Kekuatan Tradisi Jadi Sumber Pengkaryaan

Pentas Tari "Hanacaraka"

16 November 2014 - 06.40 WIB > Dibaca 1124 kali | Komentar
 
Sebuah tari yang diberi judul Hanacaraka, koreografer oleh Bobi Ari Setiawan pada Jumat (14/11) malam di pentas Gedung Sendratasik Universitas Islam Riau (UIR). Di hadapan ratusan mahasiswa sendratsik itu, sebanyak enam orang penari yang terdiri dari tiga orang lelaki dan tiga orang perempuan menawarkan sebuah tarian yang idenya berangkat dari aksara Jawa.

Para penari tersebut menggeliat dan mengeksplorasi tubuh mereka hasil dari pergulatan dan pertembungan selama setahun dengan bentuk-bentuk aksara Jawa yang kemudian oleh koregrafer sekaligus penari dalam garapan teresebut dipadukan dengan gerak tari tradisi jawa.

 Hanacaraka itu sendiri dalam falsafah Jawa berarti ada utusan. Namun demikian, Boby selaku koreografer menyebutkan dalam karyanya itu, dia tidak ingin bercerita tetapi mengambil esensi dari makna utusan yang bisa diartikan siapapun. Penari dalam karya yang akan diusung di tiga tempat (UIR-Riau, ISI-Padangpanjang, Ladang Tari Nan Jombang-Padang) itu sama halnya sebagai utusan yang menyampaikan aksara Jawa melalui gerak tubuh. Tentu saja, yang patut saya akui dan perlu ditegaskan bahwa kekayaan tradisi suatu bangsa justru memiliki kekuatan yang luar biasa untuk dijadikan ide dan gagasan dalam pengkaryaan, ucapnya tegas ketika ditemui usai pementasan.

Pentas tari Hanacaraka dari Solo itu kemudian tampil mempesona. Mereka tampak melahap setiap ruang di atas panggung dengan gerak-gerik yang seolah-olah menyerupai aksara Jawa melalui gerak tubuh dan eksplor gerak tari Jawa. Floor atau lantai untuk penonton juga dimanfaatkan sebagai laman untu mereka menari dengan tawaran komposisi yang beragam pula. Yang membuat lebih menarik, di pertengahan adegan tari, tiba-tiba para penari berhenti menari dan mengajak audien untuk sama-sama belajar gerak tari Jawa.

Tak ayal lagi, suasana cair pun tercipta. Beberapa penonton kemudian dibariskan dan kemudian secara bersama-sama mengikuti gerak yang diperagakan para penari. Tawa dan canda mewarnai pula adegan tersebut. tak berapa lama kemudian, barulah kembali dilanjutkan adegan berikutnya.

Pentas yang berlangsung satu jam itu menurut Boby lagi, tetap menjadi sebuah proses dalam kreatiftiasnya. Dan yang menjadi tantangan dalam pementasan ini adalah kemudian ketika dibentangkan di Sumatera yang mungkin saja asing dengan aksara Jawa.

Tapi yang jelas, dalam karya ini, bukan lagi soal hanya melihat huruf-huruf aksara Jawa yagn berevolusi menjadi gerak tari, melainkan ada bias-bias lain yang dapat dirasakan di balik tulisan aksara Jawa yang disampaikan penari melalui geraktubuh di dalam karya ini, semoga, tutupnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Follow Us