Gelar Panglima Raja jadi Negeri Orang Duano

29 Januari 2012 - 09.43 WIB > Dibaca 7194 kali | Komentar
 
Gelar Panglima Raja jadi Negeri Orang Duano
Effendy SY berdiri di salah satu jalan di Kampung Panglima Raja, Kecamatan Concong, Indragiri Hilir. (Foto: fedli azis/ riau pos)
Sekawanan camar terbang lincah di atas permukaan muara Sungai Concong. Berteriak lantang, sahut-sahutan saat Orang Laut menarik jala, menaikkan ikan-ikan ke perahunya di kala petang. Sesekali elang putih, bercorak coklat, menukik tajam ke permukaan air, menyambar ikan kecil dengan cakarnya di depan Kampung Panglima Raja, negeri Orang Duano menjadi pemandangan yang mengasyikkan.

Laporan FEDLI AZIS, Concong

SPEEDBOAT merapat ke salah satu dari dua kampung yang terlihat di Kecamatan Concong, Kabupaten Indragiri Hilir. Kampung yang tercacak di muara Sungai Concong itu bernama Desa Panglima Raja, sebuah kawasan kecil dengan rumah-rumah panggung berjejer memanjang hingga ratusan meter. Kampung itu didiami orang Laut dari Suku Duano yang menjadi penduduk asli kecamatan tersebut.

Perjalanan Riau Pos beberapa waktu lalu ke kampung itu cukup melelahkan karena harus ditempuh dari Kota Bertuah Pekanbaru selama kurang lebih 10 jam. Delapan jam dari Pekanbaru ke Kota Tembilahan melalui jalur darat dan disambung dari Tembilahan ke Concong melalui jalur air selama dua jam lamanya. Meski melelahkan, namun cukup memberi kesan mendalam yang tentunya sulit dilupakan.

Beberapa orang Duano di atas speedboat berukuran sedang dengan kapasitas 15-20 orang itu, satu-persatu naik dan meninggalkan pelabuhan kecil menuju rumah masing-masing. Sedang Riau Pos masih harus menunggu seseorang yang dikenal sebagai sesepuh Suku Laut di Kecamatan Concong, Effendy SY. Selang beberapa menit saja, orang tua itu terlihat dari kejauhan meniti jalan dari susunan papan yang licin seusai hujan. Ia mengenakan kopiah dipadu baju koko merah jambu dan celana kain berwarna hitam. Selamat datang, katanya menyambut tangan Riau Pos, bagaimana perjalanannya, melelahkan ya, sambungnya dengan senyum ramah.

Lelaki yang berusia 60-an tahun itu langsung mengajak ke kediaman Kepala Desa (Kades), orang tempatan lebih akrab menyebut Wali Desa, Panglima Raja yakni Rabuan yang tidak jauh dari pelabuhan tersebut. Orang-orang Duano, baik orang tua, remaja dan anak-anak tampak begitu bersahabat dan menjawab salam Riau Pos serta melambaikan tangan menandakan ucapan selamat datang. Beberapa warga terlihat berkumpul dan bercengkrama sesama mereka di depan sala satu rumah warga, sedang anak-anak bergembira dan melompat dari jalan setinggi dua meter ke sungai menikmati mandi sore mereka. Dua-tiga orang tua tampak pula membuat jaring dan jala di depan rumahnya.

Di antara rumah-rumah dan warga yang sengan menikmati sore, tampak sebuah bendera berkibar dimainkan angin. Bukan merah-putih melainkan terbalik, putih-merah dengan kain yang kusam dan mulai rapuh. Rabuan dan beberapa warga tampak sedang menikmati petang sambil duduk-duduk santai di depan rumahnya. Ia menyambut dengan santun dan mempersilahkan pula masuk ke rumahnya. Beginilah kondisi kampung kami ni, sela Rabuan di tengah keakraban suasana yang mereka perlihatkan, jangan jera sebab kami suka orang baru datang ke sini, katanya mempersilahkan kami untuk menyeduh kopi panas.

