Mamoleh Dukun

7 September 2014 - 09.44 WIB > Dibaca 2529 kali | Komentar
 
Mamoleh Dukun
Kumantan (ketua dukun), dukun mudo dan para asistennya tampak khusyuk melakukan ritual mamoleh (mengisi) dukun di Kampung Mandiangin, Minas, Kabupaten Siak, beberapa waktu lalu. Foto: Fedli Azis/Riau Pos
Kepandaian seorang dukun tidak selamanya stabil. Keahlian segelintir orang itu, bisa juga mengalami penyusutan, bahkan bisa pula hilang tak bersisa, sebagaimana dialami seorang bomo (dukun, red) asal Suku Sakai, Darsat (49). Untuk mengembalikan keahliannya tersebut, maka dilakukanlah ritual mamoleh dukun.

Laporan FEDLI AZIS, Mandiangin

SUBUH gelap lagi, Kori, Yatim, Ujang dan beberapa warga lainnya keluar dari rumah menuju Sungai Mandiangin untuk mencari kelengkapan ritual seperti kayu, mayang dan daun kelapa muda, rotan, dan tumbuhan-tumbuhan khas hutan lainnya. Benda-benda tersebut dibawa ke rumah Darsat untuk dirakit menjadi balai basonding gading.
 
Di rumah tempat pelaksanaan ritual itu, para ibu-ibu seperti Mbeh, Tino, Ardat, Kamsia, Hero, dan lainnya sibuk mengerjakan tugas masing-masing, membuat bertih beras, beras hitam, beras kuning, menganyam daun kelapa muda menjadi bentuk-bentuk yang diinginkan seperti ketam (kepiting, red), burung-burung dan banyak lagi. Mereka juga membuat lilin dari sarang madu lebah, memotong daun pisang, mempersiapkan rantang serta wadah berupa kendi yang digunakan untuk air sulung atau air yang pertama kali diambil di sungai, kemenyan, limau purut dan syarat-syarat lainnya.

Para lelaki mulai memotong-motong kayu yang dibawa dari tepi hutan untuk membuat balai, berupa bangku yang kakinya dicacak di lantai. Pembuatan balai tidak menggunakan paku, namun disimpul kuat dan diikat menggunakan rotan. Setelah kokoh, karena kaki balai ditanam ke dalam lantai, maka anyaman yang dominan dari daun kelapa muda dibalut ke bagian kiri, kanan dan belakang balai sebagai hiasan. Di balai itu pula, tujuh ranting kayu yang masih berdaun segar diikatkan.

Di bawah, bagian sekitar balai dibentangkan tikar pandan dan di bawah itulah beberapa persyaratan diletakkan yang dimuliakan dalam berbagai wadah. Sedang di atas balai, di tempat duduknya, juga dipenuhi perlengkapan persyaratan. Balai basondi gading yang telah selesai itu, lalu dibiarkan hingga malam harinya. Ini namanya balai basondi gading, digunakan untuk tempat duduk dukun yang akan diisi kembali, ungkap Kumantan Suku Sakai, Kampung Mandiangin, M Darus.

Kumantan sendiri kerap dipanggil dukun sati (sakti, red) sebagai ketua dari dukun-dukun yang ada di kampung Sakai. Dukun-dukun di bawah dukun sati itu, mereka sebut dengan dukun mudo (muda, red). Ritual mamoleh dukun, menjadi salah satu ritual penting dalam peradaban Suku Sakai, yakni mengisi kembali kepandaian atau kesaktian dukun muda yang mulai berkurang.

Mamoleh itu artinya mengisi atau ngecas. Jadi dukun itu macam handpone atau laptop pula, baterainya bisa habis, bahkan rusak. Makanya, untuk mengembalikan keahlian dukun mudo dilakukan ritual ini sehingga bisa diketahui secara magis, kenapa ilmunya hilang atau menyusut. Lalu, diisi kembali dengan bantuan Kumantan, ungkap Darus, tokoh masyarakat Mandiangin sembari melepas tertawa.

Unik dan Magis
Malam menjelang. Rabu (27/8) pukul 20.00 WIB, acara di ruang tengah rumah Darsat, di Minas, Kabupaten Siak, itu diawali dengan makan malam bersama. Setelah berbincang-bincang beberapa waktu, pukul 21.30 WIB, ritual pun dimula-kan. Para asisten Kumantan, mempersiapkan salah satu sudut ruang dengan membentang tikar pandan dan memindahkan perkakas ritual ke atas tikar tersebut. Menatanya dengan rapi dan mempersilahkan dukun sati dan dukun mudo untuk duduk di depan kelongkap yang disusun.

