Batu Sebesar Bumi

10 Agustus 2014 - 10.01 WIB > Dibaca 2255 kali | Komentar
 
Menyirnakan kesucian, bagai menjunjung batu sebesar bumi di puncak kepala. Hendak mengelak, mustahil, sebab beban mesti ditopang. Akan dihempas, tak mungkin, beginilah tanggung jawab mesti dijunjung. Lantas, apa hendak dibuat, apa pula hendak dikata. Semakin ditopang, batu besar itu semakin membikin tapak kaki lambat laun tenggelam ke dalam tanah. Semakin lama kian mendalam hingga terbenamlah seluruh tubuhbersama jiwaterkubur tanpa daya

Tepian sungai, riak-riak menderu seirama kaki-kaki kecil para bocah bermain sipaktekong.

Kejar aku! si gempal berlari semampunya. Lipatan perutnya melonjak-lonjak. Tiga kawannya bersikejar tanpa baju dan sandal. Ia menghambur ke dalam sungai, air memercik hebat diikuti lompatan kawan-kawannya.

Perempuan di tepian sungai, perempuan di antara ilalang yang merimbun itu hanya mencipta sesungging senyum.

Semisal waktu mampu dijemput ke puluhan tahun lampau, lebih kurang seusia dengan bocah-bocah itu, ia ingin menggandeng tangan ayahnya kembali, dengan erat, bahkan lebih erat. Ia ingin menggandeng tangan ayahnya kembali seperti saat berdua mereka berjalan menyisi aliran Batang Selo itu.

Terbayang olehnya, di tiap langkahan tapak kecilnya dulu, ia seolah tak kenal pada rasa jemu. Terlebih saat sepasang mata bulat itu membelalak takjub pada kawanan kupu-kupu yang bagai menggoreskan kuas di tubuh langit; liukan indah dari kepakan sayap-sayap halus beragam rona.

Ayah, akulah kupu-kupu. Aku kupu-kupu yang melintasi langit lalu hinggap di kopiah Ayah. Ia rentangkan kedua belah tangannya habis-habis. Lelaki tua itu hanya akan tersenyum menatap laku tunggal belengnya.

Begitulah, ketika usianya belum terhitung belasan. Rantak akan melambung kegirangan jika ayah membawanya ke tepian sungai, sekedar merintang-rintang petang lalu pulang jika dirasa azan Magrib hampir berkumandang.

Rantak amat mafhum, keberadaan Batang Selo seakan-akan tiada akan henti dari suara arus. Sesekali suara itu akan terdengar lebih riuh manakala deburnya mengganas menarung bebatuan; saat air sungai berwarna kecokelatan dan arusnya bergulung-gulung bagai ombak; tatkala gabak menaungi langit hulu, seakan menyampaikan alamat bahwa hujan telah lebih tumpah ruah di daerah perkampungan.

Kecuali di waktu hujan, hampir saban senja Rantak kecil bersama ayahnya akan bertamu kepada aliran Batang Selo. Hingga Rantak menganggap sungai yang melingkungi bukit Batu Patah itu sebagai tempat terindah yang selalu ia rindukan setiap saat, terlebih pikirannya tak hendak lepas dari kupu-kupu yang kerap ia temukan di sepanjang jalan.

Tetapi kemudian semua perasaan itu sirna manakala perubahan tak lazim mulai terasa. Lelaki tua yang gemar bertelungkupkan kopiah beludu itu mulai bergelagat ganjil kepada putrinya.
***

Si gempal gelagapan. Teman-temannya menggerubunginya, menggelitik lipatan ketiaknya. Akan lari ke mana lagi kamu?
Perempuan itu menahan geli melihat tingkah anak-anak itu. Selepas kemudian ia tertegun dalam tekur.

Masih jelas terbayang, saat ayahnya dulu berlagak pinggang dengan mata membelalak. Serta merta meninggi nada suara yang biasa selalu terdengar berat rendah itu kala memaksanya untuk menyeberangi sungai tanpa memedulikan arussekalipun ketika itu alirannya tengah membuas. Dan lalu, ia dipaksa menyeberang, namun pantang melalui titian sederhana dari beberapa bentang kebatan betung yang lazim dijadikan sarana penyeberangan oleh masyarakat. Ayahnya bersikeras agar Rantak mengarungi sungai dengan berpijak pada batu-batuan yang membatu di sebentang aliran sungai.

