Oleh Yose Rizal

Sihir Batu

26 Oktober 2014 - 10.11 WIB > Dibaca 3161 kali | Komentar
 
Sihir Batu
SEORANG sahabat berdecak kagum saat mematut-matut benda yang berada di tangannya. Secara bergantian, dia mengambil satu demi satu benda berkilau dari dalam kotak kaca berlapis kulit merah. Seakan-akan tak puas, dia pun menerawangkan benda tersebut ke arah cahaya matahari pagi yang mulai terik. Luar biasa, ini memang barang langka dan antik. Banyak dicari orang dan harganya juga menggiurkan, tuturnya sambil memegang sebuah batu rubi merah muda.

Saya hanya terdiam dan melihat tingkah laku sahabat tersebut yang seakan menemukan harta karun. Tak puas-puas dia melihat koleksi cincin yang dihiasi dengan berbagai macam batu beraneka warna tersebut. Dia pun menyebut satu persatu nama batu yang ada dalam kotak tersebut yang saya sendiri pun tidak tahu namanya. Lalu yang mana untuk saya? Kalau boleh saya ingin zamrud ini, pintanya sambil memegang sebuah cincin dengan batu berwarna hijau.

Saya hanya bisa tertawa. Tak bisa. Semua ini bukan milik saya, tapi warisan, koleksi almarhum datuk anak saya. Saya tak berhak memberi ataupun menjual, tutur saya yang disambut cemberut di wajahnya.

Begitulah sekelumit kisah hari minggu pagi di kota kelahiran saya, Duri. Hari itu, akhir pekan lalu, saya mengunjungi orang tua yang lama tak terdatangi walaupun jarak tempuh tak terlalu jauh. Kesibukan kerja dan rutinitas rumah tangga kadang membuat kita alpa dengan orang tua yang selalu merindukan cucu-cucunya. Seorang sahabat lama, juga agaknya menantikan kehadiran saya atau mungkin tepatnya kehadiran koleksi cincin dan batu, setelah sebelumnya lama berbicara di telepon seluler masalah perbatuan.

Memang fenomena batu akhir-akhir ini telah menjangkiti masyarakat. Kalau dulu, penggemar batu identik dengan para orang tua, kini hampir merata di seluruh usia. Tua, muda, laki-laki, perempuan hingga anak-anak pun mulai terkena virusnya. Bahkan anak saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar, merengek-rengek minta cincin usai pulang sekolah. Alasannya, ada temannya di sekolah memakai cincin dengan batu berwarna biru seperti kepunyaan saya. Sehingga terpaksalah saya membawanya ke ahli cincin batu. Sampai segitunya.

Saya sebenarnya tidaklah begitu maniak dengan dunia perbatuan. Namun karena sering memakai cincin yang sering berganti-ganti, teman-teman pun menganggap saya penggemar batu dan sering curhat tentang batu. Hehehe, mereka salah orang.

Pernah saya bertanya kepada seorang teman, kenapa dia memakai cincin batu. Sang teman bukannya menjawab pertanyaan saya, dia malah mengejek dengan berkata bahwa hanya monyet yang tidak memakai cincin. Hahahaha... meleset.

Namun jika dilihat, sebenarnya banyak sisi positif akibat geliat tren batu. Di antaranya, memperkenalkan produk asli tanah air yang memiliki berbagai macam ragam batu yang terkenal di dunia, seperti batu sungai dareh yang semakin terkenal setelah dipakai Obama, Presiden Amerika Serikat. Juga meningkatkan geliat ekonomi masyarakat dari mulai penambang batu, pedagang batu, pengasah batu hingga kios dan toko yang menjual batu. Untuk pemakai sendiri bisa untuk memperindah dan mempercantik diri dengan memakai perhiasan serta jadi investasi jika melihat harganya yang banyak diluar akal sehat.

Secara klasifikasi, batu dibagi dua, yakni batu permata dan batu akik. Menurut seorang pedagang batu, batu permata terdiri dari berlian, rubi, safir, zamrud dan sejenisnya. Batu-batu ini memiliki harga yang pasti dan jelas. Sementara untuk batu akik, memiliki bermacam nama dan jenis sesuai daerah ditemukannya batu tersebut. Seperti batu lumut Aceh berasal dari Aceh, batu sungai dareh dari daerah Sungaidareh Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat, batu raja berasal dari Kota Baturaja Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan dan begitu selanjutnya. Sedangkan untuk harganya, tidak pasti. Mulai dari yang termurah hingga termahal, tergantung selera para penggemarnya dan trend di lapangan.

Lalu batu akik apa yang sekarang lagi ngetop. Menurut beberapa pedagang dan teman penggila batu, batu bacan saat ini sedang di atas angin. Batu yang ditemukan di daerah Maluku Utara tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan. Bacan merupakan nama pulau tempat batu ditemukan. Banyak yang mencari batu ini dan penjualannya lagi laris. Batu Bacan Doko merupakan yang paling dicari dan harganya pun fantastis. Bahkan untuk sebongkah kecil batu bacan jenis palamea berat 7 ons dengan kualitas kristal dihargai Rp700 juta. wow.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 09:24 wib

Simpan Sabu di Sepatu, Ditangkap di Bandara

Rabu, 14 November 2018 - 09:10 wib

Pagar SDN 141 Roboh, Siswa Terhimpit

Rabu, 14 November 2018 - 09:00 wib

Alat Rekam KTP-el Banyak yang Rusak

Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Follow Us