KALA SUMATERA – Jaringan Teater se Sumatera 2014

Merawat Kehidupan Teater

31 Agustus 2014 - 09.27 WIB > Dibaca 1277 kali | Komentar
 
KALA SUMATERA – Jaringan Teater se Sumatera 2014 usai sudah. Helat teater yang digagas Teater Satu Lampung dan Hivos Belanda tersebut, tahun ini, dilakukan di tiga provinsi di Sumatera seperti Sumatera Selatan (Palembang), Riau (Kota Pekanbaru) dan Sumatera Barat (Kota Padangpanjang). Helat itu pula, menjadi ruang terbuka bagi geliat kreativitas teater Sumatera hari ini.

Laporan EDWIR SULAIMAN, Pekanbaru

KHUSUS di Riau, KALA SUMATERA – Jaringan Teater se Sumatera (JTS) 2014 dipercayakan kepada Teater Selembayung Riau sebagai tuan rumah dan dilangsungkan, 21-23 Agustus di Anjung Seni Idrus Tintin, Kota Pekanbaru. Tidak hanya membentang karya-karya teater, helat itu juga menjadi ruang bagi pekerja teater pemula untuk menimba ilmu dengan mengikuti workshop/bengkel teater di SMAN 5 Pekanbaru serta UKM Batra, Universitas Riau.

Kesan yang tertangkap selama pelaksanaan acara adalah sederhana dan menyenangkan. Jika sebelumnya, para penikmat teater hanya dapat menikmati suguhan satu karya sepanjang dua hingga tiga malam, maka di helat itu, penikmat teater dimanjakan dengan pementasan tiga karya dalam tiga malam. Apalagi tiga komunitas yang menjadi peserta dalam helat itu yakni Teater Selembayung Riau, RT 913, dan Teater Satu Lampung tampil maksimal dengan gaya dan ciri masing-masing.  

Teater Selembayung Riau tampil di malam pertama, Kamis (21/8) dengan mengangkat karya “Menjadi Batu” (diangkat dari cerpen Taufik Ikram Jamil), sutradara Fedli Azis. Malam kedua, Jumat (22/8) menampilkan Rengat Teater (RT) 913 dengan karya “de COPET” sutradara Ade Pura Indra. Sedangkan di malam ketiga, Sabtu (23/8) tampil Teater Satu Lampung mengangkat karya berjudul “Anak yang Dikuburkan” sutradara Iswadi Pratama. Disela-sela penampilan, Jumat (22/8) pukul 08.00 WIB workshop/bengkel teater di SMAN 5 Pekanbaru untuk tingkat SMA sederajat (pemeranan/keaktoran) dan Sabtu (23/8) pukul 08.00 WIB dilaksanakan pula di UKM Batra Universitas Riau untuk tingkat mahasiswa/umum (penyutradaraan).

Fedli Azis selaku pimpinan Teater Selembayung Riau mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah JTS 2014. “Terima kasih, kami sangat berbangga hati dapat membantu kawan-kawan dari Teater Satu Lampung untuk melaksanakan helat ini. Semoga di ajang ini, terjadi pertukaran pengalaman seni budaya dan tentunya bermanfaat bagi perkembangan teater di Sumatera,” ucapnya singkat.

“Menjadi Batu”
Seni pada umumnya merupakan sarana atau wadah untuk menyuarakan persoalan kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat. Begitu juga dengan seni teater, dengan dialog, laku para aktor dan peristiwa demi persitiwa yang disuguhkan serta isu-isu yang menjadi konflik dari kisah yang dikemas sutradara dapat langsung dapat disaksikan oleh penonton.

Teater Selembayung mengangkat naskah yang diangkat dari cerpen Taufik Ikram Jamil berjudul “Menjadi Batu”. Cerpen “Menjadi Batu” sendiri menurut sutradara, Fedli Azis adalah kisah yang ditulis oleh penulis dengan isu dan tema yang masih tetap aktual bahkan kian terasa terutama bagi puak-puak Melayu tua, salah satu diantaranya adalah Suku Sakai (Montai). “Praktik ‘main mata’ antara pemerintah dan pengusaha membuat kehidupan mereka (suku Montai, red) kian tak menentu. Lebih menyedihkan lagi, akibat dari praktik busuk itu, sendi-sendi kehidupan, kebudayaan bahkan peradaban mereka terkikis sampai pada titik nadir. Mereka kian terombang ambing tak berdaya, itulah daya tarik cerpen ini yang kemudian saya coba untuk memindahkannya menjadi pertunjukan panggung,” jelas Fedli.

