Jelang Malam Puncak Anugerah Sagang

Komitmen Budaya

9 November 2014 - 06.31 WIB > Dibaca 1181 kali | Komentar
 
Komitmen Budaya
Acara Anugerah Sagang tahun lalu dimeriahkan dengan tarian Riau. Foto: Teguh Prihatna/Riau Pos
Anugerah Sagang merupakan pemberian penghargaan kepada sosok yang menunjukkan dedikasinya terhadap kehidupan berkesenian, baik dari segi karya yang dipilih unggul, berkualitas serta semua pemikiran yang mampu menggerakkan dinamika budaya Melayu.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Sebagai sebuah komitmen, kini Anugerah Sagang sudah memasuki tahun ke 19. Perjalan panjang yang dirintis Yayasan Sagang dalam upaya untuk terus berperan dalam membakar semangat dan memelihara etos serta bara api kreativitas.

Penghargaan dan penghormatan yang dimulai sejak 1996 itu diharapkan kemudian memberi makna, memberi tempat tersendiri dalam cita-cita membangun tradisi dan semangat Melayu baru. Tahun pertama pelaksanaannya, hanya memberikan penghargaan atas dua kategori yaitu seniman/budayawan dan karya terbaik pilihan Sagang.

Sedangkan di tahun ke-2, (1997) ditambah satu kategori dengan memberikan penghargaan khusus untuk karya atau institusi yang memberi warna sangat penting dalam kehidupan seni budaya, baik dalam bentuk karya maupun lembaga-lembaga seni budaya. Tiga kategori ini bertahan hingga ke tahun berikutnya, pada 1998.

Satu kategori lagi ditambah pada pelaksanaan Anugerah Sagang 1999 yakni berupa penghargaan khusus serantau yang diberikan kepada sosok atau institusi atau karya yang berada atau dihasilkan di luar wilayah Riau namun sangat berpengaruh dalam memperkenalkan, membangkitkan dan mempertahankan serta menyebarluaskan kabudayaan Melayu. Empat kategori ini bertahan hingga 2001.

Sementara itu, sejak 2002 hingga 2004, kembali kategori Anugerah Sagang ditambah menjadi lima yaitu seniman/budayawan, karya Buku, karya non buku, institusi/lembaga dan anugerah serantau. Sedangkan tahun 2005 sampai 2006 ditambah lagi satu kategori yaitu karya jurnalistik pilihan Sagang. Dari 2007 hingga sekarang (2014), Anugerag Sagang ditambah lagi menjadi tujuh kategori dengan memberikan penghargaan terhadap karya penelitian budaya pilihan sagang.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Sagang, Rida K Liamsi menyatakan Anugerah Sagang merupakan sebuah komitmen budaya terhadap negeri yang bernama Riau, negeri yang menjadi salah satu teras dari tumbuh dan berkembangnya budaya Melayu. Sebagai sebuah komitmen dan upaya untuk membangkitkan semangat kreativitas, semangat mempertahankan dan membina budaya Melayu. Oleh karena itu tentu saja dari waktu ke waktu harus terus disempurnakan, diasah dan ditarah agar senantiasa berdelau, ucap Rida K Liamsi.

Filosofi Sagang
Kata Sagang yang diabadikan pada anugerah, yayasan dan juga majalah di bawah teraju Riau Pos ternyata memiliki sebuah simbol semangat. Seperti halnya yang diterangkan lebih jauh oleh Rida K Liamsi bahwa kata sagang itu sendiri diambil dari khasanah bahasa Melayu di kawasan pesisir.

Sagang adalah nama sepotong kayu kecil, dengan diameter 2-3 cm yang kemudian digunakan untuk menjadi penyangga bumbungan rumah di kawasan pantai. Kayu tersebut dipasang melintang diagonal pada bentangan atap rumah. Adapun kegunaannya untuk menjaga keseimbangan bila terjadi terpaan angin ribut.  Tidak hanya itu, di perahu-perahu kecil juga, kayu kecil yang disebut sagang itu dipakai untuk menyangga atau penyokong yang dipasang diagonal pada bentangan layar yang dalam hal itu dihajatkan agar menjaga keseimbangan bentangan layar agar senantiasa terbuka dalam menerima tiupan angin sehingga perahu melaju dan tetap kencang.

Jadi filosofi sagang merupakan simbol semangat untuk menjadi penyangga, mendorong dan menggerakkan semangat kreativitas budaya Melayu. Sagang juga menjadi simbol semangat yang tak kenal meyerah, semangat yang tak gentar betapapun hebat tantangan yang dihadapi, ucap budayawan asal Riau itu.

Dengan demikian lanjut Rida, sebuah upaya untuk mengukuhkan semangat dan obsesi, sehingga nama Sagang itu dikekalkan, diberi makna agar dia punya roh, punya kekuatan untuk terus membangkitkan semangat, motivasi dan kesadaran orang Riau, terutama para pendukung kebudayaan.

