Mengekalkan Kearifan Lokal

26 Oktober 2014 - 13.11 WIB > Dibaca 2222 kali | Komentar
 
Salah satu tunjuk ajar Melayu yang berhubungan dengan cara hidup adalah mendekatkan diri dengan tanah karena tanah adalah salah satu sumber pemberi kehidupan.

Laporan Fedli Azis, Bengkalis

Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi acara arak-arakkan hasil budaya bercocok tanam atau Bengkalis Agricultural Carnaval 2014 yang dilaksanakan di Bengkalis, Selasa (21/10) lalu.

Masyarakat Bengkalis yang hidup dengan kearifan budaya Melayu memiliki ragam dan cara hidup yang kemudian disesuaikan dengan agama, sistem sosial, kondisi alam dan tunjuk ajar. Berdasarkan tunjuk ajar dan kearifan itulah maka orang Melayu menjadikan kegiatan bercocok tanam sebagai salah satu mata pencaharian di samping melaut, pekerjaan anyaman dan lain sebagainya. Orang Melayu melakukan pekerjaan bercocok tanam dengan kearifan-kearifan tersendiri pula dan cara tersebut telah dilakukan selama berabad-abad.

Dalam rangka memberikan apresiasi terhadap budaya bercocok tanam masyarakat Melayu dan masyarakat Kabupaten Bengkalis pada umumnya, maka Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga melaksanakan kegiatan yang diberi nama Arak-arakan Hasil Budaya Bercocok Tanam atau Bengkalis Agricultural Carnaval se-Kabupaten Bengkalis, terang Kepala Dinas, H Eduar.

Pada kegiatan yang berlangsung di Lapangan Tugu Kabupaten Bengkalis itu dikemas tidak sebagai peristiwa pertanian tetapi digelar dalam kemasan budaya dan pariwisata sehingga warga yang berdatangan  menyaksikan acara tersebut tidak hanya melihat hasil-hasil budidaya pertanian tetapi juga dapat menyaksikan kreativitas dari masing-masing kecamatan yang telah mempersiapkan arakkan dan atraksi karnavalnya.

Memang tujuan pelaksanaan Agricultural Carnaval ini dalam rangka menampilkan produk-produk unggulan pertanian yang ada di tiap-tiap kecamatan dan berharap menumbuhkan rasa cinta terhadap tanaman lokal sebagai produk unggulan yang bisa menjadi penunjang ekonomi masyarakat tetapi warga diajak melihatnya dari sudut kreativitas dan sudut pandang budaya dan pariwisata, ujar Eduar.

Pesta Kostum
Pawai atau arak-arakkan sebenarnya sudah lazim di Kabupaten Bengkalis pada beberapa helat seperti ulang tahun daerah, hari raya namun untuk arak-arakkan hasil budaya bercocok tanam ini baru pertama kali dilakukan. Hal itulah  yang menjadi daya tarik sehingga Lapangan Tugu yang menjadi start arak-arakkan diserbu masyarakat yang penasaran dengan carnaval tersebut.

Ini baru pertama kali dilakukan di Bengkalis. Kita mencoba mengemas arak-arakkan hasil pertanian ke dalam bentuk kreativitas budaya dan seni. Masing-masing kecamatan menggelar pawai dengan karakteristik daerah masing-masing baik dari segi konsepnya, set dekor dan properti yang mereka bawa, ujar Ketua Pelaksana Seniman Pemangku Negeri Musrial Mustafa.

Tak heran kemudian, arak-arakkan tersebut menampilkan beragam bentuk mobil hias, pesta kostum dan bermacam-macam hasil pertanian yang ditampilkan dan dipamerkan kepada masyarakat dalam bentuk kreativitas yang menarik untuk disaksikan.

Arak-arakkan itu dimulai dan dimeriahkan dengan barisan Marching Band Andam Dewi. Berbagai atraksi dan bebunyian menambah semarak suasana arak-arakkan.  Disusul setelahnya barisan pesta kostum. Anak-anak yang mengenakan kostum buah-buahan dan tanaman seperti buah naga, manggis, pisang, jagung, nenas, pepaya, cabe, semangka dan lain-lain. Barisan ini menunjukkan atau mewakili hasil dari produk unggulan pertanian dan perkebunan Kabupaten Bengkalis. Dilanjutkan dengan barisan para petani membawa hasil pertanian mereka di dalam keranjang kecil oleh ibu-ibu petani dan juga hasil pertanian yang ditempatkan di dalam miniatur pondok.  Barisan ini ditutup dengan mobil hias aneka buah-buahan yang di atasnya duduk manis tiga orang gadis cantik, diantaranya Miss Grand Internasional asal Riau, Putri Pariwisata dan dara Provinsi Riau.

