Suara 11

17 Agustus 2014 - 08.01 WIB > Dibaca 1562 kali | Komentar
 
SIRAMAN cahaya, tepuk-tangan, siutan kekaguman, dan gumam pujian, seperti melimpah-ruah untuk suara Rahimah Bontik. Tetapi perempuan yang sudah mulai meninggalkan usia remaja tersebut justeru melepaskan tangisnya di bawah rimbunan pinang merah, di halaman belakang yang kusam. Halaman yang kurang diperhatikan.

“Ayo, Dik!” Abangnya, Karim Bontik mengajak.

Ia rasakan kemudian, tangan Karim Bontik, lembut mendarat di bahunya yang tergoncang-goncang karena tangis yang tak tertahankan.Ia dekap telapak tangan tersebut, tetap berada di bahunya, menandai bahwa ingin benar ia mengikuti ajakan tersebut. Tetapi seluruh anggota tubuhnya seperti sudah terkunci, terpaku di tempat itu. Ketika keadaan tersebut ialawan, bukannya terungkai, ia malah seperti menahan dua kekuatan yang sama-sama besar, sehingga tubuhnya melorot ke tanah.

Berat badan perempuan itu tak tertahan oleh Karim Bontik yang coba menahan dengan dua tangannya. Hampir saja Karim Botik tersungkur, kalau saja tidak segera mencengkramkan tangannya pada sebatang pohon pinang merah. Tak pelak lagi, Rahimah Bontik terduduk begitu saja di tanah.Kakinya berlipat silang tidak sempurna, mungkin karena terhalang oleh tumit sepatunya yang cukup tinggi. Untunglah, sebelah tangannya masih sempat berpaut di pergelangan tangan Karim Bontik, sehingga tubuhnya tidak sampai tergeletak.

Seperti khawatir terhadap tenaganya, tak hanya sebelah, tangan Rahimah Bontik yang lain, kemudian berpaut ke tangan Karim Bontik. Ini menyebabkan abangnya itu harus mencangkung agar beban yang timbul akibat gerakan Rahimah Bontik itu terbagi pada posisi tubuhnya—dari setengah berdiri menjadi menjongkok. Tak pelak lagi, muka mereka berhadap-hadapan, sehingga makin terlihatlah oleh Karim Bontik, bagaimana hancurnya perasaan sang adik, hancurnya hancur.

Tak lama seperti itu, Rahimah Bontik pelan-pelan melepaskan pautan kedua tangannya dari anggota tubuh Karim Bontik.Satu per satu tangannya membuat semacam tumpuan pada tanah. Oleh karena menunduk, mukanya tertutup oleh rambut yang tergerai legam. Belum juga ia dapat menahan tangis yang sejak lama tidak ia sukai. Ya, tak seorang pun yang menyukai tangisan betapa pun deraian air mata sesungguhnya dapat mengurangi lima puluh persen dari beban yang bersarang dalam perasaan.

“Sesungguhnya, aku paham perasaanmu,” kata Karim Bontik, masih belum melepaskan tangannya di pundak Rahimah Bontik. “Cuma, keadaan kita memang begini. Kasihan ibu…,” lanjut lelaki itu.

Rahimah Bontik menanggapi perkataan si abang tersebut dengan cara melepaskan tangan lelaki itu dari pundaknya dengan tangan lain. Dalam genangan air mata, ia cari alat indera penglihatan Karim Bontik dengan pandangan, untuk meyakinkan bahwa kalimat tersebut memang keluar dari mulut abangnya. Tak salah lagi, memang Karim Bontik-lah yang berkata demikian seperti yang didengarnya sejak lama.Sejak lama dan berkali-kali.

“Sudahlah Bang, aku tahu,” kata Rahimah Bontik. Seperti ada tenaga di balik kalimat tersebut yang mungkin saja tercipta dari ketakberdayaan—menyerah. Tanpa disadarinya, tubuhnya terangkat, ia berdiri, mengiringi kalimat yang baru saja diucapkannya itu. Ia coba menghelap air mata dengan punggung telapak tangan.Tak hanya dengan satu tangan, tetapi kedua-duanya. Kedua-duanya sekaligus

***

SEPERTI dituntun, Rahimah Bontik akhirnya mengikuti ajakan Karim Bontik, ke gedung pertunjukan yang ditinggalkannya tadi dalam tangis.Langkahnya seperti dihitung, berat terlihat. Sesekali, didengarnya Karim Bontik berkata, “Demi ibu, kasihan ibu...”

