Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Dessy Wahyuni

Mengapa Kurikulum 2013?

10 September 2013 - 09.52 WIB > Dibaca 5979 kali | Komentar
 
Kurikulum 2013 mendapat sambutan yang berbeda-beda dari berbagai kalangan. Hal ini, menurut Mohammad Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) disebabkan adanya perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013 tersebut.

Bahkan sejumlah organisasi massa yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan menolak rencana implementasi Kurikulum 2013 tahun ajaran 2013/2014 ini (http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/13/03/28/mkdkxs-kurikulum-2013-ditolak). Aliansi  tersebut terdiri dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Indonesia Corruption Watch (ICW), Sekolah Tanpa Batas (STB), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Koalisi Pendidikan, Solidaritas Anak Jalanan untuk Demokrasi (SALUD), BEM UNJ, Aliansi Orang Tua Murid Peduli Pendidikan (AOTPPI), dan praktisi pendidikan.

Namun, Musliar Kasim (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan) mengatakan bahwa membatalkan kurikulum yang sudah dipersiapkan ini merupakan hal yang sulit.

Kurikulum yang berbasis saintifik-integratif tersebut sangat diperlukan karena akan mengasah kreativitas peserta didik. Kurikulum ini tidak saja dapat mengasah secara maksimal kreativitas peserta didik, tetapi juga menuntut keahlian yang luar biasa pada guru.

Oleh sebab itu, perlu ada persiapan yang sangat matang terutama dalam mempersiapkan gurunya. Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, guru juga harus dilatih dalam mengembangkan mata pelajaran dari kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, dan juga guru harus dilatih mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill) dalam setiap pembelajaran.

Kurikulum, berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 19, adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Perkembangan kurikulum di Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga kini telah melewati beberapa periode, yaitu Rencana Pelajaran yang dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai (1947), Recana Pendidikan Sekolah Dasar (1964), Kurikulum Sekolah Dasar (1968), Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP, 1973), Kurikulum Sekolah Dasar (1975), Kurikulum 1984 (1984), Kurikulum 1994 (1994), Revisi Kurikulum 1994 (1997), Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK, 2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006), dan Kurikulum 2013 (2013).

Hadirnya Kurikulum 2013 sebagai pengganti KTSP diyakini akan membawa perubahan yang lebih baik. Berbagai pertimbangan telah dilakukan.

Dalam implementasi KTSP tahun 2006, masih dijumpai beberapa masalah, antara lain: konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak; kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan keperluan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; serta dengan menggunakan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

Sementara itu, dalam UU Sisdiknas dinyatakan bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya.

Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan).

Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.

Kurikulum 2006 (KTSP) dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan yaitu tantangan abad ke-21 yang ditandai dengan abad ilmu pengetahuan, knowlwdge-based society, dan kompetensi masa depan.

Dalam memenuhi keperluan kompetensi abad ke-21 ini, kurikulum baru yang sedang dibicarakan di berbagai tempat memiliki rumusan yang dibutuhkan untuk pemenuhan keperluan tersebut.

Rumusan tersebut adalah bahwa pembelajaran disusun seimbang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan; memiliki lintasan yang berbeda untuk proses pembentukan tiap kompetensi; penekanan pada keterampilan berpikir menuju terbentuknya kreativitas, sedangkan kemampuan psikomotorik adalah penunjang keterampilan; pembelajaran melalui pendekatan saintifik yang belaku untuk semua mapel (mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating), dan mengomunikasiannya (networking)); serta model pembelajaran yang digunakan antara lain discovery learning, project based learning, dan collaborative learning.

Menurut Dyers, JH dkk. (2011), 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, sedang 1/3 sisanya berasal dari genetik.

Oleh sebab itu, pembelajaran berbasis kecerdasan tidak akan memberikan hasil yang signifikan dibandingkan dengan yang berbasis kreativitas.

Dalam pembelajaran ini, guru dapat membuat peserta didik berperilaku kreatif melalui tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban yang benar, menolerir jawaban yang nyeleneh, menekankan pada proses dan bukan hanya hasil, meningkatkan keberanian peserta didik untuk mencoba, menentukan sendiri kelengkapan informasi, memiliki interpretasi sendiri terhadap sebuah peristiwa, memberikan keseimbangan antara kegiatan terstruktur dan spontan/ekspresif (Sharp C., 2004).

Kurikulum 2013 merupakan pendidikan yang berakar pada budaya bangsa, kehidupan masa kini, dan membangun landasan  kehidupan masa depan.

Pendidikan yang diyakini sebagai proses pewarisan  dan pengembang budaya memberikan dasar bagi peserta didik untuk berpartisipasi dalam membangun kehidupan masa kini.

Pendidikan dalam kurikulum baru ini mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik, sebab memiliki proses pengembangan jatidiri peserta didik, serta menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.

Dengan demikian, pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional) akan dapat direalisasikan.

Lantas, mengapa masih ragu dengan Kurikulum 2013?***

Dessy Wahyuni, Peneliti di Balai Bahasa Riau
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: