Peluncuran 100 Tahun Cerpen Riau

Jejak Imaji Cerpenis Riau

16 November 2014 - 06.35 WIB > Dibaca 1348 kali | Komentar
 
Peluncuran buku 100 Tahun Cerpen Riau di Hotel Mutiara Merdeka, Senin (10/11) menjadi sebuah penanda. Tidak sekedar mengingatkan pada tradisi penulisan sastra cerpen di Riau yang sudah berlangsung selama satu abad, tetapi lebih dari itu. Di dalam buku tersebut dapat pula dilihat bagaimana perjalanan sejarah proses kreatif sastra cerpen di daerah Riau.
 
Laporan EDWIR SULAIMAN, Pekanbaru

Buku yang dieditori Sutrianto Az-Zumar Djarot, Yoserizal Zen dan Fedli Azis itu memuat sebanyak 100 cerpen karya 100 orang cerpenis Riau. Angka 100 diambil berdasarkan tema satu abad sejarah cerpen Riau yang tonggaknya dipancangkan oleh Soeman Hs, cerpenis atau sastrawan kelahiran Bantan Tua, Bengkalis, Riau 1904.

Seperti diketahui, Soeman Hs bersama salah seorang lainnya, Muhammad Kasim telah pula ditempatkan sebagai salah seorang peletak dasar lahirnya kesusasteraan Indonesia modern khususnya genre cerpen. Penabalan itu diakui oleh beberapa pengamat, peneliti, komentator penting di bidang sastra seperti Ajip Rosidi (1968), Jakob Sumardjo (dalam Pamusuk Eneste, 1983), A Teeuw (1978), Zuber Usman (1957) bahkan satu suara menyebutkan Soeman Hs , Muhammad Kasim sebagai perintis lahirnya sastra Indonesia modern.

Namun demikian, hal yang cukup membuat miris, ketika Soeman Hs tidak termasuk dalam buku Horison Sastra Indonesia. Hal inilah menurut Sutrianto, menjadi sebuah panggilan, sebuah semangat untuk memburu dan menghimpun karya-karya cerpenis Riau hingga terbitlah sebuah buku 100 Tahun Cerpen Riau.

Kalau tidak salah saya, hanya ada tiga nama cerpenis Riau yang tertera dalam buku Horison Sastra Indonesia itu, BM Syamsudin, Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunnas MA Jabbar. Dan memang kita sadari, tidak banyak penulis Riau dikenal di tingkat nasional karena penulis kita asyik dan sibuk berkarya di tempat kita sendiri, ucap Sutrianto.

Oleh karenanya dalam kesempatan itu, sengaja diundang sastrawan senior, Fakhrunnas MA Jabbar dan Taufik Ikram Jamil di mana karya penulis ini sudah melalang buana bahkan sampai ke manca negara. Tentu saja, dimaksudkan agar dalam acara diskusi dan seminar yang digelar, dapat ditemui semacam pencerahan terkait dengan bagaimana akiat-kiat dan pengalaman agar karya cerpenis Riau hari ini bisa tembus di tingkat nasional dan juga bagaimana menjaga daya tahan energi dalam proses kepenulisan tetap memiliki nafas panjang, jelas Sutrianto.

Di samping itu, suatu pekerjaan yang memang tidak mudah untuk menghimpun cerpen-cerpen penulis Riau yang terserak dalam rentang waktu 100 tahun tersebut, oleh karenanya, Sutrianto dan kawan-kawan memilih untuk mencoba merunut babak sastra Indonesia di dalamnya termasuk cerpen dengan periodesasi bibit, tunas, benih dan lain semacamnya.

Tunas itu kata Sutrianto, mengarah pada pertengahan abad ke-19 (1870) ketika Haji Ibrahim mengaksarakan kisah-kisah Lebai Malang, Pak Belalang dan lain sebagainya. Tunas-tunas ini tidak disemai dengan baik dan tidak dipelihara. Namun sesungguhnya, tunas-tunas yang mati tersebutlah merupakan cerpen-cerpen yang tumbuh di penghujung abad ke-19 atau awal abad ke-20.

Sementara itu, ada tunas-tunas yang mendapat tempat yang layak, dipelihara oleh penguasa (Hindia Belanda). Tunas-tunas itulah yang nantinya menjadi pohon, dan hal itu merujuk ke 1936-1938 ketika buku kumpulan cerpen pertama Teman Duduk dan Kawan Bergelut,karya Muhammad Kasim dan Soeman Hs yang diterbitkan Balai Pustaka. berdasarkan fakta-fakta inilah, serta merta kita harus tetap mencatat dua nama tersebut sebagai peletak dasar tradisi penulisan cerpen Indonesia modern karena selain mereka menggunakan bahasa Melayu tinggi, karya-karya kedua pengarang ini diterbitkan secara resmi pula oleh penerbit Balai Pusataka, jelas Sutrianto.

