Kampong Seni Satukan Kekuatan

19 Oktober 2014 - 07.13 WIB > Dibaca 997 kali | Komentar
 
Helat Kampong Seni tajaan Forum Seniman Riau (Forser) usai sudah. Helat itu menerbitkan spirit kebersamaan dan kekuatan baru bagi komunitas dan sanggar seni di Pekanbaru.  

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru


Laman Bujang Mat Syam yang tercacak di komplek Bandar Seni Raja Ali Haji (Serai) Pekanbaru yang setiap harinya hanya diramaikan para pedagang kaki lima, beberapa warga dan juga aktivitas anak muda untuk sekedar duduk berkumpul, menghabiskan masa senggang, 7-9 Oktober, diramaikan aksi damai para seniman. Lokasi yang kononnya pernah ditabalkan sebagai art center atau pusat kesenian itu disulap para seniman menjadi Kampong Seni.

Sebanyak 30 komunitas seni dan ratusan pekerja seni berhimpun untuk menggelar beberapa kegiatan diantaranya, gelar karya, diskusi dan juga talk show. Masing-masing komunitas membangun lapak mereka sesuai dengan kreativitas, selera dan kemampuan mereka. Al hasil, tampaklah di tepian laman tersebut berdiri pondok-pondok yang terbuat dari bambu, kayu, daun-daun dan juga berdiri tenda-tenda layaknya membangun sebuah perkampungan.

Kegiatan ini murni tidak ada bantuan dari siapapun, semuanya hasil dari kantong sendiri dari masing-masing pekerja seni. Saya kira kesediaan kawan-kawan untuk sama-sama berhimpun di acara ini merupakan panggilan hati mereka. Jujur, kami tak punya dana, semua keperluan ditanggung komunitas masing-masing, sedangkan sound sistem dan lighting, juga bantuan dari kawan-kawan. Jadi ini murni perjuangan hati nurani kawan-kawan pekerja seni, ucap koordinator program, Willy Fwi.

Kampong Seni juga lanjut Willy adalah sebuah bentuk dari bele atau memelihara kampung yang merupakan satu gerakan dari rentetan gerakan yang dilakukan oleh Forser untuk menyelamatkan Anjung Seni Idrus Tintin sebagai laman bermain para seniman dalam berkarya. Gedung yang dibangun dengan dana ratusan miliar itu jauh dari perawatan dan pemeliharaan. Hal ini sebenarnya membuat seniman gusar dan mendatangi Dinas Budpar Provinsi, audiensi ke DPRD, menggelar karya peduli ASIT dan aksi demo di depan kantor gubernur beberapa waktu lalu, namun hasilnya nihil. Forser terus bergerak. Lewat program Kampong Seni lebih kurang 30  komunitas seni dan ratusan seniman yang ada di Riau ikut bergabung selama 3 hari 3 malam, ujarnya.

Laman Bujang Mat Syam
Bagai hendak mengabarkan kepada pemerintah dan warga bahwa Laman Bujang Mat Syam di kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji itu memiliki penghuni yang setiap hari terus bergeliat, berkreativitas, berpikir tentang seni dan budaya di Riau yaitu senimanseni.

Mereka menggelar karya selama tiga hari tiga malam. Beragam bentuk pertunjukan pun digelar. Tepat pukul 16:00 WIB setiap harinya. Masing-masing komunitas menujukkan karyanya sesuai dengan bidang seni yang digeluti. Laman Bujang Mat Syam pun dipenuhi suara gemuruh gendang, kompang, marwas, gambus, accordion. Sedangkan sanggar tari, mengeksplorasi gerak, meliuk rentak mengikuti musik. Teriakan dan pekikan juga tak luput dari sanggar-sanggar teater yang melakukan ekplorasi. Puisi demi puisi juga turut meramaikan suasana riuh rendah setiap hari itu. Demikian juga para perupa, Sindikat Kartunis Riau (Sikari) dan kawan-kawan lainnya mencurahkan karya mereka di dinding-dinding pembatas antara Ritos yang terbengkalai dengan Anjung Seni Idrus Tintin.

