Oleh: Adi Zamzam

Sujaran

21 September 2014 - 14.27 WIB > Dibaca 1651 kali | Komentar
 
Siang terik berdebu. Tapi tubuh Sutopo seperti habis diguyur hujan. Saat sekilas tadi ia melihat bayang wajah di kaca spion sebuah mobil, riasan wajahnya sudah harus diperbaiki. Luntur, sehingga membuat wajahnya terlihat lucu.

Menepi dari jalan raya. Membuka buntalan kain yang ia ikat di pinggang. Ada kaca kecil, lipstik, bedak, dan sepotong kecil pelepah pisang penampung arang berbungkus plastik. Ini masih setengah hari. Ia masih harus memperbaiki riasan wajah lagi. Setelah cahaya berada tepat di atas ubun-ubun, barulah ia akan memakai topeng.

Begitulah hampir setiap hari. Menjelang Asar Sutopo baru pulang. Riasan wajahnya sudah bersih. Setelah menyerahkan penghasilan ke istri, ia tak langsung istirahat. Kadang ada banyak pekerjaan yang bisa menghasilkan uang tambahan. Lalu, setiap jelang tidur, Sutopo harus memikirkan ke mana esok hari harus membawa jaran kepangnya. Hampir semua jalan Kabupaten sudah pernah disambangi. Mungkin orang-orang juga sudah hafal  wajahnya. Karena itu ia harus mengatur siasat, hampir setiap malam. Setiap penghasilan menurun, ia akan selalu merubah penampilan.

Dulu, keadaannya tak seperti ini. Sewaktu partai politik masih tiga saja, ia memiliki sebuah grup jatilan. Setiap musim hajatan tiba, grupnya sering kuwalahan memenuhi panggilan. Pernah mereka hanya sempat mengisi selama satu setengah jam, namun bayarannya cukup untuk makan hampir sebulan. Semenjak partai politik pecah berkeping, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Bencana itu berakar ketika Taripin, salah seorang anggota grup, masuk menjadi salah seorang kader parpol. Grup jatilan itu kemudian memang kerap manggung2 setiap kali parpol itu berkampanye. Namun setelah pemilu usai, orang-orang yang tak suka partai Taripin pun jadi antipati. Mereka lebih memilih hiburan lain yang tak ada sangkut-paut dengan partai politik. Meski kemudian Taripin memutuskan keluar dari grup. Lambat laun para anggota grup sesak napas karena sepi panggilan. Disusul kematian Pak Supar, sang pemimpin grup. Tak lama kemudian grup itu bubar.

Bagi para anggota lain, mudah saja mereka pindah profesi. Tapi tak untuk Sutopo. Dengan tarian itulah dulu ia memiliki kebanggaan dan merasa hidupnya lebih berarti.

Sudah banyak cara digunakannya. Dari mulai kerincingan yang ia tempel di jaran kepang, kostum dan rias wajah mencolok, sampai nekat mondar-mandir menyeberangi keramaian lalu lintas demi mencari perhatian (ini dilakukannya saat tak ada polisi). Ia juga sering membayangkan mempunyai tempat pentas sendiri. Pernah ia mengajak serta seniman-seniman  yang senasib, mencari lokasi yang bisa dijadikan tempat pentas tetap. Tapi tak ada yang betah karena susah memanggil penonton.

Ia tak peduli dengan omongan miring orang-orang, yang menganggapnya sampah jalanan, pemalas, atau bahkan kurang waras. Mereka mana tahu? Bahkan si Taripin, yang sudah pernah merasai empuknya kursi anggota dewan yang terhormat! Sutopo pernah bertemu sekali dengannya di sebuah perempatan jalan. Di dalam mobilnya, dia melengos sambil senyum tipis.

Hidupnya hidupnya, hidupku hidupku. Toh Tuhan akan tetap memberi cobaan hidup kepada siapapun. Kemarin Sutopo mendengar cerita itu langsung dari Mulyadi, sahabat karib semasa di grup, yang kini jadi kepala desa. Sutopo sendiri pernah diminta anak buah Taripin untuk manggung di acara kampanyenya sebagai calon bupati. Untung ia menolak. Mungkin ia takkan tega dan ikut gelisah memikirkan apa yang akan dilakukan Taripin setelah kekalahannya. Konon kini ia tertimbun utang. Beberapa hari lalu dia ke rumahnya Mulyadi, mencari pinjaman. Tanpa hasil.

