Merdeka

17 Agustus 2014 - 07.37 WIB > Dibaca 1157 kali | Komentar
 
Merdeka
HELFIZON ASSYAFEI
Hari ini tanggal 17 Agustus adalah hari yang sangat bersejarah bagi bangsa ini 69 tahun silam. Sebuah tindakan berani, heroik dan menentukan dilakukan putra-putri terbaik bangsa ini dengan memproklamasikan kemerdekaan RI ketika itu dengan segala risikonya. Kemerdekaan adalah hak asazi segala bangsa. Betapa mahalnya kemerdekaan ditebus. Betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan. Bagaimanakah kita mengisinya kini? Setiap hari HUT RI datang sejumlah kenangan muncul di benak saya. Tentang seberapa berkualitasnya kemerdekaan yang sudah kita raih.

Saya punya kenalan sebut saja namanya Pak Tohir. Seorang pemulung tua yang sering lewat di perumahan kami dengan motor bututnya. Jika motor bututnya rusak ia menggunakan gerobak dorong berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Sering singgah di masjid bila waktu salat tiba, mengganti pakaiannya yang kumal dan ikut salat jamaah. Orangnya pendiam namun saat diajak ngobrol ternyata asyik juga. Ia kerap tersenyum meski deretan giginya tak rapi lagi. Suatu ketika saat saya menempel ban motor di sebuah bengkel, secara tak sengaja berjumpa dengan Pak Tohir dengan celana pendek selutut khas gaya operasionalnya. Saya menyapanya dan iapun singgah. Kami pun ngobrol. Belakangan saya tahu bahwa ia tinggal di gubuk seng di belakang bengkel tersebut tak jauh dari sebuah pom bensin.

Sayapun bertandang ke gubuk liarnya di sebuah lahan kosong di belakang bengkel. Lahan itu ditumbuhi semak ilalang. Sepintas tak tampak ada gubuk di balik rerimbunan ilalang tersebut. Sebuah gubuk berdinding seng ukuran 4 x 3 m yang tak lebih layak dari sebuah wc umum. Tak ada sekat ruangan. Botol plastik minuman mineral, kaleng bekas, kawat, botol, karah menggunung di tengah gubuknya. Sebagian lain berserakan di sana-sini. Ruangan kecil itu bak kapal pecah. Sehelai handuk kumal dan berlobang di sana-sini tergantung di pintu masuk gubuknya yang juga dibuat dari seng yang sudah sangat coklat dengan karatnya. Di sudut gubuknya ada matras lusuh jadi alas tempat tidurnya di kala malam. Jaring-jaring lebah bak lampion menggantung di setiap sudut gubuk itu.

Dari perbincangan kami saya tahu ia telah lama ditinggalkan istri dan anak-anaknya karena tak mampu memberi nafkah yang diharapkan. Kini ia sebatangkara dan melanjutkan hidupnya dengan jadi pemulung. Hari-hari mengumpulkan barang bekas dan kemudian dijual kepada pedagang pengumpul (penampung).

Saya terkesan karena ia tidak pernah mau jadi pengemis meski hidupnya sangat susah. Meski diberi sedekah tak menolak tapi ia memantangkan diri dari menadahkan tangan pada orang lain. Selagi Tuhan memberi kita kesehatan jangan pernah hidup kita menyusahkan orang lain, ujarnya semberi terus menyusun hasil memulungnya hari itu. Saya juga pernah sekilas terlihat dompetnya yang lusuh dengan beberapa lembar uang kertas lima ribuan. Terkadang saya bertanya dalam hati apa yang membuat Pak Tohir tetap menjalani hidup masih dengan gembira. Dan saya coba mencari tahu.

Saya sudah merdeka dari rasa sedih, ujar Pak Tohir akhirnya. Deg.. jantung saya berdetak kencang karena rasa ingin tahu. Gunungan cobaan yang telah dilalui Pak Tohir ternyata luar biasa. Dan itu belum selesai hingga kini. Kesedihan tidak penting lagi bagi saya karena catatan hidup saya tidak asing dengan hal itu, ujarnya terkekeh. Bahkan dalam statistik kemiskinan saya pun tak akan tercatat karena orang-orang yang tercatat itu berada di bawah garis kemiskinan. Kalau saya sudah di dalam jurangnya yang dalam, jadi mana mungkin tercatat, ujarnya lagi tetap dengan tersenyum. Ia kemudian melihatkan dompetnya tanpa saya minta. Sehelai identitaspun tak ada. Jangankan ATM, kartu kredit, asuransi layaknya di sebuah dompet, KTP pun tak ada.

Ia melanjutkan. Ketika rasa sedih tak lagi mengusik kita, kita bisa lebih fokus melanjutkan hidup, ujarnya bak filosof. Menurutnya hidup bukan untuk sekedar ada. Kalau sekedar ada, anjing juga ada, ujarnya. Ia terdiam sejenak. Saya tahu bahwa saya sudah mati atau dianggap mati oleh lingkungan sosial saya. Tapi saya tahu saya belum mati di mata Tuhan, ujarnya.

Dan saya tahu mata Tuhan lah yang benar. lanjutnya. Ia menambahkan bahwa ibadahlah tanda orang yang hidup. Orang yang tidak/meninggalkan ibadah sebenarnya mati meski memiliki dunia dan seisinya, ujarnya lagi. Bincang ringan itu pun berakhir. Saya pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ah, ternyata ia telah mencapai kemerdekaan yang lebih berkualitas daripada saya. Semoga kita mencapai kemerdekaan yang berkualitas tersebut. Selamat HUT RI ke-69. Jayalah Indonesia. Merdeka!!***


HELFIZON ASSYAFEI
wakil pemimpin redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us