Namun demikian, Sutrianto juga mengakui, ada kesulitan dalam memetakan perkembangan sastra cerpen Riau ini, terutama menyangkut batasan nama pengarang Riau. Paling tidak, katanya, ada lima takhrif  yang bisa dipakai untuk membatasi kategori pengarang Riau yaitu etnis, geo-politik, tema, tempat lahir dan perkembangan proses kreatif. Takhrif manapun yang dipakai, semuanya mengandung resiko akan menyempitnya jumlah pengarang atau cerpenis Riau. Akhirnya, saya menyingkirkan daerah asal-usul pengarang. Tetapi tetap menggabungkan kelima takhrif  yang menjadi jalan keluarnya. Bagi saya, asal mereka berproses kreatif di Riau dan membawa denyut nadi daerah ini ke dalam karya-karya mereka, maka pantas mereka masuk ke dalam buku 100 Tahun Cerpen Riau ini, ujarnya.

Mutu Tidak Sekedar Jumlah
Berbicara tentang kesusasteraan di mana sesuatu hal yang sangat bersebati dengan manusia Riau, namun menurut Taufik Ikram Jamil yang jadi salah seorang pembicara dalam diskusi dan seminar peluncuran buku 100 Tahun Cerpen Riau, beliau mengatakan senantiasa terjadi kebimbangan ketika berhadapan dengan karya sastra, terutama cerpen.

Kebimbangan itu merupakan kebimbangan umum, lanjut sastrawan senior tersebut karena manusia Riau suka memakai untuk orang lain ketimbang apa yang dimilikinya. Padahal, pada hakikatnya, dalam tradisi Riau begitu banyak hal yang berkait erat dan menjadi suatu tonggak cerpen misalnya sastra lisan. Maka yang hendak saya katakan adalah tradisi cerpen di Riau sudah sangat lama. Cerpen pada hakikatnya karya sastra yang memakai media bahasa. Dan bahasa itu adalah lisan bukan tulisan. Jadi oleh karena itu tradisi cerpen sesungguhnya di Riau ini sudah sangat panjang sekali, ucapnya.

Kebimbangan itu juga, menurut Taufik karena kita selalu memakai ukuran Barat yang bertolak pada sesuatu yang tertulis. Sementara, sastra nusantara, tidaklah demikian, barangkali ditulis, dilisankan atau sebaliknya. Hal tersebut lanjut mantan wartawan Kompas itu, maka apa yang dikatakan seorang akademisi sastra Will Dereck, Riau dan Barat tidak sama karena sastra Riau berada diantara aksara dan kelisanan. Kalau bertumpu pada Barat, tentu saja sastra kita sangat muda. Cuma yang tidak bisa diukur itu kita punya kelisanan. Dan menurut saya, adalah tidak adil jika kita hanya  memandang dari sisi Barat, terang Taufik.

Terkait dengan tidak banyaknya ditemukan penulis Riau di tingkat nasional menurut Taufik bisa dipahami karena memang penulis Riau berkutat menulis di tataran lokal saja dengan berbagai alasan dan tujuan tentunya tetapi tidak pula semua penulis Riau. Namun yang perlu digarisbawahi, bahwa barangkali saja Orang Riau tidak percaya dengan jumlah tetapi lebih mengutamakan mutu. Hal itu, kata Taufik lagi dapat dilihat dalam perjalanan sastra di Indonesia.

Dalam beberapa periode, sastra Riau justru menunjukkan adanya pembaharuan-pembaharuan. Contoh Soeman Hs, kemudian Angkatan 45, ada Chairil Anwar, angkatan 70-an jadi pembaharu lagi dengan keberadaan Sutardji Calzoum Bachri. Jadi walaupun sedikit tapi kualitasnya itu yang paling penting. Belum lagi misalnya, ada cerpen Riau yang memenangi Sayembara Cerpen Horison, 1997. Tahun 1998, cerpen Riau menjadi cerpen utama  Horison dan ada pula buku Riau pada 1999, menjadi buku cerpen utama Balai Bahasa, ucap Taufik Ikram.