Sutopo merasa hidup itu seperti mengendarai kuda jatilan. Kadang gerakannya begitu halus melenakan, kadang juga begitu kasar dan liar membuat semangat hidup ikut terguncang-guncang.
***

Sumiati, pemilik warung kelontong dekat rumah Sutopo, merasa aneh dengan kelakuan lelaki itu. Sumiati tahu benar kebiasaan Sutopo. Biasanya, setelah istrinya berangkat ke pasar, dua anak tertuanya berangkat mengajar, dan kelima anaknya yang lain berangkat sekolah, lelaki itu baru keluar dengan jaran kepang yang tergantung rapi di sepeda dan sebuah kardus (yang berisi segala kostum) di boncengan belakang. Tentu saja Sumiati tahu ke mana tujuan tetangganya itu. Sudah hampir sepuluh tahunan ia melihat kebiasaan lelaki itu. Ia juga tahu bahwa kadang (jika tak membawa serta sepeda) lelaki itu berangkat keluar kota entah ke mana.

Beli lampu balon sebanyak ini buat apa, Kang? Sumiati heran. Apa dirimu dapat pesanan? Kerja di mana sekarang?

Kerja apa sih, Sum? Masih ngalor-ngidul seperti biasanya, jawab Sutopo.

Setelah dekat pusat kota, Sutopo segera mencari musala untuk ganti kostum. Rencananya hari ini ia akan mempertontonkan hal baru lagi, setelah sepekan kemarin penghasilannya menurun. Mengeluarkan sebuah cermin kecil demi mematut wajah. Dengan jelaga bikinan sendiri, beberapa menit kemudian wajahnya sudah berubah. Kumis tebal melintang, alis mata  tebal mencuat, ekor mata tajam memanjang, ditambah dengan kaca mata hitam besar. Jelaga itu terbuat dari nyala ublik, pelita kecil yang bersumber dari minyak dalam kaleng. Asap ublik kemudian ditampungnya di pelepah batang pisang. Setelah dicampur minyak rambut, jadilah bahan rias murah meriah. Warisan ini ia peroleh dari Pak Supar, pemimpin grup yang dulu kebagian tugas sebagai pawang hujan dan merangkap sebagai penthol. Sutopo pernah juga minta diajari menjadi pawang hujan. Belum sempat semua lelakon3 ia ketahui dengan sempurna, hidup Pak Supar sudah keburu berakhir. Hujan masih menjadi musuh nomor satu Sutopo hingga kini.

Siang terik. Meski tak beralas kaki, Sutopo sama sekali tak merasakan panas aspal. Kedua kakinya laksana sudah menjelma  kaki kuda berladam yang kebal panas jalanan.

Ia memulai aksinya ketika telah sampai di alun-alun. Suara gemerincing yang mengiringi tariannya langsung memanggil semua mata. Dulu, ketika pertamakali memakai trik ini, alangkah mujarabnya. Anak-anak sekolah langsung mendekat. Orang-orang dewasa merasa perlu untuk melihat atraksi Sutopo. Namun setiap trik baru selalu hanya bertahan kurang lebih dua minggu. Setelah bosan, mereka enggan mampir. Ia pun selalu pindah tempat maksimal dua minggu sekali. Dari ini Sutopo belajar mengerti, pasti itu sebabnya mengapa setiap produk dagangan sering berubah kemasan padahal isinya masih sama. Mata begitu mudah sekali ditipu kemasan.

Gerakan Sutopo mulai mantap ketika beberapa mata mulai tertambat. Riuh kerincingan dan suara ketepok kedua kaki membuatnya terhipnotis sendiri. Gerakannya semakin menjadi. Sutopo merasa telah benar-benar menjadi seekor kuda. Istrinya tiba-tiba muncul bertengger di atas bahu, melecut-lecut punggung, mengajak serta anak-anaknya, dan kemudian berteriak bersama-sama untuk menyemangati Sutopo, Hiya hiya hiya!

Ketika seorang bule menghampiri dan melontarkan pertanyaan yang tak dimengerti, sambil senyum Sutopo masih bisa jawab, Panggil aku Sujaran.

Sebelum kesadarannya hilang, Sutopo masih bisa mengingat bahwa di kota pesisir itu memang kerap dikunjungi para bule yang sekadar ingin berjemur dan melihat keindahan suasana pantai. Beberapa menit kemudian, ketika lecutan istrinya semakin terasa dan teriakan anak-anaknya semakin nyaring di liang telinga, saat itulah Sujaran merasa amat butuh rumput.

Sujaran bergerak liar namun jelas menuju ke arah kardus yang berisi bekalnya. Di sana, ia telah menyiapkan banyak rumput. Beberapa orang menjerit histeris justru ketika Sujaran memamah rumput. Ada yang menutup wajah, ada yang memalingkan badan (namun tak beranjak dari tempatnya), ada pula yang memberanikan diri bahkan merekam adegan itu dengan telepon genggam yang ia bawa. Beberapa bule yang menonton malah bertepuk tangan sambil riuh, Great great gila gila!

Sujaran tak menyadari bahwa banyak orang telah mengerumuni, receh demi receh dan lembar demi lembar uang mulai berjatuhan di wadah plastik yang telah ia persiapkan, bahkan jalanan menjadi macet tersebab keberadaannya.