Sebagai peserta karnaval pertama adalah kecamatan Mandau dengan Motto melalui Agricultural Carnaval, petani kecamatan Mandau siap mewujudkan ketahanan pangan menuju kesejahteraan petani. Dengan menggunakan pakaian serba hijau terang, mereka mengarak hasil pertanian dan perkebunan mereka dengan menggunakan kendaraan bermotor. Lalu, di belakangnya para petani mengarak gerobak hias berbentuk nenas raksasa yang disekelilingnya dipenuhi dengan daun-daun nenas. Sambil mengangkat topi tani, mereka melambai-lambaikan tangan ke arah panggung di mana telah berdiri menyaksikan Bupati Herliyan Saleh dan jajaran lainnya.

Menyusul setelahnya peserta dari kecamatan Pinggir. Didahului oleh bujang dara asal Pinggir kemudian diikuti para pasukan serba orange membawakan produk pertanian mereka yang juga diletakkan di dalam sebuah bak kendaraan bermotor. Tampak di dalam bak tersebut bui kayu, semangka, nenas, jagung, pisang dan lain-lain.

Dipandu MC dari Bengkalis Debi dan MC dari Pekanbaru Udin Semekot, barisan berikutnya dipersilakan yaitu dari kecamatan Bukit Batu. Pasukan serba biru, baju biru dan topi tani biru itu membawakan produk unggulan pertanian mereka berupa nenas raksasa menguning yang dibawakan menggunakan kendaraan bermotor dan juga beberapa hasil lainnya ditating oleh perorangan.

Sebuah mobil hias jagung raksasa menyusul setelah itu dari peserta kecamatan Rupat Utara. Para peserta mengarak mobil hias tersebut sambil melambai-lambaikan tangan kepada masyarakat dan menunjukkan hasil produk pertanian mereka. Disusul setelahnya, peserta dari kecamatan Bengkalis yang mengarak sebuah perahu layar dari kombinasi buah pisang berwarna kuning. Di dalam perahu tersebut ditempatkan bermacam buah-buahan dan hasil pertanian lainnya.

Tak ketinggalan menarik, kecataman Siak Kecil yang membawa mesin penggiling padi dan alat pertanian serta pondok kecil berisikan sayur-sayuran, buah-buahan produk tanaman dari daerah mereka. Di belakangnya, para ibu tani berjalan sambil menari dan melenggang-lenggok dalam ekpresi suka duka menating tampi dan bakul. Sementara itu, kecamatan Bantan yang menyusul setelahnya, mengarak sebuah mobil hias yang di atasnya diserakkan hasil pertanian dan perkebunan mereka. Dua orang di atasnya terdiri dari ibu tani dan anak muda yang setia memanggul cangkul melambai-lambaikan tangan kepada warga yang hadir memenuhi tepian jalur dari karnaval tersebut.

Diramaikan juga dalam arak-arakan tersebut dari komunitas sepeda ontel Kabupaten Bengkalis. Dengan berpakaian ala petani, mereka mengeret sepeda yang di boncengan belakangnya ditempatkan berbagai macam hasil pertanian. Tepuk tangan dari warga tak dapat dihindari melihat arak-arakan sepeda ontel ini. Kemudian arakan ini ditutup dengan barisan kompang yang terus menabuh kompangnya sepanjang perjalanan pawai.

Para peserta karnaval kemudian berjalan meninggalkan Lapangan Tugu menuju jalan besar disebelahnya, Jalan Jendral sudirman. Lalu, barisan panjang karnaval memasuki jalan Cokro dan berbelok menuju jalan Hang Tuah. Sampai di perempatan jalan, peserta pawai kemudian belok kiri menuju jalan Ahmad Yani, kembali menuju ke tempat start awal, Lapangan Tugu. Sepanjang jalan tampak beberapa warga berdiri di pinggiran jalan baik di depan rumahnya ataupun sengaja berhenti sambil duduk-duduk di atas kendaraan mereka guna menyaksikan arak-arakkan.

Salah seorang warga, Rubiyah (52) yang sedang menggendong cucunya mengakui sepanjang yang diketahuinya, baru pertama digelar pawai hasil produk pertanian sperti ini. Biasanya pawai-pawai malam raya dan ulang tahun daerah. Menarik pawai seperti ini. Geli pula hati tu melihat ada jagung raksasa, pisang raksasa, nenas dan anak-anak berpakaian buah-buahan, ucapnya kepada Riau Pos.

Miss Grand Indonesia, Margeni Winarti yang baru saja meraih posisi Runner Up di Thailand beberapa waktu lalu menyebutkan helat Agricultural Carnaval ini Benar-benar sangat membanggakan terutama bagi dirinya yang berkesempatan ikut menyaksikan kemeriahan dan antusias warga di sepanjang jalan pawai. saya kira acara ini sukses sekali apalagi melihat antusias peserta dan juga warga yang saya lihat sangat bersemangat. Pastinya acara ini menjadi salah satu daya tarik bagi Kabupaten ini. Saya pribadi yang juga pernah mendapat gelar Miss Earth Indonesia, menilai kegiatan ini juga merupakan upaya bersama untuk peduli lingkungan, penghijuan dan udara karena tanaman itukan sangat menguntungkan bagi udara bersih. Kita sama-sama berharap, kota Bengkalis menjadi kota wisata yang lebih maju di bidang pertaniannya barangkali dan kota yang peduli dari segi lingkungan, ucapnya ketika ditemui usai dari acara arak-arakkan.

