Oleh: Reski Kuantan

Pembunuhan Tuan Besar

26 Oktober 2014 - 13.17 WIB > Dibaca 1739 kali | Komentar
 
Akan kuceritakan padamu tentang Negeri Tua. Di mana tanahnya menumbuhkan apa saja. Lautnya dipenuhi ikan-ikan segar yang bisa kau tangkap dan santap kapan saja. Negeri itu sangat terkenal akan kekayaan dan kejayaanya. Dipimpin oleh seorang raja yang sangat ditakuti oleh rakyat, oleh kerabat hingga ditakuti negeri dan kerajaan  lain.

Ia yang bergelar Tuan Besar, raja dari segala raja di  Negeri Tua. Menguasai tiap jengkal tanah dan apa saja yang tumbuh di atasnya, apa saja yang tertimbun di dalamnya. Menguasai udara dan laut seisinya. Yang memegang kendali atas seluruh jiwa, juga nyawamu. Jika ia kehendaki kau mati, matilah engkau. Maka setiap yang hidup di negeri itu mestilah tunduk dan sujud terhadapnya. Mestilah patuh pada setiap perkataan yang datang darinya. Siapa berani melawan, kematian menjadi taruhan.

Pernah suatu ketika, seorang pria tua di negeri itu tak mampu membayar upeti. Dirampaslah anak gadis satu-satunya yang baru mulai menginjak dewasa sebagai pengganti. Ia dibawa ke istana. Di mana Tuan Besar menunggu, duduk terkangkang di kursi kejayaannya yang terbuat dari emas dengan ukiran seekor ular bertanduk membelit seekor burung besar. Empat orang perempuan berselendang tipis mengipas-ngipas tubuhnya yang gendut bertelanjang dada. Dua orang perempuan lagi  memijit-mijit kakinya hingga pangkal paha. Dan seorang lagi yang penuh bekas cupang di leher hingga atas dada memukul-mukul lembut lemak di bahunya.

Ia yang bergelar Tuan Besar, raja dari segala raja. Memiliki banyak selir, kembang-kembang dari tiap dusun, yang tercantik dan molek di mata lelaki, adalah selirnya. Pelayan-pelayan yang tak kalah jelita, mesti patuh kapan pun ia ajak bercinta. Ia bebas bersetubuh dengan siapa saja yang dikehendakinya. Tak terkecuali gadis yang baru saja disita orang-orang suruhannya itu.

Mandikan ia, beri gaun yang putih, lekatkan wewangian di badannya.  Lalu bawa ke kamarku.  Tuan Besar mendongakan kepalanya sembari menghirup nafas dalam-dalam memberi perintah.

Dua orang perempuan yang agak tua, yang dari tadi berdiri di tepi ruangan yang dipenuhi hiasan guci, lukisan dan kepala-kepala binatang seperti rusa, harimau dan lainnya, membungkukkan badan. Kemudian mendekati dan bergegas membawa gadis itu segera.

Terbayang olehnya menindih gadis yang belum lama mendapatkan haids pertama sebagai tanda sudah boleh disentuh tubuhnya. Memang belakangan ini Tuan Besar agak hilang selera lelakinya oleh adanya kabar yang tak sedap. Bahwa ada sekelompok orang yang mulai berani memberontak. Yang kemudian dianggap kelompok aliran sesat oleh Tuan Besar yang harus dihilangkan. Maka dititahkannya pada Prabana seorang yang sangat ia percayai, yang juga adik iparnya sendiri. Untuk segera melenyapkan siapa saja yang terhubung dengan pemberontakkan tersebut.

Berangkatlah Prabana seketika. Diiringi arak-arakan tentara kerajaan yang berbadan besar-besar dan juga sangar.  Tentara yang sudah terbiasa menghunus pedang pada musuh-musuhnya. Yang bagi mereka kematian adalah permainan yang amat sederhana. Yang tak kenal balas kasih terhadap siapa saja.

Satu dusun dibumihanguskan sebab dianggap sarang pemberontak. Para lelakinya dibunuh di tempat. Anak-anak dan perempuan ditangkap, dijadikan budak. Di dusun lain lagi dilakukan penggeledahan, juga terjadi pembunuhan bagi siapa saja yang melawan. Perempuan-perempuannya yang tampak menggiurkan diperkosa tentara kerajaan. Harta-harta dan benda berharga disita.

Tak sampai seminggu setelah kejadian itu, negeri yang dipimpin Tuan Besar kembali tenang. Kabar soal pemberontakan itu hilang begitu saja. Tak terdengar lagi desas desusnya. Tak seorang pun berani membahasnya. Negeri  Tua itu bungkam seketika.

