Jangan Biarkan Hati Kami Mati

24 Agustus 2014 - 08.23 WIB > Dibaca 1218 kali | Komentar
 
Jangan Biarkan Hati Kami Mati
JARIR AMRUN
Beberapa waktu lalu, ketika hendak pulang dari rapat redaksi di sore hari, di tengah jalan Kubang Raya, saya dikejutkan oleh burung merpati. Burung itu nyaris saya tabrak. Anehnya, tak lama berselang, burung itu kembali ke pinggir jalan yang baru saja saya lintasi tadi.

Saya dekati benda aneh yang menjadi perhatian burung merpati tersebut. Ehhh, rupanya, benda itu bukan plastik kresek, tetapi burung merpati lain yang mati tertabrak. Berarti burung merpati itu kehilangan rekannya, makanya dia tetap saja menghampiri rekannya yang sudah mati berdarah-darah tertabrak kendaraan yang lalu lalang.

Burung merpati itu terus menghampiri rekannya yang tubuhnya semakin rusak. Dia mendekati rekannya, sesekali paruh dan cakarnya mengorek-ngorek bulu. Kesan yang muncul, burung itu berusaha mengajak rekannya agar menjauh jalan raya yang beringas ini.

Ketika ada kendaraan yang lewat dekat burung itu, maka burung itu pun segera terbang menghindar, namun tak lama, dia kembali lagi menghampiri rekan yang terkapar. Sayang momen ini tidak saya rekam dalam handphone. Tapi tak masalah. Sudah terekam dalam pikiran dan pikiranku.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari burung merpati itu? Ternyata perilaku burung itu lebih mulia dari manusia saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita saksikan tak sedikit korban lalu lintas yang merana di jalan, sementara orang yang melintas tak menghiraukan. Alasannya manusia itu, karena takut nanti dijadikan saksi di polisi (kalau korban nanti mati, tentunya banyak pertanyaan polisi dan ini akan merepotkan). Atau alasan manusia lainnya, karena sibuk, kan masih banyak orang lain yang akan mengurusnya. Alasannya lainnya, nanti kalau saya bawa ke rumah sakit, siapa yang mau bertanggung jawab. Masih banyak seribu alasan manusia modern saat ini yang membuat dirinya jauh dari nilai-nilai kemanusian itu sendiri.

Belum lama ini, di Cina, tepatnya di Provinsi Guangdong. Seorang Balita dua tahun sedang asik jalan di pinggir pasar. Karena keluguannya, dia asik saja bermain. Ehh tiba-tiba sebuah mobil pribadi menabraknya. Anehnya, ketika dia tertabrak oleh roda depan, tersangkut di ban belakang, sang supir tega-teganya tetap menabraknya dengan sadar dan meninggalkan Balita malang itu.

Ketika Balita itu tergeletak kesakitan, tragisnya ada 18 orang yang lalu lalang tak satupun yang peduli. Mungkin karena kesibukannya. Orang yang pertama kali melihat Balita itu adalah lelaki usia sekitar 30 tahunan. Dia kelihatannya sibuk. Sosok kedua, lelaki paruh baya mengendarai sepeda motor. Dia malah memalingkan wajahnya, padahal jaraknya hanya satu meter dari Balita yang sekarat itu. Berikutnya, seorang pemuda yang melihat anak Balita itu menangis kesakitan. Tapi sungguh menyakitkan sikapnya. Pemuda itu melintasi Balita itu seperti menghidarinya (mungkin dia tidak mau direpotkan oleh Balita itu). Namun karena arus lalu lintas padat, malah ada bus pick up yang melindasi Balita itu. Jika sebelumnya badannya terlindas mobil pribadi, kini kakinya yang terlindas. Darah pun keluar banyak dari kakinya. Tak lama, ada sepeda motor berbentuk seperti becak melewati anak itu. Tapi pengendaranya malah menghindari, bukan segera menolongnya. Berikutnya ada mobil yang lewat, tapi hanya menghindar, bukan menolong. Ada lagi pengendara sepeda motor yang lewat, sempat pengendara sepeda motor itu berhenti sejenak. Tapi sayang, dia tidak berani menolongnya. Balita banyak kehilangan darah, dia tergeletak lemas di jalan.

