Oleh: Ranto Napitupulu

Tanah Leluhur

2 November 2014 - 00.42 WIB > Dibaca 1452 kali | Komentar
 
Daeng Rao membisu. Lebih bisu dari pohon-pohon jelutung yang meranggas di tepi sungai. Tatapannya tajam lurus, seperti hendak menikam sesuatu di gulita malam. Sesekali pelupuk mata tuanya mengerjap. Agaknya ia sedang berpikir keras, memikirkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja disampaikan oleh Mardan. Tembakau yang sedari tadi ia gulung dengan sangat rapi belum juga ia sulut. Sesekali tampak seperti hendak ia sulut, tetapi sesaat kemudian kembali hanya ia putar-putar dengan jari-jemarinya.

Mardan yang sedari tadi hanya membuka-buka buku usang milik Daeng Rao, hanya bisa menunggu. Ia sangat tahu, Daeng Rao tidak bisa didesak. Ia bisa marah. Dan sebagai orang luar, Mardan harus bisa menjaga adat. Mardan harus santun. Terlebih terhadap Daeng Rao. Beliau adalah tetua suku, juga sebagai batin. Seingat Mardan, belum ada orang kampung yang berani lancang terhadap beliau.

Bakolah dulu tembakaunya, pak uo. Terdengar suara Mardan sambil menyodorkan pemantik. Daeng Rao tidak menghiraukan. Ia merogoh saku kemeja teluk belango-nya. Ia mengambil pemantiknya sendiri. Mardan memaklumkan, hati dan pikiran lelaki tua itu sedang berkecamuk. Betapa tidak! Ini adalah kedatangan Mardan kelima kalinya meyampaikan hal yang sama. Jadi dapat dimaklumi jika lelaki tua itu agak kesal. Selain kesal, mungkin juga beliau sedang sangat muak melihat Mardan.

Mardan kembali membuka buku usang tadi. Meski hatinya tidak begitu tertarik dengan isi buku itu, ia coba juga mengeja tulisan di dalamnya. Sulit dimengerti kata-kata yang tertulis di dalam buku itu. Walau ditulis dengan huruf latin, tetapi karena bahasanya bahasa daerah, sulit dimengerti. Seperti syair lagu, seperti pantun, tetapi juga seperti mantera.

Daeng Rao mendehem. Mardan mengangkat wajah untuk melihatnya. Ia melihat Daeng Rao sedang menyulut tembakaunya. Sesaat kemudian asap tembakaunya mengepul, bermain-main di bawah atap rumbia, bagai rombongan awan yang hendak menggapai langit.
Deang Rao menatap Mardan.

Jawabanku tetaplah tak ada beda. kata Daeng Rao memulai bicara. Entah sudah berapa puluh kali ada rancangan sarupo iko, jawaban kami tetaplah tak berbeda. Kami tetap menolak. Kami memang orang-orang tak bersekolah. Tetapi sangatlah kami tahu, tidaklah ada orang yang mau merugi begitu saja. Cubolah dikau pikir, mana ada orang di zaman sekarang ini yang mau merugi begitu saja? Kata dikau perusahaan mau buat kanal di kampong ini, katanya supaya tak terkena banjir lagi. Ini pastilah ada maunya! Aku yakin, taklah berapa lama nanti, semua tanah di kampong ini akan dikuasainya. Kalau soal banjir, selagi Sungai Rokan itu mengalirkan air, maka pada masa tertentu banjir di kampong ini akan datang. Banjir di kampong ini tak perlu dirisaukan. Banjir itu adalah pemberian Tohan! kata Daeng Rao dengan nada suara meninggi.

Mardan terdiam. Ia merasa seperti tiba-tiba terlempar ke rimba raya tak bertuan. Ada rasa kecewa yang terasa menghimpit di dadanya. Begitupun, ia tetap bersyukur. Bahwa orang yang dihadapinya adalah seorang tetua suku, orang yang berpaham. Seandainya orang yang dihadapinya adalah orang sembarangan, mungkin jawaban yang dia dengar adalah jawaban yang kasar. Pendapat Daeng Rao tidaklah salah. Apa yang beliau sampaikan adalah kesahajaannya bagian dari kearifan dari seorang tetua suku. Seperti kata beliau, meski orang-orang kampungnya tak bersekolah, tetapi mereka tahu, bahwa di zaman sekarang ini tidak ada lagi orang yang mau membantu tanpa untung. Ini adalah pemikiran yang lazim.