Suku Montai, menjadi orang asing di negeri sendiri. Tak ada yang membela dan akhirnya mereka memutuskan untuk melawan. “Dalam hal ini melawan mereka dengan menggunakan kekuatan terakhir yakni menjadi batu,” tambah Pimpinan Teater Selembayung tersebut.
Sebagai penulis cerita pendek “Menjadi Batu”, Taufik Ikram Jamil yang turut hadir mengatakan karya teater di atas panggung menjadi  ‘sesuatu’ yang lain. “Bahwa pentas itu diangkat dari cerpen “Menjadi Batu”, itu benar tapi sudah menjadi karya yang lain. Kalau pandangan saya, ceritanya sampai,” ucap seniman dan budayawan senior tersebut.

Menurut pengakuan mantan wartawan Kompas ini juga, awalnya dia agak berdebar menyaksikan pentas teater “Menjadi Batu” karena cerita ini akan menjadi salah sasaran apabila ditafsirkan kepada nasib satu suku saja. Padahal orang modern sekarang ini juga menjadi batu, semua sudah menjadi batu. Sakai yang dimaksud di dalam cerpen tersebut adalah sebuah simbol, tidak dilihat dari kata benda tapi kata sifat. “Seperti kata orang Melayu, aku sakaikan dikau. Bahwa kita tidak diberdayakan semuanya, pemerintah main sendiri saja. Cobalah dilihat, ada tidak dalam setahun ini, pemerintah memikirkan masyarakat, itulah kita ini yang sudah disakaikan,” jelasnya.
 
“de COPET”
Disusul malam berikutnya, Jumat (22/8) pukul 20.00 WIB pementasan dari Rengat Teater (RT) 913. Sanggar yang belum genap satu tahun pertamanya itu menggelar sebuah pertunjukan teater yang berjudul “de COPET”.

Sang sutradara juga menjelaskan pertunjukan “de COPET” malah mengedepankan yang namanya reportoar atau repitisi audio dan video yang dindikasikan berbeda. Audio berada di depan yakni koor dan dalang sedangkan videonya yaitu pemain ditempatkan di belakang. “Pada dasarnya pertunjukan ini berbicara tentang politik negara dengan penawaran-penawaran yang berbeda karena kita juga sepakat, sampai kapanpun tetap akan mengangkat isu itu.,” ucap Ade sapaan akrabnya itu.

Sementara itu, salah seorang anggota sanggar Teater Matan, Monda Gianes yang turut mengapresiasi pertunjukan teater “de COPET” mengatakan sebuah pentas teater yang menarik terutama dalam hal gagasan dan bentuk. Tubuh, vokal dan media properti menjadi kekuatan untuk bermain dan menjalankan peran. “Saya kira, mereka bisa terus berproses dirinya sehingga memadai dalam segala hal terutama untuk mewujudkan style teaternya. Dengan begitu, apa yang menjadi ciri dan identitas mereka dapat pula memberi keberagaman teater di Riau,” ucap Monda.

“Anak yang Dikuburkan”

Teater Satu Lampung tampil sebagai penutup di acara Kala Sumatera 2014 pada Sabtu (23/8) malam. Naskah lakon berjudul “Anak yang Dikuburkan“ menjadi pilihan grup teater yang sudah berdiri sejak 1996 ini. Pentas yang berlangsung sekitar dua jam setengah itu berhasil membuat penonton terpukau dan tidak beranjak dari tempat duduk untuk menyaksikan pertunjukan hingga sampai ke akhir.

Pimpinan Komunitas Riau Beraksi, Willy menyatakan mengapresiasi suguhan dari Teater Lampung. “Berkali-kali mata saya terbelalak atas kekuatan keaktoran pemainnya, betul-betul tergarap. Dari pentas ini, saya menilai Teater Satu Lampung memiliki komitmen yang luar biasa.

