Oleh: Budi Afandi

Pembunuh Ibu

12 Oktober 2014 - 08.16 WIB > Dibaca 5572 kali | Komentar
 
Telah lebih satu bulan aku merasa begitu dekat dengan kematian. Kadang rasanya lebih dari sekadar dekat. Seolah aku telah melihat wajah kematian, wajah gelap berlatar kilau putih seperti wajah yang berada tepat di depan matahari. Malah belakangan ini aku sudah seperti mencium bau kematian yang seperti bau dari tubuh Ibu yang menggantung kaku dengan leher tercekak.

Perasaanku akan datangnya kematian semakin santer. Tadi saat hendak tidur, bau itu semakin kental seakan meruap dari seluruh ranjang, pun dari tubuh istriku. Wajah gelapnya sepertinya makin pekat, membuatku tak nyaman memeluk istriku hingga akhirnya wajah Ibu muncul seakan hendak menenangkanku.

Namun bukannya menjadi tenang dan terlelap, aku malah meninggalkan ranjang, menuju meja di depan jendela kamar, dan mulai menulis.

***

Sesungguhnya aku belum yakin mengapa satu bulan terakhir kematianku terasa begitu dekat. Aku tidak berani memastikan penyebabnya, tetapi aku merasa punya cara memastikannya. Mungkin apa yang selama ini kusembunyikan bahkan dari istriku yang terlihat masih nyenyak merupakan penyebab datangnya perasaan itu. Jadi jika benar perkiraanku, setelah semua rahasia kuungkap, semuanya akan menjadi jelas. Meski aku sendiri tidak sepenuhnya yakin, tapi setidaknya aku sudah mencoba.

Tadi waktu menunjukkan 03.15, hari sudah menjadi dini ketika aku duduk di kursi di depan jendela kamar dan mulai menulis. Aku mulai menulis setelah tidak mampu terlelap. Wajah gelap dan bau keringat itu seakan memenuhi kamarku, berjejalan dengan wajah dan senyum Ibu.

Awalnya kukira kehadiran wajah Ibu akan menenangkanku, tapi ternyata ia hanya menambah ketidaknyamananku, membawaku pada semua ingatan yang sudah tak ingin kuingat. Wajah Ayah saat mengucap kalimat terakhir sebelum dihukum tembak mati. Lalu semua hal yang terjadi pada hari di mana aku menaiki kursi kayu, memeluk tubuh Ibu sambil melepaskan tali yang menjerat lehernya. Memang sulit melepas tali itu, tidak semudah yang kubayangkan ketika memasangnya, pun ketika menjeratkan tali itu ke leher Ibu.

Akulah yang menggantung Ibuku, sudah kusiapkan semuanya, mulai obat bius dan tali temali, juga memasang tali di kayu di bawah tangga menuju lantai dua rumah kami. Mungkin kalian akan menganggapku gila? Tapi tunggu hingga kuceritakan semua. Sebelum kulanjutkan, aku melihat sekarang sudah pukul 03.42 dini hari dan aku mencium bau keringat yang semakin menyengat. Dan entahlah, sepertinya baru saja ada yang berjalan melintasi kamar, lalu mulai berdiri di sampingku saat aku sampai pada tulisan, akulah yang menggantung Ibuku.

Sore itu Ibu pulang dari berbelanja dengan beberapa koleganya. Hal yang sudah sangat biasa ia lakukan. Tapi hari itu aku merasa sikapnya itu begitu tidak biasa sebab beberapa hari sebelumnya kami baru saja berziarah ke kubur Ayah yang telah dihukum tembak mati.

Wajah Ibu sore itu begitu puas. Seakan semua kepenatannya selama menemani Ayah dalam proses hukum, hingga saat Ayah dihukum tembak mati, menguap begitu saja. Mungkin benar ia sangat puas karena mendapatkan lagi kebebasannya. Mungkin memang begitu, sebab seminggu setelah Ayah dihukum tembak mati, kami tidak lagi dikuntit para juru foto dan wartawan.

