Spirit Kesadaran Budaya

12 Oktober 2014 - 08.14 WIB > Dibaca 1410 kali | Komentar
 
Selama tiga malam berturut-turut (7-9 Oktober 2014), para seniman dan pekerja seni yang tergabung dalam Forum Seniman Riau (Forser) mengadakan helat yang diberi nama Kampong Seni.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Sebuah kegiatan yang kemudian tercetus dari berbagai persoalan seni budaya yang sedang terjadi di bumi Riau ini. Sebuah helat yang dilaksanakan atas keihklasan ratusan seniman yang kemudian, hanya dengan bermodalkan semangat kebersamaan, membangun tenda atau lapak di sekitaran Laman Bujang Mat Syam, komplek Bandar Serai (purna MTQ) Pekanbaru.

Selama tiga hari itu pula, para seniman menggelar karya kolaborasi seni, diskusi seni dan juga talk show. Willy Fwi selaku kordinator program Kampong Melayu menyebutkan kegiatan ini murni dari hati nurani para seniman dan kegiatan ini juga bagian dari serangkaian kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya dalam rangka kepedulian para pekerja seni terhadap berbebagai persoalan seni budaya di Riau terutama terkait dengan keberadaan Anjung Seni Idrus Tintin yang tidak diperhatikan pemerintah.

Tentu saja, harapan kita bersama, di samping sebagai ajang silaturahmi bagi para seniman, kegiatan Kampong Melayu ini dapat pula membangkitkan atau menumbuhkan spirit kesadaran akan pentingnya kebudayaan dan kesenian dalam pembangunan negeri ini, ucapnya.

Peran Penting Media
Sebagai pembuka talk show malam pertama, Selasa malam (7/10), Forser memilih tema Media Sebagai Corong Seni dan Budaya di Provinsi Riau. Hadir dalam talk show tersebut, Ketua PWI Riau Denni Kurnia, Seniman Budayawan Riau Taufik Ikram Jamil, Kabiro Humas Yoserizal Zen dan Pakar Komunikasi Onggo IKJ.

Bincang-bincang yang langsung dipandu Bens itu digelar di halaman terbuka, tepatnya di tengah-tengah Laman Bujang Mat Syam. Diterangi lighting seadanya, para narasumber kemudian mengeluarkan pendapat pemikiran mereka terkiat dengan pentingnya keberadaan media sebagai corong seni dan budaya.

Denni Kurnia menyebutkan dalam kesempatan itu, jurnalistik dan seni budaya sesungguhnya tidak bisa dipisahkan. Dianya seperti kuku dan ruas, hal itu dikarenakan sejarah Riau berkaitan erat dengan kekayaan seni dan budaya. Dapat dilihat, lanjut Denni bahwa apapun media yang terbit di Riau dalam arti, koran yang cukup diminati oleh masyrakat, pasti ada halaman atau space untuk tulisan yang berkaitan dengan seni dan budaya.

Hanya saja, persoalannya, seperti yang sudah pernah diteliti oleh kawan-kawan di sini, bahwa Riau meskipun daerah yang berbudaya tapi belum mampu menjadikan media untuk meningkatkan budaya membaca, karena jumlah examplar dari tebrit masih sangat kecil dibandingkan dari daerah lain di inonesia apalagi asia tenggara. Koran-koran di Riau belum mampu menjadi resensi budaya bagi masyarakat. Hal itu dikarenakan jumlah examplar dari penerbitan koran setiap harinya masih sangat kecil dibandingkan dari jumlah penduduk yang ada di Riau. Nah, itulah tantangan kita ke depannya ucap Denni.

Sementara itu, berkali-kali ditegaskan Taufik Ikram Jamil bahwa media itu sangat penting bagi perkembangan seni budaya di suatu daerah. Tetapi persoalan media belum berhasil meningkatkan minat baca, menjadi referensi budaya, menurutnya hal itu masalah umum, dialami di seluruh kawasan yang ada di Indonesia ini.

Dijelaskan mantan wartawan Kompas itu, media di manapun berada saat ini, baik di tingkat lokal maupun nasional, media itu seperti anak kandung mulai mendurharka kepada ibundanya yaitu seni. Anak kandung seni itu ada dua, pertama kesenian dan kedua adalah media. Artinya media itu lahir karena ada kesenian dan itu sudah terbukti dalam sejarah, tegasnya.