Saya sangat menghormati alasan penolakan pak uo, kata Mardan pelan, sembari memutar-mutar buku usang tadi di atas meja. Tapi, pak uo..., sampai kapan kampong kita ini terkurung oleh rawa? Kasihan anak-anak bersekolah. Setiap kali banjir tiba, anak-anak kampong ini selalu kesusahan pergi dan pulang bersekolah. Mereka harus naik sampan. Itu pun kalau banjir tidak terlalu tinggi. Kampong kita ini perlu perubahan, pak ou. Perusahaan itu tidak berniat menguasai tanah di kampong ini. Perusahaan itu mau membantu. Seperti awak katokan potang, perusahaan akan membuat beberapa kanal di sekitar pinggiran kampong. Kanal-kanal itu berguna untuk mengalirkan luapan air sungai ke sungai-sungai kecil. Di tanah-tanah rawa yang tergenang air, akan ditanami pohon sawit. Tanaman kelapa sawit sangat baik mengeringkan tanah-tanah rawa. Perusahaan itu hanya meminta kita merelakan sedikit tanah kampong ini sebagai jalan perusahaan menuju kebunnya. Dan jalan itu tidaklah hanya untuk perusahaan. Kita pun bisa lalu dari sana! Jadi, tidak ada yang akan dikuasai oleh perusahaan.

Bengak, itu! Aku tak cayo!! sergah Daeng Rao. Kali ini ia benar-benar marah. Mardan terdiam. Suara para binatang rawa yang sedari tadi bersahut-sahutan mengisi keheningan malam pun tiba-tiba hilang lenyap. Entah ke mana perginya mereka. Apakah mereka juga ketakutan mendengar suara Daeng Rao yang tiba-tiba meninggi? Atau mereka memang sengaja diam karena sudah waktunya untuk berdiam, lalu melakukan sesuatu di balik semak belukar rawa? Biasanya, sehabis hujan di malam hari para jantan binatang rawa itu akan menunaikan tugasnya kepada para betinanya. Kemudian para betinanya akan diam tertidur kelelahan.

***

Kampung di mana Mardan menjadi menantu adalah salah satu desa di tepian Sungai Rokan, di bagian hilir sebelah timur. Desa seluas belasan kilometer persegi ini sebagian besar terdiri atas tanah rawa. Hanya sedikit bertanah agak tinggi dan bertekstur padat. Tanah yang sedikit inilah yang dihuni oleh orang kampung. Bila musim hujan tiba, terlebih pada saat Sungai Rokan meluap, rumah-rumah penduduk akan terendam banjir hingga berminggu-minggu. Dulu, ketika Mardan pertama kali datang ke kampung itu, ia sempat menyebut kampung itu sebagai kampung antah berantah. Kalau bukan karena cintanya pada Seroja yang kini menjadi isterinya, mungkin sampai kini pun Mardan akan mengatakan demikian.

Mata pencaharian penduduk di kampung ini tidak ada yang menetap. Ada beberapa keluarga yang bertani tanaman muda, ada yang menyadap getah karet ke hutan. Ada yang menangkap burung, untuk dijual di tepi jalan. Pada musim tertentu, ada yang mencari ikan ke sungai dengan menggunakan bubu. Belakangan ini ada beberapa keluarga yang berternak itik, di bawah binaan pemerintah desa.

Sudah lama Mardan berniat menggagas perbaikan di kampung ini. Tetapi belum lagi dipastikannya dari mana akan dimulai gagasan itu, benturan demi benturan sudah datang bertubi-tubi. Hebatnya, setiap kali berniat memberi gagasan perbaikan, orang yang pertama kali mencegahnya adalah Seroja isterinya. Seroja yang lahir dan besar di kampung itu, sangat tahu betul paham para tetua kampung. Itulah alasannya selalu mencegah dan selalu mengatakan, bahwa dengan konsep apapun, gagasan untuk melakukan perbaikan di kampung itu akan selalu menuai kegagalan.