Ibu langsung memekik saat memasuki rumah, memanggil-manggil pembantu yang juga pengasuhku. Dia mengamuk ketika kukatakan pembantu pulang karena anaknya tiba-tiba sakit. Padahal aku yang meminta bibi pulang ketika Ibu baru berangkat berbelanja, tentu agar aku lebih mudah menyiapkan acara pembunuhan Ibu.

Semua sudah kusiapkan, obat bius yang cukup kuat, yang bahkan bisa membuat seekor kerbau terlelap. Obat bius yang telah kucampurkan dengan air putih yang biasanya akan diminum Ibu setibanya dari perjalanan ke luar rumah.

Setelah semua barang Ibu tumpuk di ruang tengah, aku meletakkan gelas di dekatnya. Dia yang sempat mengumpat, mengeluarkan sumpah serapah, langsung menghabiskan air dalam gelas. Tak berselang lama, hanya beberapa menit setelahnya, Ibu terlelap di sofa lengkap dengan pakaian dan perhiasannya.

Setelah yakin Ibu lelap, aku mencari sopir dan memintanya mengecek mobil yang ada di bengkel, sebelum bengkel tutup. Percaya atau tidak, ini juga sudah kurencanakan sebelumnya, pun memilih bengkel yang jauh dari rumah. Lalu begitu rumah benar-benar sepi tunggu dulu. Sekarang aku tidak hanya merasakan seseorang berdiri di sampingku. Bau keringat itu juga seakan berpindah ke sampingku. Mungkin benar, ini adalah bau kematian yang semakin terbuka mengikuti semakin terbukanya ceritaku aku mengambil tali di bawah sofa dan segera memasangnya di kayu di bawah tangga. Perlahan kupindahkan tubuh Ibu. Sempat kududukan Ibu di bangku panjang yang kusiapkan. Kuciumi keningnya, membisikkan betapa aku menyayanginya. Setelah itu aku bersusah payah mengangkatnya, membuatnya berdiri, kemudian memasukkan kepalanya pada lubang tali. Memang agak sulit karena tubuhnya lemas dan beberapa kali membuatku hampir kehilangan keseimbangan saat kami berdiri di atas bangku. Tapi sukurlah semua berjalan sesuai rencanaku.

Begitu aku turun dari bangku. Kulihat tubuh Ibu bergoyang-goyang. Dan aku masih ingat, saat itu kepalaku langsung membayangkan, sebentar lagi akan ada berita besar yang akan menjamur di televisi dan koran-koran. Kabar tentang istri seorang koruptor kakap yang bunuh diri tak lama setelah suaminya dihukum tembak mati. Aku juga masih ingat setelah membayangkan itu, aku sempat tersenyum lalu perlahan menarik bangku panjang yang menopang tubuh Ibu. Mungkin adegan selanjutnya sesuai dengan yang ada di otak kalian, tapi ada sedikit peristiwa mengejutkan.

Entah karena tercekak, tersedak, kesulitan bernapas atau apa. Tiba-tiba Ibu tersadar dan mulai meronta. Kesadarannya terlihat makin pulih, ia meronta semakin kencang, matanya mulai terbuka lebar, lidahnya menjulur-julur seperti hendak menjilati es krim. Dia menatapku nyalang, kedua tangannya sebentar-sebentar memegang pangkal leher, menggapai-gapai ke arahku seperti orang yang hendak meminta pertolongan karena di bawa terbang alien. Tapi aku diam saja. Toh aku yang menggantungnya pikirku saat itu. Jadi aku diam saja hingga terdengar suara erangan terakhirnya. Aku tersenyum mendengarkan suara itu dan langsung membayangkan wajah Ayah di hadapan regu tembak.

