"Jejak Swarnadwipa" di Tiga Kota

28 September 2014 - 08.35 WIB > Dibaca 1470 kali | Komentar
 
Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI) tampil memikat di Esplanede Singapura. Rino Dezapaty MBy dan kawan-kawan mendapat apresiasi dari pengunjung konser. Foto: RRCI for Riau Pos
Komunitas atau sanggar seni dituntut mampu melahirkan karya baru yang teruji. Di sinilah pertaruhan eksistensi seorang yang berpredikat sebagai komposer, koreografer, maupun sutradara selaku pengkarya.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

USIA 13 tahun bagi kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI) menjadi pencapaian yang spesial. Pasalnya, banyak kelompok musik, atau juga sanggar seni umumnya tidak berusia panjang akibat tidak mampu bertahan melawan berbagai tantangan. Diakui, komposer sekaligus pimpinan RRCI, Rino Dezapati Mby bahwa medio tahun 2011, Riau Rhythm nyaris mengalami mati suri dalam hal kreativitas disebabkan kejenuhan pada kemasan combo pada 12 karya lama Riau Rhythm.

Namun pertengahan 2013 lalu, Riau Rhythm mendapat tawaran untuk mewakili Riau pada event Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Salihara, Jakarta. Berulang kali diskusi mengenai ide apa yang relevan untuk diusung pada helat yang  diapresiasi puluhan delegasi atau kurator seni dari Asia, Eropa, dan Amerika itu. Maka lahirlah konsep Ethno-Contempo yang eksplorasinya lebih memberikan porsi lebih besar pada tradisi sebagai elemen utama penggarapan, ucap Rino.

Hal ini, dipertegas Divisi Riset RRCI, Aristofani. Konsep baru yang diusung RRCI menitikberatkan pada musik tradisi yang hidup di Kabupaten Kampar. Misalnya calempong khas Kampar, pola ritme katepak. Juga ragam nyanyian rakyat seperti Dondong, Batimang, Bughung Gasiong, Ratok, dan lainnya. Untuk tema, diambil di seputar Candi Muaratakus, Jejak Suara Suvarnadvipa. Tema ini diterjemahkan ke dalam sembilan karya musik yang dinamis.

Tema  inilah yang kemudian diusung RRCI dalam tournya sepanjang 2014, ucap Itok sapaan akrabnya sembari mengatakan karyakarya tersebut berhasil menyita perhatian publik luar Riau, terutama argumantasi Pendeta I-Tsing yang menegaskan bahwa Muaratakus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya.  
 
Esplanede Singapura
Usai konser di Anjung Seni Idrus Tintin, April 2014 lalu, Riau Rhythm melanjutkan rangkaian tour guna mempublikasikan karya terbaru Riau Rhythm. Venue pertama adalah Outdoor Theatre Esplanade Singapura. Venue ini juga merupakan imbas dari IPAM November 2013 di teater Salihara Jakarta. Program Manager Esplanade menyampaikan ketertarikannya pada karya Riau Rhythm dan menampilkannya pada 30-31 Agustus 2014 lalu di Esplanade.

Penampilan Riau Rhythm di Esplanade Singapura ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Hal itu terbukti dari survey apresiator yang merupakan satu bagian dari pekerjaan dalam program Esplanade. Menurut Itok, review pihak Esplanade disampakan via email ke Riau Rhythm oleh Farah Amalia, Program Manager.  Saya telah mendapat feedback dari beberapa orang dan mereka semua suka akan musik kumpulan RRCI. Namun, apa yang bisa membuat persembahannya lebih menarik adalah jika ada seseorang yang bisa bertutur dengan para audience untuk menerangkan dengan lebih lanjut dan clear lagi tentang latarbelakang lagu-lagu yang dimainkan, tulisnya dalam e mail.

Selain itu, tidak sedikit feedback spontan yang muncul dari audiens usai menonton karya-karya terbaru Riau Rhythm. Dua orang turis asal Canada dan Jerman yang tinggal di Jakarta dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan bahwa, Saya sangat menikmati sajian karya-karya Riau Rhythm. Saya merasakan kehadiran nuansa musikal Turki, India, Japan, dan ini dikreasi dengan indah dan luar biasa, kata Monica Seagel (42) asal Canada.

Senada dengan Ylongkha Maya (45) turis asal Jerman mengatakan sudah berjalan ke Myanmar, Turki, dan kini di Jakarta, malah dia menyaksikan musik seperti ini di Singapura, I love it. I love it. I love it,jika Riau Rhythm tampil di Jakarta 5 November nanti, saya akan mengajak semua teman saya untuk menonton, ucapnya.

Apa yang dilakukan oleh Riau Rhythm ini sebetulnya adalah upaya mengomunikasikan potensi lokal berupa nyanyian dan ragam pola musik  tradisi ke kancah Global. Venue pertama di Singapura menjadi ajang gambling bagi karya terbaru Riau Rhythm, bagaimana penerimaan audiens adalah penentu keberhasilan, kata Rino usai menampilkan karyanya di Esplanade.

