Oleh: Adryan Yahya

Ihwal Sebuah Dompet

28 September 2014 - 08.48 WIB > Dibaca 2090 kali | Komentar
 
Udara di luar berembus seperti lidah api. Panas. Bola matahari seperti lampu pijar yang menyala, merah sekali. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan kantorku. Usai menata berkas-berkas serta surat-surat ke dalam lemari, aku gegas meraih mushaf kecil dari saku. Dengan suara rendah, kudendangkan ayat demi ayat dengan hati gembira. Tinggal 8 halaman lagi, aku akan khatam yang kedua.

Hari ini sudah ramadhan ke 25. Tiga hari lagi kami akan libur panjang. Bendaharawan kantor sudah memberitahu sejak jauh-jauh hari jika gaji kami akan keluar hari ini. Plus THR. Jika dijumlahkan, angkanya mencapai 2,5 juta rupiah.   

Aku terus membaca Al-Quran. Sembari sesekali melihat pintu. Siapa tahu ada rekan kerja yang sudi mengajakku pulang bersamanya. Maklum, dua hari ini, aku hanya bisa memanfaatkan jasa angkutan kota untuk pulang dan pergi ke kantor. Motorku mogok. Beberapa onderdilnya harus diganti. Maklum, usianya memang sudah cukup renta saat pertama kali aku membelinya dua tahun yang lalu.
   
Akhirnya, yang paling kutunggu-tunggu datang juga. Pak Mulyadi, bendaharawan kami masuk ke dalam ruanganku sembari menyerahkan sebuah amplop. Ini gaji bulan ini, plus THR. Semoga berkah dan bermanfaat, kata Pak Mulyadi melemparkan senyum ramah.

Bapak pulang jam berapa hari ini? tanyaku.

Sepertinya jam 7 malam. Soalnya saya harus membezuk Ibu saya dulu di rumah sakit. Ada apa?

Ah, tidak apa-apa.

Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.

Aku mengangguk. Lesu.

Aku melangkah menuju jalan raya, kembali menikmati hiruk-pikuk kota. Berbagai aneka hidangan berbuka mewarnai pinggiran jalan raya dengan kerumunan manusia yang semakin banyak tiap detiknya. Aku menyetop sebuah bus kota. Naik, lalu berdiri di antara penumpang yang berjejal. Tak ada lagi bangku kosong yang tersisa. Panas yang menyengat membuatku semakin kelelahan. Tenggorokanku terasa terbakar.

Satu dua penumpang turun naik, silih berganti. Semakin banyak, semakin berjubel. Aku memandang ke ujung jalan. Menyerukan kata kiri sebagai isyarat bahwa aku sudah sampai di tempat tujuan. Bus kota berhenti. Aku mengangsurkan uang 3.000 rupiah pada sang kondektur, lalu turun dengan tergesa.

Bus kota kembali melaju. Aku melangkah gontai sembari menghampiri pedagang tajil yang berteduh di bawah pohon akasia. Aku memilih-milih beberapa makanan yang ingin kubeli, lalu memasukkanya ke dalam plastik. Tetapi, ketika akan membayar, aku  mendapati saku celanaku telah kosong. Aku terhenyak. Di mana dompetku?

Ya Allah! Aku kecopetan! Tubuhku lemas. Apalagi saat menyadari jika uang gaji senilai 2,5 juta itu juga telah kumasukkan ke dalam dompet itu.
 
Bapak sakit? tanya pedagang tajil itu kebingungan ketika melihat wajahku yang memucat.

Maaf, Mas, saya tidak jadi beli, ucapku, bergetar, menahan tangis. Aku melangkah menjauh, lalu memilih duduk di sebuah bangku taman untuk menenangkan diri.

Lebaran ini aku sudah berjanji pada istri dan kedua anakku untuk membelikan mereka pakaian baru. Kontrakan rumah sudah 2 bulan menunggak. Jika bulan ini masih menunggak lagi, mau tidak mau kami terpaksa harus keluar dari rumah itu. Lalu, aku pasti akan dianggap anak yang paling durhaka lantaran janjiku untuk mudik tahun ini tak bisa kutepati. Padahal sudah 3 tahun berturut-turut aku batal pulang kampung. Ya Allah... tolong aku!

Berkali-kali kulafaz istighfar. Namun gundah di hatiku tak kunjung mereda. Tanpa kuduga, seorang pengemis menghampiriku.

Nak, kasihanilah saya. Sudah dua hari saya tidak makan. Pengemis itu terlihat memelas sekali. Kuteliti wajahnya yang keriput, lalu matanya yang cekung, hingga bibirnya yang kering dan pucat. Seketika, timbul rasa iba di hatiku.

Maaf, apakah saat ini Ibu sedang berpuasa? tanyaku hati-hati.

Pengemis itu mengangguk. Dua hari ini saya hanya meneguk air putih untuk sahur dan berbuka puasa.

