Tour "Jejak Suara Suvarnadvipa"

Menjawab Tantangan

9 November 2014 - 06.30 WIB > Dibaca 779 kali | Komentar
 
KINI giliran publik Jawa yang dikunjungi Riau Rhythm Chamber Indonesia (RRCI) dalam rangkaian Tour 2014 yang digelar 24 Oktober- 03 November 2014. Rino Dezapaty selaku pimpinan menyebutkan publik Jawa agak sedikit berbeda dari kota yang dikunjungi Riau Rhythm dalam rangkaian tour 2014 ini karena menurutnya di sana terdiri dari seniman pelaku aktif, mahasiswa seni (kebudayaan), pengamat, kritikus.  Bahkan dapat dikatakan barometer etnomusikologi itu ada di Solo dan Jogja.

Tentu ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Riau Rhythm. Awalnya, kita agak waspada karena kalau seandainya gagal konsep yang ditawarkan ini di Solo atau di Jogja misalnya, berarti konsep musik ini gagal ke depannya. Tapi Alhamdulillah, semua kerisauan dan kekhawatiran dapat terjawab dan kita mendapat sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari perjalanan di tanah Jawa ini, ucap Rino ketika ditemui Riau Pos sekembalinya ke Pekanbaru.

Konsep Ethno-Contempo yang diusung RRCI kali ini, terkemas dalam sembilan reportoar yang eksplorasinya memberikan porsi lebih besar pada tradisi sebagai elemen utama penggarapan, dalam hal ini, musik tradisi yang tumbuh di tanah melayu, baik itu Melayu daratan maupun Pesisir Pesisir. Seni (musik) Melayu Pesisir adalah apa yang banyak dikenal dengan zapin atau seni (tari-musik) yang berasal dari timur tengah. Sedangkan Melayu daratan adalah seni (musik) yang berkembang pada rumpun Minang. Terdapat perbedaan pendapat antara Minang dan Melayu Daratan (Kampar) ini. Apabila Minang menjadikan istana Pagaruyung sebagai induk maka Kampar menjadikan Muaratakus sebagai pusat rujukan. Berawal dari kontra-duga tersebut, Riau Rhythm fokus pada Muaratakus yang berdasarkan data menjadi awal peradaban Sumatera. Bahkan disebutkan bahwa Muaratakus adalah pusat kerajaan Sriwijaya (Swarnadwipa) yang kekuasaannya tersohor di Asia. Sampai pada wacana ini, proses Riau Rhythm makin menarik, sebab kontradiksi makin berlapis, ucapnya.

Venue pertama dari tour yang dilakukan adalah Surabaya. RRCI tampil di Gedung Balai Pemuda, sebuah gedung baru yang dalam hal itu RRCI bekerja sama dengan Dewan Kesenian Surabaya. Mereka disambut dengan apresiasi dari berbagai kalangan penikmat kesenian.  Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya yang akrab dipanggil Cak Krisman menyatakan ketika menyaksikan pertunjukan dari RRCI, beliau berlinangan air mata, seolah-olah kita dibawa masuk ke alam suvarnadvipa. Mereka menunjuk kan betapa kaya rayanya negeri ini dengan keragaman musikal hingga mereka menembus batas di seluruh ruang imajinasi kita yang hampir terkotak kotak, terimakasih RRCI sudah mampir di sini ungkap cak kris berapi api.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Solo tepatnya di Himpunan Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Seni Pertunjukan. Di ISI Surakarta Solo itu, RRCI tidak hanya menggelar karya tetapi juga memberikan workshop dengan memperkenalkan seni musik Melayu Riau darat dan pesisir. Menurut Rino, banyak hal yang kemudian didapat dari workshop yang dilakukan yang tentunya berguna bagi pengayaan terhadap karya-karya RRCI ke depannya.

Tak kalah menariknya, begitu usai pementasan Jejak Suara Suvarnadvipa, beragam sambutan dan apresiasi juga ditujukan kepada RRCI. Seperti misalnya dari kritikus musik dan Pemred Majalah Gong, Joko S Gombloh. Beliau mengungkapkan pertunjukan RRCI merupakan suguhan musik yang tematis dan jarang sekali terdengar lagi. Riau Rhythm menafsir ulang data-data lama dalam ethnografis, membuka ruang ruang imajinasi tentang Suvarnadvipa, akan tetapi penikmat diberikan ruang pengembaraan dalam ribuan imajinasi di setiap karya-karya yang disuguhkan sangat multi tafsir, ucapnya.

Bahkan menurut salah seorang Dosen Ethnomusikologi ISI Surakarta, Aris Setiawan mengungkapkan jarang sekali kelompok musik mampu untuk menjelaskan konsep pertunjukan dan karya secara detail dan jelas. Ini terlihat bahwa Riau Rhythm mempunyai keseriusan dalam berbagai persiapan untuk dipentaskan, bahkan saya yakin konsep ini menjadi pembicaraan di kalangan musisi dan budayawan ke depan. Menyentuh sekali mesti saya tidak mengerti bahasa Kampar, ungkap Aris.

