Aksi Peduli Anjung Seni Idrus Tintin

Seniman pun Meradang

14 September 2014 - 11.02 WIB > Dibaca 1151 kali | Komentar
 
Riau yang punya hajat besar, mimpi mulia untuk menjadikan negeri ini sebagai pusat kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara. Maka, atas prakarsa seniman dan budayawan, dibangunlah gedung kesenian yang gagah dan megah. Gedung itu diberi nama Anjung Seni Idrus Tintin (Asit).

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupo.co

Keberadaan gedung yang termegah di Sumatera itu diniatkan menjadi laman bermain bagi para seniman dan budayawan untuk mengasah dan mengekpresikan segala bentuk kreativitas kebudayaan. Sayangnya, gedung seni yang telah menelan uang rakyat miliaran rupiah itu terbengkalai, terbiarkan, terabaikan dan tidak diperhatikan.

Hal itu pulalah yang memicu para seniman dan pekerja seni di Riau mempertanyakan, meminta pertanggung jawaban kepada isntansi terkait, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi Riau. Berbagai aksipun telah dilakukan oleh ratusan seniman yang mengatasnamakan Forum Seniman Riau (Forser), beberapa pekan belakangan ini.

Gelar Karya Peduli Asit
Menggunakan sound sistym ala kadarnya, pada Sabtu (6/9) malam lalu, ratusan seniman dan pekerja seni Riau berkumpul di selasar Anjung Seni Idrus Tintin untuk menggelar karya-karya mereka. Berbagai bentuk pergelaran yang terkemas dalam seni pertunjukan tersebut mengisyaratkan, meneriakkan kepedulian atas keberadaan Asit yang menurut mereka (seniman, red) sudah sakit parah. Gelar karya ini juga terselenggara atas kebijakan masing-masing seniman dari uang kantong untuk menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan agar acara tetap terlaksana. Semangat para seniman untuk sama-sama menyuarakan agar adanya perhatian terhadap laman bermain dan sekaligus gedung kesenian kebanggaan masyarakat Riau itu tetap terlaksana. Tak ayal lagi, beragam ekspresi seni musik, sastra, tari, teater dan rupa tampil dalam dukacita sebuah tema yang diusung hingga sampai jauh malam.

Tampil sebagai pembuka, musisi senior Riau, Benny Riaw yang membawakan tembang yang berjudul Ape Kesah. Sambil memeting gitar, lelaki yang memiliki suara khas tersebut menyanyikan lirik lagu yang isinya menyentil ketidakpedulian pemerintah terhadap masalah-masalah kesenian dan kebudayaan di Riau, terutama Asit. Bahkan dari tembang yang dibawakan Benny terdengar sentilan kalimat Budpar yang malah berangkat ke luar negeri tetapi mengabaikan keberadaan Asit yang sudah sakit parah. Ape kesah... nandungnya.

Musisi Riau lainnya, Udin Semekot tergugah hatinya ketika beberapa seniman muda menyuarakan kepadanya tentang Asit yang hampir tidak layak untuk tempat pementasan. Katanya, saya harus dan wajib ikut turun bersama-sama untuk memperjuangkan gedung kebanggaan bersama itu. Gedung ini dibangun dengan menggunakan uang negara sebesar 160 miliar. Ini gedung kebanggaan kita bersama. Coba saja lihat, kalau orang-orang luar berkunjung ke mari, pastilah mereka akan berfoto-foto di sini. Tapi nampaknya, hanya kebanggaan begitu saja, hanya bagus pada casing-nya tetapi di dalamnya apakan tidak saja, ucap humoris Riau tersebut.

Udin juga menegaskan, para seniman pastilah tidak cemburu keberangkatan Budpar ke Jerman atau pun Korea Selatan, tetapi yang disayangkan rumah peradaban yang dimiliki kenapa malah terabaikan. Seharusnya kita percantik rumah kita dahulu baru berjalan-jalan. Untuk itu saya akan membawakan sebuah tembang berjudul Go To Dtuch Land, Ada Apa? Komat, komet, kamit, kiamat, Udin pun memulai nyanyiannya.

Sepanjang gelar karya berlangsung di selasar Asit yang diterangi lampu seadanya itu, anak-anak muda yang tergabung dalam Serikat Kartunis Riau (Sikari) yang diterajui Furqon Elwe juga ikut menggelar karya lewat gambar-gambar kartun yang mereka buat di depan pintu masuk. Berbagai anekdot pula yang jelas-jelas tertangkap lewat kartun-kartun yang setelah selesai dipajangkan di depan pintu gedung itu sekaligus menjadi latar belakang gelar karya peduli Asit. Ini sebuah perjuangan kebudayaan, kami dari SiKari akan siap ikut sama-sama menyuarakan kegelisahan para pekerja seni di Riau ini, ucap Furqon.