Namun demikian, sastra Riau ke depan diyakini Dosen luar biasa di Universitas Lancang Kuning itu, akan semakin gemilang karena banyak penulis-penulis muda Riau yang saat ini mulai bermunculan di tingkat nasional ditambah pula dengan keberadaan buku 100 Tahun Cerpen Riau yang didalamnya memuat banyak hal untuk dipelajari, diteliti lebih lanjut. Buku ini memang luar biasa. Kalau sastra kita tidak gemilang kita sangat merugi. Saya yakin itu.
 
membangun koneksi agar lebih luas. Kita bisa bertukar pendapat dan bertukar pandangan tentunya, tutup penyair senior asal Riau itu.

Menjaga Kerlap-kerlip Lampu Kreativitas di Riau

Salah seorang pembicara lainnya, Fakhrunnas MA Jabbar menilai keberadaan buku 100 Tahun Cerpen Riau yang telah diluncurkan merupakan sebuah pekerjaan mulia bagi penyusunnya karena menurutnya, proses pendokumentasian yang tidak mudah ini setara mulianya dengan para penulis kreatif di dalam bentangan sejarah kesusaateraan yang panjang di negeri ini.

Buku ini menunjukkan tanda-tanda bahwa kesusasteraan Riau masih ada dalam peta sastra Indonesia. Nah, bagaimana supaya eksistensi sastra Riau ke depannya agar selalu ada, semua itu ada dalam genggaman kita semua baik selaku penulis, guru, dosen sastra, para esais, kritikus, peneliti dan dokumentator, ucapnya tegas.

Berbicara lebih banyak tentang napas panjang sebuah kreativitas dalam pertemuan itu, Fakhrunnas menyebutkan pada hakikatnya napas panjang bisa bermakna proses kreativitas dan dampak yang panjang dalam berkarya. Hal itu setidak-tidaknya merujuk kepada beberapa hal misalnya, usia/umur, durasi produktif berkarya, durasi berkarya, kuantitatif berkarya dan kualitatif berkarya.

Secara sederhana, Fakhrunnas menguraikan kreativitas dalam sastra ditamsilkan dengan lompat galah bagi atlet. Dengan menyebutkan sudah tentu banyak atlet lompat galah yang lahir dan mengukir prestasi, namun tak semuanya pula yang mudah diingat oleh publik. Demikian pula kreativitas sastra, sejak dulu, setiap detik sastrawan lahir dan berkarya lalu mati. Dalam perjalanan kreativitas yang panjang itu tak sedikit yang mati, hilang dalam medan laga, tercatat dalam sejarah atau hilang begitu saja tanpa arti.

Saya kira, kita ada di antara kemungkinan-kemungkinan itu. Ketika seorang sastrawan dikenang dalam jangka panjang di ruang publik, persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Ada kait kelindan antara usia, kuantitas, kualitas atau apapun yang terkait. Ada sastrawan yang dalam jangka waktu singkat, tiba-tiba namanya melejit dan tercata dalam sejarah sastra, namun banyak pula sastrawan lain yang berkarya dan terus berkarya seumur hidupnya, tiba-tiba hilang begitu saja, tak tercatat sama sekali dalam sejarah. Ini artinya, persoalan tidak mudah dan sederhana itu. Sebab tak ada seorang pun yang tahu pasti untuk apa seorang sastrawan menulis atau berkarya selain dirinya sendiri, paparnya.

Begitu juga bila ditanyakan misalnya kenapa ada sastrawan yang bernapas panjang dalam kreativitas sastra dan ada pula yang pendek saja. Kesemuanya itu juga menjadi persoalan yang tidak dapat dijelaskan secara objektif. Kata Fakhrunnas, setiap sastrawan punya alasan sendiri pula untuk terus berkarya sampai akhir hayat atau tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Tetapi mengutip dari apa yang disampaikan Hasan Junus, bahwa orang-orang yang terus berkarya sepanjang umur hidupnya merupakan ikan paus biru sastra yang memang tidak banyak orang yang dapat mempertahankan dan memperpanjang kreatifitas itu.

Yang lebih penting kemudian, kata Fakhrunnas lagi. Bahwa keberadaan penulis Riau hari ini merupakan generasi terbaru untuk melanjutkan estafet sastra Riau agar tetap diperhitungkan dalam peta sastra Indonesia. Oleh sebab itu, jangan biarkan kerlap-kerlip lampu di Tanah Melayu Riau redup tiba-tiba sehingga tak terlihat lagi dalam kancah dan peta sastra Indonesia, tutupnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us