Kematian Kedua

31 Agustus 2014 - 09.33 WIB > Dibaca 2336 kali | Komentar
 
/1/

Risyaf bangun dan terlihat kebingungan saat melihat orang-orang di sekitarnya berlari ketakutan. Begitu tak karuan. Menabrak apa saja di hadapan seperti kuda jantan yang kesurupan, dan membuat vas-vas indah di rumahnya hancur berantakan. Mereka seperti lebah-lebah yang terbang berhamburan–ketika ada sekelompok anak kecil jahil yang melempari sarang mereka dengan bebatuan. Suasana rumahnya menjadi angker. Anak-anak kecil menangis, meraung-raung memanggili ibu bapaknya. Tubuh-tubuh bergetar, saling memberi pelukan. Orang-orang di rumahnya serentak merapalkan berbagai macam mantra atau sekedar doa-doa penenang jiwa. Mulut mereka komat-kamit. Risyaf ketakutan melihat puluhan mata yang begitu ngeri ketika menatapnya. Bahkan kengerian itu juga terlihat jelas dari tatapan kedua orang tuanya, juga Manda, kekasihnya.

Di luar hujan badai. Suara petir menyambar-nyambar seperti amuk Tuhan yang sedang memarahi para malaikat-Nya. Angin malam berontak. Gorden-dorden berterbangan dan bayangannya nampak seperti hantu gentayangan. Sekali saja tiupan angin malam–yang masuk lewat celah-celah jendela dan mengelus lembut tengkuk Risyaf—sudah cukup mampu membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Risyaf meremang. Risyaf menggigil kedinginan. Giginya bergemeretak. Dengan kedua tangannya ia coba memeluk dan menghangatkan tubuhnya sendiri. Tapi bukan kehangatan yang didapatkan. Risyaf malah terlihat semakin kebingungan. Kini disadarinya bahwa ternyata sedari tadi ia tidak mengenakan pakaian. Hanya selembar kain putih besar yang menutupi sebagian tubuhnya, selain itu, ia benar-benar telanjang–seperti seorang bayi yang baru saja dilahirkan di dunia.

/2/

Pak Hartono, ketua RT setempat–dengan mulut bergetar dan tarikan nafas yang penuh keragu-raguan, mencoba menenangkan warganya. Mati suri! Ia bilang Risyaf hanya mati suri dan hal seperti ini memang bisa terjadi. Meski sudah dijelaskan sedemikian rupa, dengan penjelasan yang begitu rumit dan hanya berputar-putar saja, Risyaf masih tetap saja kebingungan. Ia benar-benar tidak tahu keadaan macam apa yang kini sedang dihadapinya. Risyaf juga lupa kejadian seperti apa yang kemarin melandanya sehingga ia bisa dikatakan mati suri. Seingatnya ia tadi hanya tertidur. Tidur dengan mimpi buruk yang begitu panjang dan mengerikan. Mimpi buruk yang berhasil menghadirkan segalam macam yang ditakutinya. Ruangan gelap dan sempit, tokek raksasa, balon meletus, bayangan kedua orang tuanya yang bercerai, lalu Manda yang tiba-tiba memutuskannya, silih berganti hadir dan saling bekerja sama untuk semakin memperburuk mimpinya.

Di  luar petir masih mengamuk. Suara gemuruh hujan semakin menambah murung suasana batin Risyaf. Tak ada kehangatan yang bisa ia dapatkan. Risyaf memperhatikan sekitar. Jam membeku pada dinding yang pucat, sepasang kursi di pojok rumah yang paling sepi, lalu pecahan-pecahan vas yang berceceran, semuanya menyalakan keputusasaan. Masih saja ia lihat ketakutan tergambar begitu jelas di setiap mata orang-orang yang menatapnya, tak terkecuali Manda dan kedua orang tuanya. Seperti melilitkan handuk ke sebagian tubuhnya setelah selesai mandi, Risyaf mencoba menggunakan kain putih besar untuk menutupi kemaluannya yang mengkerut kedinginan. Risyaf ingin berlari dan memeluk kedua orang tuanya, juga Manda, dan menjelaskan bahwa ia baik-baik saja. Risyaf ingin mereka semua percaya bahwa ia belum mati. Namun baru saja ketika Risyaf hendak turun dari keranda jenazah dan menapakkan kakinya pada ubin yang basah, seorang anak kecil menagis dan berteriak, “Huuuuuaaaaaaa! Ada hantu Kak Risyaaaaffffff!”

