Pembuatan Nafiri

3 Agustus 2014 - 08.04 WIB > Dibaca 4165 kali | Komentar
 
Pembuatan Nafiri
Dua nafiri yang sudah dihasilkan Buchari terbuat dari Kayu Mamali. Foto: Fedli Azis/*6/Riau Pos
Membuat nafiri membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi. Kata Kari kalau tidak betul-betul diniatkan untuk membuatnya, nafiri tidak akan jadi. Saat ini saja, sudah ada yang memesan sekitar tiga buah tapi Kari belum mau memulainya. Padahal rejeki semua tu. Tapi itu tadilah, kerja membuat nafiri ini butuh kesabaran. Kalau tak iya betul hati ini, tak bisa. Tak berani mau memulainya. Kalau bahasa Melayunya, kalau tak ada ghese, tak bisa, jelas Kari.

Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat nafiri itu pertama adalah kayu. Kayu ini pun tidaklah kayu biasa. Kari selama ini membuatnya dengan menggunakan kayu mamali, sebuah kayu yang tidak berumpun banyak , sebatang-batang saja. Kayu tersebut merupakan tunggal kayu darat yang berada dalam kebun getah dan kebu meria yang sudah lama tidak ditebas. Biasanya kata Kari, batangnya digunakan orang untu penopang orang patah tulang.

Harusnya  tidak juga tapi berdasarkan pengalaman saya, itulah kayu yang bisa dibuat sunai. Kayu lain sudah pernah dicoba, kayu leban, seresup, nyirih, sentul, semetik. Tapi kenanya pada bunyi. Bunyi memanglah bunyi tapi suaranya memekik begitu saja macam suara rusa, terang Kari.

Selanjutnya diperlukan tembaga untuk penyambung ke tempat meniupnya. Setelah itu, biasanya diperlukan selang bekas tinta pena untuk muncung tiup. Kemudian, mengenai batang nafiri itu tergantung bagaimana variasi ukir yang hendak dibuat. Dijelaskan Kari terkait lama membuat sebuah nafiri tergantung tekun atau tidak mengerjakannya. Terutama pada bagian mengukir bentuk batang nafiri tersebut. Jia dikerjakan siang malam, diperlukan waktu hanya empat atau lima hari.

Yang sulit dan memerlukan waktu lama itu adalah mencari nada. Karena meskipun batang sunai nafiri sudah siap belum tentu nada yang dimaksud  langsung dapat. Adaklanya, tiap-tiap lubang itu yang tak menghasilkan suara atau bunyi nada. Kadang di sebelah depan berbunyi, di bagian belakangnya tidak . menyetel itulah yang cukup lama. Ada sampai seminggu bahkan sampai setahun. Sebab kita mencari itu di dalam, pakai raba dengan menggunakan kertas pasir. Seringkali, lubang yang sudah berbunyi menjadi tak berbunyi pula. Disitulah susahnya, kalau bagian luar, itu hanya variasi, terserah kita mengukirnya, jelas Kari.
 
Selalu pula terjadi sudah selesai variasi dan lubang tetapi kemudian dibelah lagi karena tidak berhasil mengeluarkan nada yang diharapkan. Di sanalah letak kesabaran yang dimaksudkan Kari. Kesulitan itu juga disebabkan lubang yang dibuat tidaklah sama, di ujung besar sedangkan di pangkalnya kecil. Pekerjaan membuat lubang itu dengan cara dikorek-korek mengikuti mempuluhnya atau hati kayu yaitu lubang tengah kayu.  Nah, itulah yang diikut. Jadi kayunya harus lurus. Bagaimana tidak susah, kita harus membuat perjalanan angin, tak boleh berdunggul-dunggul  di dalamnya, harus mulus. Bahkan jangan sampai ada sampah di dalamnya, harus bersih betul. Kalau tidak, tak akan berbunyi, lanjut Kari sembari menunjukkan bagian dalam lubang nafiri miliknya.

Setelah lubang berbunyi semua, barulah kemudian mencari nada. Supaye nadanya rata, harus pula mencari posisi yang pas agar tetap menghasilkan nada yang diinginkan. Kalau seandainya belum pas, terpaksa dilanjutkan kerja berikutnya yaitu diasah terus untu menyamai bunyi. Kerjanya pakai meraba, karena di dalam. Orang banyak pandai buat, tapi kalau mencari nada yang tepat itu susah. Kalau tak pemainnya sendiri yang membuat, tak bisa. Artinya yang membuat nafiri itu, harus bisa meniupkan nafiri. Tetapi itulah pengalaman saya terutama mengenai kayu. Kalau orang lain, saya tidak tahu. Tetapi menurut saya yang pas itu, adalah kayu mamali, ucap kari sembari mengajak Riau Pos untuk pergi melihat seperti apa kayu mamali di hutan terdekat dari rumahnya.