Rasa ketakutannya lebih-lebih dari mendengar derasnya arus dalam hujan selebat apa pun. Dalam pikiran Rantak, bagaimana mungkin akan mampu ia menuntaskan titah sang ayah sedang untuk berjalan saja ia mesti bertopang penuh pada sepotong tongkat yang senantiasa menjadi pengganti tugas bagi kaki kirinya yang buntung sejak hadir di bumi ini.

Tak ada yang tak mungkin jika keterpaksaan menjadi pemicu. Dan dengan terpincang-pincang pun Rantak mesti mencoba melompati ke satu batu menuju batu lain yang cukup berjarak dan tentu tidak rata sebagai tempat penyeimbang tubuh. Bahkan kerap tubuh kecil itu terjatuh pada lompatan-lompatan awal.

Rantak benar-benar tak mengerti. Ia mencoba berkira: apa ayah perlahan mencoba membunuhnya? Atau jangan-jangan ini sikap ayah lantaran tak lagi sanggup menanggung penghidupan yang belakangan selalu dirundung malang? Harta benda dan bertumpak-tumpak sawah telah tergadai untuk pengobatan ibunda, dan beberapa hari setelah nyawa sang ibu lesap dari raga, rumah mereka pun dilahap si jago merah.

Perasaannya selalu bertanya-tanya, terlebih jika ia lihat ayahnya yang biasa bagai malaikat yang senantiasa menghangatkan hari-harinya, seketika menjelma bunian paling seram yang seolah hanya kenal kata-kata:

Meski perempuan kau harus tangguh. Meski ragamu tak tak sempurna, pantang untukmu beriba-iba. Maka, lekas menyeberanglah, Nak!

Ayahnya semena-mena akan menghardiknya tanpa sekalipun menolong saat ia terjerembap dalam gelombang sungai. Bahkan pada suatu ketika, ia sempat terseret arus sebelum kemudian tertambat pada batu. Lagi-lagi ayahnya tampak acuh dan kembali melayangkan titah.

Lama ia membiakkan tanda tanya. Dengan ringannya sang ayah kerap memberi ancaman akan mematahkan tongkatnya jika ia enggan menyeberang. Bukan sekadar ucapan, lelaki itu benar-benar membuktikan di hadapan Rantak ketika suatu kali ia bersikukuh menolak untuk menyeberang lantaran merasa tetap tak punya daya meski telah berusaha sekuat apapun.

Akibatnya, Rantak terpaksa mengisut menuju kaki ayahnya. Dengan layaknya menyembah, ia meraung-raung minta dicarikan kayu penopang agar ia dapat tegak. Entah tak tega melihat sebelah kaki anaknya yang telah penuh oleh gores dan luka akibat bergesek dengan ujung kerikil ketika mengisut, atau merasa telah memberi pelajaran yang berarti kepada anaknya, maka lelaki itu pun lekas mengeluarkan parang dari balik punggungnya, lantas melayangkannya pada kayu yang berada di sekitar. Dengan beberapa kali sayat, kayu penopang pun tercipta. Dan sembari memangkas itu ia rajin mengulang-ulang perkataan, Seberat-beratnya kayu, terapung juga di air, Nak.

Sejak saat itulah kesenangan yang Rantak rasakan setiap kali diajak ke sungai seketika sirna macam abu diembus. Rantak merasa berat hati. Akan tetapi tak kuasa baginya mengelak, bersebab ancaman demi ancaman senantiasa lahir dari mulut ayahnya dan itu amat menakutkan saat ia coba bayangkan.

Rantak merasa sungai telah menjelma belanga di atas kobaran sepilin kayu api. Deburan yang senantiasa hadir di telinga tak ubah gemericik air rebusan yang terus memanggil-manggil tubuhnya dalam gelimangan panas. Sungai neraka!

Di sepanjang jalan, Rantak tak lagi memedulikan kawanan kupu-kupu yang berterbangan dengan wewarna menggiurkan pada sayap-sayap halusnya. Yang berkuasa penuh pada pedalaman benaknya tak lain hanyalah sang ayah. Ayah dengan air muka bengis. Lelaki tua dengan sepasang mata api, Rantak menamainya.
***

Sipaktekong mulai tersara membosankan. Anak-anak itu menghabiskan hari dengan berenang. Hilir-mudik kaki-kaki kecil itu lincah mengapung. Sekali waktu ada yang bersuara, Ayo pacu-pacu. Berani? Serempak berujar, berani!

Perempuan itu sesekali memainkan air sungai yang menepi sembari matanya tak lepas dari anak-anak itu. Rantak dahulu kerap sangsi dan seakan bertanya-tanya: mengapa duri-duri tajam yang sekian lama tertanam di jari-jemari kehidupannya perlahan terangkat tanpa merasakan kepedihan? Barangkali keterpaksaan yang telah mengubah segalanya? Ataukah adakalanya kepedihan hanya bagi luka yang sesaat? Ah!