Namun dalam perjalanannya, media dirampok oleh kepentingan sektor lain seperti hukum, politik dan kapitalis yang lebih memperhitungkan keuntungan dan itu juga yang menyebabkan tumbuh suburnya industri media. Kesenian akhirnya ditinggalkan. Paling tidak, media juga turut memikirkan bagaimana tentang sebuah pemberitaan seni dan budaya, bagaimana memikirkan perkembangan kesenian itu melalui pemberitaan-pemberitaan yang tidak hanya sebatas kabar singkat. Saya berfikir hal itu masih sangat jauh dari yang diharapkan, ucap penyair senior Riau itu.  

Tapi yang kemudian menjadi penting bagi para seniman, Taufik mengingatkan berkarya saja yang bagus. Usah peduli persoalan lain karena mutiara yang bagus yang dilahirkan pasti akan muncul di permukaan dan itu tidak akan bisa ditolak.

Sebagai Kabiro Humas, Yoserizal Zen juga membenarkan apa yang disampaikan Taufik Ikram. Kebudayaan dan kesenian tampaknya tidak menjadi penting bagi sejumlah awak media yang ada di Riau. Padahal jelas, negeri yang bernama Riau ini memiliki visi dan misi yang diantaranya adalah menjadikan pusat kesenian dan  kebudayaan di bentangan Asia Tenggara. Hanya ada beberapa awa medialah yang komfirmasi tentang kebudayaan, tapi sebnyak itu awak media, semuanya lebih fokus bertanya tentang sektor lain. nah, ini yang menurut saya menunjukkan bahwa budaya dan snei itu belum dipentingkan oleh media akibatnya pemberitaan terkait dengan kebijakan pemerintah, perkembangan seni dan budaya tidak muncul untuk diparesiasi masyarakat sehingga terjadilah kezaliman budaya, musibah kebudayaan dan lain-lain, ucap Yoserizal.

Berbicara tentang komunikasi, Onggo IKJ menyebutkan persoalan yang terpenting dalam setiap hal adalah komunikasi. Seperti halnya, protes kreatif yang dilakukan seniman saat ini juga merupakan persoalan komunikasi. Begitu juga kemudian kaitannya dengan media. Seharusnya di zaman ini, mengkomunikasikan sesuatu itu tidaklah rumit, diantaranya dengan memanfaatkan media sosial misalnya. Tetapi kemudian, hari ini untuk mencari info kesenian Riau di google misalnya, sangat sedikit. Itu artinya, memang seni budaya belum menjadi hal yang prioritas untuk dikabarkan. Justru yang banyak ditemui itu adalah blog-blog personal, orang-orang yang punya perhatian pada kesenian Riau tetapi juga tidak bertahan lama, jelasnya di hadapan para seniman dan pekerja seni yang menjadi warga di Kampong Seni tersebut.

Pengembangan Seni Budaya
Ada pihak yang selalu berkaitan dengan perusahaan-perusahaan yang tumbuh di sebuah daerah yaitu masyarkat. Dengan demikian, ada yang namanya sebuah tanggung jawab sosial untuk ikut memberdayakan masyarakat yang ada, yang menjadi stake holder. Hal itu dikemukakan Bens selaku moderator dalam talk show Kampong Seni malam kedua, Rabu (8/10). Hadir dalam kesempatan itu, budayawan dan seniman Riau Al Azhar, Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia Provinsi Riau Peri Akri dan Elita Sofyan selaku Sekjen bagian CSR PT Bumi Siak Pusako.

Al Azhar dalam penjelasannya menegaskan pentingya tanggung jawab kebudayaan dari pihak perusahaan yang bercokol di Riau ini. Dengan memberikan pemahaman yang sederhana, kata Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau itu, bahwa selain migas, sawit, indusri kehutanan, yang membuat nama dan marwah Riau ini tegak dipentas dunia ini adalah seni budayanya. Itulah  kata kuncinya, bahkan identitas Riau, identitas Melayu itu yang peduli, yang paling banyak mengebannya adalah seniman. Kita tidak berharap banyak kepada kawan-kawan di politik, birokrasi, apalagi pengusaha.  Tapi kepada para senimanlah kita berharap ada dinamika keMelayuan, kebudayaan, keRiauan itu, jadi sudah sepantasnya memang seni budaya itu digeser posisinya dari pinggiran pemikiran kawan-kawan dunia usaha ke tengah sebagai satu diantara titik central yang memerlukan treatment melalui program CSR perusahaan-perusahaan itu. Karena apa? Jika kelompok-kelompok ini tidak ada lagi, maka Riau itu tidak ada lagi, namanya saja yang ada tapi jiwanya tidak ada lagi, rohnya akan hilang. tegas Al Azhar.