Menurut mereka, di sepanjang Sungai Concong yang menjadi cikal-bakal keberadaan Orang Duano di Concong atau Pulau Baso itu terdapat enam kampung yakni Desa Concong Luar, Desa Panglima Raja, Desa Sungai Berapit, Desa Kampung Baru, Desa Concong Tengah dan Desa Concong Dalam. Namun pusat pemukiman Orang Duano berada di Desa Panglima Raja sedang sebagian lainnya tersebar dan berbaur dengan warga-warga desa sekitarnya.

Tradisi Lisan yang Tersisa
Effendy juga mengajak Zaini Mucthar, seorang guru di SDN 011 Desa Concong Luar yang terdapat di seberang Panglima Raja, untuk memperlihatkan salah satu tradisi lisan Orang Duano. Zaini sendiri merupakan satu-satunya pelantun tradisi lisan yang mereka namakan Denden sejak pelantun lainnya Idris yang sudah sakit-sakitan karena usia renta. Sebelum melanjutkan cerita Orang Duano lebih jauh dan mendalam, mereka meminta Zaini untuk ber-Denden di petang itu.

Sebelum memulai aksinya, Zaini menjelaskan secebis tentang tradisi yang tidak lagi dilakukan Orang Laut tersebut. Menurutnya, Denden adalah nyanyian ibu-ibu Orang Duano untuk meninabobokkan anak mereka di atas perahu yang menjadi tempat tinggal moyang mereka. Orang-orang tua kami dulu, suka berdendang saat menidurkan anaknya di atas perahu, celetuknya. Aktivitas menidurkan anak itu lambat laun dijadikan sebagai salah satu seni tradisi turun-temurun dan dipertontonkan di depan umum. Untuk membawakannya, diperlukan semacam ritual seperti membaca mantera-mantera dengan pelantun menggunakan pakaian serba hitam.

Saya belajar dari Pak Idris yang saat ini sudah tua dan sakit-sakitan. Sayang tidak ada lagi generasi di bawah saya yang mau belajar ber-denden dan saya khawatir, lama kelamaan tradisi ini akan lenyap setelah saya tiada. Sudah banyak tradisi kami yang punah dan saya berharap bisa mengembalikannya lagi sebelum ajal menjelang, ungkap Zaini penuh harap.

Meski hanya melantunkan saja, namun terasa magis dan sakral. Awalnya saja, pertunjukan Denden yang dibawakan Zaini sudah menyebut, hooo Mambang Kuning, hooo Mambang Hitam, hooo Mambang Hijau. Syair selanjutnya diungkapkan dengan cukup panjang menggunakan bahasa Orang Duano yang sulit dimengerti dan dipahami. Kurang lebih satu jam lamanya, Zaini memainkannya dan tak terasa waktu salat Magrib pun tiba.

Saat ini, Denden hanya tinggal sebagai salah satu seni pertunjukan Orang Duano dan pernah pula digelar di Pekanbaru dan Tembilahan. Saat ini, kata Zaini, selain di Panglima Raja, Orang Duano tersebar di Concong Luar, Sungai Belah, Sungai Laut, Kuala Enok (Tanah Merah), Sungai Rumah, Patah Parang, Belaras, Bekawan, Kuala Selat dan Sungai Guntung. Namun tradisi ini tidak dilakukan lagi dan tinggal dirinya saja.

Secuil tentang Duano
Menurut Rabuan nama Duano dipatenkan untuk membedakan mereka dengan Orang Laut lainnya. Awalnya mereka menyebut diri dengan Suku Nelayan, Orang Perahu dan sebagainya namun diubah menjadi Duano yang berarti Dua (jauh) dan No (dekat). Pasalnya, mereka tidak mau nama suku sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan sebab nelayan bukan saja orang laut yang melakukannya. Awalnya kami disebut Orang Laut karena tidak ada kemajuan dalam berpikir setelah kami pikir dan kaji-kaji maka kami harus membuat penyebutan buat orang kami, makanya kami beri nama Duano, ulas Rabuan.