Sementara itu, gelar karya terus berlangsung dengan berbagai ekpresi lainnya, sanggar dan komunitas serta grup-grup seni silih berganti menampilkan kreativitas mereka malam itu. Seperti, Grup Musik Ujung Sirih, Grup Musik Lebam, Kosan, Teater Selembayung, Teater Matan, Riau Beraksi, Komunitas Seni Rumah Sunting,  Latah Tuah, Teater Batra. Tidak ketinggalan juga penyair-penyair Riau ikut  meneriakkan sajak-sajak mereka dalam acara yang penuh dengan rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan itu.

Seniman Pemangku Negeri Zuarman Ahmad yang juga tidak ketinggalan hadir malam itu menyanyikan sebuah tembang yang berjudul Berita Kepada Kawan. Berkolaborasi dengan musisi lainnya, Benny Riaw, Udin Semekot, lagu Ebit G Ade tersebut dipelesetkan beberpa liriknya untuk menyentil Budpar.

Mungkin Budpar sudah bosan bersahabat dengan kita -- Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Teriak musisi-musisi senior itu yang kemudian mendapat tepukan meriah dari ratusan seniman lainnya yang tetap betah di selasar Asit tersebut.

Sebelumnya, Zuarman menyayangkan kondisi gedung yang menurutnya sangat bagus bahkan tak kalah bagus dengan gedung-gedung kesenian yang ada di Indonesia. Sebagai orang yang tahu betul hajatan awal ketika membangun gedung Asit ini, bahwa gedung megah ini memang dibangun untuk dijadikan laman bermain bagi para seniman, pekerja seni dan budayawan yang hendak mengekspresikan karya-karyanya yang tentu saja kemudian, keberadaan gedung ini dan juga aktivitas kesenian dan kebudayaan yang hidup di dalamnya, akan turut mampu mengangkat nama Riau ke kancah dunia. Bukan hanya gedung Asit ini yang dikenal, bukan hanya senimannya tapi juga Riau juga akan dikenal lebih luas, jelas komposer musik senior tersebut.

Aksi yang dilakukan seniman menurut Zuarman bukan sebuah kecemburuan atau sakit hati karena tidak diajak berjalan-jalan ke luar negeri akan tetapi pikiran-pikiran kesenian seniman itu betul yang tidak dihargai ketimbang berjalan-jalan ke luar negeri itu. Cobalah lihat, kawasan  Bandar Serai ini yang tampak sudah seperti negeri yang dikalahkan garuda. Di sana-sini yang terlihat hanya seperti puing-puing bangunan tua Yunani dan Anjung Seni Idrus Tintin yang tidak terurus, sekelilingnya dipenuhi semak belukar, belum lagi tahi burung merpati terutama yang di beranda pintu masuk sebelah belakang gedung. Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini yang kononnya akan menyongsong Riau menjadi pusat kesenian dan kebudayaan di Asia Tenggara, ucap komposer senior itu.

Hadir pula dalam kesempatan itu, seorang penyair senior asal Riau yang saat ini bermastautin di Jakarta, Leon Agusta. Dalam kesempatan itu, Leon mengajak seniman yang hadir untuk tetap terus berkreatifitas dalam kesenian dengan rasa kebahagiaan. Katanya, keberadaan seniman Riau hari ini karena ada orang-orang yang mendahuluinya. Sampai hari ini, di Riau bergetar dan bergerak spirit seniman-seniman terdahulu yang seharusnya hari ini menjadi sebuah kekuatan. Oleh karenanya dalam kaitan itu, gedung kesenian adalah sebuah rumah peradaban, jangan sampai negeri menjadi cacat karena tidak memiliki gedung kesenian yang baik.,tegas penyair yang mengaku kesenimannya dimulai di tanah Lancang Kuning ini.

Gelar karya pun akhirnya ditutup setelah larut malam oleh pertunjukan grup musik Kosan. Para seniman dan pekerja seni pun akhirnya kembali berhimpun bersama-sama untuk merencakan aksi yang berikutnya. Aksi kita tidak berhenti sampai di sini, kita harus tetap perjuangkan Anjung Seni Idrus Tintin ini sehingga kembali dipelihara sebagaimana layaknya gedung kesenian dan dibentuk badan pengelola secepatnya, tutup salah seorang anggota Forser, Hang Kafrawi yang diamini Willy, Mat Rock dan rekan lainnya.