Selama ini, seni budaya itu selalu ditempatkan di pinggir kepedulian. Padahal melalui kreatifitas dari karya-karya para seniman sebenarnya mempersembahkan sebuah potret sosial yang merupakan bagian dari rasa sayang seniman kepada negeri ini, kepada nilai-nilai kemanusaiaan.  Orang di luar sana bisa melupa tapi seniman-seniman ini musuh utamanya adalah lupa, tidak mungin mereka mempertahankan karya-karya mereka kalau mereka mengidap amnesa, sudah mengidap lupa. Artinya seniman-seniman tidak hanya peduli pada pengkaryaan mereka tapi juga persoalan-persoalan dari ketidakadilan negeri ini, jelas Al Azhar sembari memberikan contoh gerakan seniman beberapa tahun lalu dalam perebutan CPP Blok atas keberadaan PT Bumi Siak Pusako. Gerakan perebutan itu dulu, di lahan 12 hektar Bandar Seni Raja Ali Haji inilah pusatnya.

Menanggapi dari apa yang diperbincangkan malam itu, Peri Akri mewakili dari pengusaha-pengusaha yang menjadi member di dalam kepengurusan Apindo, mengatakan ada keterputusan komunikasi yang terjadi selama ini. Peri sangat setuju dengan apa yang disampaikan Al Azhar bahwa seni dan budaya harus di ketengahkan posisinya di Riau yang memiliki cita-cita sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di Asia Tenggara. katanya, mellaui forum malam itu, semua pihak terkait dengan situasi keberpihakan seni dan budaya, bagaimana nantinya kepedulian bersama terhadap seni dan budaya di riau ini harus ditingkatkan.

Tidak ada masalah, silakan seniman mengajukan program yang kalau bisa disusun menjadi kalender tahunan. Dan memang selama ini, pemahaman orang terhadap seni budaya terutam kami di bidang usaha ini sangat terbatas. Lewat forum ini, dengan tidak mendahului pengurus Apindo secara keseluruhan, secara personal menilai apa yang dilakukan kawan-kawan seniman luar biasa, jarang sekali kita meilhat agenda even seperti ini. Bahkan menurut saya, pemerintah harus peduli, kami percaya, member-member yang ada di Apindo pasti bisa lebih peduli, ucapnya yang kemudian disambut tepuk tangan dari para seniman.

Senada dengan itu, Sekjen CSR PT Bumi Siak Pusako juga menyatakan hal serupa bahwa sinergitas yang akan dibangun guna memajukan seni dan budaya itu perlu diperhatikan dan dibicarakan anatara seniman dan pihak usahawan. Tidak ada urusan yang susah asal legalitasnya jelas, asal tujuan kegiatannya jelas. Hanya saja kami berharap, jangan Cuma melakukan kegiatan yang satu kali kemudian hilang, sehingga tidak adah yang bisa kita banggakan. Bagiamanapun,  segala bantuan itu kemudian akan dilakukan proses audit yang berlapis-lapis jadi misalnya kami memberi bantuan juga akan diaudit. Silakan lakukan kegiatan apapun, asal kegiatannya jelas, legalitasnya jelas. Kami akan siap membantu, ujar Elita.

Berpihakkah Legislatif dan Eksekutif?
Provinsi Riau sudah menisbatkan negerinya untuk menjadi sumbu kebudayaan dan kesenian di bentangan Asia Tenggara. Tetapi untuk mencapai visi dan misi tersebut tidaklah hanya dengan sebuah kehendak bersama tetapi juga harus diturutkan dengan kebijakan dan juga  tindakan yang nyata.

