Bentuk Badan Penerbitan Riau

10 Agustus 2014 - 09.30 WIB > Dibaca 744 kali | Komentar
 
Menulis adalah sebuah pekerjaan fokus. Untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah buku, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Sebut saja karya sastra misalnya, bagaimana seorang penulis mengamati peristiwa sosial yang terjadi, realita-realita masyarakat lalu dituangkan ke dalam karya kreatifnya. Hal ini menurut salah seorang seniman Riau, Hang Kafrawi tidak bisa tidak harus fokus melakukannya.

Tapi coba saja lihat apa yang terjadi hari ini, lanjut Kafrawi, banyak penulis yang kemudian juga harus memikirkan bagaimana mencari duit untuk menerbitkan karya mereka. Bagaimana hendak muncul karya-karya dan pemikiran yang bagus. Semuanya harus dipikirkan sendiri. Ini tentu menjadi hal yang menganggu kreatifitas para penulis. Ditambah lagi, kadangkala banyak seniman (penulis) yang tidak paham dalam mencari uang untuk menerbitkan bukunya, mereka tidak terbiasa dalam urusan itu, akhirnya karya mereka menumpuk di dalam latop atau flash disk, ujar tegas.

Kalau memang pemerintah mau beritikad baik untuk mencerdaskan bangsa, lanjut Kafrawi, kenapa tidak dibangun sebuah badan penerbitan di Riau ini. Seperti halnya pada abad ke 19 dulu, penerbitan Rusdiyah Club, sebuah penerbitan pada masa kerajaan yang disupport oleh pihak istana untuk menerbitkan buku-buku karya anak negeri.

Kan rasanya tidak ada alasan, Riau tidak bisa melakukan hal itu pada hari ini. Kalau memang punya niat dan tekad untuk memajukan negeri ini dengan cara menerbitkan buku-buku serta mendistribusikannya dengan baik, kenapa tidak? Maksudnya kenapa tidak dianggarkan di APBD untuk membentuk sebuah badan penerbitan di Riau. Atau barangkali, bekerja sama dengan perusahaan besar yang ada di Riau ini. Cobalah lihat, berapa banyak perusahaan besar yang tidak membantu kegiatan kebudayaan dan kesenian padahal mereka mengekploitasi habis-habisan sumber daya alam yang ada di Riau ini, ucap Ketua Progra Studi Sastra Indonesia Unilak itu.  

Kalaupun pemerintah tidak bisa mendistribusikan buku-buku yang sifatnya profit, menurut Kafrawi,  ada banyak langkah yang bisa dilakukan kata kafrawi dengan mendistribusikan buku-buku yang diterbitkan tadi tidak hanya di sekolah-sekolah dan perpustakaan besar saja. Tetapi langkah selanjutnya, bisa dibentuk perpustakaan di desa-desa, kelurahan dan kecamatan. Distribusikan buku-buku tersebut ke sana, sehingga akhirnya buku-buku penulis lokal betul-betul memasyarkat.

Itu tadilah, hal ini tentu saja kalau pemerintah punya itikad yang kuat dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Sehingga buku yang diterbitkan pemerintah tidak hanya menjadi bahan dokumentasi dan souvenir, ujar Kafrawi lagi.

Mendorong penulis untuk terus berkarya itu dengan berbagai cara bisa dilakukan. Bahkan badan penerbitan yang dimaksud Kafrawi tidak hanya bisa menerbitkan buku-buku budaya, sastra tetapi juga menerbitkan buku-buku lainnya. Seperti hasil penelitian mahasiswa yang ada di universitas di Riau ini, berapa ribu penelitian yang kemudian hanya tergeletak berdebu di ruang pustaka kampus masing-masing.

Badan penerbit itu juga bisa bekerja sama dan menaungi penerbit-penerbit yang sudah ada di Riau ini. Bahkan bila perlu, kata Kafrawi, badan tersebut dapat membangun jaringan sampai ke daerah-daerah lain, sampai luar negeri sehingga kemudian bisa pula menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh orang luar yang berkaitan dengan Riau.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau, Said Syarifuddin mengatakan sangat mengapresiasi apa yang menjadi persoalan dalam dunia penerbitan di Riau terutama upaya menerbitkan buku-buku karya anak negeri. Kata Said, sebenarnya apa yang menjadi kreativitas kawan-kawan pengkarya selalu diupayakan untuk tetap didorong dan diberi pembinaan, apalagi yang berbau kebudayaan Melayu.

Sejauh ini, lanjut Said, memang dinas yang dinakhodainya belum mampu memaksimalkan dalam hal menerbitkan buku-buku penulis lokal namun demikian sejauh ini, sudah ada juga beberapa buku budaya yang diupayakan untuk terbit. Kita tetap memberikan program-program penerbitan buku, ada beberapa karya buku seni budaya yang sudah diterbitkan tapi baru sampai situlah yang kita upayakan, barangkali belum maksimal. Mei ini akan siap buku yang kita terbitkan berjudul Seratus Tahun Cerpen Riau, kita juga akan menyelenggarakan bedah bukunya, terang Said.  

Dari dinas sendiri ke depannya, dikatakan Said punya keinginan untuk terus mendorong penerbitan buku karya anak negeri hanya saja, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau akan bertukar menjadi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tentu saja tupoksi yang berkaitan dengan seni dan kebudayaan dipindahkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Hal itu jugalah yang disayangkan Kadis karena menurutnya, sebaiknya untuk menampung aspirasi dan mewujudkan kemajuan di bidang seni budaya termasuklah penerbitan buku, dinas kebudayaan harus berdiri sendiri. Supaya bisa lebih fokus membina dan merangkum teman-teman seniman yang berkarya.

Visi kita memajukan kebudayaan dan kesenian Melayu. Namun dari sisi kelembagaan kita tidak maksimal. Semua masalah kebudayan, akan dapat diprogramkan secara fokus jika dinas kebudayaan itu berdiri sendiri. Selagi masih numpang sifatnya, tidak akan maksimal. Dalam hal ini dapat dicontohkan seni sastra misalnya, bisa merangkul para sastrawan mulai dari proses menulis sampailah kepada penyalurannya, ucap Said.

Sedangkan selaku ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Riau, Fadhilah juga mengakui belum bisa mengakomodir penulis-penulis Riau secara maksimal. Namun demikian, berbagai upaya telah pula dilakukan dengan menerbitkan beberapa buku tentang kebudayaan Melayu, melakukan pameran-pameran buku.

Selama ini juga, menurut Fadhilah, IKAPI Riau juga berupaya untuk menerima karya-karya anak negeri untuk dapat diterbitkan. Hanya saja belum bisa terlalu banyak, buku yang diterbitkan juga harus diseleksi terlebih dahulu. Kita selalu menerima dan berupaya menerbitkan buku-buku penulis lokal. Tetapi jangan pula dulu berharap ada royalti yang memadai, ucap Fadhilah singkat.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us