Fedli Aziz

"Anak Haram"

12 Oktober 2014 - 08.11 WIB > Dibaca 1464 kali | Komentar
 
Fedli Aziz
Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin ibarat ‘anak haram’ dari ‘hubungan gelap’ penguasa negeri yang congkak untuk mendapatkan keuntungan berlipat-lipat ganda dalam sekejap mata. Gedung megah yang pembangunannya menelan dana APBD Riau kuranglebih Rp160-an miliar itu tampak ‘gagah’ dari luar dan secara otomatis menjadi kebanggaan masyarakat Riau sejak tujuh hingga delapan tahun terakhir.

Gedung kesenian terbaik di Sumatera dan satu dari sedikit gedung kesenian terbaik di Indonesia itu seakan memberi kesan negatif, betapa kita hanya suka membangun namun tak pandai merawat sesuai fungsinya. Dan Anjung Seni Idrus Tintin hanyalah satu dari sekian banyak proyek multiyears yang terbengkalai di provinsi ini. Atas dasar itu pula, ratusan seniman yang menamakan diri Forum Seniman Riau, disingkat Forser bergerak secara kolektif untuk mengetuk hati pejabat yang ‘pekak’ dan ‘tuli’ agar melirik kembali ‘anak haram’ yang ditinggalkannya begitu saja.

Aksi protes ala seniman itu digelar secara elegan dengan membuat helat bernama “Kampong Seni” di Laman Bujang Mat Syam, komplek Bandar Serai (purna MTQ) Pekanbaru, 7-9 Oktober lalu. Sedikitnya, tercacak  sekitar 28 tenda di kawasan itu dengan bentuk dan kreasi masing-masing yang seluruhnya ditanggung komunitas seni yang ikut berpartisipasi. Hasilnya, di hari ketiga, tiba-tiba saja, Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman hadir di tengah-tengah seniman untuk melakukan dialog dan mendengarkan secara seksama keluhan para seniman yang dianggap sepele oleh pejabat ‘pekak’ dan ‘tuli’ pada bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Para seniman dengan tegas menyatakan, Anjung Seni Idrus Tintin menjadi salah satu bentuk kemalangan Riau yang memang dilahirkan dari tumpukan kemalangan seperti keberadaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah sejak lepas dari Sumatera Tengah, 1957 silam. Kekayaan yang dimilikinya tidak membuat rakyat Riau sejahtera dan bebas dari kemiskinan. Bahkan, kekayaan itulah yang menjadi sumber kemalangan tak terelakkan hingga saat ini. Karenanya, para seniman yang tergabung dalam wadah solidaritas menuntut agar pemerintah daerah tidak lagi menambah panjang daftar kemalangan di negeri ini. Tidaklah sulit mengurus gedung dan kawasan Bandar Serai yang sudah diazamkan sebagai Art Center Riau, jika saja pejabat kebudayaan dan kesenian mau mengobati ‘kepekakannya’ yang sudah berlangsung bertahun-tahun angin.

Plt Gubri memang telah menyatakan janjinya untuk segera melakukan koordinasi lintas dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Ia juga berjanji untuk segera membenahi dan membentuk Badan Pengelola (BP) Anjung Seni Idrus Tintin sesuai dengan harapan seniman dan budayawan Riau selama ini. Seniman juga mengharapkan, janji itu segera diwujudkan karena keberadaan Anjung Seni Idrus Tintin dalam kondisi ‘kritis’ dan memerlukan sentuhan pemerintah dalam hal ‘pemulihan’-nya. Seniman juga berharap Plt Gubri tidak ‘lupa’ pada janjinya sebab tugas seniman adalah melawan ‘lupa’ melalui karya-karya kreatif mereka.

Saat ini, kondisi dalam gedung yang megah, terlihat dari luar    itu cukup memprihatinkan. Gedung yang seharusnya mempermudah kerja seniman untuk menggelar karyanya, malah menjadi beban. Untuk menggelar karya di dalam gedung itu, seniman harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena lampu-lampu dan sound system sudah rusak parah. Ditambah lagi, ketiadaan alat pendingin atau air conditioner (AC) memaksa seniman merogoh kantong lebih dalam untuk menyewa genset dan AC yang semalam sewanya bisa memakan biaya hingga Rp10 juta. Belum lagi, membayar para operator, petugas kebersihan, keamanan dan lainnya. Alhasil, siapa pun yang menggunakan gedung itu, mau tidak mau harus menyediakan uang banyak. Biasanya, jika seniman menggelar karya di gedung itu, maka mereka, mau tidak mau harus menanggung hutang hingga puluhan juta rupiah, karena tiket yang terjual hanya mampu menutupi setengah dari biaya produksi.

Beberapa seniman berujar, “Kami tidak iri, apalagi dengki atas kepergian dinas kebudayaan dan pariwisata ke Jerman, Korea atau ke mana pun. Bagi kami itu biasa-biasa saja tapi kami tidak terima, hura-hura alias kerja mubazir yang dilakukan dinas itu tidak diimbangi dengan pemeliharaan gedung pertunjukan yang berdiri tegak di depan hidung mereka. Dan jelas-jelas bahwa gedung itu tanggung jawab mereka.”

Seniman, dari berbagai percabangan seni seperti teater, senirupa, sastra, musik dan tari, secara kolektif telah mengingatkan dan melakukan aksi damai hingga berkali-kali, agar pemerintah tidak ‘absen’ dalam upaya pembinaan seni yang menjadi mata pisau dari Visi Riau 2020, yang tinggal lima hingga enam tahun lagi. Meski visi itu hanya bersifat politis namun janji yang diumbar di depan ‘cermin dunia’ harus ditepati, tepat pada waktunya. Seniman tidak menjadikan itu visi sebagai landasan untuk berkarya sebab bagi seorang seniman, ada tidaknnya Visi Riau 2020 yang berazam menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara, mereka akan tetap menghasilkan karya-karya kreatif. Bahkan tanpa bantuan dan perhatian pemerintah maupun pihak lainnya sekalipun. Berkarya, bagi seorang seniman kreatif hukumnya wajib. Percayalah...


Fedli Aziz
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us