Penerima Anugerah Sagang 2014
Setelah melewati tapisan demi tapisan dalam sebuah pembahasan, dan tahapan penilaian, akhirnya diputuskanlah para penerima Anugerah Sagang 2014 yang dilakukan tim penilai beberapa waktu lalu di Gedung Riau Pos.

Untuk kategori seniman/budayawan pilihan Sagang diputuskan Hang Kafrawi yang dinilai telah memberi kontribusi yang cukup besar melalui kiprahnya di dunia seni terutama seni teater dan sastra. Dedikasi dan ketunakan lelaki yang saat ini berkhidmat sebagai Ketua Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Lancang Kuning itu terbukti dengan kontunitas karyanya melalui buku-buku yang telah diterbitkan baik kumpulan puisi, novel, esay maupun naskah drama. Di samping itu juga, Pimpinan sanggar Matan ini masih terus berkarya lewat pentas-pentas teater baik sebagai sutradara maupun sebagai aktor.

Sedangkan kategori, Buku Pilihan Sagang 2014, diputuskan sebuah buku kumpulan puisi Timang-timang Nak Ditimang Sayang karya Jefri al Malay. Buku yang di dalamnya terhimpun 24 buah puisi yang merupakan karya-karya yang dihasilkan penulis di tanah Melayu bernama Riau ini, berkisar tahun 2009-2011. Tak heran kemudian pilihan-pilihan kata dan tema yang diangkat di dalamnya menggambarkan sesuatu yang melekat dalam persoalan kemelayuan itu sendiri.

Jejak Suara Suvarnadvipa produksi Riau Rhthym Chamber Indonesia (RRCI) merupakan pilihan Karya Non-Buku Pilihan Sagang 2014. Jejak Suara Suvarnadvipa merupakan sajian konser musik yang berangkat dari suara atau bunyi dari sebuah berita tentang kejujuran, ketaatan manusia, pengorbanan, semangat, kekuatan dan kejayaan. Jejak Suara Suvarnadvipa yang menjadi tema besar yang kemudian diusung RRCI tersebut diterjemahkan ke dalam delapan karya musik di mana proses dari penciptaan keseluruhan karya itu harus terjun ke daerah-daerah melakukan riset seperti di Kampar tepatnya di Candi Muaratakus untuk menelusuri jejak-jejak. Sehingga di dalam satu kesatuan tema dan musik yang diusung itu memiliki nilai edukasi sejarah, entertainmen hingga tradisi seni tutur. Keindahan, kekayaan dan kemakmuran suvarnadvipa dahulu juga menjadi sumbu inspirasi.

Sebuah sanggar yang telah berusia sembilan tahun, Sanggar Keletah Budak asuhan Sanggar Teater Selembayung ditetapkan sebagai Institusi/Lembaga Seni Budaya Pilihan Sagang 2014. Satu-satunya sanggar teater di Riau yang fokus memberikan laman bagi anak-anak untuk berekspresi di bidang seni teater melalai program latihan dan pentas-pentas yang kontinuitas.

Untuk Karya Penelitian Budaya Pilihan Sagang 2014, diberikan kepada Junaidi Syam dkk atas penelitian yang dilakukan mengenai identitas, serta soal-soal manusia dan keberagaman kebudayaan di Tiga Lorong. Karya penelitian yang sudah dibukukan itu diberi judul Tiga Lorong. Teguh Berdiri di Tengah Persimpangan Riuh Ramai.  Sementara itu, Karya Jurnalistik Pilihan Sagang 2014 ditetapkan karya jurnalistik berjudul Raja Ali Haji; Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu karya Fenny Ambaratih yang diterbitkan di Majalah Batampos.co.id. Sedangkan Seniman Serantau Pilihan Sagang adalah Prof Zainal Borhan dari Malaysia. Para penerima Anugerah Sagang 2014 ini akan diberikan penghargaan dalam sebuah acara malam Anugerah Sagang yang rencananya akan digelar di hotel Pangeran pada 28 November 2014 mendatang.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 14:34 wib

145 Perusahaan Ikuti Pameran Listrik Cerdas

Kamis, 20 September 2018 - 14:30 wib

Kemenangan Dramatis

Kamis, 20 September 2018 - 14:24 wib

Transmart Carrefour Gelar Fashion Carnaval

Kamis, 20 September 2018 - 14:21 wib

20 Model dan Ikon Tampil di Pekanbaru Runway 2018 CS Mal

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 wib

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Kamis, 20 September 2018 - 14:00 wib

Momen Kebangkitan Hendra/Ahsan

Kamis, 20 September 2018 - 13:56 wib

Ayola First Point Promo Kamar selama September

Kamis, 20 September 2018 - 13:43 wib

E-commerce Bebas Asing

Follow Us