Keajaiban dan Suka Duka Bersama Nafiri
Selama delapan tahun membuat pesanan nafiri, Kari memiliki berbagai pengalaman yang unik. Diantaranya, dikarenakan nafirilah dia mengetahui bahwa dirinya ternyata memiliki keturunan darah seni. Suatu hari, beberapa tahun lalu ketika Kari menyelesaikan pesanan nafiri untuk kawan-kawan seniman musik di Siak. Kari terlebih dahulu mampir di rumah pak ciknya yang sudah tinggal lama di Siak. Ketika itu, kata Kari, dia baru pandai membuat nafiri. Sebelum menyerahkan pesanan kepada orang yang memesan, Kari iseng-iseng memainkan nafirinya di hadapan pak ciknya itu. Kemudian, pak cik Kari yang bernama Ibrahim menitikkan air mata. Banyak belas tahunnya  sudah tak mendengar bunyi sunai nafiri ini, dulu arwah wak dikaulah yang meniup nafiri. Kini, turun pulak ke dikau kenang Kari meniru ucapan pak ciknya.

Ternyata, usut punya usut, datuk Kari adalah pemain nafiri pada masa kerajaan Siak dahulu. Datuk Kari yang tak dapat disebut namanya itu adalah orang asli desa Rempak (Kabupaten  Siak) yang satu-satunya pemain nafiri yang tergabung dalam grup gendang nafiri di jaman kerajaan. Kata Kari, Ibrahim menyebutkan, terakhir datuknya memainkan sunai tersebut ketika desa Sungai Apit diresmikan oleh sultan Siak. Awalnya saya memang tidak tahu. Dan memang masalah keturunan saya tidak begitu paham karena masa muda saya dihabiskan berlayar, jadi berkat nafiri inilah saya menjadi tahu bahwa ada keturunan saya yang merupakan pemain nafiri. Seolah-olah menjadi keturunan pula, cerita Kari.

Pengalaman berikutnya disebut Kari agak berbau mistis. Pernah suatu kali dia membuat sunai nafiri dengan variasi batangnya berupa ular, lengkap dengan kepala ularnya. Tapi kemudian, setelah nafiri selesai dibuat dengan hasil suara yang tak menyamai dengan nafiri-nafiri yang pernah dibuatnya, ternyata nafiri itu tidak bisa digunakan. Setiap kali Kari memainkannya di acara orang kawinan, malamnya kata Kari, Dia selalu bermimpi buruk seperti orang jalu. Seolah-olah nafiri itu mengikutinya terus menerus kemana pun dia pergi di dalam mimpinya itu, dan itu terjadi berulang-ulang kali setiap dia menggunakan nafiri bermotifkan ular tersebut.

Bahkan saya sampai sakit yang agak serius disebabkan nafiri itu, entah iya atau tidak tetapi setelah saya serahkan nafiri itu kepada kawan saya, alhamdulilah sakit saya pun sembuh. Dan tidak lama kemudian, saya dengar, kawan saya itu pula yang kecelakaan, untung tidak parah, hanya luka sedikit. Setelah itu saya dengar kabar, nafiri itu diserahkan kawan saya kepada kawannya pula, dan anehnya tak lama setelah itu, kawannya pula yang terlanggar. kemudian saya kasi kawan. kawan saya itu kemudian, telanggar dan jatuh. Lalu dikasi kawannya lagi, kawannya juga telanggar. Sekarang, entah kemana perginya nafiri tersebut, saya pun tak ambil pusing lagi tapi yang jelas, saya tidak bisa lagi membuat nafiri dengan suara sebagus itu lagi, ungkap Kari serius.

Kari yang sehari-hari tidak memiliki pekerjaan tetap itu selain dari kerja-kerja sambilan, mengaku pernah menitikan air mata gara-gara nafiri. Bagaimana tidak, nafiri yang dibuat dari kayu yang memang tidak bernilai sama sekali itu mampu pula menyelesaikan pembayaran uang wisuda anaknya yang paling tua.

Kayu mamali itu tidak bernilai sama sekali, tidak berharga. Tapi ternyata, bagi diri saya, kayu yang tidak bisa dibuat pancang, beluti, tak bisa untuk buat papan itu dapat membayar uang wisuda anak saya. memang menitik air mata saya ketika menghadiri acara wisuda anak saya itu. Jadi betullah, tidak ada yang sia-sia dari apa saja yang disediakan Allah di dunia ini, tutup Kari haru.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us