Melebihi usia dua puluhan, Rantak sudah tak cangung lagi menaklukkan arus sebesar apapun saat menyeberangi sungai. Seperti katak Rantak melambung tanpa memakan banyak waktu. Satu persatu batu-batuan ia langkahi dengan ringan dan pasti. Ia melihat tapak kaki dan pangkal tongkatnya tak lagi gemetar menahan setiap langkah. Terkadang ia masih tak percaya bila ia mengingat kesukaran di masa lalu.

Ayahnya pun telah lebih banyak menghabiskan hari dengan menghambakan diri kepada sujud. Lelaki yang beranjak senja itu tak lagi memiliki sepasang mata api. Api pada matanya takluk sudah oleh picingan kesejukanatau bahkan ketentramantatkala bulatan tasbih hijau mudanya ganti-berganti merasakan kecupan dari ibu jari dan telunjuknya, seolah menjadi pengimpas atas tiap hembus nafas serta denyut jantung yang dipinjam dari sang Ilahi.

Begitulah keseharian yang dilalui lelaki tua itu. Bahkan berjalan-jalan sore dengan anak perempuannya seperti dahulu rasanya sudah tak elok dipandangi orang. Lagi pula, lelaki itu merasa tugasnya untuk menanam telah usai, tinggal bagaimana buah itu matang di pohon seiring putaran gasing waktu.
***

Jelas, permainan pacu-pacu menyisakan kekalahan bagi si gempal. Tak sanggup ia berenang mendahului teman-temannya. Ia disoraki ketika tubuhnya masih berusaha mencapai batas kemenangan. Ayo, terus! perempuan itu pun turut berteriak menyemangati.

Di keteduhan batang kuini muka rumah, Rantak yang kala itu telah memiliki sepasang dada ranum terlihat amat tekun meneliti lubang kain yang akan dimasukkan sehelai demi sehelai benang wol beragam rona. Pada kain itu sekilas tergambar seorang anak gadis bergaun hijau daun tengah tegak di tentang jendela terbuka. Gadis dalam rajutan itu tampak sedang memandang seorang lelaki muda berkuda yang melintas di halaman.

Sekilas Rantak tersenyum memerhatikan kerajinan tangan yang ia buat tinggal beberapa bagian lagi bakal rampung. Jika selesai, Rantak berniat akan membingkainya, lalu akan ia pajang di salah satu sisi dinding ruang depan.

Tatkala Rantak coba merentangkan kain itu lebar-lebar lalu memandanginya berkali-kali, mengapa tiba-tiba ada seperti sentakkan kecil pada ulu hatinya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Pipinya terasa hangat dan ketika menoleh pada cermin di dalam kamarnya, ia mendapati tembam pipinya bersemu merah. Ah, inikah rasa bagi buah yang matang?

Sungguh, suasana dalam rajutan itu telah menyeret ingatkannya pada sesosok pemuda yang tak sengaja mendalamkan pandangan dengannya di lepau Mak Puak tiga hari lampau, kala Rantak membeli setengah kilo kopi Nilam kesukaaan ayahnya. Tiada lain keteduhan tatapan lelaki itu seketika bertamu di ruang pikirnya. Duh, bukan saja teringat, bahkan paras pemuda itu seolah membentang nyata di hadapannya. Rantak salah tingkah.

Tatapan pemuda itu begitu lekat, Rantak muskil menampik hal itulantaran untuk kedua kalinya mereka kembali dipersuakan. Tentu tak dapat dielakkan, untuk mencukupi keperluan sehari-hari hanya ada satu kedai yang dekat dari tempat tinggalnya, mustahil bagi Rantak untuk tidak bertemu pemuda yang rupanya adik bungsu Mak Puak.

Entah siapa yang memulai percakapan terlebih dahulu, hingga Rantak akhirnya mengetahui ternyata pemuda itu baru kembali dari rantau bersebab pekerjaannya sebagai sopir salah seorang pejabat negara berhenti lantaran bosnya terseret kasus suap. Dan, konon kasus tersebut sempat santer dibicarakan di negeri ini. Sementara mengisi waktu sekaligus upaya untuk lolos dari status saksi, pemuda itu memilih menuruti saran kakaknya untuk berada di kampung. Dan pada suatu waktu, dalam pertemuan yang telah kerap terjadi, lagi-lagi entah menyangkut pembicaraan apa, mereka telah membikin kesepakan waktu dan tempat untuk bertemu.

