Oleh: Imelda Yance

Gayatri Wailissa

9 November 2014 - 06.53 WIB > Dibaca 1386 kali | Komentar
 
Gayatri Wailissa
Imelda Yance
Awal 2013, Gayatri Wailissa membuat takjub masyarakat Indonesia. Namanya banyak disebut karena kemampunannya menguasai banyak bahasa. Lalu, pada akhir 2014, ia kembali mengagetkan masyarakat Indonesia. Kali ini adalah karena kepergiannya menghadap Sang Pencipta (Kamis, 23 Oktober 2014) dalam usia yang masih sangat muda, 17 tahun.

Luar biasa, itulah ungkapan yang terlontar saat mengetahui kemampuan gadis poliglot (sebutan untuk orang yang menguasai lebih dari 6 bahasa) ini. Sejak kecil, saat masih di bangku SD, Gayatri sudah mampu menguasai 6 bahasa secara autodidak. Saat kemunculan pertamanya di ranah publik (2013), gadis 16 tahun itu sudah mampu menguasai 15 bahasa. Tiga belas di antaranya merupakan bahasa asing: mulai dari bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Korea, Jepang, India, Rusia, sampai dengan bahasa Tagalog.

Kita barangkali heran dan bertanya-tanya: bagaimana cara gadis itu menguasai sekian banyak bahasa asing secara autodidak? Ternyata, cukup sederhana, Gayatri menggunakan media hiburan, seperti film dan lagu berbahasa asing untuk melatih pelafalan dan memperkaya kosa katanya. Kamus digunakannya untuk mengetahui kata-kata sulit. Buku-buku dijadikannya rujukan untuk mengetahui tata bahasa. Begitulah cara Gayatri mempelajari bahasa asing.

Gayatri memang luar biasa. Ia memang tidak dapat menandingi nama-nama besar seperti John Bowring (Gubernur Hongkong ke-4) yang menguasai 100 bahasa; Uku Masing (filsuf berkebangsaan Estonia) yang menguasai 65 bahasa; atau Harold Williams (linguis sekaligus wartawan asal Selandia Baru) yang menguasai 58 bahasa. Namun, di deretan poliglot perempuan, tercatat Gayatri Wailissa ratunya. Susanna Zaraysky (pengarang dan produser) hanya menguasai 11 bahasa (Rusia, Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Portugis, Serbia, Ladino, Ibrani, Arab, dan Hunggaria). Graca Machel (istri mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan mantan istri Presiden Mozambik Samora Machel) menguasai  7 bahasa (Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Portugal, Spanyol, dan Tsonga). Maria Gaetana Agnesi (ahli matematika dan filsuf Italia) saat berusia 11 tahun sudah mampu menguasai bahasa Yunani, Ibrani, Spanyol, Jerman dan bahasa Latin. Janice M. Vidal (penyanyi Hongkong) fasih berkomunikasi dalam 7 bahasa (Inggris, Kanton, Mandarin, Jepang, Tagalog, Perancis, dan Korea). Bahkan, Gayatri mengalahkan Cleopatra VII yang hanya menguasai 9 bahasa.

Sosok Gayatri dan tokoh-tokoh di atas merupakan orang yang memiliki kecerdasan linguistis, suatu kecerdasan yang berhubungan dengan penguasaan bahasa. Talenta itu telah mengantarkan mereka meraih posisi-posisi penting dalam masyarakat. Dari berbagai capaian (memenangi banyak lomba), puncaknya adalah saat Gayatri mewakili Indonesia sebagai Duta ASEAN untuk anak pada 2012-2013. Berikutnya, Gayatri terpilih mewakili Indonesia ke tingkat ASEAN dan mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-hak Anak Tingkat ASEAN. Karena kemampuan menguasai banyak bahasa tersebut, Gayatri dijuluki ‘doktor’dalam forum tersebut.

Di dalam negeri apabila kita ambil contoh lainnya, ada Moh. Natsir  (menguasai 6 bahasa asing: Inggris,  Belanda,  Perancis, Jerman, Arab, dan Esperanto). Beliau pernah menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Indonesia, Presiden Liga Islam, dan Ketua Dewan Masjid se-Dunia.  Sutan Syahrir (menguasai 5 bahasa asing: Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan Latin) merupakan PM I Indonesia, mantan Menteri Luar Negeri RI, dan pernah berbicara pada sidang umum PBB sebagai wakil RI. H. Agus Salim (menguasai 7 bahasa asing: Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Turki, Jepang, dan Arab) dikenal sebagai diplomat ulung, penerjemah, ahli sejarah, wartawan, satrawan, ulama,filsuf, dan praktisi pendidikan. Lalu, ada  Soekarno dan Moh. Hatta. Presiden dan Wakil Presiden I RI ini juga menguasai banyak bahasa asing.

Capaian para tokoh di atas dapat memperkaya apa yang telah disampaikan oleh Pierre Bourdieu, seorang filsuf Perancis. Dalam pandangannya, bahasa merupakan sebuah modal (capital), tepatnya modal budaya (cultural capital). Modal tersebut merujuk pada berbagai aset sosial yang bersifat nonfinansial yang mampu mempromosikan mobilitas sosial seseorang melebihi berbagai properti ekonomi. Di dalamnya tercakup pendidikan, intelektualitas, gaya berbicara, pakaian, atau tampilan fisik lainnya. Walaupun yang dimaksudkan oleh Bourdieu adalah penguasaan gaya berbicara (style of speech), tetapi realitas telah pula menunjukkan kepada kita akan keberadaan para poliglot di dunia, salah seorangnya tentu saja Gayatri Wailissa.

Selamat jalan ‘doktor’. Mudah-mudahan perjuangan dan capaianmu memotivasi anak muda negeri ini.***


Imelda Yance
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us