Oleh Taufik Muntasir

Hantu Kopik dan Bomo Jarkasan

9 November 2014 - 06.42 WIB > Dibaca 1684 kali | Komentar
 
SEMUA hantu kopik kemungkinan besar berjenis kelamin tunggal: perempuan. Soalnya, orang-orang di kampung kami, termasuk ebah dan emak, menyebutkan ciri-ciri mendasar hantu kopik adalah memiliki nyuk atau susu yang panjang, sampai mencecah tanah bila dilepaskan menjuntai ke bawah.

Abul juga mengatakan begitu. Karena itu, kalau berjalan, hantu kopik selalu melempaikan (melipat) nyuknya ke belakang, terpangguk dari kedua bahunya, terus menjuntai sampai ke punggung bahkan mencapai pontot, kata Abul, sambil memegang sebelah pantatnya untuk mempertegas panjangnya nyuk hantu kopik bila dilipat ke belakang.

Kami selalu percaya kepada Abul bila berkisah hal-hal semacam ini, bahkan melebihi kepercayaan kami kepada orang tua kami. Maklum, Abul adalah anak Jarkasan, bomo atau dukun yang cukup dikenal di kampung kami. Selain itu, Abul berusia lebih tua dua tiga tahun dari rata-rata kami dan kalau bercerita ia tak lupa menyatakan sumber yang berasal dari ebahnya. Boleh dikatakan, Abul menguasai anak-anak seusiaku, dan kami selalu merasa nyaman bila tetap menjadi temannya. Bahkan orang tua di kampung kami juga sepertinya juga menghormati Abul; mungkin bukan Abul-nya tetapi karena orang tuanya.

Hantu kopik paling suka main di kebun kopi, kataAbul, menambahkan ceritanya.

Bisa jadi, karena terkait dengan tempat pemukiman itu, maka makhluk halus tersebut dinamai hantu kopi, tetapi entah bagaimana pula pada kata kopi bertambah huruf k sehingga menjadi kopik. Sama seperti hantu dapur, nama itu pastilah berkaitan erat dengan tempat penampakannya, yakni di dapur.

Hantu dapur bertubuh pendek, setinggi dapur atau sepinggang orang dewasa. Asal tahu saja, ketika itu, hampir semua rumah penduduk di kampung kami sebelum menggunakan kompor, di bagian belakang rumah selalu dilengkapi dapur yang dibuat seperti dan seukuran meja. Di atasnya diberi tanah dan dibuat tungku untuk memasak menggunakan bahan bakar kayu.

Masih menurut Abul, bagi mereka yang bersua dengan hantu dapur bisa merupakan suatu keberuntungan tetapi jika salah dapat menjadi petaka. Hantu dapur tak mahir berkelahi dan jika berhasil dikalahkan, tangkap dan mintalah sesuatu kepadanya. Mau kuat, dikasi kuat. Mau kaya, dikasi kaya. Tapi menangkapnya harus dari depan. Jika dari berlakang, bisa mati terkena sikunya yang panjang dan runcing. Kalau memitanya, pun harus tegas, jangan tergagap-gagap. Misalnya minta kaya, bila tergagap mengatakan ka ka ya, bisa dapat kayap atau  badan penuh kudis. kata Abul.

Konon, pernah seorang perempuan di kampung sebelah terbilang cukup berani. Ketika malam-malam ke dapur, perempuan itu bertemu dengan makhluk pendek sepinggangnya. Mereka berkelahi, dan perempuan itu berhasil membuat hantu dapur tak berkutik karena tertangkap dari depan. Tapi hatinya sedang cukup jengkel, karena menganggap hantu dapur adalah anak kecil yang mau mencuri makanan. Ketika ditanya mau apa, perempuan pemberani itu dengan ketus menyebutkan nama kemaluan lelaki. Minta pelei (pelir) dikau tu! jawabnya. Besoknya, di sekujur tubuh perempuan itu ditumbuhi banyak kemaluan lelaki.Kami terbahak-bahak mendengar cerita itu karena langsung terbayang bagaimana susahnya jika perempuan tersebut kencing.

Kalau hantu kopik bisa melilitkan orang dengan nyuknya sampai mati, kata Abul.

Semua itu ebah dikau juga yang mengatakan? tanyaku.