Yang menarik dari gelar karya selama tiga hari itu selalu ditandai dengan pemukulan perkusi dari tiap-tiap komunitas di pondoknya masing-masing. Perkusi yang dimaksud adalah memukul apa saja alat musik yang dimiliki, atau memukul bunyi-bunyian semisal memukul bambu, kayu, papan, yang kemudian menjadi riuh rendahlah Laman Bujang Mat Syam oleh tetabuhan-tetabuhan. Dan itu berlangsung selama 30 menit, kemudian barulah digelar karya secara bergantian oleh masing-masing sanggar.

Seorang pekerja seni, Bens mengaku terharu melihat keramaian dan semangat kebersamaan dari para pekerja seni yang turut meramaikan acara Kampong Seni. Saya perhatikan dari salah satu sudut laman ini, menyaksikan berbagai pagelaran seni yang dipertunjukkan kawan-kawan terharu pula rasa hati. Sebenarnya bukan haru dalam sedih tapi betapa seniman dan pekerja seni di Riau ini memiliki semangat dan kekuatan yang luar biasa bila mau bersatu. Lihat saja, di acara yang ditaja ini, hanya bermodal semangat, tapi nyatanya kita bisa, ucap Bens.

Senada dengan itu, Hang Kafrawi juga mengucapkan takjub melihat kebersamaan para seniman dan pekerja seni yang menjadi penduduk Kampong Seni beberapa hari itu. Katanya, ini semacam gerakan pengkabaran bahwa di Kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji ini ada penghuninya yaitu seniman, merekalah yang selalu berbuat dan berpikir untuk memajukan seni dan budaya. Dan hari inilah baru tampak kekuatan itu terhimpun, dan ini merupakan semangat baru bagi seniman untuk ke depannya, ucap Hang Kafrawi.

Sedangkan salah seorang pelaku seni teater, Monda Gianes mengatakan banyak hal yang bisa diapresiasi dari acara Kampong Seni tajaan Forum Seniman Riau (Forser). Para seniman saling bertemu dan berhimpun. Semangat kemandirian dan solidaritas sesama pelaku menurutnya menjadi sesuatu hal yang begitu berkesan. Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masing-masing sanggar atau komunitas maupun perorangan menjadi persoalan bersama untuk dibicarakan. Dengan berkumpul dan mendedahkan persoalan bersama, seniman Riau semakin kompak dan memiliki spirit yang sama. Bahwa persoalan-persoalan mendasar di internal masing-masing memang harus terus diselesaikan. Pelaku seni hari ini bisa mereview bagaimana seniman di masa sebelumnya juga punya persoalan. Namun, mereka begitu solid dan memiliki ikatan emosional. Mereka juga berjuang dan membuktikan keberadaannya di negeri ini, ucapnya.

Harapan Mulia
Sejatinya, acara Kampong Seni yang ditaja Forser pada awalnya adalah kepedulian terhadap keberadaan Anjung Seni Idrus Tintin yang kian terbengkalai. Namun kemudian dari berbagai pembicaraan, persoalan seni budaya lainnya tak dapat dikesampingkan begitu saja.

Memajukan seni dan budaya tidaklah hanya  pekerjaan seniman, budayawan tetapi semangat itu juga harus ditopang bersama pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Riau. Banyak hal yang kemudian terlontar dari para seniman kepada para narasumber yang hadir dalam acara diskusi dan bincang-bincang dengan pihak-pihak yang terkait. Termasuk dengan Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman yang hadir pada malam penutupan.

Keinginan yang diutarakan itu tidak lain dalam bentuk harapan demi harapan agar seni dan budaya itu maju di negeri bernama Riau yang memiliki visi dan misi menjadikan Riau sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di bentangan Asia Tenggara.

Syaukani al Karim mengemukakan, persoalan di Riau ini bukanlah terletak pada formula-formula yang telah dibuat dalam kaitannya untuk memajukan seni budaya akan tetapi formula yang sudah ada hendaknya segera dilakukan tindakan yang nyata. Bahwa sejak beberapa tahun lalu ketika pemerintah Riau percaya bahwa Riau akan diangkat dan dijulang dengan kesenian dan kebudayaan maka apa yang kita miliki sebagai identitas dan kekuatan dan apa yang ada di depan kita, hendaknya dijaga dan dipelihara seperti halnya Gedung Anjung Seni Idrus Tintin.

Seniman sudah berupaya semampunya. Yang belum nampak itu dukungan  signifikan dari pemerintah. Beberapa kawasan di tempat lain misalnya di Jogja, menjadikan kebudayaan sebagai sumber ekonomi dan itu bukan tidak mungkin dilakukan di Riau sepanjang pemerintah dan legislatif mampu membuat formula yang sangat tepat dan melaksanakannya dengan cara yang tepat pula.

