lalu kami pun datang ke mimbar. Ketika Rasulullah SAW naik ke anak tangga pertama beliau ucapkan, ‘Amin’. Ketika naik ke anak tangga kedua beliau ucapkan, ‘Amin’.

Ketika naik ke anak tangga ketiga, beliau ucapkan, ‘Amin’. Ketika beliau turun, kami katakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar darimu sesuatu yang tidak pernah kami dengar sebelumnya’. Rasulullah SAW menjawab, ‘Sesungguhnya malaikat Jibril telah datang kepadaku seraya berkata, ‘Celakalah orang yang bertemu dengan Ramadan, tapi ia tidak diampuni’. Maka aku katakan, ‘Amin’. Ketika aku naik ke anak tangga kedua, malaikat Jibril berkata, ‘Celakalah orang yang ketika namamu disebut, akan tetapi ia tidak bershalawat untukmu’. Maka aku katakan, ‘Amin’.

Ketika aku naik ke anak tangga ketiga, malaikat Jibril berkata, “Celakalah orang yang bertemu dengan kedua orang tuanya hingga lanjut usia, tetapi tidak dapat membuatnya masuk surga’.

Maka aku katakan, ‘Amin”. Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Hafizh adz-Dzahabi dalam at-Talkhish. Meskipun hadis di atas palsu, namun bukan berarti membenarkan kita tetap memutuskan silaturahim menjelang Ramadan.

Karena ada hadis shahih dari Mu’adz bin Jabal yang menyatakan, “Allah memperhatikan semua makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, maka Ia ampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang mempersekutukan Allah dan orang yang belum berdamai dengan saudaranya”. Mudah-mudahan kita selamat dari hadis palsu.***


Abdul Somad, Alumni S2 Dar Al-Hadith Al-Hassania, Kerajaan Maroko
KOMENTAR
Terbaru
Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 19:09 WIB

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 18:47 WIB

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 17:00 WIB

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:30 WIB

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 16:00 WIB

Follow Us