Iyalah! Kalau tidak, dari mana aku tahu, jawab Abul.
***

MENYIMAK cerita Abul tentang hantu kopik suka main atau bertempat tinggal di kebun kopi, rasa cemas menyelinap pada diriku. Aku rasa Emi dan Tapa juga begitu. Namun demikian, niat kami untuk mencari burung di antara kebun karet dan kebun kopi milik Pak Samad Jenon, tak sampai urung. Terus terang, semuanya karena Abul. Coba kalau tak ada Abul atau cuma aku, Emi, dan Tapa, yakin kami takkan berani masuk kebun kopi tersebut.

Sebagai anak bomo, pikirku, hantu kopik atau makhluk sejenis itu lainnya, tentu tak berani mengusik Abul. Jika mengusik kami ketika bersama Abul, tentu Abul juga bisa terkena dampaknya. Itu berarti hantu kopik akan berhadapan dengan Bomo Jarkasan. Karena itu, meskipun agak berat menerima ajakan Abul berburu burung, akhirnya kuterima juga. Untuk menambah keberanian, aku minta Abul juga mengajak Emi dan Tapa.

Bagi orang di kampung kami, Jarkasan tak sekedar dikenal. Ada yang mempercayai ia sebagai orang sakti. Jarkasan bisa mengobati orang sakit cukup dengan modal sebutir telor ayam, air, dan kembang, lalu mantra-mantra. Kadang-kadang hanya dengan menyapu wajah sang pasien, mulai dari kening sampai ke dagu dan menggenggamnya seperti mendapat sesuatu, lalu membuangnya ke dalam botol. Botol itu ditutup rapat-rapat, kemudian dibenam ke tanah atau dibuang ke laut.

Jarkasan juga seperti tak berpantang, termasuk beristeri banyak. Namun yang dipakainya tetap isteri tertuanya, emak Abul itu. Pendek kata, mendapatkan perempuan lain untuk dijadikan isteri bagi Jarkasan, sepertinya segampang itu pula ia meninggalkan perempuan tersebut. Jarkasan disebut-sebut punya ilmu penunduk yang cukup kuat. Kadang-kadang terlintas juga di benak kami ingin menjadi seperti Jarkasan. Yang pasti, kami menganggap Abul cukup beruntung punya orang tua seperti itu.
***

SESUNGGUHNYA, kami cuma melintas di kebun kopi belum pernah masuk ketika orang-orang kampung belakangan ini gencar memberitakan tentang penampakan hantu kopik di situ. Dan, separoh jalan melintas depan kebun kopi, darahku tiba-tiba berdesau atau berdesir kencang melihat sosok perempuan melintas. Syukurlah, ternyata Piah, perawan tua yang bekerja menakik dan menggumpul getah dari satu pohon ke pohon lainnya. Dia menenteng ember.

Daerah yang hendak kami tuju adalah kebun karet, tapi tak semuanya ditumbuhi pohon penghasil getah itu. Cuma setumpuk atau sebagian kecil saja ditumbuhi pohon kopi. Kebun yang setumpuk ini tak pernah dirawat dengan sengaja, tetapi di bawah pepohonan kopi tampak rapi dan sejuk. Rasanya memang tak ada orang di kampung kami menyandarkan hidupnya dari hasil kebun kopi ini, bahkan cukup memungkinkan keberadaan pohon-pohon tersebut terjadi dengan cara tidak sengaja, misalnya berawal dari kotoran munsang. Orang-orang di kampung kami lebih banyak mengandalkan hidup pada pohon karet.

Selain pohon kopi di areal kebun karet, ada juga tumbuhan liar lainnya, termasuk pohon leban, yang buahnya cukup disukai burung merbah dan punai. Buahnya seukuran kacang hijau dan berwarna merah darah bila masak. Di sinilah areal perburuan kami mencari punai atau merbah. Tapi burung apa saja yang melintas di depan kami bila belum waktunya merbah atau punai mendatangi pohon leban selalu tak luput dari incaran ketapel kami.
***

SEEKOR burung che (melafalkan dengan disengaukan), begitu kami menyebutnya sesuai dengan suaranya, sudah meregang nyawa kena pelor ketapel Tapa. Kemudian dapat lagi seekor merbah. Punai belum tampak sama sekali. Mungkin tak akan datang karena buah leban masih menghijau atau belum masak.Sekitar 2 - 3 hari lagilah.

