Anugerah Pemangku Seni Tradisional

Berkaryalah dengan Hati

17 Agustus 2014 - 07.55 WIB > Dibaca 1166 kali | Komentar
 
Anugerah seni bukan untuk bergagah-gagahan. Bukan pula untuk dijulang-julangkan. Anugerah yang diraih menjadi pemicu sekaligus legitimasi untuk diakui secara ramai. Anugerah itu menawarkan energi besar untuk menghasilkan karya-karya terbaik bagi penerimanya.

TARIAN disuguhkan enam penari sebagai pembuka prosesi helat Penyerahan Anugerah Pemangku Seni Tradisonal 2014. Helat dua tahunan yang diprakarsai pemerintah Provinsi Riau melalui  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau tahun ini dilaksanakan, 13 Agustus di Hotel Grand Central, Kota Bertuah Pekanbaru. Gerak gemulai penari sebagai penyambutan seniman dan pelaku seni yang meraih anugerah. Ditengkahi pula dengan iringan musik yang mewarnai nuansa pemuliaan pejuang-pejuang kebudayaan yang  mengabdi, berjasa dan berprestasi di bidang seni di daerah ini.

Anugerah seni itu diberikan kepada 12 seniman/budayawan yang dinilai tim panelis sebagai personal yang berhak karena telah member pengaruh pada perkembangan seni di daerah ini. Anugerah itu juga ditasbihkan kepada mereka yang masih dan terus berkomitmen melestarikan kebudayaan di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Penghargaan yang diberikan pemerintah itu juga dalam rangka mengapresaisi dan menghargai kinerja seniman dan budayawan yang telah banyak berbuat untuk mempertahankan, mengembangkan serta menjaga kesenian tradisi yang ada.

Anugerah pemangku seni tradisi itu terdiri dari dari kategori. Kategori pertama, Pemangku Seniman Berjasa dan Berprestasi yang diberikan kepada sastrawan Riau H Drs Taufik Ikram Jamil dan kategori kedua diberikan kepada Suarni Hasan sebagai Pemangku Pengabdian Seni. Untuk kategori Anugerah Pemangku Prestasi Seni diberikan kepada lima orang sesuai percabangan seni yang digelutinya. Cabang seni tari diberikan kepada R Indra Maulana (Inhil), cabang teater kepada Kunni Masrohanti (Pekanbaru), cabang sastra kepada Hafney Maulana (Inhil), dan musim diberikan kepada Irfendi (Pekanbaru) serta cabang seni rupa diberikan kepada Muhammad Amli (Bengkalis).

Di kategori ke empat yakni Anugerah Pemangku Setia Seni juga diberikan kepada lima orang yang usianya telah mencapai 50 tahun ke atas. Di cabang seni teater diberikan kepada Temul Amsal (Pelalawan), cabang tari diberikan kepada Tengku Rahimah (Pekanbaru), cabang musik diberikan kepada Epi Martison (Kuansing), sedangkan di bidang sastra, Ahmad Dharmawi (Pekanbaru) dan senirupa Nasrul Taher (Pekanbaru).

Sejalan dengan visi dan misi Riau 2020, kegiatan Anugerah Pemangku Seni Tradisonal adalah salah satu kegiatan penting. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Riau, Arsyad Juliandi Rahman dalam sambutannya. Anugerah tersebut katanya, hanya dapat diberikan kepada seniman yang memiliki kesungguhan dalam membina, melakukan penggalian serta melestarikan seni tradisonal Melayu Riau.

Anugerah ini juga diharapkan mampu memberi motivasi terhadap pahlawan-pahlawan kebudayaan yang tunak pada kesenian yang digelutinya masing-masing. Anugerah ini juga merupakan bentuk perhatian pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Riau, ucap Wagub.

Seni tradisonal Riau juga menurut Wagub merupakan sesuatu seni yang perlu dibanggakan karena memang hidup tidak hanya di tanah Lancang Kuning, tetapi sampai ke tingkat regional. Dan kita akan berupaya terus mendorong untuk memajukan seni tradional ini. Bahkan kita akan tetap berupaya mempertahankan budaya-budaya yang ada di Riau seperti situs-situs peninggalan sejarah dan budaya. Ini juga akan diangkat dan dikembangkan, jelasnya.  

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Riau, Said Syarifuddin memaparkan, pemberian anugerah kepada pahlawan-pahlawan kebudayaan dapat terus memotivasi mereka yang telah berjasa, menjaga seni Riau. Sehingga kesenian tersebut dapat hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan dapat pula diteruskan kepada generasi berikutnya, ujar Said Syarifuddin.

Sementara itu, Taufik Ikram Jamil selaku menerima Pemangku Anugerah Seniman Berjasa dan Berprestasi mengemukakan, anugerah yang didapat mengharuskan seorang penerimanya untuk lebih banyak berbuat dan berkarya. Ini semacam perjanjian yang ditasbihkan, katanya tegas.

Pada hakikatnya, manusia perlu diakui eksistensinya, meskipun demikian tanpa pengakuan itu banyak juga seniman-seniman yang hebat terus berkarya. Menurut Taufik, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan penghargaan kepada para pekerja seni yang memang turut andil dalam mengharumkan nama negeri. Tapi bagi pelaku seni, jangan pula kalau berkarya hanya karena anugerah tapi berkaryalah menurut hati, pesan seniman budayawan senior itu.