Demo Ala Seniman
Pada Kamis lalu (11/9) Forum Seniman Riau kembali menggelar aksi damai peduli Anjung Seni Idrus Tintin. Aksi damai yang dilakukan kali ini tidak lagi menuju ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau akan tetapi sakit parah yang diderita Asit, menurut seniman harus diketahui Gubernur Riau, H Annas Maamun. Kami sudah mengadu ke mana-mana bahkan sudah ke Disbupar untuk bertemu dengan Kadis beberapa waktu lalu namun ketika itu Kadis tidak bersedia bertemu dengan kami dengan alasan sakit gigi. Bahkan hari ini (Kamis, 11/9) mereka sudah berangkat pula ke Korea Selatan. Makanya kami langsung turun menuju kantor Gubernur untuk mencari solusi pengobatan atas parahnya sakit Asit, ujar Matrock, salah komposer muda Riau.

Dengan mengenakan kain sarung ala masyarakat kampung, baju kaos oblong dan bersendal jepit, puluhan seniman kemudian berjalan dari Pustaka daerah menuju gerbang masuk kantor Gubernur Riau. Poster dan tulisan yang menyuarakan tentang menyelamatkan Asit, kritikan program Budpar ke Jerman dan Korea Selatan ditenteng satu persatu oleh mereka.

Begitu sampai dipintu gerbang, para seniman mulai menunjukkan aksi. Berbeda dengan demo-demo kebanyakan, aksi damai yang dilakukan Forser memulai dengan sebuah ritual Lukah Gilo, sebuah ritual pengobatan milik suku asli yang ada di Riau. Properti lukah yang memang sudah dibuat dan dibawa sebelumnya dipancangkan di depan pintu gerbang, kemudian salah seorang seniman Hang Kafrawi tiba-tiba berdiri menatap kosong ke arah lukah. Sejenak kemudian keluarlah jejampi atau mantra dari mulutnya. Sumpah serapah yang spontanitas dipekikkan itu selintas terdengar seperti memanggil semangat roh-roh para leluhur tetapi kemudian terdengar pula Asit disebut-sebut.

Mendengar pekikan mantra yang dibacakan, para seniman mendengar takzim bahkan petugas keamanan Satpol PP yang berada di pintu masuk sebelah dalam pun tertegun menyaksikan aksi damai yang dilakukan para seniman itu. Apalagi kemudian, setelah lukah digerak-gerakkan oleh Hang Kafrawi perlahan-lahan. Setelah lukah mulai bergerak cepat, dengan spontan Denni dan Mat Rock ikut bersama-sama memegang lukah yang sudah bergerak tak tentu arah. Ketiga seniman itu kemudian berkelinjang ke sana kemari tak tentu arah. Prosesi itu pun kemudian selesai setelah ketiga seniman itu mampu menundukkan kegilaan lukah.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan, seniman lainnya juga membuat aksi tepatnya di sekitaran tugu depan kantor Gubernur tersebut. Ekky dan kawan-kawan berorasi lewat lagu-lagu dan sajak yang dibacakan dengan lantang diantara deru kendaraan yang lewat. Gitar, biola dan gendang bertingkah-tingkah pula mengiringi aksi mereka. Tentu saja hal itu membuat lalu lintas agak sedikit macet karena apa yang dilakukan oleh para seniman itu menarik perhatian para pengendara kendaraan roda dua dan roda empat.

Tepat di bawah tugu titik nol tersebut, Koreografer Syafmanefi Alamanda menari dengan sangat khusuknya. Gerak dan liuk gerak tari yang dilakukan tidak terpengaruh sedikitpun dengan keadaan sekitar. Nanda saapaan akrabnya itu terus bergerak perlahan-lahan sembari memutari tugu tersebut. sedangkan di sisi lain sebelah tugu, tampak pula teaterawan perempuan, Kunni Masrohanti yang membawa poster bertuliskan Save Asit di tubuhnya. Kunni terus memutari tugu dalam kesendiriannya sembari menunjukkan kepada warga tulisan posternya itu.