Menurut Rabuan, Orang Duano termasuk dalam Proto Melayu (Melayu Tua) yang saat ini sudah berbaur dengan Detro Melayu (Melayu Muda) serta suku lainnya. Sudah memeluk agama Islam dan hidup seperti suku lainnya di kampung-kampung. Kami selalu dibilang tak beragama karena disebut Suku Laut, padahal kami sudah memeluk islam sejak lama. Untuk membedakan dengan suku laut lain maka 1980-an kami ubah menjadi Suku Duano atau Orang Duano, tambah Rabuan.

Dalam makalah Profesor DR Mohamad Zen yang berjudul Kejayaan Orang Laut dalam Struktur Kerajaan Melayu disebutkan, di Indonesia, Orang Laut terdiri dari beberapa kelompok dengan nama suku yang sesuai dengan kawasan yang mereka tempati seperti Orang Kuala (bermukim di kuala-kuala sungai), Orang Mantang (bermukim di pulau Mantang), Orang Barok (di selat Barok), Orang Galang (di Pulau Galang), Orang Pusek (di pulau Pusek), Orang Moro (di pulau Moro) dan Orang Duano yang bermukim di Indragiri Hilir. Masih banyak lagi Orang Laut yang tersebar, baik di Indonesia bagian timur, Malaysia dan Pilipina. Tidak selamanya mereka menjadi manusia pengembara, banyak pula yang sudah menetap dan meninggalkan perahu sebagai rumah tinggal mereka.

Effendy menjelaskan, pada 1910 Orang Laut bernama Ismail menemukan sebuah pulau yang diberinya nama Concong Laut (sekarang masuk dalam Dusun Sungai Burung Besar Kenegerian Sungai Berapit Kecamatan Concong). Ismail bersama Tok Entol dan Long Tohom Cs (suku Melayu) serta Baba Tuo (suku Tionghoa) membangun kampung tersebut bersama.

Ismail sendiri telah pula dinobatkan sebagai Panglima Raja oleh Sultan Indragiri pada 1932 dan wafat 1935 dibunuh kawanan lanun di perairan. Maka atas prakarsa Sultan Indragiri diangkatlah putra beliau bernama Maakim sebagai Panglima Raja hingga Januari 1953 dan digantikan pula oleh keponakannya M Syaiyim sebagai Penghulu Concong Laut.

1953 masih ada Orang Laut tinggal dan beranak-pinak di perahu karena mereka tidak bisa dipisahkan dari laut dan pantai. Atas prakarsa Syaiyim dibangunlah dibuat rumah-rumah di tepi muara itu hingga hari ini. Suku kami ini hijrah dari Johor ke Indragiri dan saat itu mereka belum punya rumah seperti sekarang. Maka nenek moyang kami berinisiatif untuk membuat pondok-pondok di darat (di atas rawa-rawa muara Sungai Concong) dan bertahan hingga hari ini, jelas Effendy yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Concong Luar 1990-1998 silam.

Dijelaskannya pula, keberadaan orang laut termasuk nenek moyan Orang Duano sangat penting dalam stuktur kerajaan Melayu Johor. Lambar laun mereka hijrah ke Indragiri dan membentuk komunitasnya sendiri dan mengabdi pada kerajaan Indragiri. Sayang, beradaan mereka yang termarginalkan jauh dari perhatian meski saat ini mereka sudah berpikir untuk maju dengan menyekolahkan anak-anak mereka. Alhasil, Orang Duano sudah berpendidikan karena di kawasan itu sudah pula berdiri Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk melanjutkan ke tingkat atas, anak-anak mereka kuliah ke kota-kota seperti Tembilahan, Pekanbaru, Padang hingga Jawa. Bahkan saat ini, ada pula yang sudah menjadi dosen di Universitas Riau.

Bagi kami pendidikan itu penting. Alhamdulillah, sekarang Orang Duano sudah banyak yang sekolah dan berperan aktif di tengah-tengah masyarakat. Meski tempat kami jauh, tapi kami tidak kalah dengan suku-suku lainnya yang sudah maju, ujar Effendy mengakhiri.***
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us