Depan >> Opini >> Opini >>

Djauzak Ahmad

Jangan Sampai Dipermalukan Anak Negeri

14 Juli 2011 - 10.28 WIB > Dibaca 661 kali | Komentar
 

PADA awal 1950-an sampai 1970-an negeri ini memiliki kualitas pendidikan yang sangat, baik di Asia khususnya di Asia Tenggara. Kualitas pendidikan sangat menentukan kualitas suatu bangsa, karena tidak satupun negara di dunia ini maju tanpa melaksanakan pembangunan pendidikan dengan baik, seharusnya bagi negara-negara yang baru bangkit, prioritas utama pembangunan adalah di sektor pendidikan.

Penulis tidak jemu-jemunya mengulang apa yang dilakukan oleh Kaisar Hirohito sesudah Jepang menyerah kalah pada tahun 1945, di mana sang kaisar menanyakan masih berapa banyak kah guru yang masih hidup di negeri ini? Dalam rapat tersebut ada seorang mantan jenderal merasa tersinggung mengapa justeru guru yang ditanyakan oleh sang kaisar. Dengan bijaksana sang kaisar menjawab bahwa anda dan yang lain-lain tidak saya tanyakan sebab apabila masih banyak guru yang hidup di Jepang ini, Jepang akan bangkit lagi karena dari para gurulah bangsa Jepang berharap akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan akan cepat Jepang yang terpuruk ini akan bangkit lagi.

Apa yang dikatakan oleh Kaisar Hirohito tersebut menjadi kenyataan, karena pada awal 1960-an Jepang sudah berhasil mengekspor hasil produksinya, termasuk mobil. Negeri ini setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949 seharusnya mulai 1950-an prioritas utama pembangunan negeri ini adalah membangun pendidikan, tapi kenyataanya pemimpin negeri ini memulai pembangunan dengan memperioritaskan politik.

Kita mengetahui penjajahan merupakan satu kesengsaraan yang sangat pahit, tetapi pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu melaksanakan pendidikan rakyat jajahannya termasuk baik, sampai ke desa-desa, bahkan desa terpencil ada sekolah yaitu SD kelas 3 bahkan bila ada anak desa tak bersekolah orangtuanya akan ditegur oleh UPAS-UPAS (sejenis Satuan Polisi Desa) dan pendidikan guru, walaupun ada diskriminasi yaitu untuk sekolah desa ada Learkhang atau sekolah magang, Normal School sejenis SGB yaitu 4 tahun sesudah SD kelas 5 dan untuk sekolah nigrat dan Belanda ada KS atau Kweek School, empat tahun sesudah HIS (SD untuk bangsawan dan Timur Asing dan anak Belanda) ada HKS (Hoogee Kweek Scool) sejenis SGA dan HIK sama dengan HKS.

Guru-guru hasil pendidikan Belanda tersebut sangatlah berkualitas karena untuk menjadi murid sekolah guru adalah murid dari sekolah asal yang terpandai bahkan dipilih dari nomor satu sampai nomor sepuluh, jadi guru-guru yang  dihasilkan oleh sekolah tersebut adalah guru-guru yang dijamin kualitasnya, kebijaksanaan tersebut sampai pada pertengahan 1960-an masih diteruskan dan mulai 1970-an murid-murid yang masuk sekolah guru adalah anak-anak yang tidak masuk SMA, STM, SMEA dan sejenisnya barulah masuk sekolah guru dan itu berlangsung hingga sekarang, tidak heran bahwa pada 1960-an sampai 1970-an kita mengirim guru-guru ke Malaysia, kebanyakan guru yang dipilih adalah guru yang mempunyai keahlian eksakta.

