Oleh Muhammad Pical Nasution

Riwayat Senja dalam Sebuah Lukisan

19 Oktober 2014 - 07.20 WIB > Dibaca 4248 kali | Komentar
 
Di sebuah sore yang kemayu, senja tak lagi terlihat. Entah kenapa, setiap kali lelaki itu bertanya ke mana perginya senja, tak ada yang mampu menjawab pertanyaan yang selalu berkelebat dalam kepalanya itu. Bahkan ketika serdadu bangau pulang ke kandangnya setelah lelah bermain di tabir waktu, tak mampu memberikan kepastian akan keberadaan senja.

Saat itu, langit masih mendung. Di taman Keukenhof, Afandi dengan bermacam alat lukisnya telah menunggu. Ia tampak gelisah, sebab rumah ceritanya tak juga tiba, bahkan ketika terang hampir tiada. Ia tak beranjak dari tempat duduknyabangku kayu yang memanjangdengan panorama bermacam jenis bunga di tiap sisinya. Kemudian seorang wanita berbaju hitam dengan topi bulat jingga datang mendekat dan bertanya kepadanya.

Apakah kau seorang pelukis impresionis?

Afandi pun membisu. Dengan segera ia berbenah. Ia gulung kanvasnya dan memasukkannya ke dalam sebuah ransel berwarna merah. Afandi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan taman. Wanita itu mencoba mendekat, kemudian mengikuti Afandi yang kian kusam wajahnya.

Atau mungkin kau seorang pelukis naturalis? tanyanya kembali.

Afandi tak berkomentar. Dalam kepalanya hanya ada senja, tiada yang lain. Senja seperti lumbung inspirasi. Senja adalah ibu yang selalu memberikan penawar ketika rasa rindu kian tak terbendung.

Hari sudah gelap, namun wanita itu tetap saja mengikuti Afandi. Hingga akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah rumah tua dengan cahaya lampu yang redup.

Di sana ada meja dan dua kursi yang saling menghadap. Afandi duduk, kemudian membakar cerutu yang diambil dari dalam sakunya. Wanita itu merapat tepat di hadapan Afandi dan memandang dengan tatap mata yang paling kagum. Tapi pelukis itu tiada pula balas memandang. Seorang pelayan datang dan meletakkan kertas menu di atas meja mereka. Asap cerutu mengepul, mengisi ruang seperti kabut di pagi hari.

Nona mau pesan apa?

Kopi klasik dengan sedikit gula. Tidak, tidak pakai gula. Kopi hitam kental yang menggoda, ujar wanita itu.
Afandi menuliskan sesuatu di atas kertas yang terletak di atas meja. Kemudian memanggil pelayan dan memberikan kertas itu.
Apa kau penikmat kopi juga?

Tidak! Aku bukan pengagum kegelapan. Kau hanya akan melihat sunyi dan kehampaan. Kau tidak akan melihat teka-teki dan misteri hidup. Coba kau perhatikan pakaian yang kau kenakan, warna yang tak mewariskan apa-apa kepada pemakainya. Bagiku, hitam adalah kematian. Hitam adalah kebusukan yang paling memuakkan.

Kau menanti kedatangan senja?

Senja adalah cerita yang sangat mengharukan sekaligus menyenangkan. Tapi, beberapa hari ini mendung membenamkan kehadirannya. Itulah kenapa aku tidak suka dengan warna yang hanya bisa menawarkan kehampaan. Tiada cerita yang bisa dituangkan dari kepunahan! balas Afandi.

Aku sering melihatmu di taman Keukenhof. Aku sering menghabiskan waktu di sana. Taman itu juga seperti sahabat bagiku. Sebenarnya, aku ingin berbagi cerita, namun tiap kali aku melihatmu dengan berbagai macam alat lukismu, rasa sungkan pun menghampiri. Bahkan ketika aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa, kau baru membalasnya di tempat ini. Kau orang paling misterius yang pernah kutemui.

Misterius? Afandi tertawa. Aku bukan pesulap. Aku juga bukan peramal yang bisa membuatmu berkhayal lalu mencoba menerka-nerka jawaban tentang kehidupan. Mungkin kau akan mendapatkan hal menarik dari pendongeng handal. Tapi aku juga bukan pendongeng, tegas Afandi.

Mungkin kau bisa menawarkan sesuatu yang berbeda kepadaku?

Apa yang kau inginkan? Aku hanya seorang pelukis jalanan yang mencoba menghadirkan berbagai cerita dari senja. Apa kau pernah berpikir bahwa senja adalah makhluk yang sangat sempurna? Senja bisa menghadirkan bermacam lirik yang memukau walaupun tiada untaian nada yang bisa didengarkan darinya.

Sekarang, aku ingin melihatmu menuangkan cerita itu di dalam kanvasmu.

Tidak ada senja di malam hari! tegas afandi.

Mungkin kau bisa mengganti objek lukisanmu. Aku rela tubuhku yang menjadi objeknya. Bukankah manusia juga objek yang menarik? Aku penyuka lukisan para pelukis ternama. Apa kau mengenal Van Gogh? Aku kagum dengan karyanya yang fantastis. Bagaimana dengan Pablo Picaso yang menghadirkan sketsa ketidakpahaman kita akan seni? ujar wanita itu.

***

Malam itu berlalu dengan indah. Lebih indah dari kesendirian yang selama ini mendiami tubuh Afandi. Ia lahir dari kecintaannya akan karya seni yang unik itu. Ayahnya adalah seorang pelukis ternama di zaman penjajahan. Sedang ibunya adalah seorang wanita yang tiada mengerti akan karya seni, namun begitu mendukung kerja-kerja seni yang dilakukan oleh suaminya. Afandi kecil menghabiskan banyak waktunya untuk menikmati karya-karya yang dihasilkan ayahnya. Sejak umur delapan tahun, Afandi sudah mengerti bagaimana menampilkan keindahan warna dalam sebuah kanvas.