Pekikan dan teriakan tuntutan kemudian silih berganti dari beberapa titik aksi damai yang dilakukan para seniman. Seperti yang diteriakkan Hang Kafrawi bahwa Anjung Seni Idrus Tintin seperti anak haram yang ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya. Siapa ayahnya? Siapa ibunya? Siapa saudara maranya? Anjung Seni Idrus Tintin sedang sakit parah. Dan penyakit itulah yang hendak kami sampaikan kepada Gubernur Riau untuk segera diobati, pekik Hang Kafrawi.

Silih berganti pekikan serupa juga disuarakan Matrock bahwa tebengkalainya Asit membuat para seniman tertusuk kalbunya. Dan kenyataan itu juga akhirnya para seniman dengan hati nurani akan menyuarakan penyelamatan atas Asit. Tak ada kepentingan lain selain selamatkan Anjung Seni Idrus Tintin ! Perhatikan Asit ! pelihara Asit. Kami bukan hendak menghalang-halangi Disbudpar Riau keluar negeri, kami hanya mengingatkan bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dan dipelihara sebelum berangkat ke luar negeri, pekik Matrock pula.

Selain itu, para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Riau itu juga menuntu tiga hal seperti yang diutarakan para seniman lainnya, Willy dan Bens. Bahwa ketiga tuntutan itu berisikan agar mendesak pembentukan badan pengelola sementara Anjung Seni Idrus Tintin pada 2014 ini. Para seniman yakin setiap tahunnya ada biaya untuk perawatan Asit akan tetapi sampai sekarang Asit tidak pernah terawat.

Seniman juga menuntut pembentukan badan pengelola definitif untuk 2015 yang harus melibatkan seniman. Tuntutan ini atas dasar bahwa selama ini, seniman selalu dikesampingkan padahal seniman dan pekerja senilah yang lebih tahu tentang aktivitas kesenian dan gedung kesenian. Selian itu, seniman juga menuntut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan perhatian atas keberlangsungan budaya dan seni di Riau dibandingan membuat program ke luarn negeri seperti ke Jerman dan Korea Selatan yang menghambur-hamburkan duit rakyat.

Tak berapa lama kemudian, rombongan aksi damai dari para seniman dan pekerja seni itu diterima langsung oleh Asisten I, Kasiarudin. Setelah mendengar berbagai keluhan dan tuntutan serta harapan dari para seniman, Kasiarudin yang juga merupakan mantan pemain gambus itu mengatakan segala tuntutan akan disampaikan kepada Gubernur Riau. Saya meski bukan seniman tetapi saya suka dengan seni dan saya bisa pula merasakan apa yang dirasakan kawan-kawan seniman. Dan segala permasalahan, harapan ini nantinya akan segera saya sampaikan kepada Bapak Gubernur, ucap Kasiarudin di hadapan puluhan seniman yang mengitari beliau.

Dalam kesempatan itu juga, sebelum Asisten satu menuju ke dalam, para seniman menitip sebuah gambar karikatur hasil karya Furqon Elwe kepada asisten satu untuk diserahkan kepada Gubernur Riau. Ini pak, titip karikatur ini kepada pak Gubernur dari Serikat Kartunis Riau, Ujar Fedli sembari menyerahkan ke tangan Kasiaruddin.

Usai pertemuan itu, para seniman kembali menggelar aksi damai mereka dengan melakukan pertunjukan seni di depan kantor gubernur. Aksi yang dilakukan sebagai persembahan penutup itu dengan menggelar randai dan joget bersama. Puluhan seniman yang hadir menari dan bernyanyi bersama-sama. Sentilan-sentilan terhadap Disbudpar yang ke luar negeri dan tak peduli terhadap Asit terus saja mengalir di antara nyanyian dan tarian yang mereka gelarkan, kesemuanya berbancuh dalam canda tawa, gurau senda serta tepuk tangan. Sampai sekitar pukul 11:30 WIB, para seniman membubarkan diri dengan tertib.

Para seniman kembali berkumpul di sebuah kedai di kawasan Bandar Serai untuk membicarakan aksi berikutnya sampai Asit benar-benar diperhatikan. Aksi ini tak berhenti sampai di sini, Forser akan terus melakukan dan menggelar aksi sampailah sakit parah Asit tersembuhkan. Bahkan kami juga sudah merencakan akan membuat kemah seni peduli Asit, ujar Hang Kafrawi.(*6)


KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:00 wib

Habib Salim Segaf Beri Tausiah di Masjid Islamic Center

Senin, 24 September 2018 - 15:37 wib

Prudential Bayar Klaim Rp98 Juta

Senin, 24 September 2018 - 15:30 wib

MTQ XLIII Bengkalis Resmi Dibuka

Follow Us