Rantak merasakan kesesuaian berbincang dengan pemuda itu. Padahal selama ini Rantak bagai kucing terkena balur. Terhadap siapapun ia tak banyak bicara selain daripada menyapa lantas kembali menekur. Kenyataan akan kondisi badaniahnya-lah yang membuat kepalanya seolah dibebani saat mendongak. Padahal, ayahnya selalu mengatakan bahwa Rantak mesti menegakkan kepala. Salah satu penguat dari ayahnya: tak semua orang mampu menyeberangi sungai dengan berpijak pada bebatuan. Dan Rantak, buntung, tapi mampu sampai ke seberang.

Agaknya pelajaran ayahnya memang tak bersua untuk semua orang. Tapi mungkin saja cerita akan lain pada seseorang yang dari rantau ini.

Kesenangannya sewaktu kecil tatkala dibawa ayah berjalan-jalan mengitari Batang Selo seolah kembali ia rasakan. Bahkan ia merasa perjalanannya untuk bertemu pemuda itu  entah mengapa terasa menjadi lebih indahmeski pemandangan yang dilalui tiada berubah sesudut pun.

Di tengah perjalanan, Rantak tak hanya mendapati pertunjukkan sirkus alam oleh kawanan kupu-kupu yang bermanuver dengan sayap-sayap halusnya. Akan tetapi, ia mencoba iseng mengejar dan melompat guna meraih salah satu kupu-kupu yang ia lihat amat indah. Tak terasa sukarnya ia melambung dengan kaki yang hanya satu, sebab kebahagiaan tengah menaungi dirinya.

Setelah cukup lama berjalan, ia lihat lelaki yang seperjanjian sudah duduk menanti di atas salah satu batu besar yang menjorok di bibir sungai. Ia agak menyesal lantaran kehadirannya sedikit lebih lama dari yang telah disepakati. Lantas kepada pemuda itu ia mengaku kalau tadi menanti ayah pergi ke surau terlebih dahulu, sehingga ia tak akan dintanyai akan pergi ke mana. Dan jika ayah sudah ke surau pasti lama kembali.

Sampai kelapa bertumbuh durian pun ayah belum tentu akan kembali, Rantak memberi penekanan sekaligus berniat memecah suasana. Ahai, perempuan itu cukup lihai menyeberangi satu bebatuan!

Setelah tongkat diletakkan, ia duduk di sisi lelaki itu. Beberapa saat sepasang manusia itu bagai beku, seolah berusaha mendengarkan detak jantung satu sama lain. Sembari membasahi ujung-ujung kaki ke permukaan sungai mereka berusaha mencuri-curi pandang.

Tak lama berlalu, yang satu mencoba melempar tanya, yang lain menjawab, lalu ganti-berganti bercerita, berkisah apa saja, tanpa sadar saling memuji, merayu, terkikik-kikik. Semakin lama kikik seiring dengan cubit. Semakin lama cubit sejalan dengan gelitik. Semakin lama gelitik beriring dengan rabaan.

Semakin lama Rantak semakin hebat mengangkat batu besar yang tengah mereka duduki. Semakin terangkatlah batu itu. Semakin besar wujudnya. Semakin terlihatlah lumut yang melekat di paling bawah batu itu setelah sekian masa berdiam di kedalaman tanah. Semakin terkikis pancaran kesucian perempuan itu.

Dengan terpincang-pincang Rantak menjunjung batu sebesar bumi itu ke sekeliling kampung. Lalu menuju surau, untuk dibagi kepada ayahnya yang tengah asyik masyuk menyulam bebayang nirwana.
***

Sudah puas bermain dengan teman-teman? Lekas kenakan pakaianmu. Perempuan itu merangkul si gempal dengan penuh kasih sayang. Kembali ke rumah dengan pemandangan perjalanan yang tak ubah sekian masa.

Menyirnakan kesucian, bagai menjunjung batu sebesar bumi di puncak kepala. Sekalipun tubuhbersama jiwaterkubur kala menopangnya, batu besar itu tak akan lantas turut terbenam. Ia akan tertahan di permukaan. Selamanya akan abadi, sekalipun air mata tiada henti menggerusnya...***

Padang, 2013-2014


Dafriansyah Putra
Lahir di Batusangkar, Sumatera Barat, 7 Juli 1992. Berkuliah di jurusan Teknik Sipil, Universitas Andalas, Padang. Bergiat di Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas (UKS-UA).
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us