***

Gadis itu berdiri di depan cermin yang sebesar daun pintu. Ditatapnya lekat-lekat dirinya sendiri dicermin itu. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, serasi dengan warna kulitnya yang bersih. Seolah bercahaya dalam remang ruangan yang besar itu. Kemudian ia tersenyum, tak nampak sedikit pun rasa takut di wajahnya yang sangat lokal itu.

Terdengar langkah kaki seseorang datang. Gadis itu segera berlari ke tempat tidur, menyurukkan diri ke dalam selimut. Dadanya berdebar kencang. Ia atur nafasnya, kemudian memejamkan mata dan menelan ludah. Aku siap bisiknya dalam hati. Ketika ia buka matanya kembali, terlihat sosok Tuan Besar berdiri di sebelahnya.

Jangan takut, Bisik Tuan Besar di telinganya sembari membungkuk. Lalu duduk di tepi tempat tidur tepat di sampingnya. Pelan-pelan disingkap selimut yang menutupinya, Kau manis sekali. Tuan Besar tersenyum sembari kemudian membelai rambutnya. Tak lama waktu, ia telah ditelanjangi, demikian pula Tuan besar. Tubuhnya yang gendut terlihat jelas, perutnya berlipat-lipat dan ditumbuhi bulu-bulu lelaki.

Udara menjadi berat berton-ton, sesak serupa mengandung racun yang berbahaya. Tuan Besar dengan ganas seolah harimau yang sangat lapar menerkam, terus mencumbuinya. Tak diberi ia waktu untuk bernafas, bibirnya yang mungil dan ranum dilumat habis. Sementara ia-gadis itu telentang pasrah, ada sesuatu yang menyesak ditubuhnya hingga ke ubun-ubun. Ia tak sedang terangsang, melainkan menahan dendam.

Tiba-tiba Tuan Besar meronta-ronta menahan sakit. Digigitnya hingga putus lidah Tuan Besar yang menjulur-julur di dalam mulutnya. Dengan sigap ia ambil pisau yang telah disiapkannya di bawah tempat tidur, lalu menebas tepat di tengah selangkangan Tuan Besar. Kemudian dihunusnya pisau itu ke perut Tuan Besar yang gendut berkali-kali hingga Tuan Besar jatuh tergolek di lantai, tak mampu berteriak. Semua kata dan semua pekik hanya sampai ke dalam hati. Tak seorang pun di luar sana tahu apa yang sedang terjadi.

Lalu dibukanya jendela, memberi tanda pada pasukan pemberontak di luar istana. Terjadilah perang pemberontakan besar-besaran.

Semangat orang negeri yang militan tentu bukan main-main, terlalu lama mereka terkungkung dan ditekan membuat amarah bertumpuk-tumpuk, meledak seketika, menerabas apa saja. Pasukan kerajaan yang kewalahan berlarian ke mana-mana. Rasa takut tiba-tiba merampas moral mereka. Kematian yang biasanya dianggap permainan sederhana menjadi sesuatu yang berbahaya.

Sebagian yang tertangkap dibunuh dan disiksa, dipotong daun telinganya, dipenggal kepalanya, digantung berderet-deret di pagar istana. Sedangkan tubuh Tuan Besar digantung lebih tinggi hingga membusuk, di makan burung-burung  dan lalat sampai tinggal tulang belulang. Sedangkan Prabana, orang yang sangat dipercayai Tuan Besar, yang juga adik iparnya sendiri itu berhasil melarikan diri dengan daun telinganya yang terpangkas habis.

***

Telah kuceritakan padamu tentang Negeri Tua. Negeri yang setelah terbunuhnya Tuan Besar itu dipenuhi aroma anggur di mana-mana. Suara gendang bersahut-sahutan diringi nyanyian-nyanyian rakyat bercampur desah dan lenguh orang-orang bersetubuh. Mulut-mulut bebas bersuara, mereka meneriakan apa saja.. Sementara itu, kerajaan dari negeri seberang mengirim pasukan besar-besaran. Siap menggempur Negeri Tua yang sedang berpesta menikmati kebebasan.

Sekarang aku ingin tidur sembari membayangkan daun telingaku yang hilang tumbuh kembali. Sebentar lagi, kau bisa lihat sendiri bagaimana Negeri Tua itu dihancurkan kemerdekaanya sendiri.***




Reski Kuantan
Lahir di Teluk Kuantan. Menyenangi karya seni dan sastra sejak kecil. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di beberapa media cetak dan online.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us