Ya Allah... Aku menjerit dalam hati. Begitu terenyuh mendengar pengakuannya. Kurogoh saku kemejaku. Hanya tersisa 2.000 rupiah. Segera kusodorkan selembar uang itu ke padanya. Maaf, Bu. Hanya ini uang yang saya punya. Mudah-mudahan bermanfaat, ucapku, parau.

Terimakasih, Nak, ucapnya lirih.

Saat pengemis itu berlalu, air mataku jatuh berderai. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Kubayangkan senyum istri dan kedua anakku di rumah. Pasti mereka sedang menanti-nantikan kedatanganku. Ah, entah apa yang harus aku katakan pada mereka nanti. Tak tega rasanya aku, jika membuat mereka kecewa.

Tertatih aku melangkah. Sepanjang jalan, aku berdoa, semoga istri dan anak-anakku bisa menerima dengan hati tegar dan ikhlas. Karena, mau tidak mau aku tetap harus berterus terang pada mereka. Mudah-mudahan musibah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kami kelak.

Tak terasa, kedua kakiku telah sampai di depan pintu. Ragu, kuketuk perlahan. Lalu kuucapkan salam. Asaalamualaikum...

Waalaukum salam..., sahut suara dari dalam. Tak lama, pintu terbuka. Wajah istriku menyembul di balik pintu. Senyumnya merekah. Segera diraihnya tanganku, lalu menciumnya dengan penuh cinta.

Kedua anakku berlari menghampiriku. Horeee... Abi  sudah pulang!

Aku segera menciumi keduanya. Kupasang senyum termanisku, lalu menceritakan hal-hal indah yang sempat kutemui hari ini.
Usai mandi, aku segera menuju meja makan. Berbagai hidangan berbuka telah terhidang di sana. Begitu mengundang selera. Hingga azan magrib berkumandang, dan kami berbuka bersama, gundah di hatiku tak juga kunjung mereda.

Kami lalu salat magrib berjamaah hingga usai. Berdoa dengan penuh harap, hingga tanpa sadar, aku menangis. Istri dan kedua anakku lalu menyalami dan mencium tanganku. Situasi ini membuat debar-debar di jantungku berdetak kian kencang. Tetapi, aku merasa, saat inilah waktu yang paling tepat untuk menceritakan semuanya. Aku menarik napas dalam-dalam.

Tok tok tok...! Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

Sepertinya ada tamu, ucap istriku sambil melipat sajadahnya.

Biar Abi saja yang buka, sahutku, bergegas menuju ruang tamu. Kubuka pintu, lalu mengenali wajah yang menyembul di balik pintu. Ah, ternyata beliau Pak Mulyadi, bendaharawan kantorku. Senyumnya merekah.  

Setelah berbasa-basi sejenak, Pak Mulyadi lalu menyodorkan sesuatu padaku. Ini dompetmu, tadi terjatuh di bawah meja kerjamu, ucapnya, senyumnya terkembang.

Ya Allah...! aku terpekik. Tak tahu harus berkata apa lagi. Segera kuperiksa isinya, masih utuh, tak ada yang kurang sedikitpun! Berkali-kali kuucap hamdalah, hingga air mataku bercucuran dengan derasnya.

Terimakasih Pak Mulyadi, terimakasih, aku tergugu dalam pelukannya.

Pak Mulyadi menepuk-nepuk pundakku. Allah masih memelihara rejekimu. Rejeki yang didapat dengan cara yang halal tidak akan pernah sia-sia. Ia pasti akan kembali pada orang yang berhak, Pak Mulyadi melepas pelukanku lalu mengambil sebuah tas plastik dari dalam mobilnya.

Ini ada sedikit hadiah dari ibuku. Mudah-mudahan bermanfaat.

Terima kasih, ucapku, menyambut pemberiannya. Pak Mulyadi lalu mohon diri.

Segera kutemui istri dan anak-anakku. Di hadapan mereka, kukeluarkan seluruh isi tas plastik pemberian Pak Mulyadi itu. Ternyata ada 4 potong pakaian. Satu potong untukku, satu potong untuk istriku, dan dua potong lagi untuk kedua anakku.

Kulihat, mata istri dan anak-anakku berbinar-binar. Ini pemberian dari siapa, Abi?
Pemberian dari Allah... sahutku, menyusut genangan air mata.***




Adryan Yahya
adalah nama pena dari Ahmad Ijazi H, kelahiran Rengat Riau, 25 Agustus 1988. Pernah menjadi pemenang 1 lomba menulis puisi nasional majalah Story kategori umum Jakarta 2010, Pemenang 2 LMCR nasional PT. Rohto Laboratories-Rayakultura Jakarta 2009, Nominator lomba menulis cerpen Kemenpora 2011, 10 besar lomba menulis puisi Tulis Nusantara-Kemenparekraf 2013, 10 besar menulis Puisi Esai-Jurnal sajak 2013, dll. Saat ini mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru. Bergiat di FLP Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us