Hati Kecil

3 Agustus 2014 - 08.09 WIB > Dibaca 5888 kali | Komentar
 
Nafasnya terengah, tapi dia harus berlari cepat. Dia sangat yakin segala sesuatu di tempat itu akan musnah. Tak lagi dipedulikannya kaki yang memijak kerikil tajam di jalanan itu, pun sepatunya yang berhak tinggi telah sejak tadi patah, dan dia membuangnya begitu saja. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah dia harus menyelamatkan segala harta benda yang ada. Untuk itu dia terus berlari. Masih dikuatkannya nafas untuk sekadar mendapatkan tenaga yang hampir hilang.

Dia harus meliwati tikungan sepi dan sempit, mengambil alternatif jalan pintas. Pemukiman kumuh yang sangat padat, mirip kadang ayam dengan bau got-got menyengat hidung, sampah berserakan menggunung di pinggir sisa tanah yang terbengkalai, nyaris tak ditemukannya warga, bukankah ini pukul dua malam? Dia membatin sendiri. Tapi dia tak peduli. Benar-benar tak peduli walau bahaya bisa saja sekejap singgah di tubuhnya yang amat sintal, ditambah, apalagi dia kini memakai balutan pakaian dengan rok mini ketat. Naungan kedua belah paha putih menganga—itupun tak dipedulikannya lagi.

Dia harus segera sampai sebelum mobil patroli dengan sirine yang bersinar-sinar mengaum mencekam di langit pekat malam. Setidaknya dua cincin dan segulung kalung emas murni bisa diselamatkannya. Tinggal sedikit lagi, kakinya akan menjejakkan di tempat itu, tapi matanya telah berkunang-kunang…

***

“Tempat ini akan segera di tutup!” tegas perempuan setengah baya itu menirukan sosok pria gagah berpakaian resmi seperti tentara. Rokok tertancap di bibir binalnya dengan asap menutupi wajah yang menor.

Para perempuan muda—lebih tepat remaja—melongo tak percaya. Raut wajah mereka mirip mendung yang akan menjatuhkan hujan. Dalam hati mereka hanya menanyakan: benarkah?

“Tapi, tidak adakah solusi lain selain menutup tempat kita ini?” tanya mereka entah pada siapa.

“Bukan hanya menutup, tapi lebih jauh memberangus kita semua. Siap-siaplah kita untuk menjadi bangkai di tempat kita sendiri,” perempuan paruh baya itu; yang biasa di sebut Mami, menakut-nakuti dirinya sendiri—seperti juga mengejek dirinya sendiri.

“Kita tidak boleh menyerah! Bukankah ini tempat kita mencari rezeki? Tidakkah mereka, para penguasa itu, tidak melihat bagaimana kondisi kita?” geramnya yang tiba-tiba muncul dari balik kamar. Wajahnya kusut masai sisa bekas lembur malam.

Mereka tercengang. Dalam hati mereka hanya mengatakan, mengapa dia sangat berani menentang? Dia sendiri tanpa disadarinya juga heran mengapa berani berkata demikian—bahkan Maminya sendiri tercengang. Padahal dia hanya berkata saja; siapa berani melawan Pemerintah?

“Kau bergurau?” perempuan paruh baya itu bertanya akhirnya.

“Entahlah. Barangkali ya.”

“Aku sudah muak dengan semua itu. Barangkali ini takdir kita.”

Mereka yang mendengar menangis dan masuk kembali ke dalam kamar. Kecuali dia. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia membuang muka keluar jendela.

“Tempat ini sangat sudah lama, aku hanya bisa berupaya tapi tidak demikian akhirnya. Mereka—para penguasa itu—begitu kuat untuk kita terjang.”

Dia melihat perempuan paruh baya itu seperti tidak percaya. Ya. Dia tahu, kemarin Mami (sebutan perempuan paruh baya itu) telah diajak berunding dengan para petinggi pemerintah untuk membicarakan penutupan lokasi ini tempo hari. Mami bersikeras mempertahankan tempat ini, tetapi apa daya.

***

“Apakah kau memiliki hati kecil?” lelaki itu berkata. Lelaki itu baru dikenalnya beberapa minggu lalu. Setiap hari bekerja sebagai satuan pamong praja.

