Opung

24 Agustus 2014 - 08.53 WIB > Dibaca 1906 kali | Komentar
 
Sedari kemarin hujan masih menetes di kaki gunung. Riuh-riuh pinus membelah kesunyian hutan tanpa memikirkan waktu. Adakalanya pula mereka bergurau dengan deras dan menganak sungai pulalah hingga ke langit. Barangkali ini sudah kodratnya sehingga tak perlu lagi dipertanyakan. Semua masih seperti biasa dibalut dengan kelaziman hujan. Aku teringat akan masa lalu. Dengan suara-suara dari radio tua di rumah. Persis seperti ini. Sangat persis, mulai dari hujan yang datang dengan bahana lalu semarak sayup suara-suara bahasa batak yang diproduksi radio tua. Belum lagi dengan kehangatan yang hadir di pondok itu. Ditemani secangkir teh untuk diserup pas lewat obrolan seorang tua kepada muda.

Tarutung masih saja seperti yang lalu. Dingin, ramah dan hijau. Inilah surga yang terpendam belum lagi jika terus lagi dan berjumpa dengan Laguboti, entahlah surga apalagi yang bisa disebutkan untuknya. Bau kacang Sihobuk menebas selera makan yang menimpa seharian setelah bekerja. Sebagai anak laki-laki yang memang asli berdarah keturunan batak; sudah semestinya aku bekerja keras. Tanpa pernah berpikir kapan aku harus sekolah dan memakai seragam. Sebab aku pun tak pernah melihat orang-orang berseragam di kampungku. Aku hanya pernah dapat ceria kalau saja sekolah itu memakai seragam. Lagipula bagi kami seragam pun sudah ada melekat tepat pukul delapan pagi. Seusai sarapan indahan bocah-bocah kecil itu berlarian ke dapur. Tepat di ujung dapur terselip cangkul yang sengaja disembunyikan. Belum lagi matanya mencari tempat dimana parang yang akan disarungkan ke pinggang. Mereka selalu ricuh dengan langkah yang sama pula beralun dengan hentakan-hentakan kaki di lantai tanah.

Beberapa kali mereka kehilangan perkakasnya. Tempat dimana kemaren ia menyembunyikan dengan sangat sembunyi. Agar tak ada tetangga yang meminjam. Sebab belakangan banyak sekali parang atau cangkul yang hilang dari rumah tetangga. Modusnya sangatlah sopan dengan meminjam perkakas tersebut karena kepunyaannya sedang rusak atau terlalu sembunyi hingga tak nampak di rumah. Tentu saja sebagai orang sekampung dan memiliki latar belakang yang sangat dekat; peminjaman itu sah-sah saja. Dengan catatan yang harus digaris bawahi bahwa perkakas itu dikembalikan. Tak penting tepat waktunya yang penting dikembalikan pada yang punya. Entahlah mungkin karena kebaikan yang disia-siakan dulu tak berguna kini aku sedikit lebih pelit. Opung yang mengajari ia tak pernah ingin pelit sedari dulu. Dan ketika persoalan itu membumi maka dengan seketika Opung sigap dengan balasannya.

Opung seorang tua yang baik. Tiada lagi mungkin engkau mendapati seorang tua yang rela menjadi muda untuk menunggui besar cucunya. Ia tak malu jika kerentaan itu masih mampu membawa cucunya mendaftar di sekolah. Perlu waktu dua jam untuk pergi ke seberang. Dompetnya pun mungkin sudah tak terisi lagi saat itu. Tapi itulah Opung ia selalu membawaku ke sekolah dengan harapan aku akan menjadi dokter. Cita-cita klise yang diidamkan oleh seorang bocah. Aku tak pernah menginginkan profesi itu namun saja Opung yang lebih berminat. Aku tak ingin mengecewakan Opung.

Perjalanan keuangannya yang menanggungku semakin membabi buta setelah Ayah dan Inang pergi ke surga. Mereka dipanggil dengan kegesaan oleh Tuhan dalam sebuah kebakaran. Tak ada yang bersisa dari peristiwa naas itu. Hanya pasir-pasir serta arang dan bau hangus tubuh manusia. Semenjak itu aku kehilangan jiwa-jiwa yang bertahta di istana. Harapan hidup semakin memburuk. Hidup bukanlah seperti angan-angan yang diciptakan dengan kegembiraan. Tawa orang tua dengan dekapan hangat lalu mencium anaknya dengan keseriusan kasih sayang.

Senjakala berwarna jingga. Hutan menggerutu dengan tanah. Sebab hara tak lagi ingin bercinta dengan violet. Aku memang ragu dengan hidupku masa itu. Bertahan pada saat seperti itu hanya menambah urat-urat di kepala dan mati perlahan di pembaringan.

Aku sangat tidak bernyawa. Bisa dibayangkan kecintaan yang biasa diuntai dalam aroma kesturi menyingsing fajar di selasar rumah. Lalu inang seperti biasa memanggil dan memandikan bocah satu-satunya yang dimilikinya. Bocah berumur delapan tahun; memiliki mata yang cokelat, kulit yang melangsat dan rambut ikal seperti kaum mongol di ujung sana. Sepertinya kebahagiaan itu menjadi imaji kala nadi ingin berhenti. Tatkala itu pula aku mengendus sebuah cahaya yang datang dari langit ketujuh. Ia memberi pencerahan dari selip-selip pelangi kegelapan yang lalu. Biasnya tak memedihkan mata tapi memakukan selera kornea.