Orang masih ramai di dalam gedung.Matanya segera menyambar sosok ibu yang duduk di kursi dengan senyum mengambang, didampingi ayahnya.Berdua mereka melayani orang-orang yang hendak bersalaman, mengumbar kegembiraan atas kemerduan suara Rahimah Bontik yang mereka aku, sekali lagi, yang mereka akui. Sesekali, ia melihat ayahnya berbisik pada ibunya yang disambut anggukan oleh perempuan tersebut dengan senyum yang tetap dikulum.

 “Engkau lihat sendiri, betapa bahagianya ibu kan?” Tanya Karim Bontik tanpa menunggu jawaban Rahimah Bontik.Lelaki itu kemudian berkata bahwa sejak lama ia tahu, Rahimah Bontik tidak menyukai keadaan ini. Dengan demikian, ia juga sadar bahwa Rahimah Bontik sedikit pun tidak bahagia menghadapi situasi tersebut. Diakuinya pula, kalau saja menjadi Rahimah Bontik, ia pun akan merasakan demikian. Tidak akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya di samping di luar batas kemampuannya yang sesungguhnya.

Cuma jangan salah, kata lelaki tersebut, dengan mengenyampingkan keinginan sendiri, Rahimah Bontik telah berbuat sesuatu yang besar untuk ibu.Sesuatu yang besar untuk memenuhi permintaan seseorang yang masa hidupnya tinggal menghitung minggu.Kanker otak yang menyerang ibu, menyebabkan mereka sekeluarga, termasuk Rahimah Bontik, tidak mungkin menolak apa pun keinginan ibu. Harus diupayakan.

Begitulah suatu hari, ibu ingin melihat Rahimah Bontik menjadi penyanyi.Harus ada konser tunggal Rahimah Bontik yang berakhir dengan puji-pujian terhadap suara perempuan yang baru saja meninggalkan masa remajanya tersebut.Ini dimulai dengan panggung kecil-kecil tentunya untuk memberi kesan bahwa Rahimah Bontik bukan tiba-tiba saja menjadi penyanyi.Suaranya memang merdu laksana memakai buluh perindu sebagaimana keinginan ibu. Ya, sebagaimana keinginan ibu.

“Tapi aku tak bisa menyanyi, Ibu. Aku tak pandai menyanyi, Ayah.Suaraku tak bagus,” kata Rahimah Bontik, begitu mendengar permintaan ibu.Sekejap, Rahimah Bontik masih melihat ayah memandang wajah ibu, tetapi berakhir dengan senyum. Ketika Rahimah Bontik mengulangi kalimat bahwa ia tak bisa menyanyi, ayah malahan mendehem saja, sambil matanya saling ganti arah pandangan antara muka ibu dengan Rahimah Bontik.

Tak sekali, tak dua, bahkan tiga atau entah berapa kali, Rahimah Bontik mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa suaranya tidak bagus.Suaranya sumbang, juga agak sengau. Kadang-kadang untuk bercakap saja, ia merasa tidak punya kepercayaan diri. Di muka orang ramai, di muka kelas, bahkan dengan beberapa teman saja, ia selalu menghindar untuk berbicara yang menjadi perhatian. Apalagi kalau ia harus bersuara untuk menyanyi, menyanyikan lagu dari artis ternama lagi, yang tentu saja sudah diketahui orang ramai. Semua orang tahu tentang keburukan suara Rahimah Bontik.

Karim Bontik, pada awalnya agak terkejut mendengar cerita Rahimah Bontik mengenai permintaan ibu mereka. Sebab, seperti Rahimah Bontik dan orang-orang yang mengenalnya, Karim Bontik tahu betul keburukan suara saudara kandungnya itu.Tak perlu disebut, tak perlu didiskusikan, demikianlah suara Rahimah Bontik yang dapat diterima atau tidak diterima sebagai sesuatu yang sedia ada.Tetapi lelaki tersebut kemudian, malah menemui ibu dengan derai tawa yang besar, sambil berkata, “Oh ibuku sayang, ibu memang brilian. Suara adikku memang merdu nian.Benar kata ibu, kemampuan Rahimah harus dipertontonkan.Suara Rahimah harus diperdengarkan, bukan hanya didengar oleh aku, ayah, ibu, dan Rahimah saja tentunya. Aku setuju.”