Kulihat sekarang sudah pukul 04.01 dini hari. Dan benar dugaanku. Bau keringat ini memang persis dengan bau tubuh Ibu yang menggantung. Benar pula dugaanku, wajah gelap itu semakin jelas, malahan bentuk tubuhnya makin jelas. Dia berdiri tepat di sampingku. Tangan kirinya memegang sandaran kursi yang aku duduki. Sikapnya seperti seorang guru yang mengawasi anak didiknya. Tubuhnya benar-benar jelas. Meski tentu aku tak harus melihatnya langsung. Tapi dia benar-benar di dekatku. Bahkan rasanya, tangan kanannya mulai menuntun tanganku untuk terus menulis

Setelah hari kematian Ibu, apa yang kupikirkan sedikit meleset. Memang pada awalnya muncul kabar bahwa Ibuku bunuh diri sebab tak tahan menahan malu dan sedih setelah Ayahku dihukum tembak mati. Namun rupanya aparat tidak mau hanya sampai di situ. Padahal cerita itu cukup bagus untuk menjadi pelajaran bagi sesiapa saja. Tapi aparat seperti kesetanan, terus melakukan penyelidikan hingga muncul dugaan Ibuku dibunuh. Dan tidak perlu waktu lama untuk menemukan orang yang diduga melakukannya. Aku.

Membunuh Ibu sendiri tentu hal yang sangat di luar akal pikiran. Meski aku juga kerap mendengar kabar, ada Ayah dan Ibu yang membunuh anaknya sendiri karena bermacam sebab, bahkan ada Ibu yang membunuh anaknya yang belum sempat ia lahirkan. Dan semua terjadi begitu saja seperti orang membuang ampas kacang tanah yang sudah tak dibutuhkan.  

Kasusku berkembang hingga ke pengadilan. Pengacara keluargaku beraksi, aparat beraksi dan keputusannya. Aku divonis lima belas tahun penjara setelah dugaan kuat bahwa aku gila, dianggap kurang kuat. Meski pengacaraku bersikeras meminta banding, aku bertahan tidak melakukannya.  

Sepertinya aku sudah masuk pada bagian akhir ceritaku, namun tanganku ingin terus menulis. Dan aku memakluminya sebab ada wajah gelap yang sedang menuntunku.

Perjalanan kehidupan di penjara membuatku merasakan langsung apa yang pernah dirasakan Ayah. Membuatku paham ketersiksaan yang mungkin telah membuat Ayah menjadi gila. Beruntung nasibku lebih baik dari Ayah karena aku terus mendapat pemotongan hukuman sebab selalu berkelakuan baik. Hingga akhirnya aku bisa kembali bermasyarakat, kemudian menemukan wanita yang mau menikah denganku.

Ah istriku, dia wanita paling hebat. Selalu berusaha mengerti dan membuatku senang. Aku memang sangat senang sejak menikahinya, terlebih sejak dia bertutur tentang kehamilannya, dua bulan lalu.

Istriku sangat berbeda dengan Ibuku. Ibuku yang mungkin tak sadar telah ikut menjadi penjahat dan menyebabkan Ayah dihukum tembak mati. Tapi bagaimanapun, dia tetap Ibuku yang melahirkanku dan membawaku melihat dunia, meski akhirnya aku membunuhnya. Tapi semua kulakukan karena aku terus teringat kalimat terakhir Ayah sebelum ditembak mati.

Anakku, kau tentu tahu. Ibumu juga bertanggung jawab atas kesalahan Ayah. Kalau Ayah pantas mati. Apa Ibumu tidak? bisik Ayah waktu dia memelukku di hari terakhir kami mengunjunginya.

Sekarang pukul 04.25 dini hari dan di sampingku ada sosok yang tidak gelap. Di sampingku ada istriku yang berdiri dengan tangan kanan memegang tangan kananku. Wajahnya terlihat lelah.***

# Mataram-Jakarta 2013-2014



Budi Afandi
Lahir di Dusun Bilatepung,  Desa Beleka, Lombok Barat, NTB 20 Juni 1983. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Menulis novel, cerpen dan puisi, beberapa karyanya dimuat Koran Tempo, Bali Post, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Banjarmasin Post, Riau Pos, Indopos, Lentera Timur, Medan Bisnis, Sumut Pos, Victory News, Pikiran Rakyat, Haluan Padang, Radar Surabaya, Minggu Pagi, Suara NTB dan Koran Kampung. Beberapa sajaknya terhimpun dalam Antologi Penyair NTB : dari takhalli sampai temaram (2012). Cerpennya terhimpun dalam : Badja Matya Mantra (2013). Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Follow Us