“Apakah hati terbagi? Atau memang bisa dibagi?”

“Bisa. Hati kita yang paling peka adalah bernama hati kecil,” balas lelaki itu.

“Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memiliki hati kecil?” tanyanya.

“Sangat gampang, tapi sulit kalau kita selalu mengedepankan ego.”

“Jadi, harus bagaimana?” tanyanya kembali.

“Berpikirlah rasional. Sehingga dengan begitu kita akan tahu sejauh mana kita berperan sebagai manusia dan cobalah untuk melepaskan ego kita yang kuat bersarang dalam diri ini.”

Dia mengangguk. Mencoba memahami sedikit-sedikit. Dia pernah dengar yang namanya hati kecil. Bahkan dulu ketika dia masih kecil, kakeknya pernah bilang bahwa kita memiliki hati kecil yang murni. Ya, hati kecil itu murni, kata kakek. Jangan main-main dengan hati kecil. Sebab dia (hati kecil itu) takkan pernah berbohong meski mulut kita berkata bohong. Hati kecil akan senantiasa gelisah kalau kita berlaku tidak baik pada diri sendiri maupun orang lain, meski pikiran mengatakan senang, tapi hati kecil akan menjawab tidak.

Lelaki itu, bukan siapa-siapa, bukan pula orang yang spesial dalam hidupnya. Hanya lelaki yang sekilas dia jumpai di sebuah rumah makan sederhana di pinggiran kota. Mereka berdua terlibat percakapan karena masalah kepentingan masing-masing saja. Tapi dia tahu kalau lelaki itu seorang satuan Pamong Praja kota yang siap sedia dan setia dengan tugasnya dalam menangani setiap permasalahan warga kota. Dia kembali teringat tempat itu—kurang lebih lima tahun—dimana dia tinggal. Akankah akan berlangsung ricuh dan (ini yang lebih buruk) terjadi korban? Barangkali itu terjadi, juga barangkali tidak, kalau saja—batinnya bergemuruh—setiap orang yang juga seperti dirinya peka terhadap hati kecil.

***
Malam begitu menusuk. Jalanan mengigil oleh embun. Debu-debu bekas terjangan ban mobil dan sepeda motor dari jalan raya berterbangan menyesak hidung. Gang itu hampir tidak pernah mati dalam segala penjuru rumah dan tempat-tempat kongkou anak-anak muda. Tapi kini lain, benar-benar lain. Tak pernah dia sangka sebelumnya. Dalam benaknya hanya berkata itu hanya isu, nyata kini sudah. Kelompok warga di tempat itu bersikeras menolak dengan kepal tangan penggusuran.

Tempat itu mau digusur! Para aparat berseragam cokelat muda berbaret itu, siap dengan segala titah dari pemerintah setempat untuk mengobrak-abrik. Dan dia melihat semuanya, tapi dia hanya dapat menarik nafas, tak dapat melakukan apa-apa. Apakah lelaki yang pernah di jumpainya kemarin turut ikut dalam hal itu? Yang selalu mengatakan tentang hati kecil. Dia tahu, hati kecil kini telah ditemukannya. Tapi apakah hati kecil mampu berkata, berteriak dalam situasi hingar-bingar dan sengkarut seperti ini?

Dalam rusuh itu, dia berusaha menerobos amukan warga yang dihadang aparat. Berhasil meski sempat kepalanya terhantam pukulan. Dia tak peduli. Terus berlari untuk memasuki rumah. Apakah Mami masih ada? Dalam rumah hanya ditemukannya beberapa rekan yang menghiba sambil mencoba bertahan untuk tetap  dalam rumah. Tapi apa daya, mereka hanya perempuan yang bodoh dan lugu oleh sikap mereka sendiri. Dia masih mencari Mami. Tapi seorang aparat menangkapnya.

“Mana mami saya!” teriaknya dalam ronta.

Dia terus meronta. Lantai atas masih terdapat sebuah cincin dan segulung kalung emas. Dia masih mencari cara, namun gagal. Jauh kuat tenaga yang akan dilawannya. Dia mencoba menggigit, tapi segara pipinya perih akan sebuah tapak tangan kekar mendarat. Dia meraung, kali ini hanya itu yang dia bisa.