Setelah itu, ayah dan Karim Bontik, terlihat sangat akrab.Selalu Rahimah melihat mereka berdua berbincang-bincang. Tak jarang pula mereka terlihat pergi berdua, juga saling tanya. Kepada ibu, mereka kompak mengatakan bahwa karena kemampuan yang ada pada Rahimah Bontik, keinginan ibu akan cepat terwujud. Pada gilirannya, mereka memuji ibu karena telah menemukan bakat seseorang yang sama sekali tidak pernah mereka duga sebelumnya, padahal seperti ibu, mereka amat dekat dengan pemilik suara merdu tersebut—siapa lagi kalau bukan Rahimah Bontik.

***

SYAHDAN, Rahimah Bontik tampil dari panggung ke panggung untuk memperdengarkan suaranya.Sambutan pengunjung panggung-panggungnya, memang tak alang kepalang.Selalu ramai, disusuli dengan pujian-pujian terhadap suara Rahimah Bontik, betapapun di telinga perempuan muda ini, hal tersebut sangatlah tak masuk akal. Tapi seperti yang sudah dirancang sejak awal, justeru ibulah yang lebih banyak menerima ucapan selamat dari pengunjung, sedangkan Rahimah Bontik sendiri hanya disalami biasa-biasa saja.

Seperti juga malam itu. Sebanyak 400 kursi terisi penuh, bahkan puluhan orang terpaksa berdiri mulai dari gang masuk sampai ke pintu. Ibu duduk paling depan, yang dengan mulut selalu ternganga dalam wajah cerah-ceria, senantiasa bertepuk tangan. Aduan dua telak tangannya, kadang-kadang malah menjadi semacam komando untuk tepukan yang lebih meriah dan lebih ramai.Ayah dan Karim Bontik, tak mau ketinggalan—malah tak sekali dua menyalami ibu ketika Rahimah Bontik sedang memperdengarkan suaranya.

Ibu langsung memeluk Rahimah Bontik, ketika anak perempuannya yang semata wayang itu datang mendekat.Dicium dan dipandangnya anak tersebut seperti tak puas-puas. “Engkau luar biasa Nak, engkau hebat. Ibu bangga memiliki anak sepertimu,” kata ibu sambil mengeluarkan sapu tangan. Diberikannya kain kecil itu kepada Rahimah Bontik untuk menghelap sisa-sisa air mata, kemudian bersama-sama, mereka keluar dari gedung, disusul ayah dan Karim Bontik. Beberapa orang masih sempat menjulurkan tangan, mengucapkan selamat atas suara Rahimah Bontik.

Memang, ada juga perasaan senang Rahimah Bontik melihat ibunya diliputi penuh kebahagiaan.Apalagi saat panggung sudah selesai, kemudian mereka pulang ke rumah bersama-sama. Tetapi karena takut kalau-kalau tak dapat menyembunyikan perasaannya yang sebenar, segera saja iamasuk ke dalam kamar, membenamkan diri di atas tilam dan bantal-bantal. Ia menangis sampai lelah dan tidur dengan sendirinya.

“Maukah anakku tidak langsung ke kamar malam ini, sebab ibu mau bicara. Juga ayah dan Karim,” kata ibu.

Sau, darah bergemuruh dalam tubuh Rahimah Bontik.Apakah yang hendak dikatakan oleh orang tua ini.Agaknya, pertanyaan serupa juga hinggap di benak ayah dan Karim Bontik, sebab wajah mereka tiba-tiba agak memucat dalam pandangan Rahimah Bontik ketika itu.”Jangan-jangan, ah…,” Rahimah Bontik tak mau melanjutkan kalimat yang berujung pada bagaimana tanda-tanda kematian seseorang, melalui wasiat dan hal itu memerlukan pembicaraan; bicara. Seperti sinetron yang banyak ditontonnya, selalu mau berbicara khusus kalau seseorang mau meninggal, sedangkan ibu sebagaimana dikatakan dokter telah berada di ambang kematian.