Berbakti pada Tanah
Bercocok tanam atau bertani merupakan produk sebuah sistem budaya. Hal itu disampaikan salah seorang dewan juri karnaval Syaukani al Karim. Katanya, bagi orang Melayu, kegiatan bercocok tanam dilaksanakan dengan kearifan budaya. Orang melayu sangat memperhatikan situasi-situasi alam seperti musim, waktu serta sistem spritual yang mengiringnya.

Peristiwa budaya dalam gelar karnaval ini kata Syaukani dibungkus dengan sebuah ikhtiar untuk sama-sama mengedepankan sikap berbakti kepada tanah. Orang Melayu percaya, jika berbakti kepada tanah, maka tanah pasti akan membalasnya. Jadi kebudayaan itu sejatinya tidak semata-mata terkait denan seni dan budaya saja. Tetapi segala hal yang berhubungan dengan hasil akal budi yang diterjemahkan dalam tindakan. Nah, dalam masyarakat Melayu, semua gerak kehidupan dan tindakan sehari-hari adalah sebuah peristiwa kebudayaan, jelas anak jati Bantan tersebut.

Melalui kegiatan bercocok tanam yang telah dilakukan manusia sejak masa lampau terutama masyarakat Melayu yang berdiam di serata wilayah pesisir dan pinggiran sungai, mereka tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan hidupnya tapi lebih dari itu, mampu menjaga kemandirian ekonomi sebuah puak, kaum, wangsa dan negeri. Artinya, dari kesadaran inilah kiranya acara ini dilangsungkan bahwa kegiatan bertani adalah merupakan perintah budaya dan tuntunan kearifan lokal yaitu berbakti kepada tanah. Saya kira, semangat inilah yang hendak didengung-dengungkan dalam helat agricultural carnaval ini, ucap penyair Riau tersebut.

Sementara itu, bupati Herliyan Saleh sangat mengaparesiasi kegiatan yagn ditaja Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga ini. Katanya, helat ini dan karnaval ini menjadi sebuah media penggesa agar masyarakat Kabupaten Bengkalis khususnya generasi muda dapat memahami budaya kerja masyarakat Melayu yang kemudian dapat diteruskan tradisi itu dalam tindakan sehari-hari.

Menurutnya, meskipun kegiatan ini tidak dipandang dari sudut pencapaian pertanian tetapi tetap dapat dilihat secara kasatmata, bagaimana budaya bercocok tanam ternyata menghasilkan varian produk yang sangat mengagumkan. Pihak-pihak yang berhubungan dengan kbijakan pengembangan pertanian, saya kira dapat mencari sisi-sisi pengembangan untuk pertanian masa depan sesuai dengan pola tanam masyarakat, ujarnya.

Herliyan juga menegaskan pemerintah Kabupaten Bengkalis sejak lama menginginkan agar budaya bercocok tanam yang berlangsung di tengah masyarakat dapat berhasil guna secara baik. oleh karena itulah, melalui lembaga dan badan terkait, pemerintah tanpa henti melakukan pengajian, penelitian agar jenis tanaman yang dikembangkan dalam budaya bercocok tanam masyarakat setempat dapat dikembangkan menjadi andalan dan memberikan kontribusi bagi visi kemaslahatan kabupaten Bengkalis.

Saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap acara ini. Kreativitas yang tampak menjadikan produk budaya kerja masyarakat, dalam bentuk hasil bercocok tanam dan pertanian sebagai media promosi budaya dan pariwisata. Dalam mengembangkan budaya dan pariwisata, kita memang harus jeli, serta mampu memanfaatkan semua potensi yang ada dalam kehidupan masyarakat sebagai sumber inspirasi pariwisata. Bagi saya, karnaval ini merupakan salah satu ikhtiar yang sangat baik karena dengan kegiatan seperti inilah masyarakat dan kelak para wisatawan yagn berkunjung ke Bengkalis akan dapat melihat secara jelas tentang cara hidup masyarakat dan sistem budaya yang mengasuhnya, tutupnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

Maksimalkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 16:44 wib

Australia Diserang Stroberi Berisi Jarum

Selasa, 18 September 2018 - 16:30 wib

Bupati Terima Dua Permendagri

Selasa, 18 September 2018 - 16:00 wib

Truk Laga Kambing, Pengemudi Tewas

Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Follow Us