Penangkal Pengaruh Buruk Globalisasi
Dinamika kebudayaan menunjukkan pada satu hal yakni adanya perubahan terhadap sejumlah nilai-nilai budaya sesuai dengan zamannya. Di tangan seniman tradisionallah, identitas budaya Melayu itu tetap terjaga dan terpelihara. Serbuan globalisasi yang sudah tentu banyak masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat merupakan sebuah tantangan berat. Di sinilah perlunya ada upaya menangkal yang salah satu diantaranya, dengan kembali mencintai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tempat kita sendiri.

Salah seorang penerima anugerah kategori Setia Seni bidang sastra, SPN GP Ade Dharmawi mengatakan, Riau kaya dengan sumber daya alam karena anugerah dari yang kuasa, di sisi lainnya. Riau juga kaya dengan ragam kebudayaan dan bentuk kesenian tradisional. Saya berpikiran begini, pengupayaan manusia dalam hal kekayaan alam, kurang begitu dominan. Tetapi berbicara seni budaya, maka manusianyalah yang menyebabkan dianya besar dan gemilang. Ada dua sisi yang berbeda. Riau kaya karena Allah dan budaya Riau besar karena orang-orangnya, jelasnya berfilosofi.

Sungguhpun demikian, SPN GP Ade Dharmawi menegaskan, anugerah bukan jadi bahagian yang sifatnya jadi tujuan tapi menjadi suatu proses. Ketika penghargaan diberikan kepada orang yang dihargai, barangkali orang itu akan merasa apa yang dilakukan selama ini bukan sia-sia tetapi ada orang lain yang memperhatikan, inti dari semua penghargaan itu adalah untuk memicu dan memacu suasana dan atmosfir untuk mau dan berkeinginan kuat dalam memajukan seni budaya karena menurutnya, manusia Melayu baik sadar atau pun tidak, dibesarkan oleh seni budaya di daerah ini.

Tapi ingat, memulai sebuah pekerjaan seni itu dari proses pencarian, kemudian menemukan kenikmatan serta pembelajaran di dalamnya. Meskipun pada awalnya, kita dinilai seperti tidak memiliki tujuan tapi teruslah berbuat karena kita menjadi ada karena terus berbuat dan kita dinilai pun karena kita berbuat, ucapnya.

Sementara itu, Kunni Masrohanti selaku penerima anugerah kategori Prestasi Seni bidang teater mengemukan, seniman itu adalah aset daerah bahkan negara. Keberadaan seniman perlu dibela dan diperhatikan agar segala upaya yang dilakukan seniman dalam hal menjaga tembok jati diri sebuah negara tetap didorong oleh pemerintah. Terlebih lagi, pelaku seni merupakan jembatan penghubung dari satu generasi ke generasi lain agar kesenian atau budaya tradisonal tidak pupus atau hilang.

Anugerah ini tentu dijadikan semangat agar terus berbuat dan berkarya. Terlepas dari itu semua, bahwa yang tak kalah penting untuk diperhatikan juga adalah sarana sebagai laman atau tempat untuk para seniman berkarya. Itu juga memberi arti bagi para seniman, ucap salah seorang sutradara perempuan Riau itu.

Salah seorang tim penilai, budayawan OK Nizami Jamil mengemukakan, anugerah yang diberi memanglah terkhusus bagi mereka-mereka (seniman) yang tak pernah berhenti dalam berbuat khususnya berbuat alam bidang seni budaya. Anugerah ini juga menurutnya sebuah upaya membangkitkan semangat kepada para pelaku seni dan sebuah upaya menjemput kembali, Yang barangkali banyak diantara pelaku kesenian tradisional merasa berjalan sendiri-sendiri, inilah salah satu upaya menjemputnya, ucap OK Nizami Jamil.

Pemerintah Riau yang kaya ini, kata OK Nizami, harus dan memang wajib memberi penghargaan kepada seniman karena pengabdian kepada seni yang tidak semata-mata hanya karena uang tapi nilai pengabdian mereka yang tak ternilai. Nah, dengan pejuang-pejuang kebudayaan seperti merekalah, negeri kita akan harum, ucapnya.  

Harus Libatkan Tim Pemantau
Anugerah yang diberikan kepada manusia yang bersetia terhadap kesenian menurut salah seorang seniman Hang Kafrawi, memang sudah sangat layak diberikan di Riau ini. Mengingat tidak banyak orang yang memilih untuk terus berjalan di jalan kebudayaan. Terlebih lagi Riau, kata Hang Kafrawi, memiliki visi dan misi yang jelas sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di bentangan Asia Tenggara 2020. Para senimanlah yang berdiri di barisan paling depan dalam melakukan aktifitas seni dan budaya tersebut, merekalah pionirnya maka sudah memang layak mereka diberi perhatian dan dorongan, ucap seniman yang juga pernah mendapat anugerah serupa kategori Prestasi Seni bidang teater.

Namun Hang Kafrawi berharap, ke depannya hendaknya panitia pelaksana juga harus membentuk tim pemantau selain dari tim penilai karena perjalanan kesenian juga seiring dengan perjalan waktu. Untuk itulah diperlukan tim pemantau sudah sejauh mana sepak terjang yang dilakukan para seniman, seberapa besar pengabdian dan kesetian seseorang terhadap seni yang telah digelutinya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us