Ketegangan yang ada di ruang keluarga tersebut. Ibu duduk di kursi sendiri, ayah dan Karim Bontik, berkongsi duduk di kursi panjang, sedangkan Rahimah Bontik lebih suka duduk di lantai—berselimput. Mata mereka bertiga searah menghadap ibu yang sedang memain-mainkan jarinya sendiri.Keceriaan masih banyak melekap di pipi ibu.

“Begini. Setelah aku pikir-pikir, mengapa tidak aku saja yang memperdengarkan suaraku, bukan Rahimah Bontik,” kata ibu datar, sambil menebar pandang.

Kontan saja semua yang ada di ruangan tersebut terperangah. Rahimah Bontik yang akan digantikan posisinya seperti dikatakan ibu, malah mengeluarkan suara, “Ibu ingin memperdengarkan suara ibu kepada khalayak ramai seperti layaknya penyanyi, seperti aku?”

“Iya…”

Tak ada yang menyanggah perkataan ibu walaupun mereka amat tahu, ibu tidak bisa menyanyi. Suara ibu sumbang, bahkan sengau, sebagaimana dikatakan Rahimah Bontik terhadap suaranya.Lagi pun ibu sudah tua, tenaganya timbul-tenggelam.

“Bisa saja kan?”

“Bisa, bisa. Tapi Bu…,” sela Karim Bontik.

Ibu tak langsung menanggapi sanggahan lelaki muda tersebut. Dipandangnya wajah Karim Bontik pelan-pelan. “Aku masih punya kebun untuk dijual. Dan uangnya berikan kepada penonton-penonton yang mau mengatakan bahwa suaraku bagus. Buatkan panggung-panggung untukku, kemudian konser tunggal dengan ratusan penonton yang akan mengatakan bahwa suaraku bagus, mekipun untuk itu kita harus menyuap mereka. Rahimah Bontik saja begitu…”

Nama perempuan yang disebut ibunya itu menjerit keras yang berakhir dengan tangis.Ia tak menduga bahwa ibunya mengetahui hal yang sejak awal ditolaknya, meski tak kuasa bertindak karena untuk kesenangan ibu sebagaimana dikatakan Karim Bontik. Sedangkan ayah dan Karim Bontik saling pandang dan tergagap-gagap untuk mengatakan sesuatu.

“Seharusnya kalian tidak berbuat begitu untuk semua hal, termasuk untuk suara,” kata ibu berbalik. Ia mendekati Rahimah Bontik dan kemudian memeluknya sambil berkata, “Itulah sebabnya tadi kukatakan engkau hebat karena engkau telah berusaha melawan kejadian ini. Berbuat sesuatu untuk menolak keadaan yang buruk ini, betapun belum berhasil.”

Ibu kemudian pergi tanpa suara. Pun ruangan keluarga tersebut jadi sepi sesepi-sepinya.***



Taufik Ikram Jamil
Sastrawan. Menulis puisi dan fiksi. Buku cerpennya yang telah terbit adalah Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, dan Hikayat Batu-batu. Juara pertama dalam sayembara menulis cerpen majalah sastra Horison (1997) dengan judul Menjadi Batu, Buku Pilihan Sagang terhadap kumpulan cerpennya Sandiwara Hang Tuah(1977), hadiah sastra Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) melalui kumpulan cerpen Membaca Hang Jebat(1988), kemudian meraih cerpen utama Indonesia dalam penilaian cerpen Dewan Kesenian Jakarta (1998) untuk cerpen Jumat Pagi Besama Amuk.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 09:30 wib

Operasi Zebra Berakhir, 1.757 Pelanggar Ditilang

Rabu, 14 November 2018 - 09:24 wib

Simpan Sabu di Sepatu, Ditangkap di Bandara

Rabu, 14 November 2018 - 09:10 wib

Pagar SDN 141 Roboh, Siswa Terhimpit

Rabu, 14 November 2018 - 09:00 wib

Alat Rekam KTP-el Banyak yang Rusak

Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Follow Us