Pada hari ini, masyarakat Riau sedang berada di sebuah generasi kekuasaan yang sedang memekakkan diri dari suara-suara kesenian dan kebudayaan dan aneh nya dalam situasi ini pula, di mana-mana tempat, pemerintah negeri masih saja berani mengatakan bahwa Riau memiliki begitu banyak potensi budaya dan seni yang bisa dikembangkan tapi tidak pernah dilakukan. Hal itu diutarakan salah soerang seniman Syaukani al Karim dalam helat talk show Kampong Seni malam ke tiga, Kamis (9/10) yang mengambil tema tentang keberpihakan legislatif dan eksekutif bagi pengembangan seni dan budaya.

Katanya, Riau begitu banyak formula tentang kebudayaan yang tersusun sudah puluhan tahun lalu. Tapi yang menjadi persoalan adalah bukan seperti apa formula yang ada tapi tindakan yang diambil sehingga formula yang dibuat dapat diimplementasikan dan diterapkan.  Kawan-kawan seniman sudah melakukan sejumlah tindakan dengan semangat yang besar untuk memajukan seni dan budaya tapi hal ini diibaratkan gayung tidak bersambut. Kita selalu mengakui, kekuatan kebudayaan sebagai penopang, penanda, dan lain sebagainya tapi ini tidak mendapat tempat. Anehnya, ketika pemerintah berkunjung ke luar negeri, mereka singah di pusat-pusat kesenian tapi mereka tidak meyelesaikan persoalan-persoalan yang ada didepan mata hari ini seperti halnya Anjung Seni Idrus Tintin yang menyergam di hadapan kita ini, ucap Syaukani.

Dengan melihat kondisi yang ada, sekonyong-konyongnya terbit suatu kesimpulan bahwa pemerintah barangkali menganggap kesenian dan kebudayaan itu semacam diperlukan dan tidak diperlukan, ketika misalnya untuk menyambut tamu-tamu agung datang, seolah-solah seni budaya itu diperlukan tapi setelah itu apakah dapur seniman ada beras atau tidak, tidak pernah dipertanyakan. Inilah saya kira perlu menjadi landasan sebagai sebuah gambaran bagi kawan-kawan kita di legislatif dan eksekutif dalam melakukan pembahasan dan kebijakan dalam keberpihakannya terhadap perkembangan seni dan budaya, tutupnya.
Hadir sebagai naraumber pada malam itu, budayawan sekaligus mantan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Riau, Dr Chaidir MM yang didampingi oleh salah seorang perwakilan dari legislatif, Bagus Santoso serta koreografer Riau, Iwan Irawan Permadi.
 
Dalam dekade beberapa tahun belakangan, Chaidir menilai keberpihakan pemerintah terhadap seni dan budaya itu yang belum tampak sepenuhnya. Padahal kebudayaan itu menjadi salah satu visi dan misi provinsi Riau, menjadi sesuatu yang akan dituju dan bahkan sudah diperdakan.  Satu hal yang disadari betul, lanjut Chaidir bahwa, seni budaya dijadikan salah satu pilar pembanguna karena adanya kesaadaran kebudayaan, pembangunan tanpa diikuti dengan kebudayaan dan kesenian, pembagunan yang dilakukan akan kering kerontang.  Itulah kesadarannya, kita sudah menjadi sebagai negeri Melayu yang dari dulu sudah ditandai dengan budaya Melayu, kenapa tidak budaya Melayu itu menjadi identitas pembangunan sehinga pembangunan di bidang sektor lainnya bernafaskan budaya Melayu karena itu, sudah barang tentu semua kegiatan dan program harus terpayungi dari visi dan misi tersebut, jelas Chaidir.

Berbicara tentang keberpihakan, Iwan Irawan Permadi  dalam kesempatan itu mengemukakan sebetulnya apa yang dilakukan pekerja seni selama tiga hari ini sudah menunjukkan berpihak kepada pemerintah, tinggal lagi pemerintah berpihak atau tidak. Dan pada hari ini, keberpihakan itu yang diragukan oleh seniman karena di lapangan misalnya ditemui ada banyak kegaitan seni dan program yang diusulkan senoiman ke SKPD seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yang pada hari ini dicoret bahkan tidak diadakan lagi.

Mereka (SPD red) membuat progarm sendiri tanpa melibatkan seniman dan budayawan dan kalau pun kita masukan program, seolah-olah kita hanya menjadi EO saja. Sebenarnya kan, keinginan dari pekerja seni tidak banyak, yang penting bagimana ada perhatian dan fasilitas karena teman-teman jujur berkesenian karena berkesenian ini kan tujuannya untuk bersilaturahmi bukan mau kaya, jelas Iwan.  