Naskah “Anak yang Dikuburkan” karya Sam Sephard sebenarnya berbicara tentang bagaimana petani-petani atau orang Indian yang tercerabut dari tanah pertanian mereka ketika industrialisasi masuk sampai ke pedalaman, hancurnya sebuah institusi keluarga ketika perekenominan hancur, anak-anak mereka pergi merantau dan kehilangan ikatan dengan muasalnya, budayanya, nilai-nilainya sehingga mereka kehilangan identitas, banyak sekali terjadi frustasi sosial di kalangan generasi muda.
 
“Tetapi menurut saya, yang paling kuat, pesan dari naskah ini adalah tentang hilangya identias sebagai seseorang, sebuah keluarga, sebagai sebuah bangsa ketika mereka kehilangan dan jauh dari muasalnya dan identitasnya Naskah ini juga mengkritkik perkawinan inses yang banyak terjadi di Amerika, kawin sedarah. Jadi kita adaptasikan ke Lampung tetapi tetap jejak-jejak naskah kita pertahankan, konfliknya tidak ada kita rubah, kita pararelkan saja” jelas Iswadi Pratama selaku pimpinan sekaligus sutradara di Teater Satu Lampung.

Riau sebagai Locus Teater di Sumatera
Potensi dan kekuatan perteateran di Sumatera cukup besar baik dari segi SDM, potensi kekuatan kultural, ada model cerita rakyat, legenda, keragaman teater tradisi serta militansi pekerja teater. Hal itu menurut penggagas Kala Sumatera, Iswadi Pratama menjadi kekuatan bagi pekerja teater di Sumatera, hanya saja selama ini karya-karya ynag diproduksi  kurang terkenal,  kurang terekspos dengan baik.

Itulah sebabnya KALA SUMATERA Ketiga dilakukan dengan konsep yang berbeda dari sebelumnya, yakni dengan melakukan road show. “Harapannya bagaimana yang sekarang ini teman-teman teater di provinsi lain ikut terlibat melaksanakan kegiatan serupa ini sebagai tuan rumah. Tidak hanya Teater Satu Lampung sehingga kawan-kawan juga bisa mengambil peran yang lebih besar dalam acara ini,” ungkap Iswadi Pratama. Dari beberapa provinsi yang disinggahi dalam rangkaian helat ini, Iswadi berkesimpulan, salah satu tempat atau daerah yang dianggap tempat paling ideal adalah Provinsi Riau. Di samping letaknya sangat strategis, berada di tengah-tengah sehingga tidak menyulitkan bagi  seniman dari daerah lain untuk bertandang ke Riau. Juga dari segi fasilitas yang memiliki gedung pertujukan terbesar di Sumatera ini. “Riau paling memadai saya kira, meskipun kita belum tau pasti tapi kita berharap Pekanbaru, Riau dalam hal ini bisa menjadi locus perkembangan teater di Sumatera,” ucapnya.

Iswadi juga menegaskan, acara Kala Sumatera ini konsetrasinya adalah Sumatera. Bagaimana mampu mengangkat karya-karya pekerja teater di Sumatera ke luar agar sentralisasi perteateran di Indonesia tidak melulu di Jawa sehingga ketika ada program dari luar negeri baik berupa penelitian maupun pementasan, yang tahu tidak hanya Jawa. Untuk itulah perlu dipelajari dan penguatan manajemen yang baik.

Sedangkan kualitas, Sumatera tidak jauh tertinggal dari Jawa. Hanya saja, kata Iswadi, di Sumatera itu krisis sutradara yang memang cukup mumpuni. “Sebenarnya bukan tidak ada, tapi masih sedikit jumlahnya, karena sutradara itu juga harus menjadi leader dalam setiap kelompok. Dia menjadi guru, sumber pengetahuan dan sumber informasi. Nah, bagaimana kita mengangkat level di sutradara itu yang harus kemudian kita bersaing di Indonesia. Inilah yang diharapkan tapi memang tidak langsung. Saya yakin itu pasti tercapai. Contohnya saja, di Pekanbaru, teman-teman yang tentu saja juga punya peran sangat besar sebagai perawat kehidupan teater di Riau. Makanya saya melihat potensi kita masih banyak belum tergali sedangkan di Jawa, orang sudah jenuh. Jadi ini giliran kita. Bila perlu kita adakan Pekan Teater Sumatera di Jakarta yang tidak hanya menunjukkan eksistensi kita tapi juga ada tawaran kualitas yang kita suguhkan di sana,” tutupnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 wib

1250 Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Follow Us