Untungnya negeri ini pada 1980-1990-an mempunyai kebanggaan mempuyai orang hebat yang bernama BJ Habibie yang berhasil memproduksi pesawat terbang CN 235 dengan PT Dirgantara yang menjadi kebanggaan dan telah melakukan uji coba terbang pesawat N 100 dan berhasil sukses. Sayangnya N 100 tersebut hanya berhasil diuji coba dan tidak diproduksi dan PT Dirgantara pun lenyap entah ke mana, dan para ahli pesawat tersebut pergi ke luar negeri. Ada di antara mereka yang ke Amerika Serikat, ke Eropa, dan ada yang ke Malaysia. Lucu negeri ini, bukannya bertambah maju tetapi pabrik pesawat terbang yang harusnya berhasil membuat pesawat yang lebih canggih akhirnya hilang ditelan bumi. Kalau kita renungkan matang-matang, semua ini adalah kegagalan kita membangun dunia pendidikan secara baik, pembanguan pendidikan di negeri ini tidaklah ditangani secara profesional dan cenderung ditangani orang-orang amatiran.

Bayangkan negeri sebesar ini dengan bermacam-macam adat-istiadat dan suku bangsa, tidak mempunyai kurikulum nasional, pendidikan itu bukan hanya mencerdaskan bangsa, tapi pendidikan yang lebih penting lagi adalah mempersatukan bangsa. Melalui kurikulum nasional bangsa ini dapat dipersatukan dengan baik dan terukur. Kurikulum nasional yang baik dan harus ditangani oleh guru-guru yang baik pula, dunia pendidikan kita sangat terasa tidak ditangani secara baik dalam 10 tahun terakhir ini. Memang anggaran belanja pendidikan sangat banyak, 20 persen dari APBN dan APBD, dana yang banyak bila tidak mempunyai program yang jelas tidak akan menghasilkan mutu pendidikan yang baik.

Pada tahun-tahun sebelumnya, anggaran pendidikan paling banyak 5 persen, tapi hasilnya jauh lebih baik dari sekarang. Pendidikan sekarang seolah-olah barang mati yang dapat diperjual-belikan, kenaikan kelas anak didik, kelulusan anak didik, dijadikan target demi nama baik seorang penguasa, pendidikan sekarang mementingkan selembar kertas, menghasilkan gelar bukan menimba ilmu atau menguasai ilmu. Semuanya diatur dan diperjual-belikan, kelulusan Ujian Akhir Nasioal harus ditargetkan dan target harus dicapai dengan berbagai cara, tak peduli cara itu menjerumuskan bangsa. Banyak penyelengggara ujian yang tidak jujur, guru berperan dalam menjawab ujian tersebut.

Alangkah sedih kalau kejadian ini akan menjadi kenyataan, oleh sebab itu penulis menyarankan: Pertama, agar Kementerian Pendidikan Nasional harus dipimpin oleh orang-orang yang profesional mengerti pendidikan dari dasar sampai perguruan tinggi. Kedua, buatlah kuriklum nasional yang baik, sebab kurikulum nasional adalah sebagai alat untuk mempersatukan bangsa yang mulai tercabik-cabik, dan tidak ada istilah dapat dibenarkan membuat kurikulum sendiri-sendiri, sebab bila membuat kurikulum sendiri-sendiri, harus diuji sendiri oleh sekeolah tersebut.

Ketiga, segera adakan pembaharuan dalam sistem pendidikan guru, kalau pendidikan guru seperti sekarang tidak mungkin kita akan mempuyai guru yang berkualitas, sebaiknya pendidikan guru dimulai dari tingkat sekolah menengah sejenis SGA. Keempat, pelajaran Matematika yang dimulai dari kelas satu hendaknya dimulai dari kelas 4, sedangkan dari kelas 1-3 diajarkan berhitung. Kelima, penulis mengajak pembaca untuk secara iseng-iseng menanyakan anak-anak kita perkalian atau pembagian yang sederhana saja, apakah mereka dapat menjawab? Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya.***

Djauzak Ahmad
Mantan Direktur Pendidikan Dasar dan Ketua Majelis Pendidikan Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:31 WIB

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 WIB

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 20:26 WIB

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:52 WIB

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh
Follow Us