Jogja menjadi tujuan berikutnya dari Tour RRCI di tanah Jawa. Terjadi perubahan jadwal dan tempat disebabkan beberapa hal. Awalnya, RRCI akan pentas dan memberi workshop di ISI Jogja tetapi dikarenakan kondisi kampus sedang tidak aman, akhirnya pertunjukan dipindahkan ke Forum Musik Tembi pada 31 November lalu. Seperti halnya di Solo, di Forum Musik Tebi juga diadakan workhsop sebelum pertunjukan. Berbagai pertanyaan juga bermunculan terutama terkait dengan tema besar yang diusung dalam konser Jejak Suara Suvarnadvipa.

Masukan yang menarik diucapkan salah seorang komposer dan pemain musik Quaenika, Purwanto. Beliau menyatakan tidak meragukan dan mengkritik masalah permainan dan komposisi musik,  RRCI sebuah kelompok musik dengan virtuositas musisi yang luar biasa, hanya saja, penyajian karya yang cendrung cepat diawal membuat kenyang rasa dan saya kira, sebaiknya jangan terlalu terikat dalam tema namun tetap menyajikan struktur pertunjukan untuk audiens. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan ini sangat luar biasa ucapnya begitu usai menyaksikan pertunjukan dari RRCI.

Tour kembali dilanjutkan esoknya menuju ke Bandung dengan menggunakan kereta api. RRCI disambut oleh rekan-rekan seniman di Badung, di Celah-celah Langit. Setelah melakukan diskusi seputar karya yang akan dipentaskan, Sabtu malamnya, (1/11) RRCI kembali menggelar karya mereka di hadapan para apresiator di Bandung. Imam Sholeh selaku founder dan juga budayawan Jawa Barat membeberkan hal yang berbeda dari aspek budaya. Katanya, RRCI membuktikan bahwa nusantara ini memang sangat kaya dalam seni dan budaya, kelompok ini mampu menguasai penonton mesti tidak mengerti tentang kultur yang mereka bawa, namun RRCI mampu membuat Bandung malam itu menjadi Melayu, ucap pimpinan Celah Celah Langit itu.

Tak kalah serunya kata Rino ketika tampil di Venue terkahir yaitu di Serang Banten, di Komunitas Rumah Dunia. Di sana, mereka belum terbiasa dengan pertunjukan konser musik, yang biasa diparesaisi di sana seperti musikalisasi puisi, KPJ, ya kan rata-rata di sana itu orang buku. Tetapi ketika usai manggung justru mereka mempunya pertanyaan yang banyak sekali, cerita Rino.

Seorang penulis buku dan budayawan Gola Gong dari Rumah Dunia memberikan apresiasi luar biasa melalui website rumah dunia. katanya Riau Rhythm mengguncang Banten, ini pertunjukan musik kelas Internasional dengan menghadirkan konsep musik tradisional dalam koridor kekinian.

Terlepas dari rangkaian perjalanan yang bagi RRCI sendiri sangat bermanfaat dalam memberikan pengalaman yang luar biasa. Rino mengakui, kesemuanya merupakan hasil jerih payah dan militansi kawan-kawan yang kemudian disadari untuk diterapkan di RRCI. Di samping itu juga, RRCI menerapkan manajen terbuka yang artinya melakukan kerja sama dengan pihak manapun. Kita tidak menutup diri, kita berusaha bekerja sama dan menjalin silaturahmi dengan siapapun. Saya kira dengan cara itulah RRCI dapat melaksanakan hajatan ini, ucapnya.

Rino juga menegaskan, tour Jejak Suara Suvarnadvipa ini masih berlanjut sampai akhir tahun dengan kembali menggelar karya di beberapa kabupaten/kota yang ada di Riau. Sedangkan untuk program 2015, RRCI juga akan melakukan konser serupa di kampus-kampus dan sekolah-sekolah dengan berbagi pengalaman dan ilmu melalui workshop yang akan diberikan. Dari perjalanan ini, memang ada tawaran untuk world tour  tapi ya, kita siasati dulu, kita pelajarilah dulu karena pastilah membutuhkan persiapan yang lebih baik dari segi materi maupun energi, tutup Rino.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 14:45 wib

Baznas Sosialisasi Zakat Petani Padi di Sungai Mandau

Rabu, 19 September 2018 - 14:30 wib

Beruang Madu Terkena Jeratan Babi

Rabu, 19 September 2018 - 14:00 wib

Habisi Guru karena Enggan Bayar Utang Minuman

Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Follow Us