/3/

Setelah kejadian malam itu Risyaf terus mengurung diri dalam kamarnya. Mengunci pintu kamar rapat-rapat dan tak menghiraukan bujukan kedua orang tuanya untuk keluar dan mencoba sedikit makan. Selama seharian penuh Risyaf tidak makan. Bayangan akan tatapan mata yang penuh kengerian, tubuh-tubuh bergetar, mulut berkomat-kamit, dan teriakan-teriakan penuh ketakutan terus menjajahi akal sehatnya. Kini ia terlanjur percaya bahwa ia telah mati dan tidak membutuhkan makan lagi. Ia tak lagi percaya pada jantungnya yang masih terus berdetak. Juga tak lagi yakin akan udara yang masih lalu lalang keluar masuk lubang hidungnya. Ia terus menolak dan mengingkari tanda-tanda kehidupan yang masih melekat erat pada tiap jengkal tubuhnya. Dalam hati ia terus berkata, “Aku tidak lagi hidup. Aku telah mati. Ibu, ayah, dan juga Manda pasti tidak akan mau menerimaku kembali. Jika sekarang mereka berbaik-baik kepadaku, itu pasti hanya karena mereka merasa kasihan. Kasihan melihat mayat hidup yang kesepian sepertiku. Sekarang aku hanyalah hantu bagi mereka. Sebaiknya aku terus mengurung diri dan tak lagi mengganggu kehidupan mereka.”

Di dalam kamar ia hanya berbaring di kasur, mencoba mengingat-ingat kembali sebab-sebab kematiannya–rasa perih di dada yang begitu tiba-tiba, nafasnya yang begitu berat dan tersekat, lalu pandangan matanya yang perlahan-lahan memudar seiring dengan sakit di kepala yang semakin terasa hebat. Yang ia ingat saat itu Manda sedang duduk di sampingnya. Lalu perlahan-lahan ingatan-ingatan lain mulai muncul dan berlalu lalang lagi di sepanjang jalan pikirannya. Dimulai dari rambut ekor kuda Manda, senyumnya yang mengembang lebar bak kelopak bunga mawar, mata yang menatapnya sayu, tahi lalat kecil di bawah hidung sebelah kiri, sampai akhirnya samar-samar terdengar jeritan Manda yang meminta pertolongan. Kemudian semuanya terlihat gelap, seolah-olah film sudah hendak diputar dan lampu-lampu dalam gedung bioskop mulai dimatikan. Ia tak lagi ingat bahwa setelah itu beberapa orang berduyun-duyun menggotong tubuhnya. Lalu terdamparlah ia di dunia kematiannya yang gelap dan sempit–namun begitu singkat. Dan setelah terbangun, kini ia harus menjalani nasib sebagai mayat hidup yang kesepian.

/4/

Sudah dua hari penuh Risyaf terus meyakini dirinya sebagai mayat hidup. Tak terhitung berapa kali ketukan-ketukan pintu dan bujuk-bujuk rayu yang ia hiraukan. Hampir tiga hari–setelah dikabarkan positif meninggal dunia—Risyaf tidak makan. Ratusan pesan singkat dan telepon-telepon dari Manda juga ia abaikan. Risyaf terus mengurung diri dalam kamarnya. Menyiksa tubuh yang mulai lemas dan merasa lapar dengan kesedihan-kesedihan akan kematiannya yang terus ia pelihara. “Aku hanya belum terbiasa menjadi mayat,” dalam hati ia berkata, “Aku harus terus berusaha menahan lapar. Ini hanya proses adaptasi dan aku pasti bisa melaluinya. Aku harus terus berjuang agar bisa menjadi mayat hidup yang sejati!” Begitulah cara Risyaf terus memupuk keyakinan anehnya sebagai mayat.

Namun keteguhannya sebagai sesosok mayat hidup kini perlahan-lahan mulai runtuh. Hal itu dikarenakan sebuah pesan singkat dari Manda yang iseng-iseng–sebenarnya karena tak kuat lagi menahan rindu—dibacanya. Beginilah kira-kira isi pesan singkatnya: ‘Sayang, kamu sedang apa? Sudah makan belum? Aku di sini sangat merindukanmu. Malam-malamku menjadi gelisah karena terus memikirkanmu. Datanglah kemari, Sayang. Peluk aku. Buktikan pada papa mamaku bahwa kau memang masih benar-benar hidup. Mereka tak percaya pada ceritaku bahwa kau ternyata belum mati. Mereka bahkan kini mulai menganggapku gila. Apakah kau tega melihatku seperti ini, Sayang? Datanglah kemari. Aku begitu merindukanmu.’