Belum selesai tragedi itu. Ada juga seorang ibu dan anaknya yang baru pulang dari belanja di mall, tangan kanannya memegang belanjaan yang cukup banyak sementara tangan kirinya memegang anaknya usia lima tahun. Tapi ibu itu itu tidak mau menolong Balita yang terkapar. Padahal anaknya sempat menyaksikan Balita yang terkapar itu. Seakan-akan sang ibu mengajarkan kepada anaknya, usah dibantu orang yang terkapar di jalan. Ini kesan buruk bagi perkembangan anak itu kelak.

Begitu seterusnya. Di tengah keramaian Kota Guangdong, ada beberapa kendaraan yang lalu lalang namun tidak ada yang mau menolong. Paling-paling cuma berhenti sejenak dan meninggalkan Balita yang terkapar itu.

Terakhir, ada sosok ibu separuh baya. Dia membawa karung yang berisi barang-barang bekas. Dia melintasi anak yang sedang terkapar berdarah-darah itu. Ibu separuh baya itu segera mengangkat Balita yang terkulai lemah ke tepi jalan. Dia minta pertolongan dan tak lama berselang, ada seorang ibu yang membantu menyelamatkan anak itu.

Dari 17 orang yang lalu lalang di jalan raya itu; ada pemuda tampan, ada pengendara mobil, ada ibu-ibu yang baru pulang dari mal bersama anaknya, ada bapak-bapak yang gagah. Semua hatinya kosong dari rasa kemanusiaan. Semua sibuk, semua takut, semua sombong, semua berpikir duniawi. Hanya seorang pemulung, yang miskin itu yang punya hati nurani. Dia segera bertindak menyelamatkan Balita tersebut. Dia menjerit minta tolong. Dia yang memiliki sifat mulia. Masyarakat Guangdong menyebutnya pahlawan.

Namun sayang, dalam keesok harinya, juru bicara rumah sakit di Provinsi Guangdong mengatakan Balita perempuan itu meninggal karena gagalnya sistem organ tubuh dan tidak ada biaya dalam upaya menyelamatkannya.

Kematian Balita yang bernama Wang Yue menjadi topik yang hangat di Weibo, situs jejaring sosial Cina. Sejumlah orang mengungkapkan kesedihan maupun kemarahan atas insiden yang menimpanya. Pemerintah Provinsi Guangdong baru akan mempertimbangkan perlunya undang-undang yang mengharuskan seseorang membantu orang yang jelas sedang berada dalam keadaan bahaya. Yang anggapan manusia sudah seperti robot, kalau tidak ada undang-undang, tidak mau berbuat. Sungguh naif.

Agaknya bukan hanya di Cina. Tapi di kampung kita sendiri tragedi kemanusiaan itu terjadi.  Belum lama ini di Riau terjadi kejahatan yang luar biasa, di luar rasa kemanusiaan, yakni pembunuhan mutilasi, bahkan menjual daging korbannya. Sungguh, kekejaman luar biasa. Padahal korban tidak bersalah. Di mana nilai-nilai kemanusiaan itu. Perilaku seperti ini sungguh membahaya bagi kita, jangan sepelekan. Merobek nurani. Kaki kita pun lemah, tak mampu berdiri membaca berita itu.

Jika burung merpati itu berusaha menolong pasangannya yang terkapar, mengapa manusia tidak?

Ya Allah Ya Haayu (Yang Maha Hidup), jadikah hidupku, hidup keluargaku, hidup tetanggaku, hidup orang-orang yang ada di kampungku, di kotaku, di negeriku ini lebih berarti. Hidupkan hatinuraninya, hidupkan matanya, hidupkan pendengarannya dan seluruh anggota tubuhnya. Dan yang terpenting mohon hidupkan iman kami. Jangan biarkan hati kami mati.***


JARIR AMRUN
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us