Selain itu, mewakili pihak legislatif, Bagus Santoso mengatakan terkait dengan visi dan misi Riau 2020, tentu saja fokusnya adalah seni dan budaya tapi memang tidak dapat dinafikan bahwa Riau harus membenahi infrastruktur dan fasilitas yang ada. Diakuinya, bersama kawan-kawan, Dia sudah pernah mengusulkan ada dinas kebudayaan tersendiri di Provinsi Riau ini seperti di Kepri, Bali namun dalam perjalannya, kandas. Itu artinya, keberpihakan terhadap seni dan budaya belum dirasakan oleh semua pihak. Tapi saya yakin bahwa kita tidak akan berhenti sampai di sini, apalagi dengan adanya seniman yang terus memberikan semangat seperti ini, inilah modal kami untuk terus berjuang, mari kita berjuang bersama-sama, ucapnya.

Talk Show Kampong Melayu yang ditaja oleh Forum Seniman Riau (Forser) pada malam penutup itu kemudian  mendapat kejutan  yang tak diduga sama sekali. Plt Gubernur Riau, Arsyad Juliandi Rachman didampingi Kabiro Humas, Yoserizal Zen tiba-tiba berkunjung ketika acara sudah sampai di penghujung.  Tentu saja, ketibaan Plt Gubernur di kawasan Purna MTQ Bandar Serai itu dapat mengobati kekecewaan para seniman atas ketidakhadiran Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau yang telah diundang jauh-jauh hari sebelumnya.  Kontan saja tarian dan nyanyian yang sedang dilakukan, kemudian langsung ditujukan untuk menyambut kedatangan Arsyad Juliandi Rachman beserta rombongan.  

Setelah mendengar keterangan dari pembawa acara, Bens tentang maksud dan tujuan atas pelaksanaan helat Kampong Melayu tersbeut,  Arsyad Juliandi Rachman mengemukakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh seniman karena menurut beliau, hal ini adalah sebuah gerakan untuk sama-sama membangun seni dan budaya di Riau ini. Artinya, seniman sedang prihatin dengan persoalan seni dan budaya di Riau, salah satunya tidak adanya komunikasi yang terbuka, khususnya dari Dinas Kabudayaan dan Pariwisata di provinsi, ucap Plt Gubernur Riau tersebut.

Arsyad Juliandi Rachman  juga mengakui, Riau tidak hanya dibangun dari sektor ekonomi, politik dan lainnya tetapi kebudayaan dan kesenian juga merupakan elemen penting untuk diperhatikan. Oleh karenanya, kata Arsyad untuk ke depan, tentu saja pemerintah juga akan belajar dari seniman melalui masukan dan pemikiran dalam hal upaya membangun seni budaya di Riau ini lebih maju. Tentu dinas yang terkait nantinya akan saya panggil dan akan saya juga ingin tahu sejauh mana pembinaan, cara bermitra dengan bapak ibu seniman selama ini,

Sedangkan terkait dengan Anjung Seni Idrus Tintin, Arsyad mengatakan akan memprioritaskan untuk menangani segala persoalan yang terjadi pada gedung kebanggaan masyarakat Riau itu. Karena setahu beliau, gedung itu memang dibangun untuk digunakan dalam hal menampilkan berbagai bentuk kesenian yang ada di Riau.  Gedung ini sebetulnya kebanggan bagi kita, ikon seni dan budaya. Dulu dibangun untuk menampilkan berbagai macam kesenian,  sayang juga tidak optimal kita gunakan dan malah hancur. Dan saya akan prioritaskan untuk mengecek segala kekurangan yang ada, ucapnya sembari menambahkan Riau sebenarnya harus maju di bidang seni budaya,perlu adanya pengkaderan, seniman dan kegiatan seni budaya juga perlu didorong  karena Provinsi Riau memiliki visi dan misi sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di bentangan Asia Tenggara.

Kunjungan Plt Gubernur itu juga dimanfaatkan bagi para seniman untuk berbagi rasa dan berdiskusi tentang segala persoalan seni dan budaya. Tampil menyampaikan aspirasi misalnya, Hang Kafrawi, Willy Fwi, Udin Semekot dan Syaukani Al Karim di antara puluhan seniman dan pekerja seni yang menjadi warga Kampong Seni selama tiga hari tiga malam tersebut.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us