Para seniman Riau sebetulnya ingin dengan sangat berbahagia menjujung negeri dengan memberikan kontribusi bagi kemulian negeri ini tapi harus ditopang dengan dukungan yang memadai. Negara-negara di manapun selalu dan pasti memberikan subsidi bagi seni dan budaya. Oleh karenanya, diharapkan kepad apemerintah memiliki keberanian untuk memberikan anggaran belanja yang signifikan sehingga kesenian memiliki kemampuan untuk kokoh dan tegak berdiri sehingga ke depan bisa pula sama-sama kita berharap Riau menjadi sebuah negeri  yang kebudayaan dan keseniannya menjadi tungku yang selalu menghangatkan kemulian negeri dan tanah kita, ucap Syaukani.

Kampong Seni, sebenarnya sebuah protes kreatif ala seniman yang tujuannnya tidaklah untuk mencari permusuhan, tetapi gerakan untuk saling mengingatkan agar pihak terkait terpanggil. Seperti yang diucapkan teaterawan Hang Kafrawi. Selama satu tahun ini seniman sudah berbuat dengan kemampuannya. Tanpa bantuan pemerintah tapi sudah hampir 15 pertunjukan seni dilakukan di Anjung Seni Idrus Tintin.  Kami sebenarnya berharap dengan cara ini, pemerintah terpanggil. Mari sama-sama membangun kesenian dan budaya Melayu ini. Yang kami harapkan, gedung ASIT ini ada pengelola dan ada badan pengelola dan kalau bisa kawasan Bandar Serai ini bisa dikembalikan seperti perencanaan awal yaitu sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, ucap Kafrawi.

Pada malam penutup, 9 Oktober lalu, seluruh komunitas yang terdiri dari Sindikat Kartunis Riau, sanggar Laksemana, Sanggar Dang Merdu, Sanggar Malay, Sanggar Tengkah Zapin, Sanggar Mahratu, Sanggar Balairung Arts Production, Sanggar Badano, KMDC 45, Sanggar Sri Melayu, Lentik Dance Riau, Teater Selembayung, Riau Beraksi Studio Seni Peran, Teater Matan, Komunitas Rumah Sunting, Blacan Arts Community, Sanggar Keletah Budak, Teater Sanjayo Art, Teater Senja 5, Teater Hujan, Artepak, Teater Pusaka 1, Temali, Teater Mahligai, PaSKI Riau, Yayasan Kesenian Riau, HMJ Tef STSR, Komunitas Biola Pekanbaru, Sagu Band, Komunitas Magician Pekanbaru, Kelompok Musik Forser, Kongkrit Genggaman, Riau Rhythm Chamber Indonesia dan beberapa perwakilan sanggar dan perorangan membacakan kesepakatan bersama di hadapan para narasumber.

Mereka berkumpul membelakangi ASIT dan meneriakkan  kesepakatan yang di antaranya menyatakan bahwa mereka merasakan kegiatan Kampong Seni sangatlah berfaedah bagi keberlangsungan seni dan budaya di Riau, para seniman dapat saling bersilaturahmi, bersatu padu, menyusun kekuatan sekaligus menyuarakan segala kepentingan kesenian dan kebudayaan di Riau. Oleh sebab itu, kegiatan ini akan tetap diadakan sekali dalam setahun dan menggesa agar program ini masuk dalam program pemerintah.

Dalam kesepakatan itu juga disebutkan bahwa Forser menggesa agar Anjung Seni Idrus Tintin sebagai laman bermain para seniman yang terbengkalai segera diperhatikan dan dibentuk badan pengelola serta meminta kepada pemerintah untuk melengkapi fasilitas yang masih kurang.

Seluruh warga kampong seni juga menilai kegiatan kesenian yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata selama ini tidak transparan sehingga dapat menimbulkan perpecahan di antara sesama seniman. Dan seharusnya pemerintah menyediakan dana taktis untuk kepentingan setiap komunitas seni Riau yang produktif untuk menggelar karya mereka ke luar Riau baik dalam negeri maupun luar negeri.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 14:20 wib

Inovasi Produk Dorong Penjualan

Senin, 24 September 2018 - 14:00 wib

Polda Awasi Medsos Secara Ketat

Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Follow Us