Buku Lokal Perlu Perhatian Pemerintah

10 Agustus 2014 - 09.29 WIB > Dibaca 665 kali | Komentar
 
UPAYA menerbitkan buku-buku lokal juga dinilai masih terbatas oleh sastrawan senior, Taufik Ikram Jamil. Selayaknya, buku dari hasil pemikiran para penulis lokal harus sampai kepada khalayak. Namun demikian, dikatakan budayawan Riau itu, persoalannya tidak hanya pada penerbitan tetapi distribusi juga merupakan hal yang tak kalah penting untuk dipikirkan.

Dalam hal itulah, seharusnya pemerintah mendorong sepenuhnya dengan cara menghidupkan dan memberi laluan kepada penerbit-penerbit yang sudah ada di Riau ini. Seharusnya dapat dicontohkan di Jogja, lanjut Taufik, ada lebih banyak penerbit swasta yang sangat berperan dalam hal menerbitkan buku-buku penulis di sana.

Walaupun penerbitnya diibaratkan senin kamis. Menurut saya, kalau pemerintah Riau, perlu mendorong penerbit yang ada ini. Tetap membiarkan persaingan itu bagus, ucap penyair asal Riau itu sembari mengingatkan buku-buku yang diterbitkan tidak pula asal terbit begitu saja. Sebaiknya ada proses seleksi terlebih dahulu.  

Memang diakuinya lagi, proses pendistribusian sangat penting dan sekaligus berat. Disini juga diperlukan dorongan pemerintah. seandainya, distribusi tidak bagus, tentu saja buku yang dihasilkan tidak sampai ke tangan pembaca. Yang paling berat itu adalah distribusi makanya kami dulu, program dari Yayasan Pusaka Riau lebih banyak program rugi. Besar biaya distribusi itulah perlunya kerja sama dengan phak-pihak tertentu, ungkap Taufik.  

Penulis novel Gelombang Sunyi dan Hempasan Gelombang ini juga menyarankan agar lembaga-lembaga yang terkait langsung dengan kreativitas serupa ini untuk mengupayakan program-program yang patut. Dicontohkanya dulu, Dewan Kesenian Riau (DKR) ada program yang memberi peluang dan laluan kepada penulis untuk menulis apa saja namun ada tim pemantaunya.

Buku novel saya, Hempasan Gelombang itu dulu diterbitkan dari hasil program tersebut, nah itu salah satu contohnya. Yang terpenting saya kira, bagaimana mendorong penulisnya untuk tetap berkreativitas dan berkarya, tutupnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning, Junaidi mengatakan proses penerbitan buku-buku dari penulis lokal adalah pekerjaan yang harus diperhatikan. Karena menjadi stimulus dan dorongan bagi penulis untuk tetap berkarya. Ada banyak penulis dari berbagai bidang di Riau apabila diberi perhatian lebih akan menghasilkan beragam buku.

Junaidi juga menyatakan ada banyak penerbit di Riau ini yang bisa diajak kerja sama untuk dapat menggalakkan program penerbitan buku-buku karya penulis lokal. Tinggal lagi, instansi tertentu seharusnya menganggarkan dan menyediakan anggaran untuk hal itu. Dulu 10 tahun lalu, kita pernah mengusulkan untuk menerbitkan buku-buku karya penulis lokal di beberapa instansi seperti Dinas Kebudayaan dan Pendidikan yang proses penerbitannya bekerja sama dengan  pihak ketiga. Ini penting, karena dengan demikian, penerbitan akan hidup. Jadi pemerintah mensuport biaya penerbitan serta biaya distribusi, ungkap Junaidi seraya menyayangkan upaya seperti itu sangat kurang sehingga dunia kepenulisan di Riau kurang menggairahkan saat ini.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us