Menerbitkan Buku Masih Bersifat Insidental

10 Agustus 2014 - 09.30 WIB > Dibaca 610 kali | Komentar
 
PROGRAM penerbitan buku karya penulis lokal di Riau masih terkesan bersifat insidental. Dicetak dengan sangat terbatas oleh instansi-instansi tertentu. Dan kebanyakan tidak transparan sehingga program tersebut tidak berfungsi dengan baik. Selama ini yang saya perhatikan Cuma bersifat insidental, itu kadang-kadang karena mendesak, ucap salah seorang sastrawan Riau, Marhalim Zaini.

Sehingga menyikapi hal itu, banyak akhirnya penulis-penulis membuat penerbit sendiri yang tentu saja penerbit kecil, sifatnya swadaya, tidak profesional. Karena kita menulis, akhirnya saya mendirikan penerbit Seligi yang tujuannya untuk menerbitkan buku-buku karya saya, itu pun sifatnya menabung duit, bukan profesional, ucap Marhalim yang juga berprofesi sebagai dosen tersebut.

Memang diakui sebenarnya, kurangnya gairah penerbitan buku karya penulis lokal itu terutama pada karya-karya kreatif sedangkan buku lain seperti buku agama, pelajaran banyak sekali. Disinilah Marhalim menilai perlunya lembaga-lembaga yang menyusu kepada pemerintah untuk ikut ambil peduli dan ada andil di dalam persoalan ini. Artinya harus masukkan program penerbitan buku yang diperhitungkan secara profesional karena kalau tidak, itu tadilah sudah tentu mengganggu proses kreatif para penulis. Dan saya kira ini memang masalah klasik, jelas Marhalim.

Dengan banyaknya penerbitan di Riau ini, sebenarnya menerbitkan buku itu gampang tapi secara pragmatis. Kata Marhalim, tidak hanya di Riau, fenomena ini pun terjadi di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Hanya saja kemudian mendistribusikannya itu yang susah. Akhirnya karya-karya kreatif terutama sastra dibaca oleh karangan terbatas, berada di menara gading, ekslusif tidak dibaca oleh masyarakat.

Mestinya harus ada sistem yang dibangun. Dimulai dari penerbitan, pra cetak, bila perlu adanya lembaga penerjemahan, distribusi, sistem royalti.  Dan itu harus ada yang menjaga. Minimal lembaga-lembaga yang terkaitlah, katanya.

Upaya lain yang bisa dilakukan misalnya bagaimana pemerintah membantu pendistribusian, bekerja sama dengan penerbit yang ada kemudian mendorong agar karya-karya yang dilahirkan penulis Riau bisa masuk ke toko-toko buku besar yang ada di Riau ini.  

Tapi tentu saja melalui kerja sama dengan distributor. Kalau memang serius, pemerintah buat kesepakatan serupa MOU dengan toko-toko buku seperti Gramediamisalnya. Tentu saja bisa, mereka di sini kok. Membuat korner sendiri juga bisa, tentu dengan persen-persen tertentu. Tapi itu tadilah, ada tidak komitmen pemerintah makanya saya sebutkan in masalah klasik, ujar Marhalim. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Follow Us