Berbagi Energi di Papua
Di Jayapura dalam Rangkaian Ethno-Contempo Music Tour 2014 memiliki kesan tersendiri bagi RRCI. Kata Itok, Jayapura adalah tanah yang bersahaja, ramah, dengan kekayaan alam, dan penuh dengan kejutan. Meski pemberitaan marak di media perihal kekerasan terus membayangi pikiran. Misalnya ada infomasi dari panitia bahwa beberapa hari yang lalu terjadi pembunuhan seorang wanita hamil di daerah perbatasan Jayapura Papua Nugini. Ada juga seorang penduduk yang mengatakan daerah Waena (lokasi kompleks Museum Taman Budaya Papua) adalah lokasi terselubung gerakan Papua Merdeka (OPM). Namun untuk kegiatan seni budaya pasti aman karena seluruh warga senang dengan hiburan. Dan benar, semuanya berbeda, termasuk pertunjukan Riau Rhythm yang mendapat sambutan hangan publik Jayapura, papar Itok lagi.

Tour Riau Rhythm di Papua di rangkaian dengan acara temu karya Taman Budaya se Indonesia yang dihadiri sebanyak 24 Provinsi. Riau Rhythm mewakili Provinsi Riau dan tampil pada Sabtu  (13/9) lalu. Riau Rhythm berhasil memberi kesan puncak pada event yang digelar sejak 10 September 2014 di panggung terbuka Taman Budaya Papua.

Berbeda dengan penampilan Provinsi lain yang menyajikan karya tari, Riau Rhythm menyajikan tiga karya musik bertempo cepat/rancak. Berturut-turut, karya pertama dimulai dengan Lukah Gila, kemudan Pencalang, dan ditutup dengan Dentang Denting Dentum (3D). Kepala Taman Budaya Riau, Pulsiamitra mengatakan, sajian Riau Rhythm berhasil menjadi barometer baru karya-karya musik untuk peserta temu karya Taman Budaya kali ini. Para Kepala Taman Budaya se Indonesia menganggap karya Riau Rhythm akan menjadi rujukan untuk karya musik Taman Budaya ke depan, ujar Pulsiamitra usai pentas.

Sementara itu komposer Rino Dezapati Mby mengatakan Papua adalah venue yang penuh dengan kejutan. Ketika di panggung, yang paling penting adalah peristiwa berbagi energi dengan publik yang didukung sound system dan tata cahaya yang baik. Hal ini diakui Rino bahwa Riau Rhythm tidak dapat berharap banyak untuk kesempurnaan elemen artistik utama pada pertunjukan musik. Kami mengikhlaskan segalanya. Tapi justru energi penonton mengalir deras dan menghidupkan panggung, kata Rino.

Standing Ovation di Makassar
Konser tour Riau Rhythm berikutnya di Venue Makassar dalam rangkaian Festival Societeid de Harmonie 2014 yang di selenggarakan di gedung yang sama. Selasa (16/9) lalu, gedung Societeit de Haromonie penuh dijejali penonton dari berbagai kalangan.

Dalam kesempatan itu, Riau Rhythm  menyajikan sembilan karya dalam tema Jejak Suara Suvarnadvipa. Beragam tanggapan pun berdatangan, bahkan pada sesi diskusi budaya bertema Membaca Kondisi Kesenian Kita  yang dilaksanakan usai penampilan, berbagai tanggapan itu disertai analisa yang tajam dari sudut pandang Teater dan Seni Rupa yang menjadi latar belakang mereka.

Salah seorang  perupa, Is Hakim misalnya meminta maaf karena memilih menutup mata pada momen tertentu karya Riau Rhythm untuk memberikan porsi besar pada auditif. Imajinasi saya mengembara tak terkendali menyimak karya Riau Rhythm, kata Is Hakim dalam pengantarnya sebagai pembicara diskusi.

Selain itu, teaterawan Fahmi Syariff mengatakan sajian Riau Rhythm mengingatkannya pada Teater Tanpa Penontonnya Cak Danarto. Ketika pada karya 3D, Komposer mengajak penonton mengikuti melodi gambusnya secara spontan. Antusiasme penonton menjadikan seisi ruang riuh mengikuti melodi gambus. Di saat itu penonton menjelma menjadi pemain, ujar Fahmi.

Tour RRCI tidak berhenti sampai di situ. Menurut Rino selanjutnya pada 25 Oktober 2014 Riau Rhythm akan melanjutkan rangkaian tour ke Surabaya, Solo (27 Oktober), Yogyakarta (29 Oktober), Bandung (1 Oktober), Serang (3 Oktober), Jakarta (5 Oktober).(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us