***

Dia tak menemukan siapa-siapa. Hanya dirinya. Sebuah ruangan sunyi mengakap, tapi sedikit ada jeruji besi. Ini bukan sebuah penjara, pikirnya. Apakah ini kantor polisi? Kepalanya masih pening, lambungnya perih, tenggorokannya masam juga mulutnya. Lapar begitu menyiksa. Sejak malam tadi hingga pagi terbit, sebutir nasi pun belum singgah ke dalam perutnya.

Seorang lelaki tegap masuk ditemani oleh dua orang pengawal pegawai perempuan. Mereka bersergam resmi. Dia tahu mereka polisi. Lelaki berwajah sangar itu segera bertanya-tenya tentang diriya. 

“Kami tidak bermaksud menyakiti Anda. Cuma harus ada yang kami tanyakan dari anda sebagai laporan resmi, terkait penertiban wilayah itu. Semoga anda mengerti. Kami tidak akan menahan anda.”

“Semua sudah berakhir, saya menyerah. Tidak ada gunanya anda menanyakan hal itu lagi,” jawabnya singkat. Ketiga polisi itu saling pandang dengan raut wajah mengkerut.

***

Dia tiba-tiba teringat kampung halaman. Segala pikirannya terbuang kesana. Akankah dia pulang? Pikirnya sendiri. Itu tentu tidak mudah. Tidak ada harapan barangkali untuk menjumpai sanak keluarga kalau tidak membawa apa-apa. Bukankah itu memalukan dalam perantauan? Kadang dia berpikir gila akan semua itu, mengapa merantau harus dilakoni dengan pekerjaan sinting.

Lambat-laun, dia menyusuri sendiri apa-apa yang dikatakan seorang lelaki yang dijumpainya kemarin di sebuah rumah makan. Benar. Hati kecil tak pernah berdusta, tak pernah mengada-ngada, dia murni; semurni bayi yang masih suci belum terlibat dosa di bumi, apakah bisa kita kembali seperti bayi? Tidak memiliki dosa apa-apa. Dia menangis tiba-tiba. Segala yang ada dalam benak dan pikirannya meronta hebat. Ingin dia berteriak, meronta sendiri, dan mengamuk.

Air matanya membanjiri pipi. Harapan mungkin tak singgah lagi. Dia mengaku hanya perempuan lemah, lugu, dan berdosa. Kini dia mulai menilai demikian: berdosa? Dia tertawa sendiri; mirip anak kecil. Berjalan tertatih mendekati dapur, diteguknya air dingin segelas lalu ke kamar mandi, di basuhnya wajah yang letih dan berat, dan di depan cermin tampak rambutnya sungguh kusut masai tak menentu.

“Aku berdosa…” lirihnya sambil menuding diri sendiri. Dia menangis lagi.

***

Di tengah malam sepi, sayup-sayup suara mengaji menggema dari menara-menara masjid. Namun air matanya masih tumpah. Sejak tadi dia memandang telkung di lemari itu. Tapi masih ragu untuk memakainya. Dia merasa tidak sanggup; walau hanya sekadar untuk memegang. Sebab terlalu suci kain putih penutup seluruh tubuh itu. Hatinya berkecamuk, mengapa baru sekarang dia teringat kembali tentang kedekatan kepada Tuhan?

Dia merasa terlanjur, terlanjur. Apakah kesempatan masih ada untuk menuju kepada-Nya? Di bulan yang suci ini, sungguh hatinya berkecamuk hebat dengan getaran yang luar biasa. Benar-benar tidak biasa. Diusapkannya air mata yang masih mengalir. Ah… hati kecil, ternyata telah membuatnya bisa untuk kembali ingat tentang Tuhan. ***
Selatpanjang, Juni 2014
 

Riki Utomi,
pegiat dan penikmat sastra. Menulis puisi, cerpen, esai, naskah drama. Sejumlah tulisan pernah dimuat dalam Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Inilah Koran, Serambi Indonesia, Majalah Sabili, Berita Kota Kendari, Haluan Kepri, Haluan Riau, Koran Riau, Majalah Sagang, Majalah MBS, Riau Pos, Metro Riau, Batam Pos. Juga terangkum dalam sejumlah antologi. Buku cerpen tunggalnya Mata Empat (2013). Kini tengah menyiapkan buku teks pembelajaran sastra. Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us