Opung, lelaki tua. Urat mata sudah mulai tak lagi berbaris dengan sempurna. Menumbuh pula uban-uban yang berseliweran dengan hebatnya. Kehebatannya bukan dari nama yang sangar dalam bahasa batak. Jika ditilik dalam-dalam melihat rupawan yang tua. Maaf ia bukan lagi tua namun sudah renta. Aku menitikkan air mata. Jantungku berdegap melihatnya kala mengantarku ke kampung sebelah untuk sekolah. Tubuhnya yang semakin layu masih mampu memegangiku; kurang kuat apalagi dia sebagai orang tua.

Kehadirannya menjadi sebuah dahaga dalam sahara. Ketika ayah dan inang sudah membekam di pusara, Opung datang pula dari surga. Aku dipelihara. Setiap pagi dimandikan dengan tangannya yang mulai bersisik, suaranya yang parau, mata yang merabun. Ia kadang lupa.

Angkat tangan kanannya biar disabun, coba-coba Tondi!

Ia Opung

Bukan yang kiri, kanan, kanan

Aku sangat jelas menaikkan tangan kananku, bukan kiri. Apa guru yang mengajariku di kampung sebelah salah dalam mengajarkan muridnya. Guru seperti apa dia hingga salah mengajarkan muridnya untuk membedakan mana kanan dan kiri. Opung tak mungkin salah dalam hal ini. Opung bukanlah manusia yang dimakan kepikunan. Sebagai seorang veteran perang ia selalu bangga dengan buku-buku yang tertata di lemari usangnya. Hampir tiga ratusan judul buku yang ia punya. Judulnya pun bermacam-macam diawali dari buku kesehatan sampai kepada masalah dapur. Itulah alasan yang membuat aku yakin sekali kalau Opung tak akan pikun.

****

Selang waktu mendengus di pelipis telinga. Matahari punya rencana menukar waktu dengan masa depan. Inilah saatnya aku membuat Opung bangga. Kedewasaan mulai menapaki tubuh ini. Gugup aku bertemu Opung. Ingin kulahap semua senyumannya dan merangkum dalam-dalam untuk disimpan di hati. Opung sudah semakin tua. Kiranya doaku dikabulkan Tuhan. Ia panjang umur tanpa pernah sakit parah sedikitpun, paling hanya masuk angin karena terlambat makan.

Cangkul sudah berkarat. Parang tergantung namun tumpul, warnanya pun tak jelas. Aku menjelma menjadi seorang pintar di kampung ini. Sekolahku sudah lebih baik dari orang sekampung. Bukan aku mengejek, namun Cuma aku lah satu-satunya anak yang memiliki pendidikan agak tinggi.

Cuma aku yang bisa menamatkan sekolah menengah atas di kampung ini. Pemuda lain masih bisa hanya bisa menamatkan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama dan itu pun kembali seperti semula kampung ini didirikan. Kampung yang berbunyi ketika cangkul dan parang sudah membentak bumi. Sawah yang ditanami padi. Kebun-kebun yang penuh dengan cabe, tomat dan jeruk.

Barangkali ini pula yang digariskan indah padaku. Kehilangan orang tua di saat kecil membuatku lebih memikirkan apa yang harus kuperbuat di masa depan. Lelaki tua itu adalah malaikat penolongku. Bukan pula aku mengagungkannya lebih dan lebih seperti di salah satu buku dongeng yang ia bacakan sebelum aku tidur dulu. Nafasnya terengah-engah. Ia tak pernah lagi bertanya aku sudah kelas berapa.

Kelulusan ini pun tak diketahuinya. Ia hanya bisa tersenyum lalu membisikkan impiannya agar aku menjadi dokter dan menikahi boru tulang. Dahulu tak ada impian ini. Kata dokter yang pernah kudengar namun tak pernah ada kata boru tulang. Mimpi aku dalam beberapa menit. Aku mencubit satu persatu tangan ini. Ia tak bergeming biasa, sakit terasa cubitan ini. Bisikan itu ada dan nyata. Opung ingin aku menebus kebahagiaan di hari tuanya dengan mempersunting boru tulang. Rumahnya tak jauh dari gubuk kami. Tapi bagaimana dengan Maria yang sudah kujanjikan untuk dinikahi ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan di kota. Aku mengamuk. Darahku tersirap, jangan mentang-mentang Opung membiayaiku sekolah dan hidup jadi bisa berbuat apa saja dan semaunya. Aku juga punya hati yang harus kubagi untuk orang lain. Opung memaksaku. Kini dengan sedikit bentakan.
Boru tulang i tu ho, pahatop leh

Aku marah. Emosiku meluap. Namun aku tak mengucap apa-apa. Kususun baju-baju dalam tas. Aku pun pergi meninggalkan gubuk tua itu. Kujemput Maria lalu hijrah ke kota. Menyusun rencana bulan madu yang akan dipadu oleh cinta. Kami menikah.

Semenjak itu tawa masih terdengar riuh di kepala. Gelagat ingin kembali pulang secepat cahaya menyerang dadaku.  Aku menatap Opung dalam nikmatnya pusara. Entahlah, antara cita-cita, cinta dan durhaka.


Rian Harahap
Penulis adalah Guru Sastra Indonesia SMA Darmayudha. Tulisannya kerap dimuat di media lokal maupun nasional.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us