Buku Lokal Dipandang Sebelah Mata?

10 Agustus 2014 - 09.24 WIB > Dibaca 564 kali | Komentar
 
Buku merupakan mesin perubahan, buku juga diibaratkan sebagai jendela dunia, mercusuar yang dipacakkan dalam samudera waktu.

Banyak tokoh di belahan dunia sering menekankan pentingnya membaca untuk kepentingan umat manusia. Berlaksa pesan sudah ditorehkan melalui karya karya unggul. Di dalamnya ada cita-cita, idiologi, cinta, iman, tanggung jawab, kebebasan, kehormatan, marwah dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Semua itu dapat ditemukan pada bacaan semisal buku politik, sejarah, budaya bahkan sastra.

Buku seni budaya seperti sastra misalnya, ditulis melalui pengamatan penulis dari realita yang terjadi di sekitar mereka, fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat mereka. Melalui bacaan seperti inilah, segala permasalahan kemanusiaan yang lebih dalam dan lebih kompleks akan mampu diketahui oleh pembaca. Demikian juga buku-buku budaya lainnya yang dengan membacanya bisa mengetahui watak dan jati diri manusia dalam sebuah bangsa secara lebih jujur dan utuh.

Begitu pentingnya keberadaan dan ketersediaan buku ini tentu saja didukung pula oleh seperangkat lainnya. Diantaranya penulis, penerbit dan distribusi yang bagus sehingga buku yang dihasilkan oleh penulis tersalurkan dengan baik ke masyarakat. Sayangnya di Riau, upaya, dorongan dan gairah penerbitan buku-buku karya penulis lokal masih dinilai belum maksimal, masih dipandang sebelah mata.

Padahal keberadaan buku-buku yang sifatnya lokal konten diperlukan sebagai informasi yang seharusnya sampai kepada masyarakat. Apalagi Riau memiliki visi sebagai pusat kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara. Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu (MKA LAM) Riau, Tenas Effendy mengemukakan upaya menerbitkan buku-buku karya penulis lokal hendaknya perlu digalakkan dan ditingkatkan lagi karena katanya saat ini, upaya tersebut masih jauh dari yang diharapkan.

Padahal lanjut budayawan senior tersebut, Riau memiliki visi sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di bentangan Asia Tenggara. Bahwa hendaknya semua kelengkapan dan potensi, apalagi buku yang berkaitan dengan kebudayaan hendaknya disebarluaskan tidak hanya di Riau tetapi juga di berbagai negara di dunia, ucapnya.

Lebih jauh dikatakan Tenas, perlu kerja keras untuk sama-sama mencapai keinginan mulai itu. Kepada pemerintah tentu saja sangat diharapkan dorongan dan perhatiannya dengan cara bagaimana bisa menambah dana anggaran untuk penerbitan buku-buku karya penulis lokal.

Dengan demikian jelas, hal itu menjadi sebuah upaya nyata untuk mendukung visi Riau 2020 itu. Hal ini dapat pula memberikan rangsangan dan membantu kepada penulis untuk meningkatkan kreativitas karya-karya mereka. Berikutnya, tentu saja upaya tersebut dilanjutkan dengan bagaiman memikirkan untuk membangun jembatan karya itu agar sampai kepada masyarakat sehingga informasi terkait dengan segala hal ihwal yang disampaikan penulis itu betul-betul sampai di tempat yang diharapkan, jelas Tenas.

Memang diakui Tenas pula, dari apa yang diketahuinya, penerbit di Riau ini sudah banyak. Hanya saja, banyak diantaranya yang berjalan sendiri-sendiri dalam arti kata belum penerbit yang profesional dan terseok-seok dalam usahanya untuk menerbitkan buku. Persoalan lainnya yang lebih merisaukan adalah peminat dan pembaca buku masih sedikit apalagi buku-buku budaya termasuklah sastra. Kata Tenas, hal itu juga merupakan pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan bersama-sama pula.
 
Kepada para penulis Riau juga, Tennas menghimbau agar tidak pula berpangku tangan dan menjadi tidak ada upaya sama sekali untuk terus menelurkan pemikiran melalui karya-karya buku. Persoalan yang terjadi jangan sampai membuat kreativitas dan daya juang yang ada menjadi kendur. Ada alternatif yang bisa dilakukan. Dicontohkan Tenas, dengan melakukan kerja sama dengan pihak sekolah misalnya. Para penulis bisa bekerja sama dengan pihak sekolah, membawa contoh karya atau dami setelah ada kesepakatan, barulah bekerja sama dengan penerbit. Itu salah satu contohnya, jelas penulis pantun-pantun Melayu ini.

Pada 1970-an pernah ada yang namanya Badan Pembinaan Kesenian Daerah (BPKD). Istansi tersebut melakukan pembinaan dan pengkajian di bidang seni. Badan ini jugalah dulu yang menghimpun semua kreatifitas seni misalnya musik, tari dan sastra. Sangat disayangkan BPKD itu tidak ada lagi karena menurut Tenas, dengan adanya badan tersebut, persoalan seni budaya yang terjadi bahkan sampai persoalan penerbitan pun dapat dibina dan disokong secara lebih fokus oleh pemerintah. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us