Setelah menyadari pipinya basah oleh air mata, juga kerinduan dan rasa cinta kepada Manda yang semakin menggelora di dalam dada–juga rasa lapar yang semakin tidak bisa dibendungnya, Risyaf semakin menyadari bahwa dirinya memanglah masih seorang manusia. Aneh, begitu tidak konsistennya ia. Kini ia percaya pada kata-kata Pak Hartono, kedua orang tuanya, juga Manda bahwa ia hanya mati suri. “Ah, konyolnya. Tidak mungkin mayat hidup bisa merasa lapar, bahkan menangis karena tak kuat lagi menahan rindu sepertiku.” Risyaf tersenyum geli mengingat kebodohannya. Maka malam ini akan menjadi malam yang begitu bersejarah bagi kedua orang tuanya, juga warga kampung Gedongkuning yang untuk pertama kali–sejak dua hari hidup kembali—melihat Risyaf  berani menampakkan diri. Setelah menciumi kedua orang tuanya, makan tiga piring nasi lauk telur mata sapi, lalu mandi dan berdandan rapi, tanpa memberi kabar Manda terlebih dahulu–dengan semangat dan rasa rindu yang berkobar ala anak muda yang sedang dilanda jatuh cinta—Risyaf bergegas pergi ke rumahnya.

/5/

Risyaf merasa malam itu begitu indah. Bulan seperti tersenyum kepadanya. Ribuan bintang seakan-akan genit mengedip-ngedipkan mata. Sambil tersenyum sendiri Risyaf berpikir kalau Tuhan memang sengaja merancang malam itu–menjadi sedemikian indah—hanya untuknya. Risyaf terus memacu laju sepeda motornya. Hanya kurang dari sepuluh menit lagi ia akan sampai di rumah pujaan hatinya. Ia semakin tak sabar membayangkan Manda dengan wajahnya yang penuh dengan kebahagiaan, berlari menjemputnya dan memberikan pelukan serta kecupan-kecupan hangat di bibirnya. “Ah, malam ini akan begitu indahnya,” pikir Risyaf.

Setelah memarkirkan sepeda motornya secara sembarangan di bawah pohon mangga–depan gerbang rumah Manda, dengan suara terlembut dan termerdu yang mungkin pernah ia keluarkan, dari mulut Risyaf muncul sebuah nama, “Manda… Manda…” Begitulah Risyaf memanggilinya dengan nada seperti yang biasa anak-anak kecil kumandangkan saat mengajak teman-temannya pergi bermain.

Namun, sudah lima belas menit ia menunggu dan belum juga ada jawaban. Padahal saat itu baru pukul tujuh malam. Lampu di dalam rumah Manda pun menyala–menandakan ada orang di dalam sana, tapi kenapa tidak ada yang mau menyambut kedatangannya? Risyaf mulai resah. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Satu pesan singkat masuk. Risyaf membukanya dan ternyata dari Manda. Isinya: ‘Sayang, maafkan aku yang tak bisa membukakanmu pintu. Papa mama melarangku. Mereka kira kamu adalah hantu. Aku sudah berusaha menjelaskannya tapi mereka tetap saja tidak peduli. Maafkan aku, Sayang. Besok, bila suasana mulai tenang aku akan berusaha menjelaskannya lagi. Terimakasih sudah datang malam ini. Aku mencintaimu, Sayang.’

Risyaf merasa jengkel. Ia merasa kehidupan mulai tak adil lagi kepadanya. Malam yang dibayangkannya akan menjadi malam terindah kini malah jelas-jelas mengecewakannya, menipunya dengan segala macam sihir keindahan yang masih saja dipertunjukkan. Dengan emosi yang bersungut-sungut di kepala, Risyaf membalas pesan singkat Manda: ‘Tak perlu repot-repot menjelaskannya lagi. Besok pagi akan kubuktikan sendiri kepada orang tuamu kalau aku memang belum mati. Aku juga mencintaimu, Sayang.’ Setelah mengirim pesan singkat itu Risyaf mematikan Handphonenya. Beberapa saat ia pandangi keadaan sekitar–tersenyum sinis memandangi kemesraan bulan dan bintang. Lalu dengan kecepatan seorang pembalap kesetanan ia memacu sepeda motornya pulang. Ia sudah tak sabar menyiapkan alat-alat untuk hari pembuktiannya esok pagi.

/6/

Esok harinya warga daerah kampung Demangan dan sekitarnya geger. Seorang kakek tua yang hendak pergi memulung menemukan sesosok mayat murung yang tergantung di pohon mangga depan rumah Pak Roso–ayah Manda. Mayat itu menggenggam sepucuk surat yang isinya: ‘Mandaku sayang, lewat kematian keduaku ini orang tuamu pasti akan percaya bahwa malam kemarin aku memang belum mati. Aku mencintamu, Sayang. Cintaku kepadamu takkan mati meski kini Tuhan telah dua kali mencabut nyawaku. Aku tunggu kau di dunia yang takkan pernah lagi mempersoalkan hidup dan mati.’***

Yogyakarta, 4 Juni 2013



Azwar R. Syafrudin
lahir di Yogyakarta, 21 Maret 1992. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY. Sedang bergiat di Komunitas Sastra Rabu Sore (KRS). Tinggal di jalan Semangu 18A Gedongkuning Yogyakarta. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di beberapa media massa seperti; Minggu Pagi, Suara Merdeka, Joglo Semar, Jurnal Nasional, Padang Ekspres, dan Inilah Koran.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us