Sang Kumantan mengambil nampan, mengisi air dan memasukkan berbagai racikan bunga-bunga dan dedaunan ke dalamnya. Memotong limau purut dan membelahnya menjadi dua. Lalu menjatuhkannya ke lantai. Setelah memastikan posisi limau sesuai keinginan, maka ritual pun dilanjutkan. Mantera-mantera mulai bergema dari mulut Kumantan diikuti dukun mudo. Suasana yang awalnya akrab dan menyenangkan, langsung berubah. Terkesan magis, dan agak seram, minimal bagi Riau Pos yang menyaksikan langsung ritual mamoleh dukun tersebut.

Mantera yang disenandungkan makin lama semakin cepat dan sesekali melambat. Sementara,Kumantan dan para asistennya terus memainkan ramuan dengan mencampurkan dengan racikan yang lain. Kumantan mengambil bertih dan melemparkan ke empat penjuru mata angin sambil terus mengucapkan manteranya yang panjang. Kumantan yang duduk bersila menutup tubuhnya dengan kain putih panjang dan dukun muda pun mengikutinya dengan menutup tubuh dengan kain panjang berwarna coklat.

Perlahan namun pasti, mantera-mantera yang dibacakan dan diikuti dukun mudo menggetarkan tubuh dukun mudo. Awalnya, tubuh dukun mudo menggigil ringan dan makin lama makin cepat. Kondisi itu berlangsung beberapa lama. Setelah menyelesaikannya, asisten Kumantan membawa dukun mudo dan mendudukkannya di atas balai basondi gading yang memang dipersiapkan untuk dirinya.

Kumantan berdiri dan melangkah menuju balai sambil membawa mayang yang sudah dipecahkan dari tampuknya. Kumantan juga membawa lilin dari sarang madu lebah. Lilin yang sudah dinyalakan tersebut, merupakan cahaya atau mata Kumantan untuk mengajak dukun muda memasuki dunia gaib. Mantera-mantera terus diucapkan dan tubuh dukun mudo kembali bergetar hebat hingga menggelinjang dan berdiri sempoyongan. Para asisten Kumantan menahan tubuh Kumantan dan dukun mudo yang telah memasuki dunia lain.

Di puncak-puncak emosi pembacaan mantera, Kumantan melompat ke belakang dan langsung disambut para asisten. Saat tubuh Kumantan meregang, para asisten memberi asap kemenyan dan mengatakan, bori yang sodap. Kumantan kembali membaca mantera dan memukulkan mayang serta stik dari lidi daun kelapa muda yang dihias kepada dukun mudo. Aktivitas itu dilakukan berulang-ulang hingga selesai. Palling tidak, diperlukan waktu dua sampai tiga jam. Setelah semuanya selesai, para asisten mengambil air sulung dalam rantang, memandikan dan meminumkan air suci itu pada dukun mudo.     

Ritual telah usai dan para asisten serta Kumantan membersihkan diri. Begitu pula dengan dukun mudo. Saat itulah, Kumantan menceritakan kepada dukun mudo apa yang disampaikan arwah para leluhur mereka (antu-antu) kepada dirinya. Nampak-nyo, dukun mudo kito ko, ado niat atau janji, tapi belum dilakukan. Ingek-ingek lagi, apo yang terniat atau terjanji dalam hati tu.

Sayo tak ingek apo yang terniat dan terjanji dalam hati tu. Jadi biarlah sayo ingek-ingek beberapa hari ni. Kalau teringek nanti, pasti akan sayo tunaikan, ungkap dukun mudo, Darsat.

M Darus, Kumantan Suku Sakai Mandiangin menjelaskan, ritual seperti ini, khusus untuk para dukun mudo. Pasalnya, setiap keahlian dukun tidak otomatis melekat sampai akhir hayat. Keahlian itu bisa juga mengalami penyusutan, bahkan hilang sama sekali karena melanggar pantangannya. Paling tidak, keahlian Darsat sudah dikembalikan namun belum seratus persen sebab ia (Darsat) harus menunaikan janji atau niatnya tersebut. Tapi kalau tidak ingat juga, maka ia bisa menggantinya dengan bersedekah ke masjid.

Saya sering mamoleh dukun dan alhamdulillah kali ini Riau Pos bisa langsung menyaksikannya, ujar Darus.

Sementara itu, Darsat mengakui bahwa, selama lima bulan belakangan ini, dirinya tak bisa lagi mengobati pasien yang datang. Ia juga merasa resah dan meminta pada Kumantan yang juga adik kandungnya itu untuk mengembalikan keahliannya tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa lagi mengobati pasien, katanya singkat.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us