Inilah yang sebenarnya dirasakan Sujaran. Ia menjelma menjadi seekor kuda. Kuda itu begitu liarnya, membuat tubuh Sujaran terguncang-guncang sampai hampir jatuh, membuatnya teringat dengan segala pahit yang pernah ia alami. Bapaknya yang tak pernah menyukai pilihan hidupnya, pengkhianatan Taripin, penolakan gadis-gadis yang disukainya, bubarnya grup jatilan, tatapan sinis Taripin, sekolah anak-anak yang butuh biaya, rumah yang masih warisan orangtua, Temi yang harus ikut banting tulang demi ikut menjaga tegaknya tiang rumah tangga, nasibnya yang tak kunjung berubah,

Sujaran merasa harus menaklukkan yang liar itu. Sekuat tenaga. Meski kadang ia merasa hampir tak kuat, ikut menggila, dan marah-marah memaki mereka yang pernah membuat hidupnya terasa pahit. Karena itulah ia butuh banyak tenaga. Ia butuh banyak makan rumput. Sujaran merasa yang dimakannya itu adalah rumput. Meski banyak orang histeris saat melihatnya.

Ketika yang liar itu berhasil ia jinakkan, betapa leganya perasaan. Meski kemudian tubuhnya lemas sempoyongan. Dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Beberapa polisi yang datang segera mengamankan lokasi. Ada yang mengatur jalannya lalu lintas yang macet, ada yang menahan orang-orang yang ingin melihat kondisi Sutopo, ada yang bertugas membersihkan pecahan kaca lampu balon yang berserakan di sana-sini, dan ada yang segera mengevakuasi tubuh Sutopo ke tepian jalan raya.
***

Di atas pembaringan tubuh Sutopo terasa lemas sekali. Seperti habis dihajar orang beramai-ramai . Wajah Temi terlihat sembab saat menyuguhkan segelas kopi manis.
Apa yang kau tangisi? Sutopo tak suka dengan pemandangan itu.

Seharusnya Kang Topo enggak usah melakukan itu. Kang Mulyadi saja sudah enggak berani lagi melakukannya. Tentu saja Temi tahu, Mulyadi dan suaminya dulu adalah sepasang kuda lumping yang di masa mudanya telah dikenal banyak orang.

Sekolah anak-anak butuh banyak biaya, Mi. Dapat berapa tadi?

Temi tak jawab. Ia sibuk menghapus air mata yang leleh tanpa kendali. Meski selama berkeluarga dengan lelaki itu ia tak pernah berkubang harta, tapi ia tak mau kehilangan pengayom sebelum tiba masanya anak-anak bisa mandiri.

Nyeri itu mula-mula terasa ketika Sutopo mencoba bangkit. Suhu badannya masih belum turun. Seperti biasanya, selalu tak ada dokter untuk hal itu. Sutopo tak ingat apa-apa yang sudah dilakukannya tadi pagi.

Mana, aku ingin tahu dapat berapa. Enggak usah menangis, menegaskan nada bicaranya.

Dapat duabelas kali dari biasanya, Kang, karena tak ingin suaminya banyak bergerak.

Bagus. Kalau begitu besok-besok aku akan melakukannya lagi di tempat lain, ujarnya mantap. Temi tak tahu, kalau di sudut bibir suaminya ada kerut kecil akibat menahan sakit yang teramat sangat. Sakit yang berpusat di sekitar pusar.***


Adi Zamzam
Cerpen tersebar di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Tribun Jabar, Lampung Post, Radar Surabaya, Bali Post, Riau Pos, Inilah Koran, Surabaya Post, Solo Pos, Joglosemar, Koran Merapi, Banjarmasin Post, Bangka Pos, Sumut Pos, Jurnal Medan, majalah Femina, Ummi, NooR, Paras, Kartini, Story, Annida, Potret, Sabili, Cahaya Nabawiy, Mimbar Pembangunan Agama (Depag Jatim), Annida-online, majalah budaya Sagang, Tabloid Nova, Cempaka, Minggu Pagi, Serambi Ummah

Cerbung pernah dimuat di Annida-Online. Cerpen Anak pernah dimuat di Kompas Anak, Junior(lembar anak Suara Merdeka), Lampung Post, dan Majalah Aku Anak Saleh. Juga menulis Resensi Buku di Jawa Pos, Koran Jakarta, Majalah Luar Biasa, Koran Sindo, Jateng Pos, Harian Nasional, Harian Bhirawa, Koran Muria, Malang Post, Rimanews.com, Wisatabuku.com, Dakwatuna.com, Wasathon.com, Wawasanews.com, Berita99.com. Opini, esai, dan artikel lainnya tersebar di Suara Merdeka, Riau Pos, Kompas Anak, Radar Surabaya, Sabili.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us