Sajak-sajak Kinanthi Anggraini

24 Agustus 2014 - 09.07 WIB > Dibaca 1065 kali | Komentar
 
Yang Selesai Ditulis

bolehkan aku menyalakan lilin tanah
yang masih basah?
agar kenangan pohon yang
mencantumkan bunga dalam bayangan
tanpa kepala itu musnah

doaku setua kerak batu
yang tak kujung mendapat senyum
di dagu
ketika dengung suara serangga padi
membacakan koordinat angin puyuh
pohon pemberi tanda bulan
sedang asyik hinggap di lukisan

sedangkan tubuh yang selesai tumbuh
mati bersama puisi yang selesai ditulis

Tasikmalaya, 11 Juni 2014



Jarum Jam

di ujuangnya ada; festival cahaya, parade bunga
kurban air dan emas lunak yang disurut oleh semut
dan sudut itu ada liukan bekas sungai kering  yang
mempunyai telaga darat yang ditumpangi kereta

waktu itu aku menjadi rintik
dalam detik
waktu itu aku menjadi suara
dalam menitnya
waktu itu aku menjadi cerita
pada genangan debu
yang takut untuk berkedip

ketika butir-butir mengikat
ujung plastik sampai buta
saat itu juga terbentuk ayunan
sebulat konfirgurasi cahaya

Gedung Pascasarjana UNS, 2014




Sang Hyang Nari Ratih

kala itu sang pemuja* naik ke atas dahan
atas berhelai daun yang terpetik puluhan
yang jatuh di tepian sungai air telaga
hingga mengenai lingga di sampingnya
kaki sang pemuja melangkah pada pohon bila
yang tenggelam di beningnya air nirwa telaga
dihuni oleh sepasang pelinggih dan lingga

tersadar, sang pemuja ada pada malam siwaratri
saat dimana ia menyayat dosa dan menyesali
meminta maaf pada arwah yang telah diburu
untuk daging, tulang dan beribu bulu-bulu

tibalah, arwah sang pemuja hendak dibawa ke neraka
dihalau batara siwa dari cengkraman dua cingkrabala
sang hyang nari ratih bersaksi atas dosa yang terbeli
pengakuan dosa sang pemuja, pada malam siwaratri.

Bali, 26 Mei 2014




Terbang

mata berpandang sayup kecoklatan
menyatukan jarak menjadi kenyataan
sembari merebahkan kepala yang larut
oleh angan-angan yang tak kunjung surut

kakiku tertekuk setengah dada
dengan bulu putih yang siap berkelana
menahan nafas yang tumbuh di udara
menanti tumbuh sayap di punggung usia

dengan begitu musnahlah segala keriuhan
di lalu lintas, perempatan dan trotoar pejalan
tol, pertigaan dan jalan aspal penuh perbaikan
bersih dari kendaraan besi, dan joki tree in one

saat kaki tak harus dimiliki
sebagai pijakan sepatu bermerk atau gelang kaki

inilah saatnya ras bangsa-bangsaku mengudara
kala meminum daun bercampur seribu mantra
saat itulah  tak lagi kutekuk badan
di sudut tembok, tanpa penerangan

Jepara, 27 Mei 2014



Dendang Sepotong Bulan

melingkari tembang langit yang membiru
menjadi cuaca yang pecah menjadi dua sumbu
saat purnama mengkristal, membuka senyummu
dan gerhana permata menghujani bumi dengan
intan-mutiara di matamu

kerinduan yang menebal di negeri bulan
tempat singgasana cuaca yang teragungkan
telah menanti manusia hujan
berpayung biru, memegang lentera awan

kami menjait buah hati di lembah kuning gading
lembah yang mengendapkan madu lebah kuning
di pinggir sungai susu bercampur aroma pandan
yang tumbuh gula pasir di setiap tepian

di sanalah bunga tersenyum pada tumpuan cahaya
tempat sungai yang bergegas menemui kekasihnya
sementara kabut bergelayut dengan manja
memulas delima, mengirimi surat dengan bahasa
gemericik air. dalam desau daun yang mengalir

mengubah kelopak menjadi derai rambut berhelai
emas. bermahkota lipatan kuntum bunga
menjuntai sebatas dada dan pinggul
yang mengundang kupukupu yang siap terbang
mengitari jelmaan laurel, beraroma surga segar

kakinya duduk di batu mutiara
bergaun gumpalan awan yang diracik oleh cempaka
warnanya meluncur di pelangi
membasahi bulir embun yang lupa untuk kembali.


Magetan, 3 Mei 2014



Rahasia Perawan Suci   

empat musim kehilangan lumut
yang menghitung sorot mercusuar di tepi dermaga arther
tulang kecil yang kering di ujung batang megamega
mengurai pikal jaring labalaba di tepian ranjang bianglala
mengasap pekat
meringkuk di pangkuan ajal merona
sembari menyaksikan cucuran keringat yang menghamili
kantong plastik dengan menjarah ufuk bukit

kelabu hening, di pinggir mendidihnya air yang mendarat
pada lambung mimpi
rimbun atas hujan cinta, yang tertelan oleh mangsa
bersama waktu pepat yang mengentalkan semesta
tertelan rembulan ungu, yang berbaring di sketsa

prasastimu terbelah jaring hitam di pohon pakis
pada rajutan di ujung putik penantian yang mengikis.

Magetan, 4 Mei 2014




Kinanthi Anggraini
lahir di Magetan, 17 Januari 1990. Menulis puisi dan reportase. Puisinya pernah dimuat di puluhan media massa antara lain: Indopos, Jurnal Puitika, Jurnal Masperpoem Indonesia, Banjarmasin Post, Lampung Post, Tanjungpinang Pos, Sumut Pos, Solopos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Majalah Sagang, Medan Bisnis, dan lain-lain.  Juga dimuat dalam buku antologi Merawat Ingatan Rahim (2013), Kisah yang Berulang di Hari Minggu (2014), Solo Menulis Puisi (2014), Timur Gumregah (2014), Negeri Poci 5 (2014) dan Sepucuk Angin Merah (2014). Mahasiswai Pascasarjana Pendidikan Sains, UNS Solo ini juga pernah menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us