Tidak masak akal! Di zaman yang maju seperti sekarang ini masih ada sekelompok penduduk yang menolak gagasan perubahan bagi desanya. Sungguh, ini betul-betul tidak masuk akal. Sewaktu-waktu Mardan mau juga terjebak dalam pemikiran yang tidak sehat. Jangan-jangan ada sesuatu yang membelenggu para tetua kampung (hal-hal yang berbau kepercayaan kepada leluhur, misalnya?), sehingga mereka termasuk mertua Mardan, selalu menolak setiap gagasan. Dan sepertinya alasan yang mereka berikan hanyalah sebagai kamuflase untuk bersembunyi di balik sesuatu itu.

***

Mardan pulang dengan langkah lunglai.

Saat perjalanan pulang, kira-kira seratus meter menjelang rumah mertuanya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu. Tidak jelas ia melihat sesuatu itu, karena sangat gelap. Sesuatu itu tiba-tiba bangkit dari genangan air rawa lalu secepat kilat melompat ke semak-semak, kemudian menghilang. Sesaat kemudian bau busuk yang amat tajam, entah dari mana datangnya, tiba-tiba menyengat, seperti hendak mematikannya.

Seraya mempercepat langkah, Mardan mencoba untuk berpikir logis. Ia buang pikiran-pikiran berbau mistis. Ini kejadian nyata, gumamnya meyakinkan diri. Mungkin yang tadi itu adalah seekor harimau, seekor anak buaya, atau binatang hutan lainnya yang sedari tadi berendam di rawa. Karena terkejut dengan kehadiranku, ia tiba-tiba melompat dan berlari bersembunyi ke semak belukar, gumam Mardan dalam hati.

Di ambang pintu, Seroja sudah menunggu Mardan. Ternyata Seroja belum tidur. Mardan naik ke rumah. Mardan harus mengakui, saat menaiki jenjang rumah, ia merasakan tubuhnya seperti melayang. Bulu halus di tengkuknya ia rasakan berdiri semua. Dulu orang-orang di tanah leluhurnya pernah bercerita tentang adanya homang atau begu ganjang yang bergelayut di akar pohon beringin di tepi jalan menuju rumahnya, Mardan tidak pernah peduli akan hal itu. Ia tidak pernah percaya akan hal-hal semacam itu. Tapi kali ini?

Mardan berupaya agar isterinya tidak menangkap sesuatu di wajahnya. Ia buat gerak-geriknya seperti tidak ada terjadi sesuatu apa pun. Sembari menyalin pakaian, ia perhatikan anak-anaknya yang sudah tertidur lelap. Mardan tidak perlu khawatir anak-anaknya akan digigit oleh nyamuk, karena Seroja sudah melindungi mereka dengan kelambu.

Bagaimana jawaban pak ou? tanya Seroja. Ia membawa lampu sumbu dari dapur.

Sama, seperti jawaban kemarin.

Abang masih akan ke sana?

Mardan tidak menjawab. Ia coba mengartikan ke mana arah pertanyaan isterinya. Mungkin maksudnya kalau pembicaraan dengan Daeng Rao tidak akan dilanjutkan lagi, satu atau dua hari lagi kami sudah boleh pulang, gumam Mardan dalam hati. Lalu ia perhatikan wajah isterinya. Sepertinya, seperti ada sesuatu yang hendak dikatakan oleh perempuan itu.

Beberapa saat kemudian, setelah mengajukan beberapa pertanyaan perihal pertemuan suaminya dengan Deang Rao, Seroja menceritakan kisah yang pernah ia dengar, tentang asal muasal para leluhurnya sampai di tanah yang sekarang, dan mengapa para tetua suku selalu menolak gagasan perbaikan kampung.

Menurut Seroja, para leluhurnya berasal dari salah satu pedalaman hutan di hulu sungai. Suatu waktu, oleh persoalan kepercayaan, para tetua suku yang bersaudara berselisih. Para tetua suku yang kini bermukim di kampung yang sekarang ini, memilih untuk pergi dari hulu sungai. Mereka mencari tanah lain, tanah yang lebih tersembunyi dari orang luar. Menurut mereka, orang luar adalah musuh. Penyebab perselisihan dengan saudara tua mereka adalah karena kepercayaan yang mereka anut terusik oleh masuknya orang luar.