Kemudian seekor punai ndu, terbang pendek dari dahan ke dahan lainnya pada pohon getah. Burung ini mirip dengan burung bubut dan beda dengan punai yang cukup suka makan buah leban. Punai ndu seperti tak begitu mahir terbang, sehingga pergerakannya dari satu dahan ke dahan lainnya tampak seperti melompat. Begitulah akhirnya burung ini mencapai satu pohon ke pohon lainnya.

Aku dan Tapa berpandangan, saling memberi isyarat untuk diam. Kami berdua sama-sama melihat punai ndu yang bergerak dari satu dahan ke dahan lainnya pada pohon karet di atas kepala kami. Abul dan Emi di sisi lain. Aku dan Tapa juga tidak berharap Abul tahu jika di atas kepala kami ada seekor punai ndu. Sebab, Abul selalu ingin diprioritaskan sebagai penembak ketapel, padahal bidikannya selalu meleset.

Tapa meregangkan karet tali ketapel sebagai pelontar pelor dari buah tepos muda, yang sudah kami persiapkan sebelum memasuki arela perburuan. Blass, tak kena. Kini giliranku, tapi juga meleset. Memang tak gampang karena punai ndu sasaran kami terus bergerak dari satu dahan ke dahan lainnya.

Aku dan Tapa bergerak pelan-pelan, terendap-endap, mengikuti pergerakan punai ndu dari satu dahan ke dahan lain, lalu ke pohon lain. Tak sengaja, kami sampai ke kebun kopi. Aku baru sadar setelah terdengar Tapa memanggilku dan meminta untuk tidak melanjutkan perburuan punai ndu, yang terus seperti melompat hingga terbang rendah masuk dalam areal kebun kopi.
Bangsai, kata hatiku setelah merasa disergap bahaya dalam kebun kopi.

Tapa terus memanggilku. Sebelum mengambil langkah seribu, berjarak sekitar 15 meter di depan, aku melihat dua sosok yang bergegas tanpa busana. Seorang perempuan. Meskipun mirip Piah dan nyuk tidak menjuntai, aku lebih yakin bahwa itulah hantu kopik. Tak pelak, aku berlari seperti tak cukup tanah. Terbirit-birit.

Tapa juga ikut berlari kencang mengikutiku. Pada tempat yang dirasakan sudah aman, sambil terengah-engah aku menceritakan temuanku kepadanya. Tapa juga yakin, yang aku temui tadi adalah hantu kopik. Segera kami mencari Abul dan Emi, untuk mengakhiri perburuan kami.

Abul semakin menyakinkan bahwa yang aku temukan di dalam kebun kopi Pak Samad Jenon adalah benar hantu kopik. Hantu kopik bisa menyerupai orang atau benda lain. Bisa saja saat itu ia menyerupai Piah, ujar Abul, menanggapi tentang temuanku.
Selain mirip Peah dan tidak memiliki nyuk yang panjang menjuntai, seseorang lainnya yang ketemukan di kebun kopi tadi adalah lelaki. Tapi tentang lelaki ini tak aku ceritakan, karena khawatir Abul tersinggung, bahkan marah. Soalnya lelaki bersama sosok yang mirip Piah itu, mirip pula dengan Jarkasan, ebah Abul yang juga bomo ternama di kampung kami.

Malamnya, aku merasa meriang, dan besoknya benar-benar dilantak demam. Jarkasan diminta mengobatiku. Sebutir telor yang sudah dimantrai, digolekkan, mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Prosesi berlanjut, dengan membisikkan kalimat di kiri-kanan telingaku. Aku rasa bukan mantra yang dibaca Bomo Jarkasan. Jangan dikau kasi tahu sama orang lain bahwa dikau jumpa aku dan Piah di kebun kopi kemarin, begitu kalimat yang dibisikan Jarkasan di telingaku.***

Batam, 03 Oktober 2014


Taufik Muntasir
Lahir Telukbelitung, 22 Desember 1965 dan telah menghasilkan banyak karya sastra. Bermastautin di Kota Batam, Kepulauan Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us