Namun waktu begitu cepat berlalu. Tak banyak yang bisa direkam memori Afandi tentang kelihaian ayahnya dalam melukis. Saat masa darurat mencekam, Afandi dilarikan pamannya ke Zundert, sebuah kota kecil di Provinsi Noord Brabant. Di sanalah bakat melukis Afandi kian berkembang.

Namun, ada satu hal yang tak pernah bisa ia lakukan seumur hidupnya. Afandi pernah mencoba menghadirkan cerita kelam dalam kanvasnya, tentang bagaimana segerombolan orang berjubah hitam merusak rumah mereka, menyeret ayah dan ibunya, menggorok leher kakeknya kemudian darah yang meleleh dari leher itu diusapkan ke tubuh molek ibunya. Afandi pun tak pernah tahu ke mana tubuh mereka dibuang dan Afandi tak pernah bisa menyelesaikan lukisan itu.

***

Di usiaku yang tak lagi muda, sedikit pun aku tidak tertarik dengan semua yang kau ceritakan tentang objek para pelukis ternama itu. Pasti kau paham tentang idealisme bukan? Ayahku seorang pelukis handal. Kau tahu, darah itu masih tetap mengalir dalam tubuhku, ujar Afandi ketika bertemu kembali dengan wanita itu di taman Keukenhof.

Lalu apa yang paling indah dari senja yang kau nantikan itu? Cobalah untuk berpikir rasional. Apa mungkin senja bisa menghadirkan cerita? Kau hanya membuang-buang cat dan kanvasmu.

Kau tak mengerti seni. Kata rasional tak akan pernah menyatu dengan keunikan dalam lukisan.

Kemudian Afandi menatap wanita itu. Sepertinya ia marah. Seketika wanita itu ketakutan. Langkahnya mundur tiga depa dari hadapan Afandi. Sementara itu, di langit barat, senja yang dinanti-nanti Afandi telah bangun dari tidurnya. Dengan segera Afandi mengambil alat lukisnya. Ia bentangkan kanvasnya dan memulai cerita dari objek yang ada di depannya.

Wanita itu perlahan mendekat. Lalu ia duduk di samping Afandi. Tangan Afandi terlihat begitu cekatan. Coretan demi coretan menyatu menjadi sebuah cerita yang unik. Wanita itu berubah pandangnya. Seketika ia menjadi kagum. Pendapat yang membantah Afandi akan kelusuhan idealismenya terhentak. Wanita itu menemukan seorang pelukis jalanan dengan gaya melukis yang berbeda. Pelukis yang sangat jarang dilihat di tengah gencarnya modernisme yang merasuk dalam semua sisi kehidupan manusia.

Senja hampir punah. Cerita Afandi belum juga selesai. Wajahnya merah padam ketika langit mulai gelap. Burung-burung senja yang juga terekam dalam benaknya tiada lagi melintas. Habislah senja yang dinanti-nanti Afandi. Tangannya terlepas dari kanvas, namun lukisannya belum juga tuntas.

Hanya ini? Cukup meyakinkan. Mungkin kau bisa pajang lukisan ini di rumahku. Aku akan membelinya dengan harga yang mungkin bisa kita sepakati.

Afandi membisu. Tak ada lagi yang bisa dijadikannya cerita dalam torehan warna di kanvasnya. Senja yang selama ini menjadi rumah ceritanya kini hilang seperti hilangnya ayah dan ibunya. Afandi tak juga bangkit dari tempat duduknya. Gerimis turun ke jantung bumi. Afandi takut gemercik air hujan akan merusak setengah cerita yang sudah dibangunnya. Mereka berteduh di bawah pohon yang begitu rimbun.

***

Pagi pun tiba. Sinar matahari menerangi wajah-wajah kusam yang diterpa badai kelesuan. Afandi duduk di taman Keukenhof dengan panorama bermacam jenis bunga di tiap sudutnya. Ia teringat di saat-saat terakhir pertemuannya dengan wanita itu, di suatu malam yang akan selalu dikenangnya. Di dalam kegelapan, dengan terpaksa Afandi rampungkan setengah cerita tersisa dalam kanvasnya tentang senja yang menjadi rumah imajinasinya. Afandi tersenyum di hadapan lukisannya. Ia seperti melihat ibu dan ayahnya. Ada juga tawa khas pamannya dan celoteh wanita yang tak paham akan seni dalam senjanya. Orang-orang berlalu- lalang di taman itu dengan kubangan warna: hijau pepohonan, corak tubuh kupu-kupu, kuning dan ungu bunga-bunga, baju hitam yang tersangkut di ranting pohon, serta warna merah menyala dari lukisan yang mengundang rasa kagum manusia.***



Muhammad Pical Nasution
lahir di Medan 3 Januari 1986. Selain puisi dan cerpen, beberapa esai dan artikelnya pernah dimuat di beberapa koran seperti Analisa, Harian Global, Medan Bisnis, Sumut Pos, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Surabaya Pos, Berita Kota Kendari, dan Radar Surabaya. Saat ini mengajar di daerah terpencil, Aceh.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:00 wib

Habib Salim Segaf Beri Tausiah di Masjid Islamic Center

Senin, 24 September 2018 - 15:37 wib

Prudential Bayar Klaim Rp98 Juta

Senin, 24 September 2018 - 15:30 wib

MTQ XLIII Bengkalis Resmi Dibuka

Follow Us