Dari beberapa tanah yang mereka lalui di sepanjang pinggiran sungai, tidak ada yang sesuai untuk mereka huni. Jika mereka coba berdiam di satu tanah, selalu saja ada bala ada anggota suku yang meninggal. Kepercayaan mereka, jika ada anggota suku yang meninggal, itu adalah pertanda bahwa tanah yang mereka diami tidak sesuai untuk mereka. Harus dicari lagi tanah yang sesuai.

Sesampai di kampung yang sekarang ini, para tetua suku seorang dari mereka adalah kakeknya Daeng Rao, yang juga adalah kakeknya ayah Seroja, berkeyakinan bahwa kampung yang sekarang ini adalah tanah yang sesuai untuk mereka. Tetapi menurut cerita, tanah itu bisa mereka huni setelah mengadakan perjanjian dengan sang pemilik rawa.

***

Dua hari setelah pertemuan Mardan dengan Daeng Rao, pagi-pagi sekali, ketika sisa embun masih memutih di pucuk-pucuk daun semak belukar, seorang lelaki bertelanjang dada tampak berlari-lari menuju rumah mertua Mardan. Mardan teringat, kemarin sore ia sempat berbincang dengan beberapa orang di pematang ladang. Salah satu dari mereka adalah lelaki itu.

Ado apo, pak? tanya Mardan sembari menyongsongnya.

Di mana pak ongah? tanyanya. Pak ongah yang dimaksud lelaki itu adalah ayah mertua Mardan.

Di belakang rumah! Beliau sedang memberi makan itiknya. Ado apo?

Aku disuruh pak uo! Aku nak bagitau, kampong ini nak lakukan acara melawan! katanya sambil meneruskan langkah. Mardan tak paham maksudnya. Ia biarkan lelaki itu berlalu ke belakang rumah.

Sekejap kemudian Seroja memanggil Mardan. Ia memberitahu perihal apa yang dimaksud oleh lelaki tadi. Penduduk kampung akan menggelar acara melawan menabuh bobano sembari menari dan menyanyikan nyanyian berisikan mantera-mantera. Kata Seroja, biasanya acara ini diadakan untuk melawan roh jahat, atau menantang sesuatu yang dianggap dapat merusak tatanan adat, atau melawan sesuatu yang dianggap merugikan penduduk. Dalam acara ini para lelaki akan membaluti tubuh dengan dedaunan kering dan kulit kayu, kemudian berbaris seperti pasukan perang, lalu menari mengikuti tabuhan bobano sambil mengikuti nyanyian yang dinyanyikan oleh salah seorang tetua suku. Mardan berharap, semoga acara yang akan digelar adalah acara melawan sesuatu yang dianggap merugikan penduduk.

Sebelum matahari meninggi, terdengar bobano ditabuh. Dari nyanyian yang dinyanyikan, Mardan menterjemahkan, bahwa upacara melawan perjanjian dengan sang penghuni rawa tengah berlangsung. Banjar kampung telah dipenuhi oleh para lelaki dewasa yang menari mengikuti tabuhan bobano. Nuansa mistis begitu kuat terasa, suara-suara yang terdengar begitu menggetarkan, karena bait-bait sajak yang dikumandangkan adalah mantera. Tapi di manakah Daeng Rao?

Mardan segera bergegas menuju rumah Daeng Rao. Saat menaiki jenjang rumah ia merasakan sesuatu yang amat sulit digambarkan. Mardan seperti melayang. Nafasnya terasa sesak. Bulu-bulu di tengkuknya berdiri. Di dalam rumah ia menemukan Daeng Rao terduduk, bersandar ke dinding tepas, seperti selepas melakukan satu perlawanan yang maha berat.

Mardan coba memanggil. Lelaki tua itu tak menjawab. Ia membisu, lebih bisu dari pohon-pohon jelutung yang meranggas di tepi sungai. Lelaki tua itu telah membisu! Selamanya! Mardan tidak paham apa yang telah terjadi. ***    


Ranto Napitupulu
lahir di Pematang Siantar, 06 Juni 1965. Saat ini bermukim di Kec. Tualang, berprofesi sebagai karyawan swasta. Pernah aktif menulis artikel, puisi dan cerpen pada tahun 1984-1986 di Harian Sinar Indonesia Baru, Bukit Barisan dan Mimbar Umum (Medan).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us